
Di malam harinya saat Akemi dan Shella usai melaksanakan pesta pernikahan. Akemi yang merupakan pria kaku, justru berubah jadi pemalu. Pria itu tampak gemetar, seperti nya ada yang aneh pada dirinya. Pikir Akemi.
Sementara di kamar mandi, dimana saat ini Shella berada, wanita itu juga tak kalah takutnya. Tak pernah terlintas di benak Shella untuk menikah dengan pria yang merupakan Bosnya sendiri. Padahal dia hanyalah sebagai petugas kebersihan.
Shella datang ke kota untuk mengadu nasib dan mencari kerabat nya, tepi Tuhan justru membelokkan jalan hidupnya. Atau mungkinkah ini takdir Ilahi untuk Shella? entahlah.
Beberapa kali Shella tampak berusaha untuk menenangkan dirinya. Jantung wanita itu selalu berpacu kencang, hatinya was-was. Apakah Akemi akan meminta haknya malam ini? pikir Shella.
"Tapi bukankah dia bilang waktu itu aku tak perlu menjalankan kewajiban ku sebagai istrinya?" gumam Shella berusaha untuk menenangkan perasaan.
"Tapi bagaimana jika dia meminta haknya? bukankah kita sudah resmi menikah? aduh bagaimana ini?" Takut, malu, tak siap dan canggung. Itulah perasaan yang di miliki Shella saat ini.
Shella mondar-mandir di dalam kamar mandi seperti setrika yang kusut. Padahal sudah sejak setengah jam yang lalu wanita itu telah menyelesaikan ritual mandinya.
Akemi yang berada di kamar dan merasa khawatir Shella tak kunjung keluar dari kamar mandi, akhirnya mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
Tok, tok, tok,
"Shella, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Akemi khawatir. Hati pria itu di landah kecemasan.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Shella dari dalam kamar mandi. Padahal sejujurnya wanita itu tidak tampak baik-baik saja. Hatinya tak kalah takutnya dari Akemi.
"Aduh, bagaimana ini. Dia sudah memanggil ku," ucap Shella gemetar. Akhirnya wanita itu menangis karena rasa takut yang berlebihan, membuat Akemi semakin khawatir.
"Hu, hu, haaa....."
"Shella, kamu tidak apa-apa? buka pintunya Shella. Jangan buat aku takut." Bukannya tenang, wanita itu justru semakin berteriak ketakutan.
"Hu, haaaaa."
__ADS_1
"Astaga, dia kenapa?" Tak ada pilihan lain, akhirnya Akemi mendobrak pintu kamar mandi hingga rusak. Pria itu melihat Shella duduk di lantai sembari memeluk lututnya. Air mata jatuh berderai membasahi pipinya yang mulus.
"Kamu kenapa, em? katakan padaku, apanya yang sakit? ayo katakan padaku Shella!" Akemi tak bisa mengendalikan dirinya. Kecemasan pria itu mengalahkan akal sehatnya.
"Aku takut, hu, hu, hu," jawab Shella akhirnya masih dengan sisa-sisa isakan tangisnya.
"Takut apa?" Tanya Akemi panik.
"Aku takut kamu akan mendaki gunung ku, haaa...." Kalimat Shella tak membuat Akemi paham. Dia justru semakin bingung.
"Mendaki gunung?" Gumam Akemi, namun masih bisa di dengar oleh Shella.
"Iya," jawab Shella.
"Mendaki gunung dimana? aku tidak kemana-mana malam ini. Untuk apa mendaki gunung? lagi pula, gunung apa yang akan aku daki?" Tanya Akemi polos. Ternyata pria itu tak memahami maksud dari Shella.
"Hahahaha."
Mendengar tawa Akemi, Shella pun bingung. Mengapa pria ini justru tertawa? apanya yang lucu? wajar kan jika dia malu? pikir Shella.
