
(Sudut pandang : Naava)
Sebelum memulai pertandingan jarak dekat, aku meminum 2 botol potion yang Alice berikan kepadaku. Setelah aku meminumnya manna-ku pulih dengan cepat bahkan sampai zirah yang kupakai ikut bersinar biru terang, sedangkan yang satunya memiliki efek menyembuhkan luka-lukaku dan segar kembali. Efek potion biasa tidak mungkin semanjur ini. Yah itu bisa dipikir nanti. Untuk saat ini adalah fokus mengalahkan wanita nomor satu milik Gen.
"Terima kasih." Ucapku setelah meminum kedua botol tersebut kemudian kupecahkan botolnya dengan sekali genggam.
"Kenapa kita tidak lakukan di dalam arena? Lagipula ini duel jarak dekat." Alice memberi saran. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku berjalan memasuki arena kembali.
Tiba-tiba Yuna merangkulku dan membisikkan sesuatu ke telingaku."Setidaknya beritahu pasukanmu yang ada dibelakang kalau kau masih bisa diandalkan." Bisik Yuna. Aku tidak paham apa maksud perkataannya itu.
"Apa maksudmu?" Balas ku juga dengan berbisik.
"Coba kau lihat ke belakang kita. Mereka nampak cemas ketika melihatmu dihajar dan diubah menjadi mainan yoyo oleh Alice." Ujar Yuna. Aku pun melihat ke arah pasukan. Yuna benar, tampak wajah-wajah yang cemas akan kekalahanku.Aku tidak boleh menunjukkan kalau aku adalah ratu lemah di depan mereka setidaknya di medan perang ini.
Kulepas topengku sebentar dan mengangkat tanganku ke arah pasukan ku. Seketika mereka bersorak kembali. Terdengar suara dalam bahasa Panthera
"lank lewe die koningin Panthera!.....Lank lewe die koningin Panthera!......lank lewe die koningin Panthera! " Sorak mereka yang berarti (Hidup sang Ratu Panthera!)
Akan kujawab semangat yang mereka berikan kepadaku dengan kemenangan duel ini.
Kupasang kembali topengku dan mengaktifkan senjata berupa sepasang tameng bermotif cakar yang ada di lenganku. Dengan cepat aku melompat dan menerjang Alice. Alice yang hanya menggunakan pedang menghindarinya. Kucoba mengerangnya dengan serangan beruntun tapi pertahanan Alice cukup kuat.
"Giliranku." Katanya setelah aku berhenti menyerangnya. Diluar dugaan, aku tidak menyangka gerakan Alice akan secepat ini. Aku mencoba menangkis nya tapi beberapa lolos dan mengenaiku. Itu juga cukup menguntungkan. Dengan menebas disetiap bagian zirahku, maka setiap benturan dari tebasan akan direspon dan diproses menjadi energi kinetik dan manna.
__ADS_1
Sesaat aku melihat celah dan menghancurkan serangan beruntunnya dan berhasil mencakar punggung Alice meskipun tidak cukup berarti. Kami pun saling menjaga jarak.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau juga seorang ahli pedang. Mengesankan." Aku mencoba mengajaknya berkomunikasi.
"Pujianmu tidak akan menyelamatkanmu." Kata Alice mengangkat pedangnya. dari gayanya di mencoba menebasku secara horizontal. Ini kesempatan ku. Lah?....
Kami pun beradu kecepatan siapa yang lebih cepat dalam menebas. Tiba-tiba tubuhku terasa ingin ambruk lagi. Aku pun berlutut membelakangi Alice. Sekali lagi aku muntah darah. Aku melihat ke pakaian zirahku.
"Kenapa ini? Seharusnya..." Kataku tersendat.
"Ketika kita tarik tambang tadi aku baru menyadarinya. Sepertinya zirah itu memungkinkan dirimu untuk meregenerasi manna dan mengubahnya menjadi energi seperti gelombang kejut dari segala bentuk serangan yang mengenai zirah itu. Itu terbuktk kenapa aku melihat zirah itu juga bercahaya ketika kau meminum potion yang ku berikan tadi." Jelas Alice.
"Jadi itu alasannya kau memberikanku dua botol itu? Aku yakin kau bukan wanita semulia itu sampai memberiku potion. Tapi bagaimana energi dari setiap serangan pedangmu tadi...." Aku mencoba berdiri.
