Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 90. Pulang.


__ADS_3

Setelah puas berbincang dan bersenda gurau bersama, akhirnya Naomi pamit pulang.


"Kak, aku pulang dulu ya?" Izin Naomi.


"Iya, kamu hati-hati bawa mobilnya. Jangan lupa pakai sabuk pengaman," balas Akemi posesif. Pria itu sangat posesif jika menyangkut keselamatan. Terlebih lagi dia sangat menyayangi adik satu-satunya itu dengan sepenuh hati.


"Siap Komandan," tutur Naomi seraya mengangkat tangan di atas kepala.


Tak lama wanita itu menghampiri Shella yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Halo Kakak Ipar," goda Naomi, dan mendapat tatapan tajam dari Akemi. Sementara Shella merasa bingung dengan kening berkerut. Wanita itu tampak gagal mencerna kalimat Naomi barusan.


"Ah, maksud saya Kak Shella. Iya Kak Shella," ralat Naomi. Wanita itu memperbaiki kalimat nya karena tatapan Akemi seakan menggambarkan tatapan membunuh.


"Iya Non," jawab Shella lembut, dan sukses membuat Naomi tertawa.


"Hahaha, Non? aku bukan majikan kamu Kak Shella. Aku adalah calon, eh maksudnya aku adalah Naomi, Adik dari Pria itu. Panggil saja saya Naomi, jangan tambah dengan sebutan lainnya." Shella menjadi canggung serta terharu ketika Naomi mencoba akrab terhadapnya, seakan tak ada batasan. Ya, begitulah Naomi beserta keluarga nya. Mereka sangat menghargai siapapun itu. Kendati status sosial orang tersebut jauh di bandingkan dengan mereka, tetapi tak pernah membeda-bedakan manusia.


"Iya Naomi," ucap Shella akhirnya setelah beberapa saat diam.


"Nah, begitu dong. Kita bisa jadi akrab nanti."


"Nanti?"


"Iya nanti, kalau kamu sudah jadi--"


"Ehem." Suara deheman Akemi menghentikan kecerewetan Naomi. Entah mengapa Naomi merasa nyaman kepada Shella yang notabene nya baru saja bertemu dengannya. Padahal, Naomi bukanlah tipe wanita yang mudah akrab. Namun bersama Shella, dia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari wanita berparas cantik tersebut.


"Kamu mau pulang, atau melanjutkannya cerita mu bersama dia?" Tanya Akemi dingin.


"Is, Kakak ini. Iya, aku pulang." Naomi beralih melihat Shella dan tersenyum penuh maksud sembari berbisik, tetapi masih bisa di dengar oleh Akemi, "Hati-hati, dia suka menggigit."

__ADS_1


"Kau," ucap Akemi.


"Hahaha, dada Kakak. Jaga hati dia ya?" Naomi berlari menuju lift. Sementara Akemi tersenyum sumringah. Keakraban antara adik dan Kakak itu membuat Shella tersentuh. Hatinya menghangat sekaligus iri. Seandainya saja dia bisa merasakan hal yang serupa, mungkin bahagia seorang Shella Yolanda tak terkira.


Akemi beralih melihat Shella yang tampak melamun. Pria itu menjentikkan jarinya agar Shella tersadar dari lamunan.


"Hei, apakah kamu sedang melamun?"


"Ah, tidak Tuan."


"Baiklah, ayo kita masuk," ucap Akemi seakan Shella adalah istrinya. Melupakan posisi wanita itu yang hanya sebatas tamu di Apartemen.


"Tuan."


"Iya?"


"Saya pamit ingin pulang Tuan," izin Shella, dan sukses membuat hati Akemi sedih. Ya, pria itu merasakan kesedihan yang mendalam ketika menyadari, bahwa Shella bukanlah istrinya atau penghuni dari Apartemen miliknya. Dia hanyalah orang lain yang kebetulan Akemi bantu.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang." Akemi ingin masuk dalam kamar untuk mengambil kunci mobil, tetapi Shella menolak untuk di antar pulang oleh pria tersebut.


"Tidak perlu Tuan. Saya naik ojek saja," tutur Shella sopan. Dia tak ingin membuat Akemi tersinggung karena penolakan nya.


"Ojek?" Kening Akemi berkerut dalam.


"Iya Tuan, saya naik ojek saja. Saya sudah terlalu banyak merepotkan Tuan," tutur Shella tak enak hati. Kepalanya tertunduk penuh sesal.


