
**Hay Readers. Mohon maaf ya jika ada typo yang tidak jelas dan penulisan yang tidak sesuai dengan PEUBI. Untuk penulisan yang menggunakan huruf miring itu artinya ucapan dalam hati dari tokoh yang bersangkutan ya.
Happy Reading 😊**
********
Semua urusan perkenalan antara kedua orang tua telah selesai, Javier kembali ke kantornya, pun juga dengan Alea. keduanya kembali ke kantor setelah waktu makan siang berlalu.
Banyak pasang mata yang menatap keduanya dengan tatapan heran, bahkan tidak sedikit dari merek yang berbisik. Kenapa mereka bisa datang bersama, sekretaris mata Empat itu sangat beruntung, wah dia sangat tampan. Begitulah yang di katakan oleh setiap karyawan yang melihat keduanya, tidak terkecuali Alex dan Andre yang kini telah berada di ruangan Javier sambil menatap bos sekaligus sahabatnya itu penuh selidik.
"Kenapa lo pergi pagi-pagi sekali?. Bukankah tidak ada rapat penting hari ini?. Dan kenapa lo kembali bersama sekretaris mata Empat lo itu?. Bukannya lo gak mau ya jalan sama dia kecuali urusan kerjaan?. Pagi-pagi sudah main kabur aja". Tanya Andre secara beruntun. Javier mendaratkan tubuh kekarnya pada kursi kebesaran miliknya.
"Gue ada urusan mendesak tadi pagi dan harus membawa Alea". Tutur Javier dengan santainya.
"Urusan mendesak?. Apanya yang mendesak?". Tanya Alex bingung.
"Waktunya yang mendesak". Jawaban yang di berikan oleh Javier tidak membuat kedua sahabatnya itu paham dan berhenti bertanya. keduanya justru saling menatap bingung.
"Waktu apa sih?. Bicara tu yang bener". Desak Andre. Dia begitu penasaran dengan apa yang di lakukan oleh bosnya itu hingga harus menyeret Alea kedalam urusannya.
"Dua Minggu lagi gue akan menikahi Alea?".
"APA?!". Dua pria yang memiliki wajah selayaknya bule itu begitu terkejut, mata coklat keduanya membulat sempurnah.
"Apa gue gak salah dengar?. Lo gak lagi ngehamilin anak gadis orang kan?". Tanya Andre masih dengan wajah terkejutnya, sedangkan Javier justru bersikap santai seolah tanpa beban.
"Apa gue pernah bercanda untuk urusan pernikahan?. Gue emang mau menikahi Alea. Tapi pernikahan kontrak, pernikahan yang sebenarnya akan terjadi ketika gue udah menemukan seseorang yang istimewa di hati gue". Jelas Javier.
"Apa maksud dari nikah kontrak Vir?. Kenapa lo mau nikahi Alea secara kontrak?. Dan apa maksud lo sampai lo dapetin seseorang yang istimewa?". Tanya Alex. pria berambut hitam lebat itu masih gagal paham akan ucapan sahabatnya barusan, hingga Javier menceritakan semuanya. Dimulai dari desakan Maminya yang menginginkan dia menikah dalam waktu satu bulan hingga dia memaksa Alea untuk menikah kontrak dengan dirinya. Hanya saja Javier tidak menceritakan perihal video yang dijadikannya untuk mengancam Alea agar setuju menikah secara kontrak dengan dirinya. Javier juga bercerita jika Alea adalah anak dari Indra Kusumo sang pengusaha bertangan dingin yang bergerak di bidang pertambangan. Bahkan beliau juga memiliki anak perusahan di negara A, dan merupakan sahabat karib Papi Javier semasa SMA dulu, keduanya pun memiliki perjanjian untuk menjodohkan anak-anaknya kelak. Namun sebelumnya Javier menolak mentah-mentah perjodohannya itu. Semua di ceritakan oleh Javier, kecuali perihal video yang membuat dirinya salah paham akan Alea.
"Wah, gila lo. Ternyata emang dari awal lo udah jodoh sama wanita itu". Tutur Andre dengan senyuman mengejek sambil mengarahkan wajahnya pada Alea yang berada di ruang kerjanya yang bisa di lihat dari balik kaca ruang Javier.
__ADS_1
"Kalian jangan salah paham dulu. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu gue akan menceraikan dirinya". Tutur Javier sambil bersandar santai pada kursi kebesarannya.
"Apa kamu sudah gila Vir?. Bagaimana bisa lo mau menceraikan wanita itu?. Bagaimana jika dia hamil?. Bagaimana dengan masa depannya?. Apa kamu tidak memikirkan itu, ha?". Tanya Alex dengan wajah geram. Dia mengganggap sahabatnya itu sengaja ingin menghancurkan hidup Alea yang sama sekali tidak bersalah.
