
Pemandangan itu sangat menyayat hati, dimana Akemi harus menyaksikan kebersamaan istrinya dengan pria yang merupakan bagian dari masa lalu. Ya, orang itu adalah Akemi. Dia tak sengaja melihat Shella yang berdiri di depan toko bunga yang jaraknya tak jauh dari Apartemen mereka bersama pria lain. Rasanya sakit sekali, kebahagiaan yang di impikan Akemi malam ini, pupus sudah. Di kiranya cinta itu akan terungkapkan secara mulus, tapi dia salah. Ada kerikil tajam yang menghadang hubungan mereka. Apakah Shella masih mencintai pria itu? jika tidak, lalu mengapa dia harus menangis bersama pria dari masa lalunya? secinta itu kah dia pada pria itu? lalu apa artinya Akemi selama ini? bukankah pria itu memberinya cinta yang begitu besar selama ini?
Tanpa sadar Akemi menitikan air mata, air mata yang tak pernah di keluarkan untuk siapapun. Hatinya hancur, jiwanya remuk, dan jantungnya terasa ingin meledak. Haruskah dia menghampiri dua insan yang berada di depan matanya? dan menegaskan, bahwa wanita itu adalah istrinya? hanya istrinya. Pikir Akemi.
Akemi terus bermain-main dengan gejolak dalam dadanya, dia ingin mendengar Shella mengatakan sesuatu, tapi mengapa wanita itu seolah bisu? apakah itu artinya dia masih menginginkan pria itu kembali dalam hidupnya? lalu bagaimana dengan cinta Akemi? apakah pria itu hanya pajangan hidup Shella? tapi mengapa cinta itu terasa nyata di mata Shella untuk Akemi?
Lama Akemi berputar-putar dalam pikirannya, melihat Shella yang diam tanpa kata, membuat hati dan jiwanya remuk dalam waktu yang bersamaan. Akhirnya Akemi memilih untuk pergi meninggalkan dua insan yang masih saling mencinta itu. Setidaknya itulah yang di pikirkan Akemi saat ini.
Sementara Ibrahim masih terus menangis, begitu juga dengan Shella. Suara tangisan mereka seolah memecah kesunyian malam.
"Ella, apa artinya aku bagimu selama ini? mengapa kamu berhenti berjuang? mengapa kamu tak mencari ku selama ini? mengapa kamu seolah membuang ku? apakah karena dia? apakah karena pria itu? apakah dia sudah menyentuhmu? merenggut kehormatan mu? katakan padaku Shella, katakan!"
"Karena dia Suamiku!" jawab Shella akhirnya setelah lama bungkam. Tangis Ibrahim seketika berhenti. Namun, tidak dengan jantung nya. Organ tubuh yang memompa darah itu seakan berdendang ria di dalam sana.
"A--apa?" lirih Ibrahim. Suara pria itu bagai tercekat di tenggorokan.
"Iya Ibrahim. Dia suamiku, Akemi. Dia adalah pria yang aku cintai. Dia adalah pria yang merangkul ku selama aku hidup di kota asing ini sendirian. Aku hidup dengan berbagai macam pedihnya dunia, tapi dia justru datang menawarkan keindahan. Dia memberiku kekuatan dan kepercayaan diri. Di saat semua orang menolakku, dia justru menerimaku dan membentangkan tangan. Begitu juga dengan keluarga nya. Lalu apakah aku harus mengkhianati mereka? pantaskah aku di sebut manusia?" Shella mulai mengeluarkan isi hatinya. Mungkin sudah saatnya lah pria itu tahu kebenaran yang sesungguhnya. Agar dia berhenti berharap dan menyalahkan Shella.
__ADS_1
"Memang benar aku sudah tak mencintai mu lagi, tapi bukan karena aku telah jatuh cinta pada suamiku. Tapi karena memang kita tak bisa bersama. Kita di takdir berbeda Ibrahim," lirih Shella.
"Apanya yang berbeda Ella? apa? bukankah kita juga saling mencintai dulu? bukankah kau juga sangat mencintai ku? lalu mengapa kamu berhenti berjuang? berjuang demi cinta kita, mengapa?" tandas Ibrahim masih tak mau menerima penjelasan Shella.
"Ibrahim, aku sudah menikah. Baiklah, anggap saja aku tak setia padamu. Anggap saja aku tak bisa memperjuangkan cinta kita dulu. Lalu bagaimana cara mu melawan ego orang tua mu? apakah dengan kabur dari rumah, kamu telah membuktikan, bahwa kamu mencintai ku? apakah dengan begitu kamu bisa menyebut itu cinta? itu bukan cinta Ibrahim, tapi ambisi."
