
Mobil sedan berwarna hitam terparkir sempurnah di pelataran rumah mewah berlantai tiga milik orang tua Alea. Rumah yang sangat di rindukan oleh wanita berusia 23 tahun tersebut. Jarak antara rumah orang tua Javier dan orang tua Alea memakan waktu dua jam, hingga keduanya menyempatkan diri untuk sekedar sarapan di cave yang terdapat di pinggir jalan menuju kediaman orang tua Alea.
Alea menapakkan kakinya di halaman setelah membuka seat belt. Wanita itu berjalan dengan langkah cepat seolah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Selamat pagi Non". Sapa salah satu pelayan di rumah Mama Alea.
"Pagi juga Bi. Oh iya, Mama mana?". Tanya Alea sambil mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu.
"Nyonya besar ada di ruang keluarga Non". Balas wanita paruh baya tersebut.
"Baiklah. Terimakasih ya Bi. Tolong ambil tas Alea di mobil ya Bi". Titah Alea sambil berlalu meninggalkan asisten rumah tangganya menuju ruang dimana wanita yang telah melahirkannya berada.
"Mama". Sapa Alea sambil mencium pipi wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.
"Alea?. Kok tumben kesini?. mengapa kamu tidak memberitahu Mama kalo kamu mau kesini Nak?". Tanya Mama Alea dengan tatapan rindu.
"Apa Alea harus meminta izin dulu untuk bertemu sama orang tua sendiri?". Jawab wanita itu dengan bibir cemberut, seolah memprotes ucapan ibunya.
"Bukan begitu sayang, maksud Mama kalo kamu beritahu mama sebelumnya, kan Mama bisa siapkan makanan kesukaan kamu". Tutur Mama Alea dengan wajah sedikit gemas pada putri semata wayangnya itu.
"Gak usah repot-repot Ma, tadi Alea dan Javier sudah makan di jalan kok". Tutur Alea sebelum akhirnya mendaratkan tubuhnya di kursi sofa.
"Oh ia. Mana suami kamu sayang?. Kok dari tadi dia gak kelihatan?". Tanya mama Alea sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok menantunya.
"Javier disini Ma. Putri Mama itu melupakanku setelah bertemu sama Mama". Tutur Javier yang baru saja muncul dari balik tirai berwarna gold sambil berjalan menuju dua wanita yang beda generasi tersebut dengan wajah yang di buat-buat seolah ingin mengadu pada mertuanya yang di anggapnya seperti orangtua sendiri. Javier memang angkuh, terlebih lagi ia selalu berbuat sesuka hati pada Alea. Namun untuk sikapnya kepada orangtua, ia selalu menjunjung tinggi kesopanan.
"Kamu ini bagaimana sih, Al. Suami sendiri kok di abaikan". Mama Alea memukul pelan lengan putrinya tersebut sebagai tanda sesal Karen putrinya itu melupakan suaminya. Sedangkan Javier tersenyum penuh kemenangan.
'Ck, yang anak Mama itu aku apa dia sih?. Menyebalkan'. Gerutu Alea dalam hati.
"Papa mana Ma?". Alea mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin melanjutkannya hingga menjadi sebuah perdebatan. Karena ia tau jika ia tidak akan menang melawan Javier.
"Papa sedang di kamar. Tuh Papa udah datang". Tutur Mama Alea sambil menoleh ke arah dimana suaminya berada.
"Halo putri papa yang cantik, tumben kesini. Pasti rindu masakan Mama kan?". Tanya papa Alea. Sementara Javier dan Alea mencium punggung tangan pria paruh baya yang masih tampak bugar tersebut.
"Oh ia Javier. Bagaimana keadaan cabang perusahaan mu yang di kota B?. Papa dengar ada masalah di cabang itu?". Tanya Papa Alea sambil mendaratkan tubuhnya di kursi sofa yang terbuat dari kulit berwarna coklat tersebut.
__ADS_1
"Baik pa. Memang ada sedikit masalah disana. Hanya saja selama putri Papa selalu mendampingiku, maka semua akan baik-baik saja". Balas Javier sambil merangkul bahu Alea membuat Alea salah tingkah di buatnya. Sementara dua orang paruh baya yang duduk berdampingan tampak tersenyum bahagia melihat putri semata wayangnya tampak baik-baik saja.
'Wah, lihatlah pria ini. Dia sangat jago berakting. Kenapa dia tidak sekolah akting saja untuk menjadi seorang Aktor'. Batin Alea menggerutu.
"Wah, Sepertinya Papa tidak salah memilih menantu". Javier tersenyum puas mendengar ucapan papa mertuanya tersebut, seolah dirinya sangat berharga bagi pria paruh baya itu dan tentu saja bagi Alea. Itu sih menurut Javier.😄.
