
Dada Akemi dan Shella kembang kempis pasca demonstrasi bela duren di sarang King Kobra. Nafas keduanya memburuh seolah baru saja melakukan lari maraton berkilo-kilo meter. Nafas itu semakin membuncah kala rasa yang bercampur aduk, malu dan juga canggung. Ya, ternyata rasa malu itu kembali menghampiri keduanya, terutama Shella. Bagaimana tidak, kondisinya saat ini sangat memalukan. Sekujur tubuhnya tak di baluti sehelai benang pun selepas demontrasi king Kobra.
Tangan Shella bergerak kesana-kemari untuk meraih selimut yang jatuh ke lantai akibat pergumulan panjang dan saking nikmatnya rasa demontrasi tadi. Akemi melihat Shella sedikit kesulitan untuk bergerak meraih selimut, akhirnya pria itu berinisiatif untuk mengambil kan selimut tersebut agar menutupi tubuh Shella yang sudah di lihat dan di nikmatnya selama beberapa jam tadi.
"Apakah kamu butuh selimut?" Tanya Akemi yang justru membuat Shella terkejut bukan kepalang. Lalu tiba-tiba saja,
Bug,
"Aww." Shella terjatuh ke lantai tepat di atas selimut, dan dalam posisinya tengkurap. Maka terlihatlah dua belahan bagian belakang Shella. Shella semakin merasakan malu tiada tara, ingin rasanya wanita itu menghilang saat ini juga dari pandangan Akemi.
"Kamu tidak apa-apa? maafkan aku karena mengagetkan mu," ucap Akemi penuh sesal sembari menutup tubuh Shella. Pria itu mulai sadar jika Shella sangat malu. Lalu kemudian Akemi menuntun Shella untuk duduk di atas tempat tidur. Namun, satu yang membuat Shella tak nyaman, yaitu Akemi belum memakai selembar pakaian pun. Jadi, tampaklah ular naga panjang yang tergantung dalam rawa. Dan sialnya, ular naga panjang itu berada tepat di mata Shella, akhirnya wanita itu berteriak histeris.
"Aaaak--- ularnya kelihatan," teriak Shella yang mengakibatkan Akemi gelagapan.
"Ular? dimana ular? mana dia? mana?" Akemi panik, dia mencari sumber masalah yang membuat istrinya itu berteriak, tanpa dia sadari bahwa sebenarnya ularnya lah yang menjadi sumber masalahnya.
"Tidak ada ular disini," ucap Akemi setelah tak menemukan ular yang di maksud Shella tadi.
"Maksud aku ular yang itu," ucap Shella malu-malu seraya menunjuk anak konda Akemi yang tergantung sempurna di dalam rawa.
Wajah Akemi menjadi merah seperti kepiting rebus. Dia sangat malu bukan main. Bagaimana tidak, ternyata pria itu tak menyadari jika sedari tadi tak memakai apapun. Dia terlalu terbuai dengan demontrasi bela duren di dalam sarang king kobra nya. Lagi pula, apakah Akemi tak merasa kedinginan karena kulitnya terkena AC? mungkin itulah efek kekuatan cinta. Kotoran ayam di sangka coklat. Haha.
Mendengar kalimat Shella tadi, sontak saja Akemi menutup anak konda nya dengan menggunakan kedua tangan. Sementara Shella sudah menahan tawa, wanita itu ingin tertawa sekencang-kencangnya, tetapi dia merasa takut Akemi akan tersinggung dan berujung dengan kemarahan.
Akemi pun akhirnya mengambil celana miliknya yang tergeletak di atas lantai dan memakai nya, tetapi masih tetap tak menggunakan baju. Akemi masih merasa canggung, begitu juga Shella. Mereka merasa sama-sama seperti orang asing sewaktu pertama kali bertemu dulu. Untuk sesaat keheningan menghampiri keduanya. Lalu kemudian,
"Ehem, maafkan aku karena sudah membuatmu ketakutan," ucap Akemi setelah beberapa saat diam, berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Shella.
"Duduklah kemari," lanjut Shella kemudian. Dan Akemi pun mengikuti ucapan Shella, lalu duduk di samping istrinya tersebut.
"Maafkan aku karena membuatmu panik tadi," sesal Shella. Namun, masih dengan wajah malu-malu.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku juga tidak menyadari kondisi ku tadi. Aku bahkan lupa mengenakan celana. Mungkin karena duren kamu yang matang." Jawaban Akemi membuat wajah Shella merona kembali karena malu. Padahal sejujurnya Akemi tak sengaja mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Menyadari rona merah di wajah Shella, akhirnya Akemi pun merasa bersalah.
"Ah, maafkan aku. Bukan maksud ku menyinggung mu dan membuat mu malu," ralat Akemi, dan di balas anggukan kepala oleh Shella.
"Matilah aku, mengapa aku jadi salah tingkah seperti ini? aku pikir setelah bela duren tadi hubungan kita tak akan sekaku ini," gumam Akemi, namun masih bisa di dengar oleh Shella.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, sudah kewajiban ku untuk memenuhi hak mu."
Deg,
"Benarkah? jadi kamu tidak marah karena aku membela duren mu?" Tanya Akemi hati-hati, takut wanita itu tersinggung.
