
Shella kembali ke ruangan dimana petugas kebersihan berada. Dia berjalan dengan gontai. Kendati wanita itu baru saja mengisi perutnya yang kosong dengan makanan sewaktu berada di kantin tadi, tetapi Shella seperti tak bertenaga. Kalimat Akemi seolah masih terngiang-ngiang di ingatan wanita tersebut.
Shella mengembuskan nafas berat, beban hidup yang di pikulnya terlampau besar, dan sekarang di tambah lagi dengan urusan asmara yang bahkan tak pernah di mulainya bersama Akemi, tapi rasa sakit itu sudah mulai menghampiri.
Tubuh Shella gemetar, pandangannya kosong, hingga dia tak sengaja menabrak tubuh Ibu Risma. Tentu saja Wanita paruh baya itu menjadi murka.
Plak,
Tamparan keras mendarat sempurna di pipinya yang mulus. Shella memegang pipi itu dan menahan rasanya yang perih.
"Apa kamu tidak bisa sekali saja tak membuat ku marah? dasar wanita tidak tahu diri." Ibu Risma menjambak rambut Shella hingga wanita itu tak berdaya dan menahan sakit yang teramat perih. Serendah itu kah dia hingga di perlakukan selayaknya bukan manusia?
Ibu Risma terus menjambak rambut Shella seperti orang yang kesetanan. Shella menahan sakit, tetapi tak dapat menahan air matanya. Hingga...
"Hentikan!"
Duar,
Ibu Risma dan Shella menoleh ke arah sumber suara tersebut secara bersamaan. Betapa terkejutnya dua wanita beda generasi itu ketika melihat siapa yang menghentikan aksi kejam wanita paruh baya tersebut.
"Tuan Akemi?"
Ya, Akemi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ibu Risma memperlakukan Shella, wanita yang di cintainya. Akemi mengeratkan tangannya, tubuh pria itu gemetar hebat, api amarah mulai berkobar di dalam sana. Hatinya bergemuruh, ingin rasanya pria itu menampar Ibu Risma jika saja tidak mengingat dia adalah seorang wanita tua yang seumuran dengan Ibunya.
Akemi berjalan ke arah Shella dan Ibu Risma. Sekujur tubuh wanita paruh baya itu gemetar ketakutan. Mungkin semesta tak berpihak padanya kali ini, sehingga kekejamannya harus di saksikan oleh Akemi.
Sementara Shella merasa takut dan malu. Shella takut jika Akemi akan menyalahkan dirinya, dan malu karena Akemi melihat kondisinya yang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa yang sedang kamu lakukan ha?" Bentak Akemi. Dia tak pernah semarah ini sebelumnya. Bahkan ketika Papa Javier memaksanya untuk melepaskan cita-citanya menjadi seorang Angkatan Laut demi mengelola Perusahaan.
__ADS_1
Ibu Risma menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap wajah Akemi. Sementara mata pria itu sudah tampak merah karena amarah yang memenuhi hati dan jiwa nya.
"M--maafkan s--saya Tuan, tadi dia berbuat kesalahan," ucap Ibu Risma gemetar.
"Apa kamu pikir saya buta dan tuli? saya menyaksikan semuanya!" Suara Akemi semakin meninggi. Dia beralih melihat seluruh petugas kebersihan yang berada dalam ruangan tersebut dengan tatapan tajam.
"Apa kalian tidak bisa membantu teman kalian yang sedang kesusahan?! sejak kapan ini terjadi? mengapa aku tidak tahu jika Shella di perlakuan tidak adil di Perusahaan ini?" Shella sangat terkejut ketika mendengar kalimat Akemi. Bukan terkejut karena pria itu membela dirinya, tetapi ternyata Akemi masih mengingat namanya. Shella tersenyum tipis, hampir tak terlihat sama sekali.
"Kalau sampai ini terulang kembali, kalian semua akan saya pecat!" Ancam Akemi. Akhirnya seluruh karyawan menundukkan kepalanya dan tak ada yang berani bersuara termasuk Ibu Risma.
"Dan kau!" Akemi beralih kepada Ibu Risma.
