
Sepulangnya Alea dari rumah sakit, ia langsung memasuki kamar tanpa melihat seseorang yang sedang menatapnya dengan penuh selidik. Javier merasa heran di buatnya. Ya, Javier menunggu Alea pulang yang entah dimana wanita itu pergi pagi-pagi sekali dan tanpa pesan sedikit pun. Alea telah sampai di kamarnya, dan menutup pintu dengan pelan. Sementara Javier menatap bingung wanita itu.
"Apa yang terjadi dengan wanita itu?. Apa dia sakit?. Kenapa wajahnya pucat?". Javier bermonolog. Karena penasaran, maka Javier menyusul Alea di kamarnya untuk menjawab semua pertanyaan yang berputar di benaknya.
"Alea buka pintunya". Tutur Javier dengan sedikit mengetuk pintu kamar Alea. Merasa tak ada jawaban, lalu Javier membuka pintu kamar Alea secara perlahan. Di lihatnya wanita itu sedang terbaring di atas ranjang sambil memijit pelipisnya.
"Apa kamu tidak mendengarku?". Tanya Javier namun tak di jawab oleh Alea.
"Alea!". Bentak Javier hingga membuat Alea mentap wajah pria itu dengan tatapan sendu. Wanita itu kehabisan tenaga untuk sekedar berbicara.
"Kamu mau makan apa?. Biar aku masakan". Ucap Alea dengan suara sedikit bergetar akibat kondisi tubuhnya yang mulai melemah. Membuat mata Javier membulat.
"Al, apa kamu baik-baik saja?". Javier ingin menyentuh wajah Alea namun wanita itu menepis tangan Javier.
"Jangan menyentuhku!". Titah Alea dengan sedikit tenaga yang tersisa.
"Al, aku hanya ingin membantu mu". Balas Javier dengan penuh kesungguhan. Pria itu benar-benar mengkhawatirkan kondisi wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.
"Aku tidak butuh bantuan Anda Tuan Javier". Tutur Alea sambil menepis tangan Javier yang berusaha menahan tubuhnya yang hendak rubuh.
"Tapi, Al. Kamu sedang tidak baik-baik saja".
"Hm, apa Anda peduli Tuan?. Bukankah Anda merasa jijik jika berada di dekatku?. Maka menjauh lah dari ku. Aku tidak ingin goyah lagi, aku--- aku--- men---". Alea tidak sanggup lagi menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya kini telah ambruk dalam pelukan Javier.
Javier menyentuh kening Alea yang di rasa cukup panas.
"Dia demam". Javier membawa tubuh Alea ke pembaringan nya, lalu di lihatnya sebuah vitamin yang berada di atas nakas.
"Apa tadi dia ke rumah sakit?. Pantas saja pagi-pagi sekali dia sudah tidak ada di rumah". Tutur Javier tanpa melihat sebuah amplop yang ujung kertasnya sedikit keluar dari bibir tas yang di kenakan Alea ketika melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
__ADS_1
Hati kecil Javier mulai tergerak untuk merawat wanita yang terkulai lemah di atas tempat tidurnya. Javier menyiapkan air dingin guna mengompres Alea agar demamnya turun. Javier memeriksa suhu tubuh Alea yang mencapai hingga 39° Celsius.
"Dia panas sekali". Javier kembali mengompres Alea hingga menjelang tengah malam. Ada sedikit rasa khawatir di wajah Javier, sekelebat bayangan kebersamaan mereka ketika berada di rumah kedua orang tua keduanya membuat Javier tersenyum. Ada rasa bahagia yang singgah di hati pria berhati dingin tersebut. Ia membayangkan ketika Alea tertawa lepas seolah tidak memiliki beban. Namun tawa itu tak di lihatnya lagi sejak keduanya menempati rumah baru mereka. Lalu Javier mengingat dirinya ketika bercinta dengan Alea, percintaan yang sungguh menciptakan pengalaman baru bagi keduanya. Namun tiba-tiba saja wajah pria itu berubah menjadi sendu ketika mengingat ucapannya sendiri bahwa ia merasa jijik pada wanita yang terkulai lemah tersebut. Wanita yang kini tidak berdaya di atas pembaringannya.
