Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Kamu Adalah Wanita Kedua yang Aku Cintai.


__ADS_3

Hari-hari yang di lalui Shella dan Akemi sangat lah berat, keduanya harus merelakan hubungan mereka di uji dengan cobaan yang tak pernah terduga. Dimana Shella setiap hari harus mengunjungi Ibrahim yang semakin hari semakin menurun kesehatan nya. Terkadang kondisi pria itu membaik, terkadang juga kondisinya membuat semua orang senam jantung. Bagaimana tidak, Ibrahim pernah tak sadarkan diri selama enam jam. Hal itu terjadi karena pria tersebut terlalu kelelahan bermain selayaknya anak kecil bersama Shella. Sejujurnya wanita itu sudah memperingati Ibrahim agar tak terlalu kelelahan, tetapi pria itu terlampau bahagia jika berada di sisi Shella. Jika Shella menolaknya, maka dia akan merengek selayaknya anak kecil yang meminta mainan.


Sementara Akemi harus rela menerima kenyataan, bahwa istrinya tersebut merawat saudaranya yang merupakan mantan kekasih nya dahulu. Kendati kewajiban Shella sebagai istri tak pernah di abaikan. Shella selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya. Mulai dari memasak, menyiapkan pakaian, melayani di tempat tidur, dan yang lain-lain. Semuanya Shella jalani tanpa mengeluh. Begitu juga Akemi, pria itu tak pernah mengeluh sama sekali tiap kali Shella pergi ke Rumah Sakit Jiwa. Dia memberi restu pada wanita tersebut. Sungguh tak akan ada pria lain seperti Akemi di muka bumi ini.


Ketulusan pria itu tak terbatas oleh ruang dan waktu. Dia selalu mendukung istrinya dalam setiap hal. Dia tak pernah mengabaikan perasaan orang lain yang membutuhkan mereka. Terkadang timbul rasa jenuh dalam benak Akemi ketika melihat Shella yang pulang dalam kelelahan. Namun, dia tak ingin melarang wanita itu berhenti mengunjungi Ibrahim. Dia sangat paham, jika itu adalah ujian cinta mereka. Dan badai pasti akan segera berlalu. Terlebih lagi kondisi Ibrahim yang sangat memprihatinkan. Penyakit itu semakin hari semakin menyiksa pria malang tersebut. Namun anehnya, penyakit itu tak akan terasa jika bersama Shella. Ternyata psikologis sangat berpengaruh pada sebuah penyakit. Jika perasaan orang itu baik, dan dia menerima sugesti yang positif, maka penyakit itu tak akan terasa. Namun jika sebaliknya yang di rasakan, maka kondisi itu akan semakin memburuk.


"Apakah hari ini kamu akan ke Rumah Sakit lagi?" Tanya Akemi di tengah-tengah kebersamaan mereka.


"Iya, tapi jika kamu tak mengizinkan ku, maka aku akan berhenti untuk ke Rumah Sakit," jawab Shella sungguh-sungguh.


"Tentu saja aku tidak keberatan sayang, aku bertanya karena ingin menitip salam untuk Ibrahim. Apakah kondisinya semakin membalik?" balas Akemi.


"Kondisi Kak Ibrahim semakin hari semakin membaik ketika dia bersama ku. Tetapi ketika aku tak berada disana, kondisinya akan memburuk," lirih Shella. Dan Akemi pun beralih memeluk wanita tersebut.


"Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Mungkin kita akan mendapatkan ujian yang lebih berat dari ini, tetapi kita harus siap menerima apapun skenario dari Tuhan." Akemi selalu memberi sugesti yang positif kepada Shella. Meski terkadang hatinya juga berteriak, karena dia harus merelakan waktu keberasamaan mereka berkurang. Meski setiap di akhir pekan pria tersebut menemani Shella ke rumah sakit dan menghabiskan waktu disana. Tetapi rasanya sangat berbeda ketika Shella tak harus membagi perhatian dan perasaan nya kepada selain dirinya.


"Sayang, Tuhan menganugerahi hati yang mulia padamu. Dan aku tak pernah berhenti bersyukur untuk itu. Jika saja dulu aku tak menerima lamaran mu, entah apa jadinya diriku," tutur Shella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Maka aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia sekalipun. Apakah kau tahu apa yang membuat ku jatuh cinta padamu dan mantap menikah dengan mu?" Tanya Akemi di penghujung kalimatnya.


"Apa?" tanya Shella.


"Karena kesederhanaan dan kemuliaan hatimu. Aku pernah melihat mu memberi makan kepada orang fakir di pinggir jalan, sementara kamu sendiri sedang kekurangan. Saat itu aku pikir, wanita ini sangat cocok untuk di jadikan istri. Hati mu yang mulia membuat ku merasa kecil di mata dunia. Selama satu bulan aku mengikuti mu dulu. Bahkan aku menyuruh anak buah ku untuk mencari tahu tentang mu. Tapi yang aku dapatkan bukanlah sebuah informasi cacat, melainkan informasi yang justru membuat ku semakin mantap untuk menikahi mu. Lalu bagaimana bisa aku tak jatuh cinta padamu setiap hari?" Jawaban Akemi membuat Shella tercengang. Ternyata sewaktu Shella memikirkan lamaran Akemi dulu, pria itu tak putus asa. Dia justru mengikuti Shella dimanapun itu.

__ADS_1


Tiba-tiba Shella mengingat wanita yang dulu pernah disangka nya sebagai kekasih Akemi sewaktu bersama Naomi.


"Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Shella ragu-ragu.