"Ayolah Shella, jangan membuatku jadi pria tidak bertanggung jawab. Paling tidak, biarkan aku mengantar mu pulang. Setelah itu kamu tidak akan merepotkan ku. Lagi pula, aku suka kok di repot kan sama kamu," goda Akemi seraya mengedipkan matanya. Rupanya pria itu mulai pandai menggoda wanita. Entah virus apa yang membuat Akemi seakan menjadi orang lain. Dia seakan berubah drastis, tak ada lagi Akemi sang pria dingin dan kaku. Setidaknya, Akemi telah maju satu langkah dari sebelumnya.


Shella malu-malu seraya menundukkan kepalanya. Bagaimana bisa pria itu mengedipkan mata kepada Shella? apakah Akemi tidak tahu, jika hal itu bisa membuat Shella jatuh hati padanya?


"Kamu tunggu disini," titah Akemi akhirnya setelah beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Baiklah." Shella tampak pasrah dengan tawaran Akemi. Lagi pula, untuk naik ojek akan butuh biaya banyak. Mengingat jarak antara tempat Kos dan Apartemen Akemi sangat lah jauh. Setidaknya, dengan Akemi mengantar dirinya akan menghemat biaya hidup selama berada di ibu kota. Waktu gajian pun masih terhitung lama.


"Ayo," ucap Akemi membuyarkan lamunan Shella.


"Iya Tuan." Dan dua insan ciptaan Tuhan itu pun pergi meninggalkan Apartemen menuju tempat Kos Shella.


**


Di perjalanan pulang, tak ada yang saling membuka suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Shella melihat pemandangan di jalan lewat jendela mobil. Sementara Akemi fokus menyetir. Namun, sejujurnya pria itu ingin membuka percakapan untuk mencairkan suasana, tetapi dia tidak tahu harus memulai dari mana. Sifat dingin dan kaku ciri khas seorang Akemi mulai kembali. Dia benar-benar payah untuk urusan basa-basi.


Beberapa kali Akemi tampak memperbaiki posisi duduknya. Dia ingin berucap, tetapi tak memiliki topik. Dia ingin bertanya, tetapi tak memiliki bahan pertanyaan. Akhirnya Akemi menanyakan sesuatu yang sukses membuat Shella tertawa terbahak-bahak.


"Berapa jumlah jari manis mu?"


"Ha?"


"Hahahaha? apakah itu pertanyaan atau sekedar gurauan?" Shella tertawa sambil memegang perutnya. Pertanyaan Akemi terasa sangat menggelitik. Namun, pria itu tak merasa tersinggung ketika Shella menertawakan dirinya. Akemi justru terpukau akan kecantikan Shella. Tawa itu terdengar sangat merdu. Tawa lepas itu keluar bagai tanpa beban. Hingga mobil yang di kendarai oleh keduanya berhenti di tepi jalan. Akemi sengaja melakukan itu agar dia bebas menikmati indahnya tawa dan kecantikan Shella Yolanda.


Shella masih terus saja tertawa hingga air matanya keluar. Wanita itu melupakan ketakutan dan kecanggungan yang selalu melekat di antara mereka.


Perlahan tawa itu berubah menjadi senyuman, lalu berakhir dengan salah tingkah. Ya, Shella menjadi salah tingkah ketika kesadaran nya mulai kembali karena Akemi diam tak bergeming. Pria itu menatap matanya lekat-lekat.


"Ehem," dehem Shella. Dia berusaha memperbaiki posisi duduknya untuk menetralkan perasaan. Namun, Akemi masih tetap saja bungkam. Pria itu seakan masih menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang begitu sangat memukau. Matanya, bibirnya, dagunya, oh ya ampun.


Hati Akemi berteriak meronta ingin di sentuh. Seandainya saja Akemi bisa meraih bibir tipis Shella, mungkin pria itu akan membuat benda kenyal itu bengkak tak berbentuk.


"Jumlah jari manis ku adalah dua," tutur Shella akhirnya. Dia pikir kediaman Akemi karena pria itu merasa kesal padanya. Akhirnya Shella menjawab pertanyaan Akemi tadi dengan polos, memancing gelak tawa pria tersebut. Untuk pertama kalinya Akemi tertawa konyol di depan mahluk yang bernama wanita.


"Hahahaha." Kali ini Akemi yang menertawakan kepolosan Shella. Bagaimana bisa wanita itu menjawab pertanyaan Akemi, yang bahkan sebenarnya pria itu juga tak sadar mengucapkan nya. Sungguh konyol.


Akhirnya sepasang mahluk ciptaan Tuhan itu tertawa bersama dalam mobil. Tawa itu seolah mendekatkan keduanya. Bagai tak ada jarak di antara mereka. Mungkin berawal dari sebuah canda dan tawa, lalu berakhir dengan..., ah, sudahlah.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2