Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Mengenalmu.


__ADS_3

Rencana pindah rumah yang di lakukan Akemi dan Shella, akhirnya pun terealisasi setelah mendapat izin dari Mama dan Papa. Keduanya kini tinggal di Apartemen yang jaraknya tak jauh dari Apartemen milik Aljav dan Marina. Akemi sengaja membeli Apartemen yang jaraknya dekat dengan saudaranya itu dulu, karena ketika Akemi membutuhkan pertolongan suatu waktu nanti, maka pria itu akan mendatangi Aljav terlebih dahulu.


Apartemen Akemi berada di lantai 11, dan disitulah berawal Akemi ingin mengenal sosok Shella lebih jauh lagi. Dengan mengenal Shella, Akemi jadi lebih tahu seperti apa karakter, kebiasaan, dan hal-hal lain yang menyangkut dengan istrinya tersebut.


Tak terkecuali Shella, wanita itu juga ingin mengenal lebih jauh Akemi. Kendati Shella merasa perlu membalas budi pada Akemi, karena merasa derajatnya terangkat. Namun, bukankah status mereka tetaplah suami istri? jadi sudah seharusnya Shella mengabdi pada pria yang kini menjadi suaminya itu.


"Apakah kamu ingin kita tidur terpisah? maksudku, apakah kamu ingin tidur di kamar ini bersamaku tetapi di tempat yang berbeda? aku di sofa, dan kamu di tempat tidur," ucap Akemi. Dia berharap dalam hati, agar Shella mau tidur sekamar dengannya meski harus di tempat yang berbeda.


Shella masih belum menjawab, wanita itu tampak diam dan berpikir apakah akan tidur sekamar dengan Akemi atau justru tidur di kamar yang berbeda.


"Terserah Anda saja Tuan," jawab Shella. Sekali lagi jawaban itu justru membuat hati Akemi merasakan sesuatu yang mengecewakan. Bagaimana tidak, Shella kembali menyebutnya Tuan dan Anda. Benarkah wanita itu berpikir jika pernikahan itu hanya sekedar balas budi? pikir Akemi.


"Shella, apakah aku terlihat seperti orang asing bagimu?" Tanya Akemi dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Shella justru tak menjawab, kepalanya tertunduk. Dia tak tahu harus berkata apa. Dalam hal ini, Shella juga bingung. Bingung karena dia merasa telah mengambil posisi wanita lain yang seharusnya menjadi istri dari Akemi. Jika memang pria itu tak memiliki kekasih, atau mencintai Shella, bukankah sudah seharusnya dia mengatakan yang sebenarnya?

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan," jawab Shella dengan kepala tertunduk. Bahkan suaranya pun penuh dengan penyesalan.


Akemi memegang kedua lengan Shella, dia menatap dalam-dalam manik mata hitam wanita tersebut.


"Shella, aku tahu semuanya mendadak bagimu dan bahkan mungkin pernikahan kita terkesan terburu-buru. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaan mu sebelumnya terhadapnya ku. Aku tahu kamu masih mencintai pria itu, tapi percayalah aku akan membuatmu merasa nyaman disini, kamu tidak perlu takut padaku, em?" terang Akemi.


"Saya tidak takut Tuan," jawab Shella.


"Saya hanya merasa bingung dengan pernikahan ini. Saya masih belum terbiasa dengan semuanya. Bahkan kita juga belum saling mengenal satu sama lain. Banyak hal yang tidak kita saling ketahui," terang Shella berusaha untuk menjelaskan pada Akemi.


"Kalau begitu, ayo kita saling mengenal." Ucapan Akemi membuat hati Shella berdesir. Pintu hati wanita itu mulai terketuk untuk ingin mengenal Akemi lebih jauh lagi. Mungkin dengan begitu, dia akan tahu isi hati Akemi. Haruskah dia membuka diri? atau justru larut dalam pikiran nya, bahwa Akemi masih memiliki kekasih? entahlah.


"Kita akan mulai dari mana? bahkan pernikahan ini seperti sandiwara," ucap Shella dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? sandiwara?" Tanya Akemi bingung.


"Kalau bukan sandiwara, lalu apa namanya ini? kita menikah sangat cepat. Aku bahkan tidak tahu apa tujuan mu menikah denganku. Kita tinggal dalam satu atap, tapi tubuh kita terpisah, bahkan kita harus tidur di tempat yang berbeda. Apakah ini yang di sebut pernikahan? apakah ini yang di katakan sebuah hubungan? kalau kamu mau mengenalku, harusnya kamu bertanya bagaimana perasaan ku padamu. Atau minimal, selesai kan dulu urusanmu dengan orang lain," terang Shella secara menggebu-gebu. Sementara Akemi tampak bingung. Dia tak memahami apa maksud dari ucapan Shella. Urusan dengan orang lain? siapa? pikir Akemi.


"Urusan apa maksud mu? aku tidak memiliki musuh selama ini," jawab Akemi. Pria itu gagal paham maksud dari ucapan Shella. Akemi menjadi tak fokus, bahkan dia mengabaikan awal kalimat Shella. Akemi hanya mengutip kalimat akhir wanita tersebut.


"Anda yang tahu segalanya, dan aku rasa sebaiknya kita tidur terpisah saja, permisi," ucap Shella akhirnya. Wanita itu pun pergi meninggalkan Akemi yang masih terdiam dalam kamar sembari menatap nanar punggung Shella yang kini hilang dari balik pintu.


To be continued.


Assalamualaikum. Mohon maaf ya readers, jika di episode ini pendek banget ceritanya. Lagi buntu otak author, ini aja maksa banget nulisnya. Tapi besok In syaa Allah bakal ada kejutan dari Akemi dan Shella. Tetap nantikan kelanjutan ceritanya ya Readers.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2