
Angin pagi bertiup kencang seolah mengiringi derasnya air mata dua insan yang saling mencinta. Hembusan angin itu semakin kencang hingga merasuk ke pori-pori. Dua tubuh menjadi satu dalam ikatan cinta suci, tetapi bukan ikatan cinta seperti sinetron yang lagi viral dan di gandrungi emak-emak setanah air. Melainkan ikatan cinta antara Akemi dan Shella.
Tiada kata yang mampu mewakili perasaan dua insan itu. Mereka hanya mampu saling mengekspresikan perasaannya lewat pelukan hangat. Bahkan mereka mengabaikan pandangan setiap orang yang lewat mengitari keduanya. Masa bodoh dengan orang sekitar, mereka adalah sepasang suami istri yang sah. Siapa yang akan memisahkan mereka disini?
"Terimakasih sudah menungguku sampai sejauh ini. Terimakasih telah mendukungku dan tak pernah menyerah. Kamu sangat berharga bagiku. Kamu adalah belahan jiwaku. Bagaimana bisa aku meninggalkan belahan jiwaku? sementara aku butuh hidup bersamanya," tutur Shella dengan suara bergetar.
"Karena aku mencintaimu Shella, aku bahkan rela menjual jiwaku padamu asal kamu tetap di sisiku," balas Akemi tak kalah terharunya. Pria itu berbahagia ria. Dia memang sangat bahagia sekarang. Terlebih lagi akhirnya Ibrahim mau merelakan Shella.
Sementara masih di tempat yang sama, tetapi di ruang yang berbeda. Seorang pria tengah menahan sesuatu yang sangat menyakitkan. Rasa sakit itu telah merasuk ke sukma. Dia hampir tak dapat menahan rasa itu. Pedih sekali hingga mengalir ke sekujur tubuhnya.
"Ibu, berapa persen kemungkinan aku akan sembuh?" tanya Ibrahim sembari memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Apa maksudmu nak?" tanya Nisa.
"Ibu, jika hari esok tiba, dan aku sudah tak bernafas lagi. Maka tolong katakan pada Shella, bahwa aku menunggunya di atas sana sebagai istriku, bukan sebagai adikku."
Sumpah demi apapun Nisa sangat terpukul saat Ibrahim mengucapkan kalimat yang begitu menyayat hati. Apakah pria ini akhirnya menyerah melawan penyakit kronis itu? apakah mukjizat itu tak berlaku untuknya? tidakkah dia masih bisa pulih?
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan Ibrahim? tentu saja besok dan seterusnya kamu akan bernafas. Sampai Ibu yang akan pergi lebih dulu," jawab Nisa. Wanita paruh baya itu merasakan takut yang luar biasa. Tadi putranya itu tampak kuat dan baik-baik saja, tapi mengapa sekarang dia seperti ingin menyerah?
"Ibu, inilah pilihanku. Tolong jangan menahanku lebih lama lagi. Aku tahu bahwa hidupku tak akan lama lagi. Aku bisa pergi kapan saja. Jadi tolong relakan aku," pinta Ibrahim sembari menahan air matanya agar tak jatuh.
"Ibrahim anakku, tidakkah kau memikirkan nasib ibu tanpamu? apa yang akan ibu lakukan jika kamu tak ada lagi sisiku?" Nisa mulai menangis lagi. Dia pikir setelah semua yang terjadi, putranya itu akan baik-baik saja.
"Kalian akan terbiasa bu. Seiring berjalannya waktu kalian pasti akan terbiasa tanpaku. Tolong jangan menahanku lebih lama lagi. Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Dan aku juga sudah terlalu banyak membebani Shella. Dia adalah wanita yang baik. Aku tidak sanggup lagi membuatnya menderita," pinta Ibrahim sungguh-sungguh. Pria itu seperti tahu bahwa esok hari dia tak akan bernafas lagi.
"Apakah kau tidak ingin menikah seperti Shella nak? apakah kamu tidak mau memberikan ibu dan ayah cucu?" Nisa mencoba menguatkan Ibrahim yang sudah tampak rapuh. Pria itu kembali merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.
Sumpah demi apapun ingin rasanya Nisa berteriak, meraung, dan memohon kepada Tuhan agar memberikan mukjizat pada putranya itu. Jika bisa Nisa menulis catatan kecil untuk Tuhan, maka dia hanya akan menulis satu permohonan saja, yakni kesembuhan Ibrahim. Hanya itu, tak ada yang lain lagi.
"Ibrahim anakku," lirih Nisa sembari memeluk tubuh kering putranya.
Tak lama terdengar suara monitor yang menandakan kondisi Ibrahim semakin kritis. Detak jantung pria itu semakin cepat. Merasa panik, Nisa pun akhirnya memanggil Dokter Kiara yang menangani Ibrahim.
Sementara di luar ruangan, Akemi dan Shella merasa kaget ketika di kejutkan dengan teriakan Nisa yang histeris. Tak lama tampak Dokter Kiara dan beberapa perawat berlari kecil menuju ruang dimana Ibrahim berada.
__ADS_1
Shella dan Akemi ikut masuk ke dalam ruangan tersebut, dan melihat kondisi Ibrahim yang kritis. Apa yang terjadi? bukankah tadi Ibrahim baik-baik saja? apakah tadi itu hanya akting? pikir Shella.
Dokter Kiara menekan-nekan dada Ibrahim untuk memancing jantung pria itu kembali berdetak. Dokter Kiara tak putus asa, dia terus berusaha melakukan yang terbaik untuk pasiennya. Hingga akhirnya Shella jatuh pingsan ketika ia tak sanggup melihat kondisi Ibrahim yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Bug,
Shella jatuh ke lantai, sedangkan Akemi yang menyadari kondisi istrinya itu, akhirnya mengangkat Shella dan membawa wanita itu ke ruang pemeriksaan. Akemi meninggalkan Nisa yang masih terus setia menemani putra semata wayangnya itu.
"Ya Tuhan, tolong cabut saja nyawaku, jangan putraku. Aku yang berdosa disini, bukan dia. Jadi hukum saja aku, panggil aku, dan siksa aku. Tapi jangan putraku, aku mohon padamu Tuhan." Nisa berdoa dan terus berharap agar putranya itu sembuh seperti sedia kala. Tak dapat di bayangkan oleh Nisa, jika hidup tanpa putranya. Putra yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa. Putra yang di kandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Putra yang memberinya status sebagai seorang Ibu.
Haruskah Nisa bersedekah atau melakukan hal lain agar Tuhan mau menjabah doanya?
Tak lama terdengar suara monitor berbunyi lebih panjang lagi. Dokter pun akhirnya menyerah. Peluh telah membasahi kening dokter berwajah cantik tersebut. Sementara tangis Nisa semakin terdengar menyakitkan. Dia menangis, meraung, dan berteriak sejadi-jadinya. Dia menyebut nama putranya tercinta.
"Ibrahim..."
To be continued.
__ADS_1