Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Haruskah Menikah?


__ADS_3

Pertanyaan Ibrahim sungguh menggemparkan hati semua orang yang berada di dalam ruangan ICU. Bahkan Dokter Kiara pun sangat terkejut. Dokter cantik itu tahu persis jika Shella telah menikah. Apakah Shella harus rela menikahi Ibrahim demi keselamatan pria itu? sungguh mustahil. Pikir Dokter Kiara.


"Baiklah, biarkan pasien istirahat dulu. Jangan biarkan dia berbicara banyak," tutur Dokter Kiara. Beruntung Dokter itu menyela ucapan Ibrahim yang seolah menuntut jawaban dari Shella.


Dokter Kiara pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan ICU. Kondisi Ibrahim sudah mulai stabil. Meski masih tak ada kemungkinan untuk sembuh total seperti sedia kala.


Shella POV.


Aku mengatakan banyak hal ketika berusaha untuk menyadarkan Ibrahim dari tidur panjangnya. Aku seakan mengeluarkan kalimat itu tanpa beban. Tidakkah seharusnya aku mengingat Akemi? suamiku itu tak pernah menyakiti ku, bahkan ketika aku menyalahkan keputusan mu meninggalkan Ibrahim dan menikah dengan nya. Dia juga bahkan tak pernah mempermasalahkan hubungan ku dengan Ibrahim.


Aku sangat merasa bersalah pada pria yang sangat aku cintai itu. Entah apa jadinya aku jika tanpa dia. Tapi sekarang aku justru merasa seperti pengkhianat setelah mengucapkan hal yang tak semestinya. Haruskah aku mengatakan aku bersedia menikahi Ibrahim tadi? haruskah aku menyadarkan pria malang ini dengan cara yang salah?


Aku harus bagaimana sekarang? beruntung Dokter Kiara menyelamatkan ku hari ini, tapi bagaimana dengan esok hari? bagaimana jika Ibrahim justru memintaku untuk menikahinya seperti yang aku ucapkan tadi? bagaimana jika Ibrahim menuntut ku untuk menceraikan Akemi? maka aku akan mati jika hidup tanpa suamiku itu.


Sejujurnya aku mengatakan banyak hal demi memacu emosi Ibrahim agar pria itu mau sadar. Dan benar saja, usahaku ternyata berhasil. Namun sialnya, posisiku lah yang terjepit sekarang. Dimana aku harus mempertanggung jawabkan ucapanku sendiri.


Aku akhirnya pamit pulang setelah melihat kondisi Ibrahim yang mulai membaik. Beruntung pria itu tak memaksakan jawaban dariku atas pertanyaannya tadi. Jika tidak, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Sedangkan kami memang tak seharusnya menikah.


Ibrahim mulai istirahat tanpa mengatakan banyak kata. Mungkin dia juga lelah setelah koma selama beberapa hari. Sementara aku kini berada di perjalanan pulang menuju tempat suamiku tercinta. Suami yang selalu aku rindukan setiap saat.


Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan pertanyaan Ibrahim tadi. Pertanyaan itu seolah terngiang-ngiang dalam ingatanku. Dan sampailah aku di rumah tempat dimana Akemi berada.

__ADS_1


Aku terus berjalan dengan langkah gontai, hidupku seakan tak bersemangat karena ulahku sendiri.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Akemi yang ternyata sudah berdiri di depanku.


Aku tak menjawab pertanyaan suamiku itu, aku menatapnya dalam-dalam. Betapa berdosanya aku pada Akemi. Aku melihat cinta yang tulus lewat sorot matanya. Bahkan senyuman Akemi tak pernah palsu. Lalu masih tega kah aku untuk meninggalkan dia? sungguh aku adalah wanita yang jahat.


Memikirkan betapa jahatnya aku, aku pun memeluk Akemi dengan erat seakan tak ingin melepaskan pria yang aku cintai itu. Aku menangis dalam pelukannya. Mungkin Akemi merasa bingung mengapa tiba-tiba aku memeluknya sembari menangis, tapi aku tak sanggup lagi menahan diriku. Aku sangat merasa berdosa.


Lama aku memeluk Akemi sembari menimbang rasa, apakah aku harus jujur pada Akemi tentang kondisi Ibrahim, atau justru menguburnya dalam-dalam. Tapi bagaimana kalau Akemi tahu? dia pasti akan hancur.


Lama aku berpikir, akhirnya aku sampai pada titik kesimpulan, bahwa aku harus menceritakan yang sebenarnya pada Akemi. Bukankah selama ini dia selalu bijaksana dalam menyikapi situasi ku? lalu mengapa aku harus ragu? ya, aku tidak boleh ragu akan ketulusan cinta Akemi padaku. Dia sudah sering melewati banyak hal ketika harus menunggu jawaban atas cintanya padaku. Dan kali ini dia pasti akan memahamiku sekali lagi.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku," ucapku penuh sesal. Akemi melepas pelukanku dan menatap wajahku yang tak berani melihat matanya. Aku menundukkan wajahku dari pandangan Akemi. Sungguh aku tak sanggup menatap mata perak Akemi yang di penuhi ketulusan.


Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi di Rumah Sakit tadi. Aku bahkan tak melewatkan kalimat ku yang mengajak Ibrahim untuk menikah. Hingga sampai pada Ibrahim yang kembali mempertanyakan pernikahan padaku. Dan kalian ingin tahu apa jawaban suamiku?


"Jangan di pikirkan, itu karena kamu ingin dia sadar dari komanya. Hal itu biasa terjadi ketika seseorang tak sadarkan diri. Harus ada sesuatu yang memacu dirinya agar mau kembali sadar. Biasanya seseorang yang sangat berharga lah yang mampu melakukan itu semua. Dan kamu berhasil sayang." Begitulah jawaban Akemi padaku sembari mengecup kening ku.


Air mataku jatuh tumpah ruah di pipiku yang tak berbentuk lagi. Aku tak tahu harus berkata apa mengenai hati murni Akemi. Haruskah aku berterimakasih pada alam atas kebaikan hati suamiku?


Mau di dapat dimana lagi pria seperti Akemi? apakah ini nyata? apakah Akemi benar-benar manusia? ataukah titisan malaikat berwujud manusia?

__ADS_1


"Mengapa kamu tak marah Akemi? marahi aku! salahkan saja aku! atau bentak aku. Pukul aku, cubit aku. Aku memang pantas untuk itu," ucapku sembari mendorong dada Akemi dan dengan air mata yang terus bercucuran.


Akhirnya aku jatuh terkulai lemah di atas lantai. Aku ingin Akemi marah, agar aku tahu bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya. Benarkah dia tak memiliki rasa cemburu sama sekali? paling tidak, katakan sesuatu yang membuat ku sadar.


"Sayang, jika aku marah, lalu apa yang akan kamu lakukan padaku? kamu sudah terlalu banyak mengalami masa-masa sulit selama ini. Sebagai Suami, bukankah aku seharusnya mendukung mu?" balas Akemi bijaksana. Sekali lagi aku merasa posisiku terhempas ke dalam jurang keangkuhan ku sendiri.


"Tapi paling tidak marahlah padaku Akemi, aku lelah melihat mu terus menerus mengalah dan bersabar padaku. Aku benar-benar lelah," lirihku.


"Apakah kamu ingin tahu perasaan ku yang sebenarnya?" Tanya Akemi dengan suara yang mulai serius. Hatiku menjadi bergejolak. Apakah pria ini akan mengatakan hal yang tak ingin aku dengar? tapi baiklah, aku akan mendengarkan setiap kata hatinya kali ini. Sangat mustahil bagi seorang Suami yang tak memiliki rasa cemburu sama sekali terhadap pria lain yang berusaha mendekati istrinya.


"Aku sangat cemburu, bahkan perasaan ku hancur berkeping-keping ketika aku harus rela melepaskan mu menemui dan merawat Ibrahim. Meski dia adalah saudara mu, tetapi kalian pernah memiliki rasa cinta." Aku tak bergeming sama sekali. Aku seakan menikmati kejujuran hati Akemi. Jadi selama ini aku telah melukai suamiku tanpa sengaja? Oh Tuhan, betapa berdosanya diriku Tuhan. Aku menangis dalam hati.


"Hatiku bukanlah terbuat dari malaikat yang tak di bekali rasa cemburu dan sakit. Aku juga sama sakitnya dengan Ibrahim. Bahkan aku jauh lebih sakit dari dia jika kamu mampu melihat sedalam apa lukaku selama ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan? apakah aku harus menangis dan berteriak untuk melarang mu jangan pergi kesana? tidakkah aku seperti menjadi pria egois saat itu? lalu dimana kebijaksanaan yang selama ini aku junjung tinggi?"


"Hatiku terluka dan berdarah Shella jika aku marah dan membentak mu, tidakkah aku seperti pria yang tak tahu diri? harusnya aku bersyukur karena hubungan kalian ternyata hanyalah saudara. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan membunuh Ibrahim karena telah berusaha untuk mengambil istri ku."


"Jadi pahamilah sayang, aku melakukan ini semua bukan karena aku tak cinta padamu, ataupun tak memiliki rasa cemburu sama sekali. Tapi aku melakukan ini semua demi keutuhan rumah tangga kita. Aku adalah imam disini, dan kamu adalah makmumnya. Haruskah aku menyalahkan makmum ku ketika aku sebagai Imam tak ingin goyah sama sekali?"


"Sekarang katakan padaku, apakah aku harus marah padamu? atau aku harus membuang jauh-jauh prasangka yang justru akan menciptakan jarak di antara kita?"


Sumpah demi apapun, aku tak kuasa menahan diri lagi. Akhirnya aku mencium bibir Akemi dan ********** dalam-dalam sebagai bentuk cintaku yang tak bisa terucapkan lewat kata-kata. Hanya bahasa tubuh lah yang sanggup aku ungkapkan saat ini.

__ADS_1


Sejatinya cinta itu akan utuh ketika ego di turunkan. Karena terkadang cinta itu rasanya aneh, kadang membutakan mata hati, tetapi terus menuntun kita dalam jalur kebenaran. Ya, Akemi telah berada di jalur yang benar sekarang dengan tetap bijaksana dalam menentukan sikap. Begitulah sejatinya Imam dalam rumah tangga.


To be continued.


__ADS_2