"Hanya karena kamu orang tua, jadi kamu saya maafkan. Tapi kamu menyalah gunakan jabatan yang aku berikan pada mu. Jadi mulai sekarang kamu saya pecat!" Kalimat lugas dan tajam itu seketika sukses mengangkat kepala Ibu Risma. Wanita paruh baya itu menatap dengan tatapan memohon, mengiba, meraung dan meminta, tetapi Akemi tak bergeming. Sudah cukup Shella di perlakuan tak manusiawi. Kini saatnya wanita itu meraih kebahagiaan nya sendiri bersama Akemi.
"Mulai sekarang, kamu tidak akan bekerja bersama mereka lagi." Kalimat itu seakan menembus ulu hati Shella. Apakah dia juga akan di pecat? tapi mengapa? bukankah dia tidak melakukan kesalahan?
"Kamu akan bekerja bersama ku mulai sekarang," lanjut Akemi kemudian. Kali ini Shella di buat bingung. Bagaimana bisa Akemi mengajaknya untuk bekerja dengan dirinya? bahkan dia tak memiliki ijazah Sarjana.
"Akemi."
"Ha?"
"Panggil aku Akemi."
"Ha?"
"Mulai sekarang kamu menjadi kekasihku dan bulan depan kita akan menikah."
Deg,
__ADS_1
Kalimat macam apa itu? apakah dia sedang bermimpi? tapi tidak. Rasanya sungguh nyata. Tapi bagaimana bisa Akemi melamar dirinya? bahkan kondisi fisik dan psikis nya saat ini tidak lah stabil.
"Tuan, apa yang--"
"Akemi! sudah aku katakan panggil aku Akemi." Akemi meralat kalimat Shella yang di anggap nya menyebalkan.
Akemi menarik tangan Shella dan menjauh dari seluruh karyawan yang tengah menatap Keduanya dengan tatapan tak percaya. Namun, tak ada yang berani membuka suara.
Akemi membawa Shella ke ruangannya untuk mengobati luka yang di sebabkan oleh Ibu Risma tadi. Untuk sesaat keheningan menghampiri keduanya.
Dengan penuh kasih sayang Akemi mengobati Shella. Dalam hati Shella berdecak kagum pada pria yang berhati mulia tersebut.
"Mengapa dia sangat baik padaku? apa istimewanya aku?" Batin Shella.
Akemi telah selesai mengobati luka Shella di bagian sudut bibi dan sikunya.
"Pikirkan baik-baik tawaranku tadi," ucap Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Ha?"
"Menikahlah denganku," ucap Akemi sekali lagi. Shella tak menjawab, dia masih belum bergeming sama sekali. Mata hitam pekat Shella menatap mata perak Akemi, berusaha untuk mencari ketulusan di dalam sana. Tapi... Ya sudahlah. Shella tak mau terlalu cepat untuk menyimpulkan, bahwa Akemi tulus padanya.
"Jika Anda mengatakan itu hanya karena kasihan padaku, maka berikan kalimat itu untuk kekasih Anda Tuan. Karena dia lebih membutuhkan dari pada saya," tolak Shella tegas. Namun, menyisakan luka dalam hatinya sendiri. Ya, Shella justru merasa sakit dan terluka dengan kalimatnya sendiri. Sejujurnya dia bahagia ketika mendengar Akemi mengajaknya untuk menikah, tapi kebahagian itu hancur dalam sekejab ketika mengingat Akemi telah memiliki kekasih.
"Maaf Tuan, saya permisi." Shella meninggalkan Akemi dalam ruangan dengan tatapan datar. Pria itu tak tersinggung sama sekali dengan penolakan Shella. Karena dia bisa melihat cinta di mata Shella untuk dirinya. Akemi tersenyum tipis.
"Aku tahu Shella, kamu juga mencintai ku. Hanya saja kamu berusaha untuk menutupinya. Tapi seberapa besar usaha mu untuk menutupi perasaan itu, maka aku akan membukanya terus menerus hingga kamu menyadari, bahwa kamu juga membutuhkan ku di samping mu sebagai kekasih halal mu. Akan aku pastikan kamu menjadi istriku Shella. Aku janji."
Tekad Akemi begitu kuat, entah apa yang membuatnya yakin akan cintanya pada Shella, yang jelas rasanya Akemi cukup mengenal perasaan nya sendiri lebih dari siapapun.
__ADS_1
To be continued.