
Penyatuan benda kenyal itu semakin melekat. Tak ada sanggahan, dan tak ada pemberontakan. Pertautan antara benda kenyal itu semakin membuncah, hingga timbul rasa ingin bermain secara berirama.
Tiba-tiba tubuh Shella menjadi kaku, lidahnya keluh, otaknya lumpuh, seakan dunia wanita tersebut berhenti saat itu juga. Ritme debaran jantung Shella mulai terdengar berirama mengalun indah di dalam sana. Hatinya terasa berada di tempat yang jauh dari jati dirinya. Shella tak tahu harus berbuat apa. Wanita itu tak ada pengalaman pertautan antara benda kenyal. Selama berpacaran dengan Ibrahim, Shella tak pernah sekalipun bersentuhan dengan pria tersebut, sekalipun hanya bergandengan tangan.
Balik lagi pada pertautan antara benda kenyal. Merasa tak ada penolakan dari Shella, akhirnya Akemi menggigit bibir bawah wanita itu untuk memperdalam ciumannya. Maka terjadilah pertukaran air liur lewat transaksi yang saling melekat.
Suara transaksi itu bagai mengalun indah di indera pendengaran Akemi dan Shella. Seakan berlomba, bibir siapa yang lebih tebal. Suara desiran air liur yang mengalun di ujung bibir, membangkitkan hasrat ingin membela duren mengkal yang kini telah matang. Mungkinkah ini saatnya?
Masih terus memperdalam transaksi, Akemi membawa Shella di atas tempat tidur dengan mendorong pelan tubuh nya. Hingga keduanya terbaring di atas tempat yang empuk tersebut.
Shella bagai hilang kendali, akal sehatnya di penuhi kabut asmara. Sementara Akemi juga merasakannya hal yang sama. Pria itu seakan melupakan janjinya beberapa menit yang lalu untuk tak menyentuh Shella sebelum wanita itu benar-benar siap.
Pertautan yang berirama indah itu seolah ingin berkata, "Ayo lakukanlah." Namun, baik Akemi maupun Shella, keduanya sama-sama tak saling mengungkapkan rasa. Padahal sejatinya mereka sama-sama saling membutuhkan. Kendati cinta itu belum terucap dari bibir keduanya, tetapi bahasa tubuh mereka seolah mengatakan banyak hal mengenai cinta.
Akemi sungguh menikmati momen langkah itu, otaknya sudah di penuhi rasa ingin menyatukan diri. Dia berniat untuk mendekatkan anak konda nya yang sudah berdiri tegak di bagian tubuh bawah Shella, menggesek agar wanita itu tahu, bahwa Akemi butuh pemasok duren. Lalu kemudian,
berrt, berrt, berrt,
Suara perut Shella mengacaukan konsentrasi Akemi. Akhirnya pertautan antara dua benda kenyal itu pun terhenti seketika. Bahkan anak konda di bawah sana perlahan mulai mengendur. Maka otomatis acara bela durennya tertunda kembali. Keduanya saling menatap, tetapi bukan tatapan salah tingkah, melainkan tatapan lucu, dan mereka pun tertawa bersama.
"Hahahaha." Mereka menertawakan situasi dan kondisi mereka saat ini. Bagaimana tidak, di tengah ketegangan anak konda, perut Shella bernyanyi ria minta ingin di isi, dan mengacaukan segalanya. Suara yang sangat menyebalkan.
Kening Akemi dan Shella menyatu, tawa mereka pun perlahan menyurut. Akemi menarik diri dan menjatuhkan tubuhnya di samping Shella. Mereka terbaring bersama di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
Keduanya masih bungkam, hingga keheningan menghampiri mereka sampai memenuhi ruangan tersebut. Setelah kesadaran mereka kembali, situasinya kembali canggung. Terutama Shella, debaran jantung wanita itu seakan bekerja keras lagi.
"Apakah kamu lapar?" Tanya Akemi akhirnya setelah perasaannya kembali normal. Namun, Shella masih merasakan malu yang luar biasa.
"Iya," jawab Shella.
"Baiklah, kita cari makan di luar saja. Disini belum ada bahan makanan. Bibi juga sedang pulang kampung, tidak ada yang menyiapkan bahan sebelumnya," terang Akemi.
