
Seminggu kemudian pasca Alea dan Javier menempati rumah baru mereka. Tidak ada yang berubah dari hubungan keduanya. Sikap Javier justru bertambah dingin dan angkuh. Alea tidak bisa melakukan hal yang di inginkan nya, seperti saat ini. Ia ingin bertemu Dina sahabatnya, kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana ia libur kerja. Ia benar-benar butuh seseorang untuk mendengarkan semua keluh kesahnya, namun kekuasaan ada di tangan pria berdarah dingin itu. Jika biasanya Alea mengadu pada ibu mertuanya, namun lain halnya sekarang. Saat ini tidak ada siapa pun di rumah Javier, hanya beberapa orang asisten rumah tangga yang di sewa Javier. Semua asisten rumah tangga itu kerja pukul 08.00 pagi, dan akan pulang ke rumah masing-masing pukul 17.00 sore. Selebihnya itu Alea yang melakukan kegiatan lainnya.
Kali ini Javier tidak tanggung-tanggung untuk melakukan hal yang di inginkan nya. Lima bulan adalah waktu yang cukup di tahan oleh pria itu, saatnya waktu seorang Javier Alexander.
*****
"Alea, apa kamu tidak bisa melakukan hal kecil dengan benar?!". Bentak Javier. Membuat Alea ketakutan. Tangan wanita itu gemetar kala ia tanpa sengaja menjatuhkan cangkir kopi milik Javier.
"M--mafkan aku. Aku akan membersihkan nya". Tutur Alea dengan suara terbata-bata akibat takut.
"Ganggu saja". Gerutu Javier. Pria itu sedang memeriksa Email yang masuk. Namun tanpa sengaja Alea menjatuhkan kopi yang di pesan Javier ketika kakinya tersandung ujung karpet di ruang kerja Javier.
Hari-hari di lalui Alea seperti dalam neraka. Javier memang tidak melakukan tindakan secara fisik, namun batin Alea menangis setiap kali Javier menghina atau memarahi dirinya. Selalu ada saja alasan pria itu memarahi Alea. Apapun yang di lakukan wanita itu selalu saja salah, baik itu ketika berada di rumah ataupun sedang berada di kantor, seperti saat ini. Lagi-lagi Javier menyalahkan Alea atas kesalahan yang terjadi.
"Alea, apa aku menggaji mu hanya untuk melakukan kesalahan, ha?!". Suara bentakan Javier membuat mata Alea tertutup. Ia sangat takut pada pria itu, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Javier, apa yang kamu lakukan?!". Alex menimpali sahabat sekaligus bosnya itu.
"Alea, kamu pergilah. Selesaikan tugasmu yang lain". Titah Alex. Membuat Alea bernapas lega, seolah baru saja terselamatkan dari amukan seekor singa.
"Vir, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu berubah. Kamu lebih sering marah-marah. Terlebih lagi pada Alea. Apa salah wanita itu Javier?". Tanya Alex, pria itu merasa heran dengan perubahan sikap sahabatnya tersebut yang lebih tempramen.
"Salahnya dia selalu saja berada di depanku. Aku sesak ketika berada di dekatnya". Jawab Javier seolah tanpa beban.
"Apa maksudmu Vir?. Alea itu sekretaris mu, terlebih lagi dia adalah istrimu kalau kamu lupa". Tutur Alex dengan suara penuh penekanan.
"Tentu saja aku tidak lupa. Aku bahkan ingat dengan baik bagaimana dia begitu antusias menikmati statusnya sebagai Nyonya Javier Alexander. Hm, gadis b*doh!". Cibir Javier seolah mengejek wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.
"Vir, jika kamu tidak mencintainya atau kamu sangat terganggu dengan keberadaan Alea, maka tinggalkan saja wanita itu. Ceraikan dia!. Jangan buat wanita itu bingung dan takut. Dia tidak tahu apapun tentang mu Javier". Nasehat Alex tidak menyurutkan niat Javier untuk terus mempertahankan Alea di sisinya. Namun ketika Alex menyebut kata 'Cerai', ada sedikit rasa tak rela jika ia harus melepas wanita itu saat ini. Namun pria tersebut menepis segala rasa itu.
__ADS_1
"Aku akan melepaskannya jika waktunya telah tiba. Saat ini aku masih membutuhkan wanita itu". Tutur Javier dengan wajah yang sulit untuk di tebak.
"Terserah padamu Vir. Tapi kamu harus ingat satu hal, jangan sampai kamu terjebak dengan permainan mu sendiri". Alex meninggalkan Javier yang masih setiap duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Alea dari balik kaca ruangannya. Entah apa yang di pikirkan pria itu. Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tanpa sengaja mata Alea menatap Javier, mata keduanya terkunci untuk beberapa saat, namun Alea memalingkan wajahnya seketika. Wajah sendu yang selama dua Minggu menghiasi wajah cantiknya.
