
Satu Tahun kemudian.
Kisah asmara antara Akemi dan Shella berjalan luar biasa setiap harinya. Mereka memadu kasih dengan penuh cinta. Tak pernah sekalipun mereka bertengkar ataupun sekedar berdebat. Hanya saja, Akemi sangat usil dalam menjahili Shella. Sehingga tak jarang wanita itu harus menangis karena malu. Seperti yang di ketahui, bahwa setiap kali wanita itu merasa malu yang berlebihan, maka dia akan menangis. Sebenarnya ada unsur sengaja juga, agar Akemi mau menghentikan godaannya. Karena Akemi tak pernah bisa melihat Shella menitikan air mata. Pria itu memilih mengalah dari pada istrinya bermuram durja. (Hayo... siapa yang pengen punya suami seperti Akemi..? haha).
Sementara Shella menjalani hari-harinya seperti biasa. Dimana dia menjadi seorang istri sekaligus pebisnis kecil-kecilan di butiknya. Kendati wanita itu harus membagi waktu antara suami dan butik. Namun, suaminya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Selain dirinya juga sibuk, Akemi tak ingin Shella merasa kesepian ketika harus berada di rumah sendirian.
**
Sementara di tempat yang berbeda, seorang pria terduduk kaku di kursi roda. Tatapan pria itu kosong, bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali dalam dirinya. Dia tak berdaya melawan dunia yang tak berpihak padanya. Pria itu setiap hari menangis, meraung, mengiba, dan memohon agar dirinya di pertemukan dengan sang pujaan hati. Bahkan tak jarang dia juga tertawa ria selayaknya orang yang sedang jatuh cinta.
Pria itu setiap hari harus melawan kondisi mentalnya yang terbalik. Segala daya upaya di lakukan oleh tim medis, tetapi hasilnya tetap nihil. Dia seolah masih betah dalam kegilaannya. Dia seakan menolak untuk hidup normal seperti dahulu.
Pria itu hanya berteriak dan menyebut nama, "Shella Yolanda." Siapakah dia? ya, kalian benar, Ibrahim. Ibrahim kini harus mendapatkan perawatan secara intensif karena kondisinya yang gila pasca di tinggal pergi oleh Shella.
Malam itu Ibrahim tak bisa menahan dirinya untuk menangis dan meraung seperti orang kesetanan. Dia berteriak sambil menyebut nama Shella. Hanya nama wanita itu yang selalu setia menghiasi relung hatinya yang terdalam. Hingga nasib menjadikan dia pria gila karena putus cinta.
Beruntung malam itu Nisa menemukan Ibrahim di pinggir jalan pasca pulang dari pertemuan penting bersama koleganya. Wanita paruh baya itu harus menemani suaminya meeting di sebuah restoran yang jaraknya tak jauh dari Apartemen Akemi dan Shella.
__ADS_1
Siapakah yang harus di salahkan dalam hal ini? apakah Tuhan? apakah Shella? ataukan takdir? atau justru Ibrahim itu sendiri? jawabannya adalah bukan! yang patut di salahkan dalam hal ini adalah kedua orang tua Ibrahim. Mereka patut bertanggung jawab atas penderitaan yang di alami oleh putranya sendiri. Bagaimana tidak, mereka menolak untuk menerima Shella sebagai menantunya. Alasannya hanya satu, yakni Shella merupakan wanita pembawa sial. Hanya itu saja alasan yang selalu di keluarkan oleh kedua orang tua Ibrahim. Namun, sejujurnya mereka memiliki alasan khusus di balik penolakan itu. Hanya saja terlalu sulit untuk mengungkapkan rahasia yang akan membuat dunia Ibrahim dan Shella terbalik.
Jika memang rahasia itu teramat sangat sulit untuk di ungkapkan, lalu mengapa mereka harus menghukum dua insan yang saling mencinta itu dulu? apakah ego mereka tak bisa di turunkan demi kebahagiaan putranya? kini mereka tak bisa melihat lagi tawa seorang Ibrahim. Bahkan tawa itu sudah lama pupus sejak Ibrahim harus kehilangan Shella. Dia terpaksa harus menerima kenyataan pahit yang memilukan. Tak ada yang bisa di lakukan oleh orang tua Ibrahim, hanya penyesalan lah yang tersisa.