"Jadi kamu menangis karena takut aku meminta jatah? hahahaha." Sekali lagi Akemi tertawa konyol, dia sungguh tak habis pikir dengan wanita yang kini menjadi istrinya itu. Bagaimana tidak, Akemi harus merusak pintu kamar mandi dengan menendangnya selayaknya pemain bola, hanya untuk mendengar ketakutan Shella yang takut pada malam pertama? sungguh konyol.
Menyadari Akemi menertawakan kekonyolan nya, akhirnya wajah Shella berubah menjadi merah merona karena malu.
Akemi menghentikan tawanya karena istrinya itu tampak sudah menahan malu yang tiada tara.
"Ehem, maafkan aku," ucap Akemi. Dia menangkup kedua pipi Shella sembari berkata, "Aku tidak akan meminta hak ku sebagai suami mu sampai kamu siap. Bukankah sudah aku katakan, jika kamu tidak perlu menjalankan kewajiban mu sebagai istriku?" Ucap Akemi berusaha untuk menenangkan Shella. Tapi justru tak tahu bagaimana caranya menenangkan anak konda yang di bawah sana jika tengah malam tiba.😄
"Tapi jika kamu meminta, maka aku akan memberikannya dengan senang hati. Seperti mendaki gunung yang kamu katakan tadi." Sumpah demi apapun Shella sangat malu. Bagaimana bisa Akemi mengingat kan kalimat mendaki gunung tadi?
__ADS_1
"Ih, kamu jahat," ucap Shella sembari memukul-mukul dada Akemi. dan tak mau berhenti meski pria itu sudah merintih kesakitan.
"Aw, sakit Shella. Cukup, sudah cukup, aku bilang cukup.!" Akhirnya Akemi menghentikan pukulan Shella dengan memegang tangan wanita itu dan mengunci gerakan Shella. Shella tak dapat berkutik. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Godaan iman Akemi mulai terpancing. Bibirnya, hidungnya, matanya, semua tak luput dari pandangan Akemi. Sungguh seksi.
"Mengapa tadi aku bilang tak akan meminta hak ku? lalu siapa yang akan menenangkan anak konda ku nanti? dasar payah," batin Akemi. Ya, anak konda Akemi di dalam sana mulai berteriak ingin memuntahkan bisanya. Namun, Akemi memegang teguh prinsip nya. Dia bukan pria yang suka melanggar janji, kecuali terpaksa. Haha.
Keduanya melepas sentuhan itu, mereka sama-sama salah tingkah di dalam kamar mandi. Tak lama datang lah Mama Alea dan Papa Javier serta penghuni rumah lainnya di kamar Akemi dan Shella. Ternyata mereka juga mendengar teriakan Shella tadi.
"Ada apa? apa yang terjadi?" Tanya Mama Alea tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Baik Mama Alea maupun yang lainnya, merasa heran plus lucu ketika melihat kondisi Shella dan Akemi yang sedang duduk di kamar mandi dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan.
"Kalian sedang apa di kamar mandi dengan gaya kodok begitu?" Tanya Mama Alea. Dan mendapat cubitan dari Papa Javier. Sementara Naomi, Marina dan Aljav justru tampak menahan tawa.
"Is, Mama ini kaya tak pernah muda saja. Itu gaya baru loh," tandas Papa Javier. Semua yang mendengar celetukan Papa mereka itu merasakan malu yang luar biasa.
"Is, Papa ini. Malu sama anak-anak," balas Mama tak kalah malunya.
"Lagi pula, mau mencetak gol saja pakai acara teriak segala," ejek Papa Javier.
"Besok pasang penyedap suara di kamar ini," lanjut Papa kemudian.
"Makanya, kalau mau main bola itu jangan ribut-ribut," cibir Aljav tak mau kalah. Akhirnya Marina membalas cibiran suaminya itu tak kalah pedisnya.
"Seperti berhasil mencetak gol saja, padahal biar satu gol belum pernah."
Skak mati, Aljav tak bisa berkutik lagi. Pria dingin dan angkuh itu bungkam seribu bahasa. Bagaimana tidak, selama menikah dengan Marina, pria itu belum pernah sekalipun menyentuh Istrinya. Itu namanya senjata makan tuan.
To be continued.
__ADS_1