Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 25. Kemarahan Javier.


__ADS_3

Setibanya Javier di rumah, ia langsung masuk dalam kamar untuk mencari Alea. Javier mencari Alea di seluruh ruangan, namun tidak mendapati wanita tersebut. Bahkan pria itu juga menanyakan pada asisten rumah tangga, namun hasilnya pun nihil. Sedangkan Mami dan Papi Javier sedang berada di luar kota, tidak mungkin kan Alea pergi bersama kedua orangtuanya. Setahu Javier, Alea telah pulang sejak pukul 17.15, dan sekarang waktu telah menunjukkan pukul 18.30, harusnya wanita itu sudah sampai di rumah. Namun Javier justru tidak mendapati dirinya. Javier benar-benar di buat geram, pria itu pulang ke rumah hanya untuk melepas kekesalannya pada Alea sejak siang tadi karena wanita itu sudah berani mengacuhkan dirinya. Memang selama dua minggu pernikahan tidak banyak yang berubah, keduanya masih sering berdebat, entah itu mengenai hal yang besar ataupun yang kecil. Bahkan keduanya tidur terpisah. Javier tidur di atas ranjang king size miliknya, sedangkan Alea harus tidur di sofa kamar mereka. Meski seumur hidup Alea tidak pernah tidur di sofa, bukankah wanita itu terlalu kaya untuk di perlakukan tidak adil oleh suaminya sendiri?.


*******


Javier memutuskan untuk mandi dan merebahkan badannya di tempat tidur. Pria itu memainkan ponsel miliknya. Entah sudah berapa kali Javier menaik turunkan layar ponsel miliknya, namun tidak bisa mengobati kegundahan hatinya. Ingin sekali ia menekan nomor ponsel Alea untuk menanyakan keberadaan wanita itu, namun Javier tetaplah Javier. Pria itu terlalu gengsi dan angkuh untuk menghubungi sekretariat sekaligus istrinya tersebut.


Javier ingin sekali memejamkan matanya, untuk menghilangkan kegelisahan yang melanda, namun semakin di paksa semakin resah di buatnya. Seperti ada yang kurang dalam diri Javier, jika biasanya sebelum tidur ia selalu mengerjai istrinya, tapi lain halnya saat ini, pria itu menjadi uring-uringan karena istri bermata Empatnya belum juga kembali.


Sekelebat bayangan dari seseorang memasuki ruangan yang berukuran besar itu, Javier menoleh ke arah bayangan tersebut, mata pria itu menatap sosok wanita dengan penuh selidik. 'Akhirnya wanita ini pulang juga!'. Javier menyibakkan selimut yang tadi membaluti setengah tubuhnya, pria itu menghampiri Alea yang baru saja kembali. Wanita itu tidak memperdulikan suaminya yang sedari tadi melihatnya dengan geram, ia justru mengacuhkan pria itu.


"Kamu dari mana saja ha?. Apa kamu tau ini sudah jam brapa?". Javier membentak Alea dengan pertanyaan hingga menyakiti telinga Alea, namun wanita itu tetap tidak mengindahkan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.


"Apa kamu tidak mendengar ku ha?. Atau kamu tuli?". Kali ini intonasi suara Javier lebih meninggi, hingga Alea menoleh padanya dengan tatapan membunuh.


"CK". Bukannya menjawab, namun wanita itu hanya berdecak kesal. Tetap mengacuhkan suaminya adalah pilihan terbaik Alea dari pada harus membuang-buang tenaga untuk berdebat.


"Alea, kamu itu istriku. Sejak kapan kamu berani mengacuhkanku ha?. Dan sejak kapan kamu memiliki keberanian untuk pulang sampai selarut ini?. Dasar wanita mur*h*n". Javier menarik lengan Alea dengan sangat erat, membuat Alea merasakan sakit pada bagian itu, hingga jarak keduanya sangatlah dekat.


"Istri?. Oh, dengar baik-baik Tuan Javier Alexander yang terhormat, apa Anda lupa dengan poin pertama perjanjian kita?. Bukankah kita tidak boleh saling mengikut campur urusan masing-masing?. Lalu mengapa Anda merasa terganggu jika di acuhkan?. Apa Anda sakit hati Tuan Javier?". Kini Alea mulai membalas perkataan Javier. Wanita itu menghempaskan tangan Javier yang sedari tadi tidak mau terlepas meski dirinya sekuat tenaga untuk melepaskan.


