
Javier mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, banyak kendaraan yang di lewatinya secara ugal-ugalan tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Javier memegang erat stir mobil dengan wajah yang penuh amarah, membayangkan istrinya berdua dalam satu kamar Hotel membuat jiwanya terbakar, hal yang dulu pernah di alaminya bersama Airin terulang kembali, dan kali ini bersama sahabat sekaligus orang kepercayaan di perusahaan yang selalu menjadi mentor bagi dirinya. Kepercayaan yang ditanamkan Javier pada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu sirna seketika. Dan wanita yang mulai di terima keberadaannya kini telah ikut berkhianat. Dunia Javier terasa runtuh dalam sekejap mata. Semua wanita sama saja, pengkhianat, egois, murah*n dan tidak tahu diri. Begitulah yang di pikirkan oleh seorang Javier Alexander.
Sedangkan Alea sangat takut melihat kondisi Javier yang tampak tidak baik-baik saja. Wanita itu seolah menahan napas merasakan laju mobil yang di kendarai suaminya tersebut. Mata Alea terpejam rapat, ia memegang seat belt dengan erat. Hanya memakan waktu 15 menit keduanya telah sampai di kediaman mereka. Javier membuka kasar pintu mobil dan menarik tubuh Alea secara paksa. Pria itu telah gelap mata, ia tidak memperdulikan kondisi Alea yang tampak menahan sakit, terlebih lagi wanita itu sedang hamil, namun tak di ketahui oleh dirinya.
Javier menutup pintu mobil dengan kasar.
BRAK....
"Javier, lepaskan aku". Jerit Alea. Tangan wanita itu kesakitan, namun Javier tak memperdulikannya. Javier mengabaikan pandangan beberapa asisten rumah tangga yang melihat dirinya seperti sedang kesetanan. Namun tak ada yang berani menghentikan pria itu, semua orang yang berada dalam rumah itu menundukan kepalanya seolah tidak melihat apa yang terjadi.
Javier terus berjalan dengan langkah cepat hingga menuju kamar pribadinya. Di bukanya pintu dengan kasar dan membanting pintu kamar itu...
BRAK...
Alea benar-benar ketakutan. Ia tidak pernah melihat Javier semarah ini sebelum nya. Javier membelakangi Alea sambil berkacak pinggang,
"Katakan padaku, sudah berapa lama hubunganmu dengan pria brengsek*k itu?!". Tanya Javier dengan tatapan membunuh.
"Vir, aku tidak---".
PRANK...
"Aaaaaakkkk---".
Sebuah vas bunga yang terpampang rapi di atas nakas hancur akibat Javier membantingnya. Pecahan vas itu berserakan dimana-mana.
"Katakan padaku Alea. Aaaaaakkkk---".
Javier terus berteriak seperti kesetanan. Mengusap wajahnya dengan kasar.
"Katakan padaku di mana saja dia menyentuhmu?". Mata Alea membulat sempurna manakala pertanyaan yang selama ini tidak pernah di bayangkan keluar dari mulut pria yang di cintainya itu.
"A--apa maksudmu Javier?". Tanya Alea dengan ekspresi tidak percaya, sedih dan terluka. Namun Javier mengabaikan wajah sendu Alea. Pria itu mendekati Alea dan membawa wanita itu ke atas ranjang dan menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Apa dia menyentuhmu disini?. Disini? atau di bagian ini juga?". Javier menjamah Alea dengan rakus, seolah menghapus semua jejak yang telah di berikan sahabatnya Alex pada Alea. Pria itu mere*as da** Alea, menggigit lehernya membuat tanda kepemilikan disana, menyentuh daerah sensitif wanita itu dengan sangat kasar.
"Sakit... Sakit...". Pekik Alea. Ia mengingat anak yang sedang di kandungnya. Apakah benih itu baik-baik saja setelah apa yang di lakukan oleh ayahnya sendiri?. Meski tidak mengetahui keberadaan benih itu, namun bukankah Javier telah melakukan tindakan kekerasan pada seorang wanita saat ini?.
Lalu Javier merobek dress yang di kenakan Alea, dan dalam satu kali tarikan baju itu terlepas dari tubuh Alea hingga menyisakan pakaian dalam.
"Aaaaaakkkk---. Javier apa yang kamu lakukan?". Alea mulai menangis sejadi-jadinya sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
"Aku akan melakukan seperti pria brengs*k itu lakukan padamu!". Jawabnya dengan senyum Devil.
