Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Pengumuman Novel Baru.


__ADS_3

Hai-hai, apa kabar? lama tidak menyapa rekan-rekan di sini. Semoga kita selalu sehat walafiat. aamiin.


Oh iya, Author mau mengumumkan novel baru yang ada di pf sebelah. namanya F**i**z**o. Yang berjudul "Dendan dan Cinta."


Cuplikan chapternya ada di bawah ya. Selamat membaca. Jangan takut, gratis kok.


Gambar profilnya ada di bawah ya. Terimakasih.


Dua tahun kemudian.


Lama ku berkabung, meresapi duka patah hati yang disebabkan oleh Sahabat serta Suami.


Aku tak bisa melupakan kejadian hari itu. Hari di saat Siska memfitnahku dengan penuh percaya diri. Parahnya lagi, Prasetyo percaya begitu saja dengan ucapannya.


Masih sangat jelas terasa, ketika Siska tega mengatakan, bahwa aku berselingkuh di belakang Pras sebelum mereka melakukannya.


"Dia selingkuh di belakangmu, Pras," kata Siska kala itu. Dia tengah berusaha mencegah Pras untuk menahanku, agar tak meninggalkan rumah.


Ya, Prasetyo tak menginginkan perceraian. Namun, tak mau pula melepas Siska. Sedangkan wanita sialan itu menginginkan Pras menjadi miliknya seorang. Dia tak mau berbagi.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu menyadarkanku dari peristiwa dua tahun lalu itu.


"Lidya, ini Ibu, Nak." Rupanya Ibu yang datang.


Semenjak bercerai dan meninggalkan rumah, aku kembali kepada orang tua. Hanya pada mereka lah aku mampu berbagi segalanya.


Sebagai orang dewasa, Ibu dan Ayah tak mengikut campur perihal rumah tanggaku bersama Pras. Sebab, mereka percaya, bahwa segala yang terjadi adalah kehendak yang di atas.


Malu, iya. Apa lagi menatap mata mereka, sungguh aku tak kuasa. Namun, apalah daya. Aku juga tak mungkin setiap hari mengurung diri di dalam kamar.


"Iya, Bu. Masuk, gak dikunci kok pintunya," sahutku setelah menyeka air mata.


Betapa bodohnya aku, masih saja rapuh dan menangisi nasibku di masa lalu.


"Kau masih belum siap?" tanya Ibu begitu masuk ke dalam kamar, dan duduk di sisiku.


"Siap untuk apa? Memangnya hari ini kita kedatangan tamu, ya?" Aku menatap heran Ibu. Tak paham apa maksud dari ucapannya itu.


Plak!


Kemudian Ibu memukul lenganku.


"Aw! Sakit, Bu." Hingga aku menjerit kesakitan.


"Kau ini benar-benar. Bukannya kau sudah berjanji untuk melakukan kencan buta hari ini?" Kata-kata Ibu kali ini mengingatkanku dengan cerita semalam, bahwa Ibu ingin menjodohkanku bersama seseorang.


"Baiklah, aku siap-siap dulu." Dengan hati terpaksa, aku mengikut apa kata Ibu.


"Jangan lupa dandan yang cantik," cetusnya.


Entah mengapa hari ini aku merasa Ibu sangat cerewet. Dia benar-benar memaksaku untuk berkencan.


Semenjak perceraianku dua tahun lalu, Ibu selalu memintaku untuk menikah lagi. Namun, aku terus saja menolak. Aku masih trauma dengan pernikahan. Namun, karena iba, aku pun terpaksa melakukannya.

__ADS_1


Dan di sinilah aku sekarang, di sebuah restoran mewah tengah kota Jakarta.


"Apa kau selalu membosankan seperti ini?" Seorang pria asing tengah duduk menatap diriku.


Sudah lima belas menit kami bertemu, tetapi tak satu kata pun yang keluar setelah berkenalan.


Namanya adalah Eksel Widyanto Kusumo Nugoho. Seorang CEO dari perusahaan Berlian.


"Aku memang wanita membosankan. Bahkan mantan suamiku berkata persis sepertimu." Santai sekali aku memberi jawaban.


Aku tak peduli jika pria itu membatalkan perjodohan tak masuk akal ini hanya karena mengetahui fakta, bahwa aku adalah seorang janda. Lagi pula aku tak menginginkannya. Bagiku pernikahan hanyalah omong kosong belaka.


"Benarkah?" tanyanya.


"Em!" sahutku tegas sembari mengunya makanan.


Aku enggan menatap wajah pria ini. Hatiku seolah tak mengizinkanku untuk beradu pandangan.


"Tak masalah. Lagi pula aku butuh seseorang untuk menemaniku." Kata-kata pria itu seketika menghentikanku mengunya.


Aku teringat lagi hari di mana Pras berkata kasar padaku hanya karena fitnah Siska.


"Kau adalah wanita murahan yang pernah aku temui! Tapi aku tak menyesal sama sekali, karena kau telah menemaniku selama lima tahun ini. Jadi, anggap saja kita impas!"


Kata-kata Pras seolah terngiang-ngiang di telingaku. Sehingga melukai hati ini.


"Hei." Suara bas itu menyentakku kembali ke masa kini.


"Ah, iya," kataku salah tingkah.


"Apa kau sedang melamun?" tanya Eksel datar. Namun, mimiknya seperti curiga padaku.


Aku tak ingin menunjukan kelemahanku di depan orang asing. Kami baru saja berkenalan, mana boleh saling terbuka satu sama lain. Terlebih lagi aku memang orangnya tak muda membuka diri.


