Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Mengukir Senja.


__ADS_3

Kenikmatan bulan madu Akemi dan Shella, sangat membekas di hati keduanya. Bagaimana tidak, di Maldives atau dalam Bahasa Indonesia di sebut Maladewa, mereka mengikat berbagai macam janji, dan mengukir kenangan di atas pasir putih pantai. Shella sangat menikmati kebersamaan yang begitu menakjubkan tersebut. Bahkan mereka juga berharap akan kembali ke tempat yang memiliki keindahan alam itu.


Ukiran cinta itu di sematkan di setiap sudut ruangan Resort, pantai, restoran, dan juga Hotel. Banyak ungkapan cinta melalui bahasa tubuh Shella, tetapi tak terucap oleh bibirnya. Akemi pun tak pernah menuntut jawaban cinta itu. Kendati hati kecilnya menginginkan pengakuan cinta tersebut, tetapi sekali lagi masih terlalu cepat jika dia mengharuskan Shella untuk menjawab. Bukankah mereka masih punya banyak waktu? mereka sudah menikah, akan mudah baginya untuk mendengar jawaban Shella suatu waktu nanti. Lagi pula, yang terpenting saat ini adalah wanita itu telah menjadi milik Akemi seutuhnya. Tak ada alasan bagi Shella untuk meninggalkan pria tersebut. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Akemi saat ini.


Akemi memiliki banyak harapan yang di ukir nya di setiap tempat yang di kunjungi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melainkan segudang bahasa kalbu yang terselubung. Bahasa kalbu yang mengisyaratkan cinta suci seorang Akemi Alexander Gautam pada Shella Yolanda.


Keduanya mengukir senja di bawah langit yang remang-remang. Hingga menemani indahnya malam yang di taburi bintang-bintang. Mereka bahkan mengukir kenangan indah itu dalam senyuman bahagia.


Di bawah langit senja keduanya duduk di tepi pantai saling menopang tubuh, terdiam dan membisu. Hanya bahasa kalbu yang bersuara indah di dalam sana, seakan menegaskan betapa mereka saling mencinta.


Di bawah langit senja, Shella berjanji setelah ini dia akan mengungkapkan segala rasa yang ada dalam dirinya kepada Akemi. Tak ada lagi rahasia hati, tak ada lagi bahasa kalbu, tak ada lagi bahasa tubuh, melainkan bahasa bibir yang mengungkapkan sejuta cinta. Karena sejatinya, wanita itulah yang lebih mencinta.


Sementara dalam benak Akemi, senja menjadi saksi bisu hubungan mereka. Pria itu mengukir nama Shella dalam hatinya, dan jika setiap waktu senja tiba, maka nama Shella akan terukir indah dengan sendirinya dalam hati pria tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan dengan memandang langit itu?" Tanya Akemi seraya menatap indahnya langit senja.


"Entahlah, hari ini terlalu indah untuk aku ungkapkan. Aku bahkan tidak sempat mengukir namamu di bawah langit ini," jawab Shella.


"Senja menjadi pilihan ku untuk membawamu kesini. Aku ingin mengukir nya bersama wanita pilihanku," balas Akemi sembari memegang erat tangan Shella lalu mengecupnya dengan hangat.

__ADS_1


"Apa yang kamu ukir di bawah langit ini?" Tanya Shella. Sebelum menjawab pertanyaan Shella, Akemi tersenyum manis. Lalu kemudian berkata dengan suara mantap, "Namamu." Shella semakin di hujam sejuta kebahagian. Benarkah Akemi mengukir namanya di bawah langit senja? begitu besarkah cinta yang di miliki Akemi untuk nya? mata Akemi memancarkan kebenaran dan ketulusan. Tak ada sandiwara di dalam sana.


"Benarkah?" Tanya Shella setelah beberapa saat diam.


"Tentu saja," jawab Akemi mantap.


"Apakah kamu tidak ingin tahu apa yang aku sematkan dalam diriku selama menatap langit itu?" Shella menunjuk ke arah langit dengan menggunakan dagunya.


