
Setelah perdebatan antara aku dan Alea, wanita itu jadi mendiami ku. Jika kami seperti pasangan lainnya yang menikah atas dasar saling cinta atau pun tanpa adanya alasan tertentu, mungkin aku akan membujuk rayu dirinya atau membenamkan ciuman, namun kami hanyalah pasangan yang cuma memiliki perasaan sepihak, yaitu aku. Cuma aku yang mencintai Alea, tapi tidak dengan dirinya.
Hari itu aku memutuskan untuk berangkat ke kantor pagi-pagi sekali sebelum Papi dan Mami bangun dan sarapan. Namun aku mendengarnya hal yang begitu membuatku terkejut sekaligus sakit hati dari Papi dan papa mertuaku. Kala itu aku melihat Papi sedang berbicara bersama seseorang dari balik ponsel dalam ruang kerjanya. Sejujurnya aku tidak suka mengikut campur urusan pribadi Papi, namun mendengar nama Alea di sebut oleh Papi membuat aku tertarik untuk menyimak pembahasan beliau. Aku menghentikan langkahku dan beralih menuju pintu ruang kerja Papi. Aku mempertajam pendengaran ku, Seolah tidak ingin meninggalkan informasi apa yang akan aku dapat dari salah satu orang tuaku ini. Dan betapa terkejutnya aku, jika selama ini Papi dan Papa Alea selalu mengintaiku dan Alea, mereka meragukan pernikahan kami. Termasuk meragukan sikapku pada istriku sendiri. Apakah aku pria jahat dan bejat?. Dan parahnya lagi kedua orang tua itu memasang CCTV dalam kamar ku untuk memastikan apakah aku memperlakukan Alea dengan baik atau justru menyakiti dirinya. Apakah ini lelucon?. Astaga, jadi selama ini aku hidup dalam pengintaian bersama istriku sendiri?. Bagaimana bisa orang tua kami melakukan hal sampai sejauh itu?. Aku merasa marah akan sikap Papi dan Papa Alea. Aku mengeratkan tanganku hingga buku-buku jariku kentara.
'Baiklah Pi, jika kalian ingin melihat seperti apa aku memperlakukan Alea, maka bersiaplah'. Batinku.
*****
Setelah mendengar pembicaraan Papi tadi, aku berubah menjadi lebih sensitif. Aku menjadi sosok yang tempramen. Di tambah lagi Alea yang belum juga bisa menerimaku sebagai suaminya, terlebih lagi dia tidak pernah menatapku dengan penuh cinta, cintanya hanya milik Alex, Alex, dan Alex.
"Aaaaaakkkk---". Aku berteriak frustasi dalam ruang kerjaku, mengusap wajahku dengan kasar. "Ternyata selama ini aku hidup seperti dalam sangkar yang di buat oleh Papi dan Mami. Bagaimana bisa mereka tega melakukan hal seperti itu?. Apakah aku ini penjahat?". Aku bermonolog dengan wajah frustasi.
Tak berselang lama Alea memasuki ruangan ku untuk memberi laporan perusahaan. Aku meninggalkan wanitaku itu di rumah tadi pagi tanpa pesan apapun. Namun meski memberi pesan pun dia tidak pernah perduli padaku. Memikirkan hal itu membuat hatiku kembali sakit. Aku melampiaskan kemarahan ku yang tertumpuk di hati dan otakku pada Alea. Aku mengambil laporan itu dan menyimaknya, jujur saja konsentrasi ku hilang. Aku benar-benar tidak profesional kali ini. Dan tulisan angka yang tertera dalam laporan Alea membuatku memiliki alasan untuk meluapkan segala emosi yang berkumpul dalam benak dan hatiku.
"Apa kamu tidak bisa bekerja dengan baik?. Apakah aku menggaji mu hanya untuk melakukan kesalahan?". Tutur ku dengan penuh emosi yang menggebu-gebu. Aku menggabung semua kecewa, sakit hati, marah dan terluka dalam satu kali tarikan napas. Aku melihat wajah Alea menjadi sendu, tubuhnya bergetar. Sungguh aku sangat menyesal akan kalimatku sendiri.
__ADS_1
Alea berusaha untuk menjelaskan pencapaian yang di raih oleh perusahaan selama bekerjasama dengan Tuan Handoko, namun aku tidak merasa puas dengan penjelasan Alea, di tambah lagi pencapaian itu menurutku sangat minim, bukan jumlah ini yang aku inginkan. Aku mau lebih.
Tak berselang lama dalam perdebatan kami, Alex yang seperti biasanya selalu datang di saat yang menurutku tidak tepat. Dia selalu datang di saat aku membentak Alea, seolah dia adalah malaikat penyelamat bagi Alea. Pria itu menyuruh Alea untuk meninggalkan kami berdua. Dan dengan satu kali anggukan Alea pun meninggalkan kami.
Alex menasehatiku seperti biasanya tiap kali aku memarahi Alea. Dia selalu mengingatkanku untuk memperlakukan Alea dengan baik, namun karena rasa cemburu dan juga sakit hati selalu menguasai hati dan pikiranku, maka aku mengenyampingkan rasa cintaku pada wanitaku sendiri.
Informasi yang di berikan oleh Alex sedikit membuatku tenang, dimana pencapaian perusahaan naik sebesar 75% dari yang semula hanya mencapai 35%. Dan keberhasilan kali ini tidak lepas dari peran Alea. Ya, dia meluruskan kesalahpahaman antara aku dan Tuan Handoko.
Sekali lagi aku melakukan kesalahan. Aku selalu menyalahkan Alea atas apa yang tidak di perbuat nya. Mata dan hatiku buta akan kebaikan dan perilaku Alea selama ini. Aku selalu mementingkan egoku. Meski cinta, namun aku tidak berhenti untuk menyakiti wanita itu. Aku memang pria yang gagal. Sebagai suami aku gagal.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
TBC.
Mohon maaf ya Readers, masih dalam part membosankan. Setelah ini Author akan menulis klimaksnya. Nantikan terus kisah selanjutnya ya. Jangan lupa like, komen dan vote ya. Terimakasih.
Happy Reading 😊.
*Dede...
__ADS_1