
Kondisi Ibrahim lebih tenang sekarang semenjak kedatangan Shella. Pria itu tak menolak ketika di masukan obat kedalam tubuhnya. Sepanjang waktu dia hanya tersenyum. Pengaruh Shella sungguh luar biasa. Wanita itu mampu membuat jiwa seorang pria gila menjadi tenang.
Kini Akemi dan Shella sudah pulang ke rumah mereka. Setelah membujuk Ibrahim dengan berbagai macam bujuk rayu, akhirnya Shella di izinkan pulang oleh pria tersebut.
Shella memasuki kamar, sementara Akemi menuju dapur untuk mengambil air minum. Ingatan tentang ucapan Nisa tadi selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah dia akan memberitahu Shella tentang kondisi Ibrahim yang sesungguhnya? apakah wanita itu siap menerima kenyataan?
Tak lama Shella datang dan memeluk Akemi dari belakang. Akemi cukup terkejut dengan sikap Shella itu.
"Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Shella seraya memeluk tubuh Akemi. Akemi membalikkan tubuhnya hingga menghadap pada Shella.
Akemi menatap mata Shella, tatapan mata itu menyiratkan kesedihan. Kening Shella mengkerut dalam penuh tanya.
"Ada apa? apakah kamu sakit? mengapa wajahmu pucat?" tanya Shella khawatir.
"Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya sedikit kelelahan," jawab Akemi sembari memeluk tubuh Shella.
"Baiklah, sekarang kita istirahat dulu. Mungkin kamu kelelahan karena terlalu lama menunggu ku. Maafkan aku ya?" lirih Shella di penghujung kalimatnya. Akemi melepas pelukannya sembari tersenyum.
"Aku baik-baik saja sayang, aku senang akhirnya hubungan kalian baik-baik saja. Lambat laun dia akan menerima mu sebagai adiknya," terang Akemi dengan sedikit rasa sesal. Ya, Akemi merasa menyesal karena belum bisa jujur tentang kondisi Ibrahim yang sebenarnya pada Shella.
__ADS_1
"Iya, semoga saja begitu. Dia pasti akan sembuh dan menemukan wanita lain untuk di nikahinya kelak nanti." Hati Akemi semakin tercubit berkali-kali lipat ketika melihat harapan hampa dari wajah Shella. Wanita itu berharap Ibrahim akan pulih kembali dan mau menikahi wanita lain. Namun, itu tak akan pernah terjadi. Karena Tuhan telah membelokkan takdir pria malang tersebut.
"Shella, ada yang ingin aku katakan padamu," tutur Akemi ragu-ragu. Pria itu masih tampak berpikir, apakan dia akan memberitahu kondisi Ibrahim atau justru memendam rahasia itu sendirian.
Lama Akemi berpikir, akhirnya dia sampai pada titik kesimpulan, bawah dia harus memberitahu Shella. Jika wanita itu terlambat mengetahuinya, bisa jadi dia akan menyalahkan Akemi karena tak jujur suatu hari nanti.
"Apa itu? sepertinya sangat penting," jawab Shella. Jantung wanita itu berdegup kencang. Dia bisa merasakan sesuatu yang berbeda kali ini. Tatapan Akemi seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan.
"Sebenarnya Ibrahim menderita tumor ganas stadium akhir di kepalanya," ucap Akemi akhirnya setelah lama bungkam.
Deg,
"A--apa? kamu bercanda kan sayang? kamu tak serius kan? katakan padaku, kamu hanya bercanda kan?" Seluruh tubuh Shella gemetar. Dunia wanita itu bagai berhenti sejenak. Tumor ganas? bagaimana bisa? Ibrahim adalah pria yang sangat kuat. Mengapa dia bisa mengidap penyakit mematikan itu? pikir Shella.
Tubuh Shella terkulai lemah dan jatuh ke lantai. Tiba-tiba tangisnya pecah. Dia menangis dan meraung seolah menyalahkan dirinya.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Hu, hu, Kak Ibrahim... Ini semua adalah salahku. Aku yang membuat dia menjadi seperti ini. Dia gila karena ku, dan sekarang dia mengidap penyakit ini juga karena aku, semuanya karena aku. Jika saja aku tidak meninggalkan dirinya dan tetap mau berjuang bersama. Dia tak akan seperti ini, hu, hu, hu."
