
Jujur saja, aku sangat bingung dari mana harus memulai ceritanya dari mana. Yah mau bagaimana coba?!!! Karena hampir selama 4 tahun terakhir itu aku memang benar-benar koma dan terbaring di sebuah lumpur berwarna darah di alam bawah sadarku yang di jaga ketat oleh monster-monster yang sangat mengerikan yang terbuat dari genangan lumpur darah itu sendiri. Tapi lebih baik ku jelaskan dulu lah pelan-pelan sebelum wajah para gadis ini semakin merah seperti tombol merah dispenser.
"Yah untuk penyebab kenapa aku bisa kehilangan lengan kananku, alasan kenapa aku mengalami koma, dan menghilang selama 4 tahun terakhir ini adalah karena salah satu slave-ku yang berkhianat dan kalian pasti tahu dari siapa yang tidak hadir di sini." Jelasku.
"Kraven." Kata Alice. Tentu saja, dia adalah orang pertama yang memberitahuku tentang penghianatan yang dilakukan Kraven. Para slave hanya saling pandang dengan gugup begitu juga dari pihak Yuki yang sama gugupnya karena sudah mulai menjurus ke masalah kepercayaan antar rekan seolah mereka takut karena dianggap sebagai penghianat juga.
"Benar." Aku menanggapi. Yuna hanya menunduk seolah dia merasa bersalah karena faktanya Kraven adalah anak dari hasil hubunganku dengan Yuna yang berasal dari masa depan yang terpilih menjadi Counter Guardian melakukan hal-hal setega itu kepada ayahnya didepan ibunya. Benar-benar drama keluarga yang sangat ironis.
"Aku tidak menyangka kalau dia kalau dia penyebabnya. Tapi bagaimana bisa dia mengalahkanmu hingga membuatmu di kondisi koma?" Tanya Alice. Bagus Alice, pertanyaan bagus. Ini akan membuat Yuna semakin tidak betah duduk di kursi rapat ini dan kemungkinan besar juga akan kehilangan kendali.
"Syok, hampir kehabisan darah akibat pendarahan lenganku yang terpotong, lengah, dan juga Kraven sebenarnya adalah Slave dari masa depan. Mungkin di masa depan ada seseorang yang akan menemukan kelemahanku sehingga bisa hampir membuatku terluka dan terbunuh." Perkataanku ini tidak sepenuhnya benar. Aku menghindari bagian kalau Kraven adalah anakku dengan Yuna yang akan lahir di masa depan kelak. Itu akan membuat ikatan dan hubungan diantara kami menjadi runyam.
"Pertarungan ku dengan Kraven merupakan pertarungan yang paling berat dari semua pertarungan yang pernah kualami. Dan pertarungan itu terjadi di kawasan kuil Izanami." Jelasku.
"Jadi pertarungan kalian yang menyebabkan bukit yang jaraknya sekitar 2 km itu bergeser dan menabrak barrier?!!" Tanya Naava dengan Syok. Seketika semua orang juga terkejut namun untuk Yuna dan Alice yang mendengar itu sudah hal yang lumrah bagi mereka berdua.
"Jaraknya kuil Izanami hanya sekitar 2 km dari Panthera dan itu cukup dekat. Untuk ukuran makhluk yang terlampau kuat sepertimu jarak 2 km sepertinya masih bisa terbilang sempit ya." Neema ikut mengomentari.
"Dan beruntungnya 2 wanita di belakangku saat ini yaitu ibuku sendiri, yang menyelamatkanku dan membawaku ke Panthera sehingga nyawaku terselamatkan." Lanjut ku.
"Kalau begitu batalkan seluruh rencanamu, Gen. Lebih baik kita fokus untuk memburu Kraven sebelum nyawamu mulai terancam kembali olehnya." Tegas Naava. Nah ini yang tidak ingin kusampaikan apalagi di depan Yuna secara langsung di depan umum seperti ini.