"Bagaimana kalau kita pergi belanja bahan makanan?" tawar Shella.
"Ide bagus, ayo kita pergi." Akemi bangun terlebih dahulu dari pembaringan, lalu kemudian mengulurkan tangan kepada Shella, agar wanita itu bangun sembari memegang tangannya.
Shella menatap tangan Akemi, tangan yang dulu menolongnya di tengah jalan ketika pingsan. Tangan yang dulu menahan tubuhnya saat hampir terjatuh kala terkena amukan Ibu Risma. Tangan yang mengikatnya dalam janji suci pernikahan di hadapan para saksi. Tangan yang mengangkat derajatnya. Ya, tangan itu yang kini merangkul Shella agar kuat dan tak terjatuh.
"Kita berangkat?" Tanya Akemi.
"Iya," jawab Shella dengan senyuman manis. Senyuman yang paling di sukai oleh Akemi.
**
Keduanya pergi berbelanja di supermarket. Mereka membeli daging sapi, ayam, ikan, sayuran, buah-buahan, dan perlengkapannya dapur lainnya. Akemi yang mendorong troli, sedangkan Shella yang memilih bahan makanan. Sungguh pasangan suami istri yang romantis. Hal yang tak pernah di duga Akemi, ternyata memasuki kehidupan nya perlahan tapi pasti.
Mereka bahkan mencoba jajanan khas Korea yang berada di supermarket tersebut. Keduanya saling menyuapi satu sama lain, merasakan betapa pedasnya jajanan Korea tersebut. Akemi dan Shella tampak sangat bahagia, siapapun yang melihat keduanya pasti akan merasa cemburu. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengintai keduanya dan mengambil foto kemesraan mereka.
__ADS_1
Puas menikmati jajanan khas Korea, Akemi dan Shella pun akhirnya ke kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka. Pria itu tampak tak mau jauh-jauh dari Shella. Terbukti dari tangannya yang tak mau lepas sedari tadi. Tangan itu bagai memiliki magnet yang menyatukan mereka.
Setelah membayar biaya belanja, akhirnya Akemi dan Shella pun pulang ke Apartemen. Mereka sangat menikmati kebersamaan itu. Meski kata cinta belum menambah keromantisan keduanya, tetapi bahasa tubuh Akemi dan Shella tak bisa saling membohongi.
**
Kini Shella telah selesai memasak. Sop sapi, ayam goreng, nasi putih, dan sayur capcay, menemani makan malam mereka.
Akemi sudah tampak segar setelah tadi meminta izin pada Shella untuk mandi. Tentu saja sebelum melaksanakan ritual mandi, Akemi menggoda Shella terlebih dahulu. Bahkan pria itu tak segan-segan untuk mencium Shella. Tampaknya hal itu akan menjadi kegiatan rutin Akemi yang baru, dan pastinya pria itu akan lebih betah di rumah dan menghabiskan waktu bersama istri tercinta.
Shella merasa di cintai oleh Akemi, kendati ungkapan cinta itu belum juga terlontar dari mulut suaminya, tetapi yang terpenting adalah mereka telah menikah.
"Wah, aromanya harum sekali. Aku jadi lapar," ucap Akemi seraya menghirup aroma masakan Shella yang sangat wangi hingga menggugah selera pria tersebut.
"Kamu masak apa?" Tanya Akemi selanjutnya.
"Ayam goreng, sop sapi, dan sayur capcay. Aku tidak yakin rasanya enak, dan aku juga tidak tahu selera makan kamu seperti apa. Maaf," ucap Shella dengan sedikit penyesalan. Akemi hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Aku tidak suka memilih makanan, semuanya adalah rahmat Tuhan. Lalu mengapa aku harus menolak rahmat itu?" Jawaban Akemi membuat Shella semakin jatuh cinta padanya. Rupanya Shella tak salah menikahi seorang pria.
"Baiklah, ayo kita makan. Aku sudah lapar," lanjut Akemi kemudian. Dan mereka pun menyantap makan malam mereka. Meski bukan tergolong makan malam romantis yang di temani lampu kerlap-kerlip, atau alunan musik yang syahdu, tetapi mereka sudah cukup puas dengan keberasamaan mereka.
To be continued.
__ADS_1