"Iya," balas Shella malu-malu. Dan jawaban itu menciptakan ide jahil di kepala Akemi. Maka muncullah otak buluk si kancil khas Akemi.
"Jadi kita bisa melanjutkan bela duren part dua?" goda Akemi. Sontak saja Shella merasa malu tiada tara. Ingin rasanya wanita itu menyembunyikan wajahnya yang entah sudah berwarna apa sekarang di balik selimut yang di gunakannya.
"Bagaimana?" tanya Akemi kemudian. Sejujurnya Akemi sengaja menggoda Shella agar wajah wanita itu semakin manis. Dia sangat menyukai situasi dimana Shella merasa malu.
Shella diam tak menjawab, dia larut dalam pikiran nya yang bercampur aduk. Takut, malu, dan juga canggung. Akhirnya Shella menutup wajahnya dengan menggunakan selimut, lalu berbaring seraya berkata, "Aku malu."
Akemi tersenyum jahil melihat kondisi Shella yang seperti anak kecil. Dia pun membuka selimut itu, dan masuk ke dalamnya. Ternyata Akemi masih ingin melanjutkannya aksi menggodanya. Tidak tahu kah kamu Akemi, bahwa Shella merasa malu dan butuh waktu? ya, sejujurnya Shella butuh waktu untuk melihat kembali wajah suaminya itu. Namun, Akemi tak memahami perasaan Shella yang sudah tidak karuan.
__ADS_1
"Mengapa wajah ini bersembunyi?" tanya Akemi dengan suara yang di buat-buat.
"Aku malu," jawab Shella. Saat ini Keduanya sudah berada dalam selimut yang sama hingga menutup seluruh tubuh mereka.
"Mengapa harus malu? bukankah tadi kita sudah melakukan nya? tinggal melanjutkan part dua saja," goda Akemi. Akhirnya Shella bangun dari pembaringannya karena merasa kesal dengan godaan Akemi yang sukses membuat hatinya menjerit, sembari berkata, "Berhenti meminta part dua, king kobra kamu terlalu tajam," jawab Shella dengan satu kali tarikan nafas.
"Hahahaha." Akemi tertawa konyol di kala kalimat Shella itu terucap begitu saja.
"Mengapa tertawa? apakah aku tampak lucu? apakah aku tampak memalukan? apakah aku tidak boleh merasa malu? huaaaa..." Akhirnya Shella menangis histeris di penghujung kalimatnya. Tawa Akemi pun seketika berhenti. Dia merasa bersalah karena sudah menertawakan istrinya itu.
"Maafkan aku, tenanglah aku hanya bercanda saja," ucap Akemi seraya memeluk hangat tubuh Shella. Sekali lagi wanita itu tak menolak pelukan Akemi. Tangisnya pun perlahan mulai surut.
"Maafkan aku jika sudah membuatmu merasa malu dan tidak nyaman. Aku hanya terlalu bahagia, karena kita bisa menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya." Akemi melepas pelukannya, lalu kemudian menyeka air mata Shella dan berakhir dengan satu kecupan manis di kening istrinya tersebut.
"Aku suka mata ini, hidung ini, dan bibir ini. Aku suka rasanya. Dan aku juga suka ketika wajah ini malu-malu. Karena bagiku kamu sangat cantik ketika merasa malu," lanjut Akemi kemudian. Kalimat itu sukses membuat hati Shella berbunga-bunga, bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya.
"Benarkah? kenapa?" Tanya Shella.
"Karena aku mencintaimu," jawab Akemi sungguh-sungguh. Shella sangat terkejut dengan jawaban Akemi. Benarkah pria itu mencintai dirinya? kapan? apakah setelah durennya terbelah? atau sejak pertama kali bertemu? mengapa dia tidak menyadari itu? lalu bagaimana dengan kekasih Akemi dulu? apakah dia sudah melupakan wanita itu dan beralih mencintai nya? pikir Shella.
Semua dugaan itu bermain-main di dalam hati dan benaknya. Shella menatap dalam-dalam manik mata perak Akemi. Berusaha untuk mencari kebohongan di dalam sana. Namun, dia tak menemukan kebohongan itu. Bukankah lewat mata kita melihat kejujuran?
"Aku--" Shella menggantungkan kalimatnya, dia tidak tahu harus berkata apa. Wanita itu terlampau bahagia. Ternyata Akemi mencintai dirinya dengan tulus dan tanpa syarat apapun.
"Kamu tidak perlu menjawabku sekarang. Mungkin ini terlalu cepat buatmu, tapi aku akan menunggu jawaban itu sampai kamu benar-benar siap membuka hatimu untuk ku," terang Akemi. Shella menitikan air mata haru ketika jawaban Akemi sungguh menyentuh hatinya. Lalu Shella memeluk tubuh Akemi dengan erat.
"Terimakasih sudah mencintai ku, terimakasih," ucap Shella tanpa mengutarakan perasaan yang sesungguhnya pada Akemi, bahwa dia juga mencintai suaminya tersebut. Namun, pria itu tak menuntut jawaban sekarang. Baginya saat ini yang terpenting adalah, dia tak memelihara perasaan yang terpendam lagi di dalam sana. Semuanya sudah terungkap dengan satu kali tarikan nafas.
__ADS_1
To be continued.