"Pa, Ma. Alea mau ke kamar dulu ya. Alea capek". Izin Alea.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtuanya, baik Alea maupun Javier keduanya meninggalkan ruang keluarga menuju kamar.
******
Alea meletakan tas kecil yang di kaitkan pada bahu kirinya di atas nakas lalu mendaratkan tubuhnya di tempat tidur yang selama lima bulan tidak di tempati olehnya.
"Apa ini kamarmu?". Tanya Javier sambil mengedarkan pandangannya seolah mengamati setiap benda yang ada di dalam kamar tersebut.
"Bukan. Ini kamar Bi Imah". Jawab Alea secara ketus membuat Javier menoleh padanya dengan tatapan tajam, setajam silet.😁
"Tentu saja ini kamarku. Apa kamu tidak bisa melihat itu gambar siapa?". Lanjutnya kemudian dengan menunjukan gambar dirinya yang terpampang di dinding kamarnya. Dan Javier pun mengikuti arah jari telunjuk Alea. Javier mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Hahh----". Javier menghembuskan nafas lega seolah mendapatkan Kenyamanan ketika tubuhnya di daratkan pada ranjang Alea yang terasa empuk.
"Aku tidak biasa tidur di sofa. Tempat ini cukup nyaman untukku". Tutur Javier dengan santainya, sementara Alea menjadi kesal di buatnya.
"Baiklah silahkan nikmati kamar ini sendirian. Aku akan tidur di kamar sebelah". Balas Alea ingin menyudahi perdebatan yang kerap terjadi di antara mereka.
"Baiklah. Tapi pikirkan apa kata Mama dan Papa nanti jika melihat anaknya tidur terpisah dengan suaminya?". Balas Javier dengan santai sambil menaik turunkan alisnya dengan senyuman yang terpampang di wajah tampannya.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa saja". Alea meraih selimut dan juga bantal untuk di gunakan nya saat tidur di sofa.
"Apa aku pria lajang yang harus tidur sendirian di atas ranjang ini?". Suara Javier yang mulai meninggi membuat Alea menatap pria itu dengan tatapan sinis.
"Terus mau kamu apa?". Tanya Alea dengan intonasi suara yang mulai meninggi pula. Seolah tak mau kalah dari pria arogan itu.
"Mau aku?". Tanya Javier dengan senyum menyeringai. Seolah memiliki maksud tertentu, membuat Alea menelan slavinya dengan susah payah. Wanita itu paham maksud dari tatapan suaminya tersebut. Tatapan mendamba yang biasa di lakukan oleh pria berwajah timur tengah itu ketika ingin bercinta dengannya.
'Wah, ini tidak baik. Sungguh berbahaya'. Alea membatin. "Hoamm... Aku ngantuk". Alea seolah menghindari tatapan mendamba Javier, tidak ingin meladeni pria itu. Karena jika itu terjadi entah berapa lama aktivitas percintaan mereka akan berakhir. Durasi yang di berikan Javier sangatlah lama.
__ADS_1
"Apa kamu sengaja, em?". Javier meniup telinga Alea membuat wanita itu meremang.
"Javier tolong jangan seperti ini. Aku lelah". Alea mulai merasa canggung dengan sikap Javier yang seolah-olah ingin menerkamnya saat itu juga.
"Apa iman mu goyah baby?". Suara sensual Javier berhasil menggoyahkan hasrat Alea yang sedari tadi di tahan. "Tapi tubuh bawah mu basah". Lanjutnya kemudian setelah pria itu sengaja menyentuh tubuh bawah Alea untuk menggoda wanita tersebut.
"Vir, aku mmmmm---". Javier mencium bibir Alea dengan lembut. Kali ini tidak ada tuntutan, namun wanita itu menerima ciuman Javier hingga bibir keduanya saling bertautan menciptakan irama khas orang sedang berciuman. Hingga percintaan keduanya kembali terjadi untuk kesekian kalinya.
'Hah, memalukan'. Batin Alea.
'Hah, mengasikkan'. Batin Javier
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hay Readers. Kembali lagi dengan babang tamvan Javier Alexander si pria angkuh namun tampan.😁 Jika kalian menyukai cerita Javier silahkan like dan vote untuk memberi sedikit trip ya. Dan jika kalian ingin mengetahui kelanjutan cerita dari si babang tamvan, silahkan jadikan favorit agar setiap kali novel ini update akan muncul titik merah pada kotak favorit tersebut. Terimakasih.
Follow IG Aku @Suharni.adhe.
Happy Reading.
__ADS_1
*Dede...