Deg,
__ADS_1
Apa kata Shella? semua karenanya? apakah Shella menyesali pernikahan nya bersama Akemi? mengapa dia harus menyesali keputusan nya dulu yang tak mau berjuang bersama Ibrahim? apakah Akemi tak berharga dimatanya?
"Shella, kamu tidak salah dalam hal ini. Semuanya sudah takdir. Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri," terang Akemi. Dia berusaha untuk menenangkan Shella yang terus menyalahkan dirinya atas kondisi Ibrahim. Namun, sejujurnya Akemi tengah memendam sesuatu yang meronta di dalam sana. Hatinya terluka ketika mendengar pernyataan Shella yang menyesal tak berjuang bersama Ibrahim dulu. Itu artinya Shella juga menyesali pernikahan nya bersama Akemi?
"Tidak Akemi, ini adalah salahku. Aku adalah penyebab utama dalam hal ini. Aku yang membuat Kak Ibrahim gila dan jatuh sakit. Hu, hu, hu, aku yang salah, aku yang salah." Shella terus berteriak dan menyalahkan dirinya sendiri. Akemi merasa muak dengan sikap Shella. Akhirnya pria itu meninggikan suaranya dan membentak Shella. Hal yang pertama kali di lakukan oleh pria tersebut.
"Cukup Shella, cukup! baiklah, kamu yang salah dalam hal ini. Kamu yang menyebabkan Ibrahim gila dan sakit. Lalu bagaimana dengan diriku? bukankah karena kehadiran ku kamu memilih berhenti memperjuangkan cinta mu padanya? karena aku menggeser posisi Ibrahim di hatimu, karena aku jatuh cinta padamu dengan segenap hatiku dan memilih menikahi mu. Mengapa tak kau salah kan saja aku, ha? mengapa memilih menyalahkan dirimu sendiri? jika aku tidak hadir di antara kalian, mungkin cinta itu tak akan punah. Aku bisa melihat seberapa besar cinta Ibrahim untuk mu. Dia bahkan rela menjadi pria gila demi cinta mu. Tapi bukankah bahkan jika aku tak hadir di antara kalian, hubungan itu tetap salah? karena kalian adalah saudara." Akemi mengeluarkan segala isi hatinya yang terpendam. Selama ini dia memilih diam, tetapi kali ini Shella harus menerima kenyataan. Meskipun itu pahit.
Shella tak menjawab, dia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Namun, dalam hati kecil wanita itu membenarkan ucapan Akemi.
"Hu, hu, hu. Apa yang sudah aku lakukan? mengapa semua jadi seperti ini? tolong maafkan aku. Aku menjadi wanita egois. Maafkan aku, hu, hu, hu." Hati Akemi hancur ketika melihat kondisi Shella yang menyedihkan. Dia tak menyalahkan wanita tersebut. Dia hanya menyayangkan sikap Shella yang seolah menyalahkan pernikahan mereka.
"Ssst, tenanglah sayang. Semua manusia akan kembali pada pencipta nya kelak nanti bila masanya telah tiba. Tidak kamu, tidak aku, dan tidak pula Ibrahim. Semuanya akan kembali. Kita tinggal menunggu waktu saja. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu, em?" Akemi memeluk tubuh Shella sembari mencium puncak kepala wanita tersebut. Begitu besar kasih sayang yang dimiliki Akemi untuk Shella. Meski tak sebesar cinta Ibrahim kepada wanita tersebut. Tapi, dia tak akan pernah mau melepas tangan Shella. Tangan yang telah di ikatnya lewat ikatan suci pernikahan.
"Maafkan aku Akemi, maafkan aku. Aku sudah menyakiti mu. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaan mu. Maafkan aku, hu, hu, hu." Shella sangat menyesali ucapannya tadi. Dia tak ada maksud untuk menyakiti Akemi. Dia hanya terlalu terkejut dengan peristiwa yang bertubi-tubi datang menghampiri.
"Kamu jangan menyalahkan dirimu sayang, kamu hanya terguncang dengan apa yang kamu dengar tadi. Kita akan menghadapi ini sama-sama, em?" Sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata bagaimana baiknya hati seorang Akemi. Dia adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk Shella. Kedua orang tua pria tersebut mendidik Akemi dengan sangat baik, hingga jadilah dia pribadi yang pemaaf dan pengertian. Bukankah orang tua merupakan guru terbesar bagi anak-anaknya? maka jadilah orang tua yang bijaksana dalam menyikapi setiap peristiwa, agar tercipta anak yang berbudi luhur dan berhati mulia.
To be continued.
__ADS_1