
Sinar mentari yang masih tampak malu-malu untuk muncul di pelataran bumi, menyisakan dua insan yang masih terlelap dalam mimpi dan saling berpelukan, hingga sebuah suara ketukan pintu menyadarkan dua manusia yang hampir semalaman bercinta.
Tok... Tok... Tok...
"Alea, bangun Nak. Ayo sarapan". Suara Mama Alea memaksa Alea dan Javier membuka mata mereka.
"Ia, Ma. Nanti Alea nyusul". Jawab Alea dengan suara serak. Alea melihat jam yang tergantung indah di dinding kamarnya.
"Sudah jam delapan rupanya. Kenapa gelap sekali?. Apa sedang hujan?". Alea bermonolog sambil menarik tirai yang terdapat pada sisi kirinya untuk memastikan cuaca.
"Ternyata hujan". Gumam Alea. "Ck, kenapa dia masih tidur". Lanjutnya kemudian setelah akhirnya wanita itu melihat suaminya masih tertidur pulas. Alea menarik bibirnya membentuk senyum penuh kekaguman. Tangan wanita itu mulai menyentuh alis tebal Javier, lalu beralih ke pipi pria itu yang di tumbuhi bulu-bulu halus, dan berakhir ke bibir sensual Javier yang kini menjadi candu bagi Alea, sehingga wanita itu mengingat dimana dirinya bercinta bersama pria yang mulai di cintainya itu dengan penuh hasrat.
"Apa belum cukup semalam?".
'Astaga, ternyata dia sudah bangun'. Batin Alea. Ya, sebenarnya Javier sudah bangun ketika Mama Alea mengetuk pintu kamar mereka, namun pria itu sengaja tidak bersuara. Tubuhnya masih malas untuk bereaksi.
"Aku mau mandi". Alea menarik selimut yang di gunakan bersama Javier untuk menutupi tubuh mulusnya.
"Apa kamu tidak melupakan sesuatu?". Tanya Javier dengan tatapan mendamba.
'Ck, kenapa dia selalu ingat ciuman pagi sih'. Gerutu Alea dalam hati. Dirinya terlampau malas untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, apa lagi ritual pagi yang selalu di tuntut suami angkuhnya tersebut.
"Mau kecupan atau transaksi air liur?". Tanya Javier menaik turunkan alisnya membuat Alea tersentak dari lamunannya.
"Transaksi air liur?. Emang ada?". Tanya Alea dengan wajah polosnya.
"Tentu saja ada. Apa kamu belum pernah melakukan nya?". Tanya Javier dengan wajah heran yang di buat-buat. Kali ini pria itu masih ingin bermain-main bersama istri polosnya.
"Belum. Beneran ada yang namanya transaksi air liur?". Sekali lagi pertanyaan polos Alea membuat tawa Javier hampir pecah, namun pria itu berhasil menahannya, ia masih betah mengerjai istrinya tersebut.
'Alea, ternyata kamu sangat polos. Biar ku kerjain kamu. Hehe'. Batin Javier dengan liciknya. "Ehem, ayo mendekat". Titah Javier, dan dengan lugunya Alea mendekatkan diri pada pria yang sudah memiliki pikiran mesum dalam benaknya. Hingga sebuah c*uman panas terjadi di antara keduanya. Bibir mereka saling bertautan tak mau lepas, karena Javier menekan kepala Alea untuk memperdalam c*uman mereka.
'Benar-benar transaksi air liur yang menggairahkan'. Batin Javier sambil tersenyum menyeringai.
'Jadi ini yang di namakan transaksi air liur?. Ciuman menyebalkan'. Meski menggerutu tapi wanita itu tetap mengikuti permainan Javier. Pria itu selalu berhasil membuat hati Alea melemah. Otak dan tubuh wanita itu saling berlawanan. Otaknya menolak, namun tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar transaksi air liur.😄
__ADS_1
Dan percintaan yang melelahkan semalam terulang kembali hingga pukul 10.00 pagi, durasi yang cukup panjang untuk di pagi hari.
*****
Setelah puas bercinta, keduanya turun ke lantai satu untuk sarapan. Percintaan yang terjadi pagi ini menjadi alasan keduanya melewatkan sarapan bersama kedua orangtua mereka.