Alea meninggalkan ruangannya, ia ingin makan siang bersama Dina sahabatnya. Karena terburu-buru ia lupa membawa dompet miliknya yang terletak di atas meja kerja. Dan hal ini di ketahui oleh Javier. Pria itu mengikuti dimana sekretaris sekaligus istrinya itu pergi.
Alea memasuki kave dimana Dina telah menunggunya, tanpa di sadari Javier telah mengikuti wanita itu. Dan Javier memesan ruang VIP untuk mengetahui apa saja yang di lakukan wanita itu bersama sahabatnya. Apakah ia akan menyumpahi dirinya atau justru mempunyai rencana lain, seperti berusaha untuk lari dari seorang Javier Alexander.
"Al, bagaimana kabar mu sekarang?". Tanya Dina sambil meminum minuman pesanannya.
"Aku baik Din". Jawab Alea singkat. Namun wajahnya seperti menyiratkan kesedihan, sendu.
"Tapi wajahmu berkata lain sayang. Apa pria itu menyakitimu, em?". Pertanyaan Dina membuat Javier mendekatkan telinganya ke dinding pembatas antara dirinya dan Alea. Ia benar-benar penasaran dengan jawaban Alea.
"Aku hanya sedikit lelah Din. Javier tidak menyakiti ku kok. Dia sangat baik. Bahkan dia tidak membiarkanku untuk keluar rumah tanpa izin darinya. Itu artinya ia peduli padaku kan". Jawaban Alea membuat Javier tanpa sadar tersenyum bahagia. Bahagia?. Oh, ayolah Javier. Bukankah kamu sangat membenci wanita itu?.
"Terus wajahmu kenapa pucat begitu?". Tanya Dina dengan wajah sedikit khawatir.
'Aku tau kamu tidak baik-baik saja Al. Dasar wanita b*doh. Kamu pikir bisa sembunyi dariku?'. Ya, Dina sangat mengenali sifat Alea, dari dulu jika Alea merasa sedih ia tidak akan menceritakan pada Dina kecuali wanita itu mau cerita sendiri, ia tidak suka di paksa.
"Baiklah. Bagaimana perkembangan hubungan mu dengan suami mu?. Apa kalian sudah---".
"Uhuk--- uhuk---". Alea tersedak minumannya ketika melihat Dina mempraktekkan dengan jarinya seolah menggambarkan orang yang berciuman.
"Apaan sih Din. Udah deh". Wajah Alea bersemu merah.
"Nah, ketahuan bo'ong ya... Haha". Saat Alea ingin menjawab pertanyaan Dina, ia mendengar suara deringan ponsel yang tidak asing di telinganya. Namun rasa itu di tepis ketika suara deringan tersebut telah hilang. Ya, ponsel Javier berbunyi karena Andre menelponnya untuk urusan mendadak, membuat Javier kesal.
"Sialan Andre!". Javier mengumpati Andre yang tiba-tiba saja menggangu aktivitas menguntitnya. Bukankah dia seperti penguntit saat ini?.
__ADS_1
"Tapi paling tidak dia tidak menghinaku di depan sahabatnya. Tidak buruk juga". Lanjutnya sebelum kemudian meninggalkan tempat dimana Alea berada dan masih melanjutkan pembicaraan nya bersama Dina.
"Din, aku benar-benar mencintai Javier. Hiks... Hiks... Hiks...". Kini tangisan Alea tak bisa di bendung lagi. Ia menangis tertunduk menyembunyikan air mata yang lolos dengan sedemikian banyaknya.
"Apa salahku sampai dia membenciku?. Aku tidak tahu apapun Din. Aku pikir aku bisa menjaga hatiku. Tapi ternyata hatiku terlalu rapuh, ia mengkhianati otak ku Din. Hati ku mengkhianati ku. huhuhu...". Tangisan Alea membuat Dina merasa iba. Ia belum pernah melihat sahabatnya itu menangis seperti ini. Pengalaman percintaan wanita itu sangat minus. Javier lah orang pertama yang berhasil memporak-porandakan jiwa Alea, meruntuhkan pertahanan wanita itu. Hingga Alea jatuh ke jurang percintaannya yang bahkan ia baru saja mulai.
"Menangis lah Al. Jika itu akan meringankan beban mu". Hanya kalimat itu yang mampu Dina ucapkan. Hatinya juga ikut menangis ketika melihat wanita yang di anggap sebagai adik tersebut terjerat perasaanya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.