"Tentu saja boleh, dengan senang hati aku akan memberimu jawaban sayang," jawab Akemi sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Siapa wanita yang dulu pernah menjadi kekasihmu? setelah kita menikah, kamu bahkan tak pernah menemui wanita lain selain Naomi, bukankah kalian pernah membahas wanita itu dulu disini?" Pertanyaan Shella justru membuat Akemi merasa bingung. Wanita yang pernah menjadi kekasih Akemi? siapa dia? bahkan pria itu tak pernah memiliki kekasih sebelumnya. Dia pun tak pernah merasakan yang namanya cinta monyet. Lalu bagaimana bisa Shella menanyakan hal ini padanya?


"Wanita yang pernah menjadi kekasih ku? apa maksud mu? aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan ini," jawab Akemi dengan kening berkerut.


"Dulu Naomi pernah bilang, bahwa kamu akan menikahi menikahi wanita itu disini. Waktu itu kamu baru saja menolong ku karena pingsan di pinggir jalan, dan membawaku ke Apartment ini," terang Shella. Seketika Akemi mengingat pembicaraan yang dulu pernah di ucapkan oleh Naomi, jika saudara kembarnya itu sedang menggodanya bersama Shella. Wah, sungguh ingatan yang tajam. Pikir Akemi.


"Saat mendengar itu, entah mengapa hatiku terasa sakit. Tapi siapa aku? mengapa aku harus merasa kecewa karena pembicaraan kalian? padahal aku sangat tahu betul posisiku kala itu," lanjut Shella kemudian dengan suara lirih. Akemi tampak sedang menahan tawanya. Ternyata Shella sudah mencintai nya sejak dulu. Hanya saja dia tak berani mengungkapkan rasa itu.


"Jadi kamu berpikir, bahwa wanita yang kami bahas waktu itu adalah wanita lain?" Tanya Akemi sembari menahan tawa.


"Bagaimana bisa kami membahas wanita lain sementara ada wanita yang aku incar disini dulu?" Jawaban Akemi justru membuat Shella merasa bingung dengan kening hampir menyatu. Wanita yang dia incar disini dulu? apakah itu artinya...., ah tidak mungkin. Pikir Shella.


"Apakah kamu sudah mengingatnya? aku yakin kamu sudah mengingatnya," tebak Akemi.


"Tidak, itu tidak mungkin aku akan?" tandas Shella seolah menampik perasaannya sendiri.


"Tapi sayangnya itu kamu. Kami sedang membahas mu waktu itu. Entah mengapa Naomi tiba-tiba menyukai mu saat pertama kali melihat mu disini. Dia bahkan memprediksi kan, bahwa kita akan menikah suatu hari nanti. Mungkin karena dia adalah saudara kembar ku. Jadi kami satu hati dan satu pilihan," terang Akemi sembari mengedipkan sebelah matanya. Shella tersipu malu jadinya. Jadi selama ini dia sudah salah paham? benarkah Akemi tak memiliki kekasih dulu? benarkah Shella adalah wanita satu-satunya yang di cintai Akemi?

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Shella malu-malu.


"Tentu saja sayang, aku tak punya kekasih. Hidupku terlalu kaku dulu, aku menghabiskan waktu di Kantor dengan bekerja. Hingga sampai akhirnya aku menemukan dirimu disana." Jawaban Akemi membuat hati Shella terenyuh. Bahagia rasanya memiliki pria seperti Akemi. Bagai ada ribuan kupu-kupu beterbangan di atas kepala wanita tersebut.


"Benarkah?" tanya Shella dengan raut wajah yang masih malu-malu.


"Tapi kamu wanita kedua yang aku cintai," tandas Akemi dengan raut wajah serius. Seketika wajah Shella menjadi tegang. Dia wanita kedua yang di cintai Akemi? siapa yang pertama? apakah dia sangat istimewa di banding dirinya?


Semenit yang lalu Akemi mengatakan, bahwa dia tak punya mantan kekasih. Namun, semenit kemudian dia mengatakan, bahwa Shella adalah wanita kedua yang di cintainya. Dasar pria gombal, sungguh tak dapat di percaya. Gerutu Shella dalam hati.


"Apakah kamu tidak ingin tahu siapa yang pertama aku cintai?" tanya Akemi kemudian.


"Siapa?" jawab Shella sembari membuang wajahnya ke samping. Akemi tersenyum tipis melihat sikap Shella. Ternyata wanita itu sedang memendam rasa cemburu.


"Dia adalah Mama," jawab Akemi mantap. Seketika Shella memalingkan wajahnya kepada Akemi. Mama? bagaimana bisa dia melupakan wanita yang telah melahirkan Suaminya itu? sungguh konyol. Dia pikir ada wanita lain di antara mereka.


"Aku pikir kau---"


"Ssst." Akemi menutup bibir Shella dengan menggunakan jari telunjuknya. Lalu kemudian beralih memeluk hangat tubuh Shella.


"Aku belajar mencintai dari Mama. Dia yang mengajarkan ku cara mencintai yang benar. Aku banyak menemukan wanita di luar sana yang mencari perhatian ku dan mengatasnamakan cinta, tetapi itu bukanlah cinta. Melainkan obsesi untuk mendapatkan ku. Siapa sih yang tidak tahan dengan pesona suamimu ini sayang? bahkan netizen banyak yang ingin mengantongi ku kemana-mana," goda Akemi di penghujung kalimatnya. Shella memukul pelan dada Suaminya itu.


"Is, kamu ini. Membuatku takut saja. Aku pikir kamu memiliki wanita lain," tandas Shella.

__ADS_1


"Hehe, aku hanya bercanda saja. Maafkan aku ya?" Dan dua manusia yang saling mencinta itu bersenda gurau sebelum akhirnya mereka harus terpisah untuk beberapa jam lamanya. Akemi akan ke kantor, sementara Shella harus ke Rumah Sakit Jiwa menemani Ibrahim.


To be continued.


__ADS_2