"Maafkan aku Alea". Tutur Javier dengan suara lirih. Ia merasa bersalah pada wanita yang di nikahinya selama 7 bulan tersebut. Namun permintaan maaf Javier tentu saja tak di dengar oleh Alea. Wanita itu masih tak sadarkan diri setelah pingsan beberapa waktu yang lalu. Javier menggenggam tangan Alea hingga ia terlelap di sisi kiri wanita itu.
******
Sinar mentari yang menembus jendela kamar Alea memaksa mata wanita itu untuk terbuka. Dan betapa terkejutnya wanita itu manakala melihat sosok pria yang tidak asing baginya sedang tertidur pulas di sisinya sambil menggenggam tangan nya. Suatu pemandangan yang langkah di pagi hari semenjak menempati rumah itu.
Alea tersenyum melihat wajah Javier yang tampak tenang ketika tidur. Napasnya bergerak teratur. Sekelebat bayangan kebersamaan mereka seolah menari di atas kepala Alea, ia mengingat bagaimana Javier meminta ciuman di pagi hari darinya. Wanita itu di buat tersenyum dengan ingatan yang di anggap sungguh membahagiakan. Namun senyuman itu seketika sirna ketika ia mengingat kekejaman Javier yang menghancur luluh lantak kan perasaan Alea.
Alea mengalihkan pandangannya dan sedikit menitikan air mata, lalu ia menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. 'Ini cuma sandiwara Alea. Kamu jangan tertipu lagi'. Alea berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Sudah bangun?". Pertanyaan Javier membuat Alea tersentak dari lamunannya. Ia segera membuka selimut yang di kenakannya.
"Kamu mau kemana?". Tanya Javier. Namun tidak mendapat jawaban dari Alea.
Hoek... Hoek... Hoek...
Alea mengambil tisu untuk mengusap mulutnya yang basah. Ia berkumur-kumur dan mencuci wajahnya agar tampak segar dan Javier tidak merasa curiga akan kondisinya. Terakhir ia mematikan keran dan keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu baik-baik saja?. Kenapa lama sekali di dalam sana?. Apa kamu masih demam, apa kamu lapar?. Biar aku buatkan sarapan". Pertanyaan Javier secara beruntun membuat kening Alea berkerut. 'Apa dia berusaha untuk menjatuhkan ku lagi?. Tidak, tidak, kali ini aku tidak akan tertipu lagi olehnya'. Alea tidak memperdulikan setiap ucapan Javier, hingga Javier merasa jengah dan meraih pinggang ramping Alea.
DEG...
Jarak keduanya sangatlah dekat. Dan jantung Alea berdetak dengan kencang. Ternyata jantung itu masih setia berdetak untuk suaminya yang berwatak dingin. Javier mengusap bibir Alea yang telah lama tidak di jamah nya. Ia merindukan bibir itu yang bagaikan candu. Namun Alea menepis tangan Javier dan melepas pelukan pria itu dengan sisa tenaga yang ada.
"Lepas!".
__ADS_1
"Maafkan aku". Javier berkata dengan suara lirih. Ia sedikit merindukan pelukan wanita itu, wanita yang selama dua bulan ini di abaikan. Wanita yang di nikahinya secara kontrak namun berhasil memporak-porandakan hatinya dengan sengaja.
"Hm". Alea tersenyum kecut mendengar permintaan maaf Javier. "Seperti yang kamu katakan sebelumnya. Kamu berhak melakukan apapun tanpa izin dariku. Bukankah aku adalah mainan mu?. Lalu untuk apa kamu meminta maaf seolah merasa bersalah?". Lanjutnya kemudian. Ucapan Alea membuat hati Javier tercubit. Ia merasa bersalah akan sikapnya yang melewati batas selama ini.
"Alea, aku---".
"Ku mohon tinggalkan aku. Aku ingin sendiri. Bukankah kamar Anda bukan disini Tuan Javier?. Ah, ia aku lupa. Ini adalah rumah Anda Tuan. Sekali lagi Anda berhak berada dimana saja termasuk dalam kamar seorang wanita yang sangat menjijikan bagi Anda". Wajah Javier berubah menjadi pias kala kalimat Alea menyentak hatinya. Hati yang mulai terbuka untuk Alea. Sementara mata Alea mulai berkaca-kaca, hingga suara pintu terdengar tertutup dengan pelan.
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku tidak akan tertipu lagi. Nak, aku akan menjagamu. Kita akan baik-baik saja meski tanpa Ayahmu". Alea mengusap air mata yang lolos sempurna di atas pipi mulusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.