
Mata Shella membulat sempurna seolah ingin melompat ke tanah. Bagaimana bisa dia bertemu orang itu lagi? masih terasa segar kekecewaan Shella pada orang tersebut. Namun, dia tak bisa mengungkapkan perasaannya. Shella hanya mampu menahan diri dan memendam semua rasa yang ada.
"Kak Ibrahim?" Ucap Shella tak percaya. Ya, orang itu adalah Ibrahim, sahabat Shella. Keduanya bersahabat sejak kecil, hanya saja perbedaan status sosial keduanya bagai bumi dan langit. Ibrahim seorang pria kaya raya, Ayahnya adalah salah satu pebisnis terkenal di kotanya. Sedangkan Shella hanyalah gadis miskin yatim piatu.
Mereka bertemu di Panti Asuhan tempat Shella di besarkan. Kedua orang tua Ibrahim adalah salah satu Donatur di Pantai Asuhan tersebut. Ketika itu, Ibrahim ikut Ayah dan Ibunya ke Panti Asuhan, dan disitulah dia bertemu dengan Shella.
Keakraban yang terjalin di antara keduanya menimbulkan benih-benih cinta di hati Ibrahim dan Shella. Mereka mengikat janji untuk menikah ketika dewasa nanti. Namun sayang, hubungan mereka terhalang restu orang tua Ibrahim. Shella yang hanya gadis yatim piatu, mendapat penolakan mentah-mentah dari orang tua Ibrahim.
Ketika itu Ayah Ibrahim datang ke Panti Asuhan untuk memperingatkan Shella agar menjauhi putranya. Kalau wanita itu masih saja menjalin hubungan dengan Ibrahim, maka Panti Asuhan akan di tutup oleh Ayah Ibrahim. Tentu saja hal itu tak bisa di biarkan oleh Shella. Dia bukanlah siapa-siapa untuk mengorbankan ratusan anak Panti. Akhirnya Shella memutuskan hubungan dengan Ibrahim dan menjauh dari pria yang di cintai nya itu.
Shella tak punya pilihan lain selain menjauh dari pria yang selama ini mengisi harinya selama bertahun-tahun itu. Cinta tak harus memiliki, tetapi persahabatan harus tetap terjalin. Namun, kedua orang tua Ibrahim tetap tak mengizinkan Shella menjalin persahabatan dengan putra satu-satunya tersebut. Akhirnya Shella memutuskan untuk menjauh.
Masih segar dalam ingatan Shella bagaimana kejamnya kata-kata Ibu Ibrahim ketika menghina Shella kala itu.
"Dasar gadis miskin, yatim piatu. Mungkin saja kedua orang tua mu membuang mu dulu karena kamu pembawa sial. Dan kesialan mu itu akan kamu berikan pada putra kesayangan kami? tidak akan aku biarkan!" Kalimat lugas itu bagai menghujam ke jantung Shella. Hatinya patah seketika. Menjadi yatim piatu ternyata membuat dirinya terluka.
__ADS_1
Shella yang tahu diri, akhirnya hijrah ke ibu kota, dan entah itu suatu kebetulan atau memang sudah rencana Tuhan, Shella mendapatkan kabar jika masih ada salah satu kerabatnya yang hidup, yaitu orang yang menitipkan dirinya dulu di Panti Asuhan.
Tak ingin menyia-nyiakan peluang, Shella pun pergi ke ibu kota dengan berbagai macam alasan dan tujuan. Namun sayang, bukannya hidup bahagia ketika bertemu kerabatnya itu, dia justru menerima penolakan sekali lagi. Takdir apa sebenarnya yang di mainkan Tuhan saat ini? sampai Shella harus menanggung beban hidup yang tak pernah di bayangkan nya. Di buang oleh orang tua adalah hal yang paling menyakitkan bagi Shella. Di tambah lagi penolakan demi penolakan yang menerpanya. Melengkapi beban hidup seorang Shella Yolanda, si wanita manis bermata hitam pekat.
"Kita bertemu lagi Ella," ujar Ibrahim. Ella adalah panggilan sayang dari Ibrahim untuk Shella.
"Sedang apa Kakak disini?" Tanya Shella gugup. Ya, Shella gugup karena takut jika kedua orang tua Ibrahim melihat mereka sedang bersama.