"Gue gak akan menyentuh tubuhnya. Bahkan melihatnya saja gue gak tertarik". Balas Javier dengan angkuhnya.
"Baiklah. Gue cuma mau mengingatkan lo aja, jangan bermain-main dengan pernikahan. Kalo lo gak cinta sama dia, lo bisa lepasin wanita itu tanpa menyakitinya.
Jadi kapan kalian akan menikah?". Tanya Alex selanjutnya sebelum mengeluarkan ultimatum pada sahabatnya itu.
"Dua Minggu lagi kami akan menikah". Jawab Javier.
"Baiklah. Semoga lo gak akan menyesali keputusan lo itu". Terang Alex. Hingga kedua sahabatnya itu meninggalkan dirinya yang masih dengan santai menyandarkan tubuh kekarnya di kursi sambil menggoyangkan pelan.
"Menyesal?. Hm, aku gak akan menyesal. aku yang memegang kendali disini. Wanita itu tidak ada artinya bagiku. Dia seperti mainan yang mengasikkan". Tutur Javier sambil tersenyum menyeringai, seolah memiliki maksud jahat.
******
Waktu pun telah berjalan hingga senja hari. Dimana keduanya telah berada di kamar pengantin Hotel tempat Javier dan Alea melangsungkan pernikahan.
"Aku mau keluar dulu". Tutur Javier tanpa melihat Alea yang kini duduk di kursi rias.
"Mau kemana?". Tanya Alea.
"Cari udara". Balas Javier dengan singkat.
"Apa disini udaranya panas?. Kan ada AC". Terang Alea dengan wajah polosnya.
"Apa kamu sedang menikmati statusmu sebagai istriku?. Atau kamu menginginkan lebih dari ini?". Tanya Javier, kali ini dia menoleh pada wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
"Ck. Ya sudah sana". Titah Alea dengan wajah cemberut. 'Siapa juga yang menikmati?. Yang ada ingin mati'. Alea menatap kesal Javier lewat cermin yang ada di depannya.
__ADS_1
Javier membuka pintu kamar dan menutup secara pelan, menyisakan Alea sendiri dalam kamar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Ah, sebaiknya aku mandi dan tidur. Memakai ini semua membuatku gerah dan lengket. Apa harus seberat ini gaunnya?. Ini lagi, make-upnya sudah seperti mentega yang mau siap meleleh, iiiii...". Alea bermonolog sambil bergidik ngeri menatap wajahnya di cermin rias Hotel tempatnya berada.
"Sudah selesai, waktunya mandi". sambungnya setelah melepas gaun pengantin miliknya.
Alea masuk dalam kamar mandi dan merilekskan tubuhnya kedalam bathub.
"Ah, sungguh menenangkan". Gumamnya.
Selama hampir satu jam Alea berada dalam kamar mandi itu, dia begitu menikmati momen kesendiriannya dalam kamar mandi tanpa harus keluar dengan rasa canggung pada Javier yang kini menjadi suaminya.
Alea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Di lilitnya handuk kecil pada kepalanya guna menutup rambut yang baru saja di basahi dengan sampo aroma strawberry favoritnya. Di bukanya lemari berisi pakaian yang telah di siapkan oleh Mama Alea. Wanita itu dengan begitu santainya memakai satu persatu objek yang menutupi tubuh setiap manusia itu, tanpa melihat kiri dan kanan. Bukankah dia hanya sendirian dalam kamar itu?. Hingga Alea telah selesai dengan ritual pakaiannya dan kini tubuhnya di daratkan pada kursi rias, dan betapa terkejutnya dia melihat seorang pria yang duduk santai di kursi sofa dalam kamar itu.
"KAU?!. S-ejak kapan kamu ada disitu Vir?". Yah, pria itu adalah Javier, suami angkuh Alea. Dia dengan santainya duduk bersandar pada kursi itu.
"Sejak kamu duduk disitu. Ah tidak, sejak kamu memakai semua pakaianmu. Ah, salah. Sejak kamu keluar dari kamar mandi dan melepas han---".
"STOP!." Alea menghentikan ucapan Javier yang menurutnya sangat memalukan. Hingga wajah Alea merah karena Javier melihat dirinya sedari dia keluar dari kamar mandi. Itu artinya dia telah memberikan tontonan gratis pada pria angkuh itu.😅
Lalu Javier mengatakan, jangan lupa vote dan likenya. 😄
.
.
.
.
*Dede....
__ADS_1