Kalimat Shella begitu menyayat hati Ibrahim. Mengapa wanita itu mengatakan, bahwa cintanya hanya sebatas ambisi belaka? lalu apa artinya perjuangan ini? dia harus melewati lembah menakutkan di hutan demi cintanya, dan itu di katakan ambisi? sungguh mustahil.
Ibrahim tersenyum kecut, Hatinya terluka dan berdarah.
"Apa? apa maksud mu Ibrahim?" Tanya Shella tak percaya.
"Mengapa Ella? apakah kamu membenarkan apa yang aku katakan?" ejek Ibrahim.
"Inilah yang membuat kita tak bisa bersama Ibrahim. Tak ada kepercayaan di antara kita. Jika kamu memang mencintai ku, kamu tak akan percaya apa kata orang tentangku. Bukankah kamu tahu bagaimana aku? jika kabar itu kamu dengar dari orang tua mu. Maka silahkan percaya ucapan mereka. Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Bukankah kamu juga tahu seberapa bencinya mereka padaku? lalu mengapa kamu masih meragukan karakter ku?" lirih Shella. Hatinya teriris ketika Ibrahim juga berpikir, bahwa Shella menikahi Akemi karena harta. Padahal cintanya pada Akemi adalah benar-benar nyata dan tulus.
"Ella," lirih Ibrahim. Ada rasa sesal di dalam hatinya, karena sudah meragukan karakter Shella. Ya, dia menyesali itu. Tak ada niat untuk menyinggung perasaan Shella, hanya saja kecemburuan Ibrahim telah memenuhi hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Ibrahim, aku tidak berusaha untuk menampik, bahwa dulu aku mencintaimu, tapi itu dulu. Dan sekarang semuanya telah berbeda. Aku menemukan diriku yang sebenarnya bersama suamiku. Aku mencintai nya Ibrahim. Bukankah kamu selalu mengajarkan ku arti kata setia? dan aku memang setia Ibrahim. Aku setia padamu dulu, tapi orang tua mu menentang kita. Haruskah duniaku berhenti ketika cinta kita tak bisa menyatu? haruskah aku menutup masa depanku ketika cinta kita di tentang oleh dunia? kamu menyebut kata setia. Aku memang setia Ibrahim. Dan itu pada suamiku. Aku mencintai dia Ibrahim. Tolong lepaskan aku, tolong. Hiks, hiks, hiks." Isak tangis Shella meluluh lantakkan pertahanan Ibrahim. Hatinya remuk, jiwanya hancur. Benarkah Shella memohon cinta untuk pria lain? haruskah dia berhenti untuk mencintai Shella? sanggup kah dia hidup tanpa wanita itu?
"Tidak! aku tidak akan melepaskan mu Ella. Kamu adalah milikku, milikku!" tandas Ibrahim. Tampaknya pria itu masih bersih kukuh dengan pendirian nya.
"Ibrahim, aku mohon. Jika kita hidup bersama, maka kamu juga tak akan bahagia. Karena sudah tidak ada lagi cinta di antara kita. Aku sudah lama melupakan cinta itu," bujuk Shella.
"Ibrahim, mulailah hidup yang baru bersama wanita lain. Dan berbahagialah, aku juga akan ikut bahagia," tutup Shella.
Ibrahim tak tahu lagi harus berbuat apa. Mulutnya seolah terkunci rapat. Lidahnya keluh, otaknya lumpuh, sekujur tubuhnya kaku. Sesakit inikah di tolak? apa dirinya? dia hanya jatuh cinta pada seorang wanita yang amat sangat di puja nya. Tanpa Ibrahim sadari, Shella sudah pergi meninggalkan dirinya. Wanita itu telah melepas genggaman tangannya.
Tubuh Ibrahim terkulai lemah di atas pelataran tanah. Dia menangis pilu sembari berteriak menyebut nama Shella.
"Shella..., Shella..., aku mencintai mu Shella, aku mencintaimu. Hu, hu, hu. Jangan tinggalkan aku Shella. Aku mencintaimu. Aku mencintai mu Shella. Hahaha." Ibrahim menangis dan berganti tertawa di penghujung kalimatnya. Dia sudah seperti pria frustasi yang gila karena cinta.
Memang benar apa kata orang, cinta itu bisa menjadi madu untuk pemanis rasa ketika indahnya dunia menyertai kita. Namun, di suatu masa akan menjadi racun ketika pengkhianatan bersama kita. Namun apapun itu, cinta tak selamanya harus memiliki.
To be continued.
__ADS_1