Kini Ibrahim duduk terdiam di kursi roda sembari menatap sepenggal foto Shella. Hanya foto itulah sahabat pria itu selama menjalani hidupnya sebagai pria gila. Terkadang dia menangis pilu, tapi tak jarang pula dia tertawa dan menari bersama sepenggal foto tersebut.
Sungguh miris nasib pria itu, dia harus menerima kenyataan pahit akibat dari keegoisan orang tuanya yang menyimpan rahasia terlalu lama. Hingga akhirnya cinta itu menjadi sarang penyakit hati yang tak memiliki penawar.
"Shella, dimanakah dirimu sayang? aku menanti mu disini. Temui lah aku disini, tempat dimana sering kita menghabiskan waktu. Hiks, hiks, hiks," ucap Ibrahim sembari terisak. Dia berbicara seolah orang yang berada di depannya itu adalah Shella. Padahal yang ada hanya sebatang pohon yang menjulang tinggi dan berdiri kokoh.
"Mengapa kamu jadi seperti ini Nak? mengapa kamu harus mengalami ini semua? maafkan Ibu Nak, maafkan Ibu. Hiks, hiks, hiks." Nisa menangisi perbuatannya sendiri yang egois. Bagaimana bisa ada seorang Ibu yang rela putranya menjadi gila, ketimbang harus menurunkan ego dan mengungkapkan segala rahasia yang ada? bukankah seorang Ibu rela mati demi putra putri mereka? tapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya.
Tak lama Nisa mendekati Ibrahim yang kini tertawa sembari menatap foto Shella. Semenit yang lalu pria itu tertawa bahagia, lalu semenit kemudian dia menangis kehilangan.
Nisa mengusap kepala Ibrahim dengan penuh kasih sambil di temani air mata yang bercucuran.
"Ibrahim, ini Ibu sayang. Apakah kau mendengar kan Ibu?" lirih Nisa. Ibrahim tak menjawab, dia hanya menoleh sejenak, lalu kemudian memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Hati Nisa semakin hancur, kondisi Ibrahim yang tak mengenali dirinya lagi membuat seluruh dunia wanita paruh baya itu runtuh seketika.
"Nak, maafkan Ibu sayang. Berikan Ibu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Ibu. Tapi kembalilah sayang, Ibu dan Ayah menunggu mu," lanjut Nisa kemudian.
Tak lama Ibrahim menoleh kearahnya. Dia memegang tangan Nisa dengan erat. Dia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan mengiba.
"Izinkan aku bertemu dengannya, aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintai nya. Hu, hu, hu," lirih Ibrahim. Tatapan pria itu begitu sangat mendambakan sosok Shella. Sementara Nisa sudah tak dapat membendung lagi rasa penyesalan nya. Hingga tangisnya pun pecah seketika.
"Hu, hu, hu, maafkan Ibu Nak. Maafkan Ibu. Ibu tak kuasa melihat mu seperti ini Nak. Ibu janji, Ibu akan membawa Shella kemari sayang, Ibu janji," janji Nisa sembari memantapkan hati. Wanita itu mulai menurunkan egonya demi kesembuhan Ibrahim. Jika saja dia sedikit lebih cepat untuk tak egois, mungkin Nisa akan melihat Ibrahim tersenyum sembari memeluk dirinya dengan hangat. Namun, kini nasi sudah menjadi bubur. Meski di kasi panas, rasanya tetap akan berbeda. Karena rasa bubur tak akan pernah sama dengan nasi.
Ibrahim tak menjawab ucapan Nisa, dia tiba-tiba terdiam ketika mengungkapkan keinginannya untuk bertemu Shella. Sungguh miris nasib pemuja cinta itu.
Begitulah hidup, jika tak bisa menaklukkan ego, maka hidup akan terasa hampa. Namun, jika kerasnya hati dapat di takluk kan, maka hidup akan terasa lebih berarti.
Orang tua merupakan guru terbesar bagi anak-anak nya. Dan anak adalah sebagai modal orang tua. Bukankah investasi terbesar di dunia ini adalah anak? maka ajari lah anak kita tentang kebaikan selayaknya seorang guru. Perkara murid itu akan menjadi manusia yang cerdas atau tidak, biarkan sang maha membolak-balikkan hati dan keadaan yang menentukan.
To be continued.
__ADS_1