Dulu aku sangat sulit jatuh cinta. Hanya kepada Prasetyo lah hatiku berhasil luluh. Namun, seiring berjalannya waktu dia pun berubah. Seperti musim panas berganti hujan.


"Apakah minggu depan kau ada acara? Aku ingin memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku."


Uhuk! Uhuk!


Mendadak aku terbatuk-batuk begitu mendengar ucapan Eksel. Secepat itukah dia mengajakku bertemu orang tuanya? Sedangkan kami baru saja berjumpa. Masih banyak waktu yang dibutuhkan untuk saling mengenal satu sama lain.


"Maaf, tidak kah kau terlalu terburu-buru? Kita bahkan baru saja bertemu. Bagaimana bisa kau ingin mengadakan pertemuan keluarga?" tandasku, menolak ide konyol Eksel.


"Benarkah? Aku terlalu terburu-buru, ya?" kata Eksel pelan sekali.


Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Jika dilihat dari raut wajahnya, Eksel seperti menggambarkan seseorang yang tak tertarik dengan ikatan pernikahan. Tak percaya adanya cinta, apa lagi urusan asmara lainnya.


Namun, sepertinya aku salah menilainya. Pria ini sangat agresif dari dugaanku.


Rupanya aku masih saja tak pandai menilai seseorang. Bahkan dalam situasi seperti ini.


"Baiklah, bagaimana kalau kita kencan selama sepuluh kali. Jika selama itu kau jatuh cinta padaku, maka aku siap menikahimu. Namun, jika kau tak memiliki rasa apapun terhadapku selama berkencan, maka aku siap melepasmu."


Omong kosong apa kali ini. Bagaimana ada manusia yang memandang rendah sebuah hubungan.

__ADS_1


Menghitung jumlah kencan dengan target jatuh cinta. Namun, jika tak memiliki rasa apa-apa, maka dia siap melepasku.


"Apa kau bercanda?" tanyaku penuh penekanan.


"Apakah menurutmu pernikahan itu sebuah lelucon? Bertahan jika cinta, dan pergi jika merasa bosan. Apakah sesimpel itu?" pungkasku semakin geram.


Untuk pertama kalinya aku bertemu pria sesimpel Eksel. Pikirannya tak muluk-muluk. Namun, sukses membuatku bingung.


"Kalau begitu, apakah kau ingin menikah denganku?"


Deg!


Sepertinya aku terjebak oleh pernyataanku sendiri. Eksel benar-benar membuatku kehabisan kata-kata.


Dia terlihat datar, tetapi pandai dalam memutar permainan.


"Apa kau sudah gila?" kataku kesal.


"Anggap saja begitu." Santai sekali Eksel memberi jawaban. Seakan tak ada beban yang dipikulnya.


"Maaf, sepertinya kita tidak cocok satu sama lain. Permisi!" Merasa marah, aku pun memutuskan untuk mengakhiri kencan buta itu.


Lagi pula kami tak terlihat seperti pasangan serasi. Baru bertemu saja sudah terlibat perdebatan. Bagaimana dengan selanjutnya?


Mungkin setiap hari kami akan bertengkar. Saling marahan dan berujung perceraian. Aku tak mau hal itu terulang kembali.


"Prasetyo Siswanto dan Siska Rahayu!" Dua nama familiar itu tercetus begitu saja dari mulut Eksel. Sehingga sukses menghentikan gerak langkah ini.


"Apa?" tanyaku pelan dan heran.


"Prasetyo, bukankah dia adalah mantan suamimu? Dia mengkhianatimu bersama wanita yang bernama Siska Rahayu. Apa aku benar?"


Seketika aku terduduk kembali begitu dua nama yang ku benci itu terdengar di indera pendengaranku.


Eksel benar-benar pandai memainkan emosiku. Seolah hendak membuka luka di masa lalu yang sudah mulai mengering, dia menyebut nama dua pengkhianat itu.


"Bagaimana bisa kau--" Aku bahkan tak kuasa melanjutkan kata-kata. Terlalu sulit rasanya untuk sekedar bertanya.


"Apakah ekspresi itu menunjukan, bahwa aku tak salah?"


Aku yang tak pandai menyembunyikan perasaan, seketika mudah ditebak oleh Eksel.


"Aku benar-benar benci pria ini. Sebenarnya siapa dia? Bagaimana Eksel bisa mengenal Pras dan Siska? Apakah dia memiliki hubungan dengan mereka?" batinku penuh tanya.


"Sepertinya aku benar," imbuh Eksel seraya tersenyum getir.


Ada apa dengan pria ini. Rautnya berubah-ubah. Sebentar-sebentar datar, lima menit kemudian serius, dan sekarang tegang. Tidakkah dia sangat pantas disebut sebagai Bunglon?


"Mari kita perjelas hubungan ini. Kau menikah lah denganku, maka semua dendammu di masa lalu akan terbayarkan. Pun sebaliknya, aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.


Hubungan kita hanya lah sebatas simbiosis mutualis. Keuntungan yang kau dapatkan tak sedikit. Karena aku akan membayarmu sesuai dengan yang kau inginkan.


Aku akan memberimu status, perusahaan, dan juga nama. Dengan begitu kau bisa membalas semua perbuatan mantan suamimu. Tidak kah ini terdengar sangat menarik?"


Panjang lebar Eksel memaparkan niat sebenarnya mengajakku menikah. Rupanya dia memiliki motif tertentu.

__ADS_1


Mungkin aku masih saja naif. Namun, aku tak ingin mempermainkan sebuah ikatan sakral. Atau tidak aku akan terjebak di dalamnya, hingga tak tahu arah jalan pulang.



__ADS_2