
Hari ini kami sedang mengunjungi rumah orang tua Alea, kami sangat menikmati kebersamaan di rumah yang sangat mewah itu. Ya... Mungkin cuma aku sih yang menikmatinya, tapi tidak untuk Alea. Hehe.
Kami menghabiskan waktu bersama kedua mertuaku itu. Mereka sangat ramah, dan yang terpenting sangat menyayangiku.
Sebelum tidur kami sempat berdebat untuk beberapa hal, seperti memperebutkan tempat tidur. Tampaknya saat itu Alea masih kesal padaku atas kejadian tempo lalu. Namun karena ancaman yang sengaja aku berikan membuat Alea menuruti keinginanku. Ternyata untuk mengubah pikirannya tidaklah sulit.
Aku tidak ingin melewatkan momen bercinta kami yang terjadi untuk pertama kalinya di rumah mertuaku tersebut. Tubuh Alea Yang bagaikan candu itu membuatku ketagihan ingin menjamahnya setiap saat.
*****
Suara ketukan pintu yang sangat menggangu memaksaku untuk bangun dari tidur, namun mataku begitu enggan untuk terbuka. Ternyata Mama mertuaku yang membangunkan kami untuk segera sarapan bersama. Namun aku tidak mengindahkan ajakan itu, aku masih ingin bermain-main bersama istri cantik nan polos ku ini.
Alea menatapku kagum, aku tahu dia mengagumi ku, aku bisa melihat itu dari tatapan matanya yang tak bisa berbohong. Oh Javier, ternyata ketampanan mu mulai bekerja pada Alea.😄
Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan tatapan Alea itu, aku membalasnya dengan tatapan yang sama. Seolah paham akan tatapan ku yang mendamba, Alea mengalihkan pandangannya padaku, namun aku menahan wajah cantik itu hingga aku tersenyum penuh maksud. Aku berpura-pura memberi pelajaran penting buat Alea, dan ternyata wanita itu tidak paham akan maksud ku. Aku semakin bersemangat untuk menjahilinya. Aku meminta ciuman sebagai ucapan selamat pagi, dan hal itu biasa kami lakukan pasca percintaan kami yang pertama dulu.
"Cium aku". Aku menyodorkan bibirku agar Alea mau memberikan ciuman selamat pagi. Namun Alea enggan untuk mengabulkan permintaan ku. Dan otak iblis ku pun mulai bekerja,
"Mau kecupan atau transaksi air liur?". Tanyaku sambil menarik turunkan alisku. Dan dengan polosnya istriku itu tidak mengetahui apa maksud dari transaksi air liur yang ku maksud. Aku pun mempraktekan apa itu transaksi air liur. Dan... Yes, aku berhasil mencuri ciuman Alea di pagi hari hingga pergumulan kami semalam terulang kembali.
__ADS_1
*****
Setelah sarapan pagi yang sempat kami lewatkan karena pergumulanku bersama istri cantikku,, kami pun menyusul kedua mertuaku di ruang keluarga. Dalam ruangan yang sangat luas itu aku menggoda istriku dan memuji ciptaan Tuhan yang paling cantik itu di depan kedua orangtuanya dengan tulus. Bahkan aku mengungkapkan rasa banggaku menjadi suaminya. Namun hal itu tidak mengubah tatapan sinis Alea padaku. Entahlah, Alea seperti tidak mempercayai akan ketulusanku padanya.
Aku dan kedua mertuaku bercerita mengenai perusahaan dan tentu saja beliau mengajarkan ku tata cara berbisnis yang berkualitas. Aku sangat bangga pada papa mertuaku yang tidak pernah menjatuhkan lawannya dengan curang, melainkan beliau bermain adil dan bersih. Aku perlu mencontoh sikap bijak dari papa mertua ini. Pikirku.
Puas membahas mengenai urusan perusahaan, kami beralih topik membahas persoalan rumah tangga. Namun sebelum Papa Alea mengajukan pertanyaan mengenai rumah tanggaku, Alea pamit ke kamar mandi sehingga dia tidak mendengar pembahasan kami para lelaki. Beliau juga menanyakan bagaimana perasaanku pada putrinya. Tentu saja aku menjawab dengan jujur dan tulus.
"Papa tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Alea seperti aku menjaga diriku sendiri. Karena aku sangat mencintai putri papa. Dia adalah jiwaku, bagian dari hidupku". Ungkap ku dengan tulus. Andai saja hal ini dapat aku ucapkan kepada Alea tanpa rasa takut di tolak. Papa Alea menepuk pundak ku seolah merasa bahagia bercampur bangga padaku.
Tak berselang lama ponsel Papa Alea berdering menandakan ada panggilan masuk Aku melirik sejenak ponsel papa mertua yang seumuran dengan papi ku itu yang kebetulan terletak di atas meja. Dan nama yang tertera di ponsel beliau adalah,
Mr. Gautam is calling...
****
Puas bersenda gurau, Alea meminta izin untuk mengunjungi Bibinya yang bernama Bi Ester. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi aku mengurungkan niatku, biarkan dia menikmati kebersamaan nya bersama bibi yang sudah di anggap sebagai ibu oleh istriku itu.
Tanpa tahu rasa malu aku meminta kecupan pada Alea, membuat rona merah di wajah istri ku itu muncul kembali. Bagaimana tidak, saat itu masih ada kedua mertuaku, tapi aku tidak memperdulikannya, anggap saja permintaan ku itu sebagai bukti bahwa aku tulus mencintai putri mereka tanpa syarat. Seolah ingin mengikis pemikiran buruk kedua orang tua kami mengenai pernikahan yang di anggap terpaksa aku lakukan.
__ADS_1
Seolah paham putrinya malu, kedua mertuaku pun meninggalkan kami agar Alea mau menciumiku, dan Alea mau melakukannya. Aku terus menyaksikan langkah Alea yang menjauh hingga tubuhnya hilang dari balik pintu. Karena merasa sendiri di ruang keluarga, aku ingin beranjak pergi, namun sekelebat bayangan di balik tirai menyedot perhatian ku. Aku mengurungkan niatku untuk beranjak pergi, aku masih ingin memastikan siapa yang mengintip ku dari balik tirai. Dan ternyata... Dia adalah Papa mertuaku.
'Apakah sikapku tadi tidak membuat Papa percaya?. Haruskah mereka mengintai ku terus menerus seperti ini?. Sepertinya aku harus mempercepat urusan pindah rumah agar aku leluasa mengekspresikan diriku tanpa harus di intai seperti penjahat. Apa mereka juga memasang CCTV di kamar Alea?". Aku membatin.
Aku semakin menguatkan tekad untuk hidup terpisah dari kedua orang tua yang menganggap aku seperti anak kecil. Aku harus mempercepat proses perpindahan tempat tinggal kami.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.