"Tapi apa kamu lupa Nona Alea Marwah?. Dalam poin yang lain jika aku bisa melakukan apa saja sesuai dengan keinginan ku, bahkan aku bisa saja mengubah isi perjanjian itu sewaktu-waktu jika aku menginginkannya, jadi jaga sikapmu kasarmu itu Nona!". Javier mendorong tubuh Alea hingga nyaris terjatuh di atas tempat tidur.


"Apa yang membuatmu marah Vir?. Bukankah kamu menikahiku karena suatu tujuan?. Kamu ingin memanfaatkan otakku untuk kepentingan pribadimu, dan aku selalu memenuhi itu. Lalu untuk apa kamu marah jika aku harus pulang selarut ini?. Bukankah kewajibanku hanyalah membantumu untuk mencapai ambisimu saja?. Lalu dimana letak kesalahan ku?". Mata Alea mulai berkaca-kaca. Kali ini wanita itu berkata dengan suara lirih, dirinya begitu kecewa pada pria yang berstatus sebagai bos sekaligus suaminya tersebut ketika tadi siang ia mendengar alasan Javier menikahi dirinya. Hingga ia memilih menenangkan diri di rumah sahabatnya, Dina. Dan ketika perasaan wanita itu mulai tenang, maka ia memutuskan untuk pulang. Bukankah sejak awal ia sudah tau bahwa ini hanyalah pernikahan kontrak?. Lalu mengapa rasanya begitu sakit ketika mendengar alasan pria bermata coklat itu.

__ADS_1


"Jika kamu mengetahui kewajibanmu, maka tetap tenanglah di rumah jika aku pulang dari kantor. Bukankah statusmu tetap istriku?. Maka bersikaplah seolah kamu adalah wanita yang sudah menikah. Paham!". Kondisi Alea yang mulai melemah tidak membuat Javier merasa iba, pria itu tetap memegang teguh keangkuhannya. Sementara Alea tidak ingin melanjutkan perdebatan yang akan menguras emosi dan tenaga, ia memilih memasuki kamar mandi untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Mungkin dengan mandi ia akan merasa tenang. Sedangkan Javier hanya menatap punggung Alea yang hilang di balik pintu kamar mandi.


"Dasar wanita mata empat". Cibir Javier.


*******


Kini Alea telah bersiap-siap untuk tidur di sofa yang selama dua Minggu terakhir menjadi tempat ternyaman. Tubuh Alea mulai menyentuh sofa yang memiliki ukuran cukup besar itu, namun suara dari suaminya menghentikan aktivitas tidurnya.


"Apa kamu merasa nyaman tidur disitu?". Entah apa yang ada dalam pikiran Javier, pria itu tiba-tiba saja bertanya mengenai kenyamanan Alea, bukankah ia yang menyuruh wanita itu harus tidur di sofa?.


"Apa aku harus menjawab?. Atau ini bagian dari kesepakatan kita?". Alea menjawab pertanyaan Javier dengan pertanyaan pula. Dirinya begitu malas untuk berdebat.


Kini Alea memposisikan tubuhnya membelakangi Javier, bahkan ia terlalu malas untuk sekedar melihat tempat tidur pria tersebut. Pria yang selalu berbuat sesuka hati.


******


"Hiks... Hiks... Hiks...". Isakan kecil yang berasal dari arah sofa membuat Javier mengalihkan pandangannya pada suara tersebut.


"Apa wanita itu menangis?. Dasar cengeng". Javier bermonolog sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak memperdulikan isakan yang nyaris tak terdengar itu. Tubuhnya terlalu lelah akibat menahan amarah ketika menunggu wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


'Pa, Ma. Alea rindu kalian. Maafin Alea karena sudah mengecewakan Papa dan Mama. Jika suatu saat nanti Papa dan Mama tau kondisi rumah tangga Alea, tolong jangan benci Alea. Alea tau Papa dan Mama menyimpan banyak harapan pada pernikahan ini, tapi Alea sudah mengecewakan Papa dan Mama sejak awal'.


Alea terus meneteskan air mata, isakan yang tadinya sempat keluar di tahannya dengan menutup rapat mulutnya agar Javier tidak mendengar, namun sesungguhnya pria angkuh itu sudah terlanjur mendengarnya sejak awal, tetapi ia tidak ingin bertanya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Follow IG Aku @Suharni.adhe.


Happy Reading.

__ADS_1


*Dede...


__ADS_2