"Apa?" Tanya Akemi penasaran.


"Aku mengukir waktu di tempat ini, hingga suatu saat nanti, kita akan kembali lagi ke tempat ini bersama. Atau mungkin dengan beberapa orang anak kita," jawab Shella sembari menatap indahnya langit senja yang berwarna jingga.


"Tak ada seorang wanita yang sudah menikah, tidak mengharap keturunan. Begitu juga dengan diriku, aku pasti menginginkan anak dari pria yang sudah menikah dengan ku. Apakah kamu tidak menginginkan seorang anak dariku?" Tanya Shella lirih di penghujung kalimatnya.


Pertanyaan macam apa itu? mengapa Akemi harus menolak kehadiran seorang anak? bukankah dengan memiliki anak, maka hubungan keduanya akan semakin kuat? dan tak akan ada alasan bagi Shella untuk meninggalkan dirinya kelak nanti. Pikir Akemi.


"Tentu saja aku mau. Bagaimana bisa pertanyaan itu muncul dari otak mu?" Akemi terlalu takut kehilangan Shella, hingga anaklah yang akan menjadi alasannya untuk mempertahankan Shella, jika suatu saat nanti wanita itu merasa bosan padanya dan berujung perpisahan. Entah apa yang menjadi alasan Akemi berpikir, bahwa Shella akan meninggalkan dirinya nanti. Namun, semenjak melihat kedekatan antara istrinya itu dulu bersama mantan kekasihnya yang bernama Ibrahim, Akemi merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Dan sulit untuk di ungkapkan.


"Entahlah, aku hanya bertanya saja," jawab Shella datar.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang waktunya kita kembali ke Resort. Kita bisa mengukir kenangan indah disana. Di bawah selimut, bermain keringat, bermandikan peluh, dan bermain, aww--" Belum selesai Akemi mengucapkan kalimatnya, Shella sudah mencubit pinggang pria tersebut. Bagaimana tidak, Akemi sudah mulai membuat dirinya malu lagi. Melalui sorot mata Akemi, Shella bisa melihat seberapa besar keinginan suaminya itu untuk mendaki gunung dan menuju puncak.


"Apakah tidak ada hal lain yang kamu pikirkan selain itu?" Kesal Shella.


"Itu apa?" Tanya Akemi dengan suara yang di buat-buat, seolah tak memahami maksud Shella.


"Itu ya itu," jawab Shella kaku, dia tak berani mengatakan kata tidur bersama.


"Itu apa?" Masih tetap dengan pura-pura tak paham.


"Baiklah, aku akan menghapus semua kenangan indah kita disini, jika kamu masih belum memahami apa maksud ku," ancam Shella, dan membuat Akemi merasa lucu dan gemas. Lucu, karena Shella mengancam akan menghapus kenangan indah mereka di tempat itu. Mana bisa di hapus? itu hanyalah pikiran anak kecil, sungguh konyol. Gemas, karena wajah Shella menjadi merah merona akibat menahan malu.


"Baiklah, aku yang akan memegang kunci kenangan itu, jadi kamu tidak akan bisa menghapusnya sesuka hati," tandas Akemi.


"Kau---"


"Sudahlah, ayo kita kembali. Ini sudah mau malam." Akemi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Karena dia sudah tahu, jika Shella yang polos itu akan berbelok topik, karena tak memahami maksud dari dirinya. Terlebih lagi Akemi menambah kata kunci kenangan di akhir kalimat nya, sudah pasti tak akan di pahami oleh Shela.


Akhirnya mereka pun kembali ke Resort tempat keduanya menginap. Namun sebelum itu, Akemi menguntai bait doa dalam hati sembari tersenyum, "Semoga kita akan terus seperti ini. Selayaknya pemandangan langit senja yang berwarna jingga. Karena aku suka warna itu. Warna yang menerangi sore hari. Aku mengukir senja dengan mengatasnamakan cinta ku padamu, dan menyebut namamu sayang, Shella Yolanda."

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2