Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 83. Ibu Risma.


__ADS_3

Pasca keluar dari ruangan Akemi, Shella langsung teringat tugas utamanya, yaitu membersihkan ruangan HRD. Dia berjalan cepat agar sampai di ruangan HRD tepat waktu sebelum Pak Toni datang. Namun, sebelum dirinya tiba di ruangan HRD tersebut, Ibu Risma selaku kepala petugas kebersihan di Perusahaan itu datang dan memanggil Shella dengan suara meninggi.


"Shella Yolanda!" Shella menoleh pada Ibu Risma yang sudah memasang wajah marah. Wanita paruh baya itu seperti orang yang kerasukan setan. Wajahnya merah, matanya memelototi Shella, tangannya di kepal. Seakan ada gumpalan asap yang keluar dari telinga Ibu Risma. Sorot mata wanita paruh baya itu sangat tajam, setajam belati.


"Iya Bu," ucap Shella dengan suara gemetar. Ya, wanita itu gemetar karena takut akan terkena amukan Ibu Risma lagi. Entah mengapa wanita paruh baya tersebut selalu saja marah-marah kepadanya.


Ibu Risma berjalan mendekati Shella yang masih menundukkan kepalanya. Dia sangat takut pada bos nya tersebut.


"Kamu dari mana saja? mengapa kamu tidak membersihkan ruangan pak Toni? sejak tadi Pak Toni mencarimu. Apa kamu mau saya pecat?" Ancam Bu Risma. Wanita itu berbicara selayaknya bos di Perusahaan tersebut.


Mendengar dirinya terancam kehilangan pekerjaan, Shella pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap penuh permohonan pada Ibu Risma. Dia memegang tangan wanita paruh baya tersebut. Memohon, mengiba, dan meminta agar tidak di pecat.


"Maafkan saya Bu, saya mohon jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong Bu," ucap Shella pilu. Matanya mulai berkaca-kaca, dia benar-benar tidak siap untuk kehilangan pekerjaan. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan di kota besar, terlebih lagi Perusahaan ternama seperti tempatnya bekerja saat ini. Kendati hanya sebagai petugas kebersihan, tetapi itu sudah pekerjaan yang pantas untuk dirinya yang hanya tamatan SMA.


"Kalau kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini, harusnya kamu pikirkan akibat dari perbuatan mu," ucap Bu Risma dengan nada yang tinggi.


"Saya mohon maaf Bu, tadi saya tidak sengaja masuk dalam ruangan CEO. Saya pikir itu adalah ruangan Pak Toni, tapi ternyata bukan. Saya mohon jangan pecat saya, Bu." Shella terus memohon agar tidak di pecat. Sementara Bu Risma masih dengan keterkejutannya, karena mendengar Shella salah masuk ruangan.


"Apa kamu tidak bisa membaca?" Bu Risma masih ingin melanjutkan omelan nya, tetapi Pak Toni tiba-tiba saja muncul dan memanggil dirinya.


"Risma."


Risma dan Shella menoleh ke arah Pak Toni secara bersamaan.

__ADS_1


"Iya Tuan," jawab Bu Risma. Wanita paruh baya itu berjalan menuju Pak Toni yang berdiri di ambang pintu ruangan HRD.


"Mengapa ruangan saya belum di bersihkan?" Tanya Pak Toni datar. Namun, sukses membuat Bu Risma dan Shella gemetar ketakutan. Terutama Shella, wanita itu sangat takut jika di pecat.


"Maafkan saya Tuan, tadi saya sudah menyuruh anak buah saya untuk membersihkan ruangan Tuan, tapi ternyata dia salah masuk ke ruangan CEO Tuan," terang Bu Risma seraya menundukkan kepalanya.


"Baiklah, tidak apa-apa. Siapa nama karyawan mu itu?" Tanya Pak Toni seraya menunjuk Shella dengan menggunakan dagunya.


"Shella Yolanda Tuan," jawab Bu Risma masih dengan kepala tertunduk.


"Baiklah Shella, silahkan bersihkan ruangan saya. Saya beri kamu waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan pekerjaan mu," titah Pak Toni datar dan sukses membuat Shella mengembuskan nafas lega. Dirinya benar-benar bersyukur karena tidak kena marah oleh Pak Toni, tapi entah bagimana dengan Bu Risma setelahnya.