"Tidak Javier, tolong jangan lakukan ini padaku. Huhuhu...". Suara tangisan Alea mulai mengeras, namun pria yang sudah terlanjur marah itu mengabaikan tangisan pilu Alea.
"Apa kamu merasa jijik padaku, ha?!. Apa dia memuaskan mu?. Dasar wanita mur*han!. Tidak tau diri!. Aaaaaakkkk---".
BRAK... BRAK...
Semua benda yang ada di samping Javier di buangnya ke lantai dengan kasar.
"Aku membencimu Alea!. Aku membencimu!. Apa kau dengar?!". Javier mulai mencekik leher Alea, hingga Alea hampir kehilangan nafas. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja Javier menci*m kembali wanita itu dengan rakus, tidak ada kelembutan disana, apa lagi tuntutan untuk menjamah, melainkan kemarahan seolah ingin melecehkan karena dendam.
Alea menerima perlakukan Javier yang telah kehilangan kendali itu dengan pasrah. Otaknya menolak perlakuan itu, namun tidak dengan tubuhnya. Meski Javier menjamahnya dengan kasar dan rakus, namun tubuh wanita itu tetap berkhianat menerima sentuhan kasar itu. Letih,lelah, lunglai, nikmat, dan sakit. Semua rasa itu muncul secara bersamaan. Mata Alea mulai meredup, tubuhnya mulai melemah, namun Javier belum menyelesaikan permainannya. Entah sudah berapa lama pria itu bermain, namun tubuh Alea sudah tidak bereaksi. Lalu kemudian,
"Aaaaaaahhh--".
Javier telah sampai pada titik klimaks nya, lalu melepas tubuhnya dari Alea. Pria itu berbaring di sisi kiri wanita yang telah terkulai lemah. Napasnya memburu, dadanya bergerak naik turun seperti baru saja melakukan lari maraton beribu-ribu kilometer.
Javier membenahi pakaian yang di kenakannya lalu meninggalkan Alea dalam kamar. Wanita itu terdiam sejenak, dunianya seolah berputar, dan kediaman itu berubah menjadi isakan.
"Hiks... Hiks... Hiks...".
"Kamu jahat Javier. Huhuhu... Aku membencimu. Aaaaa...". Isakan tadi berubah jadi tangisan pilu, Alea menangisi nasibnya yang benar-benar tragis, ia ternoda, wanita itu mengalami pelecehan se*sual oleh suaminya sendiri. Dan tangisan itu perlahan-lahan hilang karena Alea tak sadarkan diri.
*****
__ADS_1
Melihat Tuannya pergi dengan ekspresi marah, Bi Asih yang merupakan asisten rumah tangga dalam rumah itu pergi ke ruang tamu untuk melihat majikan nya meninggalkan rumah. Setelah dilihat mobil Tuannya itu hilang dari pandangan nya, Bi Asih kemudian pergi menuju kamar pribadi tuannya untuk memastikan apakah Nyonya di rumah itu baik-baik saja. Namun mata wanita paruh baya itu membulat sempurnah ketika melihat kondisi majikan yang telah di anggap sebagai putrinya itu seperti seseorang yang baru saja mengalami pelecehan se*sual. Bi Asih berjalan cepat lalu menutup tubuh polos Alea dengan selimut. Wanita itu sangat khawatir dengan kondisi Alea.
"Nyonya, bangun Nyonya". Bi Asih memukul-mukul pelan wajah Alea guna menyadarkan wanita itu. Namun tak ada reaksi. Tidak pilihan lain, Bi Asih kemudian memercikan air ke wajah Alea. Dan ya, itu berhasil. Alea mulai tersadar.
"Jangan menyentuhku. Pergi!". Alea tampak takut di dekati oleh seseorang, ia mendorong tubuh Bi Asih, Ia merasa trauma akan tindakan Javier barusan.
"Nyonya, ini Bibi Nyonya. Ini Bi Asih". Tutur asisten rumah tangga itu untuk meyakinkan majikannya yang tampak sangat ketakutan.
"Bibi... Aaaaa. Huhuhu.." Alea menangis sejadi-jadinya dalam pelukan wanita yang hampir seumuran dengan ibunya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Tinggalkan komentarnya ya. Jangan lupa like dan Vote serta beri bintang juga. Oh ia, nanti Author akan buatin Javier PROV supaya kalian tau apa isi hati Javier tentang Alea ya. Semua akan terjawab. Kalian bisa menilai apakah Javier bucin atau tidak.
__ADS_1
Happy Reading 😊
*Dede...