"Aku mengikuti mu Ella, mengapa kamu pergi dari Panti Asuhan? apakah karena orang tua ku? aku akan meminta restu pada mereka dengan baik Ella. Mereka pasti akan mengerti dan menerima hubungan kita," terang Ibrahim sembari memegang tangan Shella. Shella melepas tangan Ibrahim dengan lembut. Dia tak ingin menyakiti perasaan pria yang masih di cintainya itu.
"Bukan itu alasanya Kak, aku ke kota untuk bertemu keluarga ku disini," jawab Shella bohong.
"Aku sudah bertemu mereka Kak, tapi mereka tidak suka jika aku membawa teman pria ke rumah," ujar Shella akhirnya setelah beberapa saat diam dengan posisi membelakanginya Ibrahim.
"Ella, aku mohon," lirih Ibrahim. Shella membalikan tubuhnya menghadap pria tersebut.
__ADS_1
"Kak, aku mohon. Terimalah perjodohan yang di lakukan oleh Ayah dan Ibu mu. Aku tidak pantas untuk mu Kak," pinta Shella sendu. Hati wanita itu hancur ketika dirinya harus meminta kekasih hati yang di puja nya untuk menikah dengan wanita lain. Katakanlah Shella egois dan naif, tetapi bukankah dia tak bisa berbuat apa-apa? menjadi yatim piatu bukan lah pilihan nya, tetapi Tuhan memang sudah menakdir kan seperti itu.
"Jadi ini alasannya mengapa kamu menjauhiku?" Lirih Ibrahim.
"Ini alasannya kamu pergi ke ibu kota tanpa memberitahu aku? aku jauh-jauh mengejar mu ke kota hanya untuk membawamu pulang, dan kita akan memperjuangkan cinta kita, Ella." Intonasi suara Ibrahim mulai meninggi. Dia benar-benar tak habis pikir, ternyata alasan di balik kepergian Shella adalah karena ingin menjauh dari dirinya.
"Ayolah Ella, kita bahkan belum berusaha untuk memperjuangkan cinta kita," lirih Ibrahim seraya menangkup kedua pipi wanita tersebut. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Manik mata Ibrahim menatap dalam-dalam mata Shella. Dia berusaha mencari cinta untuk dirinya di dalam sana. Dan benar saja, cinta itu masih ada. Namun, sudah berubah warna. Cinta yang dulu di pupuk sedemikian rupa, kini terlihat sangat rapuh dan jauh berbeda.
Shella melepas tangan Ibrahim, dia membalikan tubuhnya sekali lagi. Tak ingin melihat mata pria yang mendambakan dirinya itu.
"Maafkan aku Kak, aku tidak bisa memperjuangkan hubungan yang tak memiliki masa depan ini." Air mata Shella mulai bercucuran. Dia tak sanggup lagi menahan cairan bening yang sedari tadi sudah tertampung di pelupuk matanya.
"Tidak memiliki masa depan? lalu apa artinya aku bagimu Ella? apakah selama ini aku tidak berarti apa-apa untuk mu? atau jangan-jangan kamu sudah menemukan pengganti diriku? benar begitu?" Tanya Ibrahim secara beruntun. Rasanya yang begitu menggebu-gebu, seolah menghujam relung hati. Dia tak sanggup lagi menahan diri. Air matanya tumpah menggenangi pipinya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Baiklah Ella, kali ini aku akan melepaskan mu. Tapi tidak untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan melepaskan tangan mu lagi. Jadi pastikan kita tidak akan bertemu lagi di kemudian hari. Jika tidak, aku akan membawamu lari ke tempat yang bahkan kedua orang tua ku tak akan bisa menemukan kita berdua." Akhirnya Ibrahim pasrah. Dia tak bisa membawa Shella kali ini, tetapi tidak untuk lain kali.
__ADS_1
Akhirnya Ibrahim pergi meninggalkan Shella seorang diri yang jatuh terkulai. Sekujur tubuh wanita itu melemah. Dia menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasib yang begitu memilukan. Apa salahnya menjadi orang miskin? dan dosa kah jika dia menjadi yatim piatu? jika Shella bisa memilih orang tua ataupun keluarga, maka dia akan memilih untuk hidup layak seperti orang-orang kaya yang lain. Namun apalah daya, nasib di kandung badan. Dia harus rela menerima kenyataan pahit untuk yang kesekian kalinya.
"Maafkan aku Kak, aku harus melakukan ini demi kebaikan Kakak dan Panti Asuhan, hiks, hiks." Shella masih terus menangis pilu di atas trotoar, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya sedari tadi, dan mendengarkan percakapan Shella dan Ibrahim.