"Magic Skill : Absorption. Memungkinkan penggunanya menyerap XP, HP, dan MP musuhnya melalui sentuhan baik langsung secara tidak langsung. Karena itu juga serangan menjadi lebih lambat dan lebih lemah." Jelas Alice. Jadi itu alasannya kenapa zirah ini tidak merespon setiap serangan Alice tadi.
"Jadi begitu. Itu memang keunggulan Magic Caster tingkat tinggi. Tapi...!" Dengan cepat ku nonaktifkan cakar dan mencoba menyerangnya. Alice dengan cepat menebasku menggunakan pedangnya tapi ku tangkis tebasannya menggunakan lenganku dengan menahan ayunan tangannya bukan bilah pedangnya. Pedangnya terlepas dari genggaman tangan Alice.
Kupeluk pinggul Alice dan membantingnya ke tanah dengan gaya kayang sekencang mungkin. bekas permukaan tanah Alice mendarat hancur lebur. Aku pun melepaskan pelukanku dan menjauh dari Alice.
"Sekuat apapun kau, serangan yang menarget kepala adalah hal fatal." Gumamku.
Tapi apa yang ada didepan mataku berbanding terbalik.
__ADS_1
"Memang benar. Sayangnya aku sudah melakukan tindakan pencegahan. Magic Skill : Knock-Back Neuturalization. Memungkinkan perapalnya kebal akan serangan berupa hantaman dari benda tumpul." Jelas Alice memutar-mutar lehernya seolah bantinganku tadi hanya membuatnya pegal. Sial! Ini sama seperti aku menghadapi Chad. Rasanya seperti gejala kehabisan darah. Itu pasti karena magic skill : Absorption tadi. Karena aku tadi memeluknya sebelum membantingnya sehingga melakukan kontak sentuhan.
"HP dan MP tinggal sedikit. Sebaiknya kita akhiri penderitaanmu sehingga Panthera menjadi milik kami. Oh iya satu hal yang ingin kutanyakan sebelum aku menebasmu." Memang lawan yang tangguh. Tidak heran Gen memilihnya sebagai wanitanya. Kuat, cerdik, licik, seksi, dan cantik. Benar-benar wanita yang sempurna.
"Apakah ini ujian yang Gen berikan kepadamu? Bahkan dia sampai tidak turun tangan kemari ke medan perang?" Tanya Alice menodongkan ujung pedangnya ke barang leherku.
"Tidak ada kaitannya. Justru karena penyeranganmu ini bersama dengan Apocalypse membuat kami terhalang dalam mencarinya. Gen sudah tidak ada disini. Dia diculik ketika kami Panthera mencoba merawatnya." Alice menyipitkan matanya sehingga membuatnya semakin dingin.
"Apa kau bisa membuktikannya? Jika kau berbohong akan kujadikan tenggorokanmu sebagai sarung pedang ini." Tanya Alice sambil menarik rambutku dengan sangat keras sepertinya mendengar Gen tidak ada disini membuatnya marah.
"Untuk apa aku berbohong jika kita sama-sama mencintainya. Kau juga berhak tahu bukan?! Meskipun saat ini kau menjadi musuhnya dengan bergabungnya dirimu dengan Apocalypse." Jawabku dengan penuh terus terang. Alice pun menatap Yuna. Yuna hanya memberikan anggukan. Alice melepaskan cengkraman tangannya dari rambutku. Aku bisa melihat beberapa rambutku rontok.
Alice kemudian berbalik.
"Magic Skill : Manna Booster Release." Setelah Alice merapal kan mantra itu seluruh manna ku kembali seperti semula.
"Ini, kuberikan kau satu botol lagi. Minumlah." Kata Alice memberikanku botol yang sama seperti yang ia berikan tadi. Aku sambil menyentuh bagian telingaku.
"Kill, bersiap untuk menembak. Tunggu aba-abaku." Bisikku. Alice yang tidak sadar aku berkomunikasi melalui alat komunikasi tersembunyi memunggungiku.
"Perjanjian kita batal, Regila. Dia tidak ada disini. Gen tidak ada disini. " Mendengar jawaban dari Alice aku begitu tercengang.
"Oh, begitu ya. Sebagai istri beliau kau tidak ada bedanya ya dengan beliau. Tukang tikam dari belakang." Kata wanita yang disebut oleh Alice dengan nama Regila.
__ADS_1
"Kill, ubah sasaran." Tepat setelah aku memberi aba-aba kepada Kill hunger untuk bersiap menembak Regila suara tembakan dari benteng ujung terdengar sangat keras.