"Kenapa baru turun sayang?. Apa hujannya sangat nikmat sehingga leher kamu merah-merah?". Tanya Mama Alea dengan senyuman menggoda. Wanita paruh baya itu tidak sengaja melihat kiss mark pada leher Alea. Namun ia memahami putrinya yang masih dalam hitungan pengantin baru meski sudah berjalan lima bulan. Pertanyaan itu membuat Alea menjadi salah tingkah, ia menarik rambut coklatnya untuk menutupi kiss mark tersebut.
"Putri Mama sengaja menahan Javier di kamar dan awwww----". Alea menginjak kaki kiri Javier. Wanita itu benar-benar merasa malu dan kesal pada suaminya yang selalu mengatas namakan dirinya seolah dialah yang paling agresif disini.
"Rasain". Cibir Alea sambil memelototi Javier.
"Kau---".
"Sudah-sudah. Kalian sarapan dulu, kalian pasti lapar". Mama Alea menimpali keduanya yang sudah di pastikan akan menjadi perdebatan di pagi hari. Alea tersenyum penuh kemenangan. Sementara Javier berdecak kesal karena dirinya kalah kali ini.
******
15 menit Alea dan Javier telah selesai sarapan. Keduanya menyusul orang tua paruh baya yang sedang asik menonton berita. Hal ini biasa di lakukan ketika pagi hari sebelum Papa Alea berangkat kantor.
"Ma, Pa. Alea ke rumah bibi Ester ya?. Sudah lama Alea gak mengunjungi Bibi". Izin Alea. Bi Ester adalah Adik dari Papa Alea. Wanita paruh baya berusia 45 tahun yang hidup sebagai janda. Ia memilih menjanda sebagai bentuk cintanya pada mending suaminya yang lebih dulu pergi menghadap Tuhan dalam sebuah kecelakaan tunggal. Namun sayang, sampai akhir hayatnya pria yang menjadi suami Bibi Alea tersebut tidak di karuniai seorang anak, sehingga Bibi Ester tinggal seorang diri. Beruntung Papa Alea memberikan rumah yang jaraknya cukup dekat dengan kediaman mereka, agar wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu tidak merasa kesepian karena Mama Alea selalu mengajak iparnya tersebut untuk sekedar jalan-jalan.
"Javier gak akan suka berada disana, Ma". Tolak Alea dengan cara halus.
"Javier masih ada kerjaan, Ma. Javier mau memeriksa perkembangan cabang di kata A lewat Email". Terang Javier seolah tidak tertarik untuk mengikuti Alea.
"Yes. Alea berangkat ya, Ma Pa".
"Eits, aku belum memberimu izin". Javier menahan Alea dengan menarik tangan wanita itu.
"Tadi kamu bilang gak mau ikut".
"Aku emang gak mau ikut". Balas Javier dengan santai.
"Lalu".
__ADS_1
"Cium dulu". permintaan Javier membuat mata Alea membulat sempurna. Wajahnya menjadi bersemu merah. Bagaimana tidak, suami tidak tau malunya itu meminta ciuman di saat kedua orang tua Alea masih duduk di antara mereka.
"Tapi disini ada Mama dan Papa". Kata Alea dengan suara pelan. Sedangkan Javier hanya mengidikan bahunya seolah tidak perduli.
"Oh ia, Pa. Tadi sepertinya Bu Risna mengirim undangan deh, Mama sampai lupa. Ayo kita lihat di kamar". Mama Alea sengaja mengalihkan situasi, seolah paham akan perasaan putrinya yang malu.
"Benarkah?. Ayo". Dan dua manusia paruh baya itu meninggalkan Alea dan Javier di ruang keluarga.
"Nah, sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Ayo cium". Titah Javier dengan penuh tuntutan.
'Ck, dasar pria tidak tau malu. Bisa-bisanya dia menyuruhku menciumnya di hadapan Mama dan Papa'. Keluh Alea.
"Mau cium atau aku ikut?!".
"Baiklah-baiklah". Dan akhirnya Alea pun mencium singkat pipi Javier, lalu meninggalkan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang masih memperhatikan mereka dari balik tirai.
"Semoga kalian selalu bahagia Nak. Doa Papa selalu menyertai kalian". Ya, Papa Alea masih ingin memastikan apakah putrinya itu baik-baik saja selama menikah dengan putra dari sahabatnya atau tidak. Namun permintaan Javier lima menit yang lalu seolah mengikis pemikiran negatif pria paruh baya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.