"Baik Tuan," balas Shella. Dan akhirnya wanita itu pun masuk ke dalam ruangan Pak Toni untuk membersihkan ruangan tersebut. Sedangkan Bu Risma kembali ke ruangannya.


Pukul 19.00 Shella telah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan seluruh ruangan di lantai dasar, tersisa lantai 27 dimana ruangan CEO berada.


Wanita itu membawa semua alat pembersih ke lantai 27 tersebut. Sebenarnya ini bukanlah tugasnya, tapi dia mendapat hukum dari Bu Risma karena melakukan kesalahan tadi. Sedangkan seluruh karyawan lainnya telah pulang, tinggal Shella seorang diri.


Kini Shella telah sampai di lantai 27 dengan menggunakan khusus lift karyawan. Dia membersihkan ruangan di lantai tersebut, hingga gerakannya terhenti ketika dia melihat lampu dalam ruangan CEO masih menyala. Artinya Akemi belum pulang.


Shella berjalan menuju ruangan CEO, dan mengintip ruangan tersebut lewat jendela. Dia bisa melihat seberapa seriusnya Akemi mengerjakan tugas nya dalam ruangan tersebut. Shella terus memperhatikannya Akemi, hingga tak sengaja wanita itu menyentuh vas bunga yang terletak di samping pintu ruangan CEO hingga terjatuh dan pecah.


Prang,

__ADS_1


Mata Shella membulat sempurna, seakan ingin melompat ke lantai. Dia menutup mulutnya, lalu kemudian membersihkan pecahan Vas bunga tadi. Sementara di dalam ruangan, Akemi mendengar ada suara dari luar ruangan, akhirnya merasa terkejut dan keluar untuk memastikan apa yang terjadi.


Akemi melihat Shella sedang memungut pecahan Vas bunga yang berserakan di lantai. Dia cukup terkejut ketika melihat wanita yang tadi pagi sukses membuat dirinya merasakan sesuatu yang berbeda. Mengoyak hati dan jiwanya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Akemi, membuat Shella terkejut dan melukai tangannya sendiri. Dia tidak menyadari kehadiran pria tersebut.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja menjatuhkan Vas bunga," jawab Shella sembari menyembunyikan tangannya yang luka dan berdarah. Namun, sayangnya Akemi sudah terlanjur melihat tangan wanita itu terluka. Akemi meraih tangan Shella yang di sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Tanganmu berdarah," ucap Akemi datar. Namun, ada rasa khawatir dalam benak pria bermata perak tersebut. Shella menarik tangannya dari genggaman Akemi.


"Tidak apa-apa Tuan, saya bisa mengobati nya sendiri." Shella berdiri dan mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca tadi. Sementara Akemi diam tak bergeming. Pria itu benar-benar tak pandai menunjukkan rasa pedulinya terhadap wanita. Dia sangat kaku jika itu menyangkut wanita. Bahkan ketika Naomi yang merupakan saudara kembarnya terluka, dia tak pernah mengobati luka adiknya tersebut. Terlebih lagi terhadap wanita asing. Jantung Akemi memang berdegup kencang ketika pertama kali melihat Shella. Namun, dia tidak bisa mengartikan perasaan apa itu. Dia hanya bisa melihat dan merasakan, tapi tak dapat mengekspresikan perasaannya melalui perbuatan.


Shella telah selesai dengan pekerjaan nya, sementara Akemi masih diam terpaku. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya peduli, tapi tak pandai berekspresi. Dirinya ingin bertanya, tapi tak sanggup berkata. Segugup itu kah dia?


"Maaf Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Anuska tiba-tiba. Wanita itu merasa bingung karena Akemi tak beranjak dari tempatnya Sedari tadi. Dia merasa pria itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di baca.


"Ah, tidak ada. Permisi," balas Akemi gugup. Ya, Akemi gugup karena tak sanggup menatap mata Shella. Reaksi pria itu berubah jadi salah tingkah.


"Apa yang salah dari diriku? mengapa aku jadi begini?" Gumam Akemi dengan suara pelan. Akhirnya pria itu memasuki ruangan nya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Jangan lupa like, komen dan vote ya readers.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2