"Aku senang kau cukup peka, Naava. Tapi aku sudah mengantisipasi hal itu. Ku putuskan untuk menghapus segel kontrak yang membuat Kraven terikat denganku sehingga ini membuatnya kehabisan manna dan menghilang. Kematian instan." Setelah semua ini selesai aku akan berbicara secara langsung dengan Yuna bahwa aku terpaksa melakukannya. Karena untuk saat ini tujuan utama ku adalah memburu Apocalypse yang masih tersisa 27 anggota lagi. Bukan untuk mendengarkan rengekan dari seorang anak. Ini bukan waktunya untuk berkabung maupun menyesal. Tapi dilihat dari wajah Yuna nampaknya dia jauh lebih kuat baik secara tampilan fisik maupun mentalnya selama 4 tahun aku tidak bersamanya.
"Sisanya untuk 4 tahunku di Panthera aku tidak tahu apapun." Lanjut ku. Semua orang seketika menatap Naava. Naava yang tampak sedikit gugup pun mendeham kemudian menoleh ke arah Ibuku. Ah iya, jalan cerita bagaimana aku sembuh, asal usul kenapa mereka berdua adalah ibu "kandung" ku, dan untuk tambahan bagaimana aku bisa membuat Poseidon, Zeus, dan Athena tunduk kepadaku.
"Ada sesuatu yang ingin kalian berdua sampaikan kepada kami, mertua?" Tanya Naava dengan tatapan tajam dan menggunakan nada penuh sarkastik.
__ADS_1
"Sebagai mertuamu rasanya sangat ingin aku untuk memperbaiki mulutmu itu." Cecar Hisao dengan halus. Meskipun ibu Hisao tipikal wanita ceria tapi jika diprovokasi maka lidahnya bisa setajam pisau yang baru diasah. Sangat lah tajam.
"Sudah hentikan. Kenapa kalian berdua tidak jelaskan saja?" Pintaku kepada kedua ibuku. Seketika seluruh pandangan semua orang mengarah kepada ibu Hisao dan Miyuki.
"Baiklah, enaknya darimana?" Tanya ibu Miyuki mencairkan suasana.
"Bagaimana dari alasan kenapa ibu mertuaku ini mencekikku hingga hampir mati?" Sindir Naava. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah.
"Ah, iya kita bisa memulainya dari situ." Ibu Miyuki menanggapi.
"Jadi alasan kenapa kau terbaring di kasur saat itu dan mengatakan kalau Gen diculik oleh 2 wanita itu adalah karena kalian?" Tanya Yuna memastikan.
"Saat itu suasananya sangat runyam setelah kami mengetahui kalau nama dari anak yang kami pungut dan kaki selamatkan setelah kejadian bukit yang bergeser itu adalah Tatsumaki Gen. Hisao tidak dapat menahan kebahagiaannya sehingga sampai tahap untuk membawa Gen dari Panthera." Ibu Miyuki mulai bercerita.
...****************...
(Kejadian ketika penculikan Gen. 1 hari sebelum Apocalypse melakukan penyerangan.)
"Ke-ke-kenapa?..........." Naava berusaha sekuat tenaga supaya suaranya bisa keluar meskipun membuat air liurnya menetas deras. Naava juga mulai meneteskan air mata karena sesaknya cekikan dari Hisao.
"Dengan begini, kontrak dari Afar berakhir. Kami sudah menemukan apa yang kami cari." Kata Hisao.
"Kau sepertinya terlalu berlebihan. Kau bisa memukul leher atau perutnya agar dia pingsan." Kataku menasehati.
"Itu tidak penting lagi. Itu tidak ada apa-apanya dengan menemukan anak kita. Ayo kita harus pergi sebelum para penjaga kemari. Kita sudah membuat keributan." Kata Hisao yang berusaha menggendong Gen pergi. Alarm peringatan pun berbunyi. Keadaan semakin runyam.
"Iya....itu karenamu, dasar!" Keluhku.
__ADS_1
"Ayo!" Seru Hisao berlari meninggalkan ruangan. Aku pun mengekori Hisao. Banyak penjaga yang mulai menghadang mereka.
"Berhenti! Jangan bergerak!" Seru salah satu penjaga yang menodongkan senjatanya kepada kami.
"Bawa Gen pergi dari sini! Akan ku tangani yang ada disini!" Seruku kepada Hisao. Hisao yang mendengarnya segera mengganti kedua kakinya menjadi kaki monster dan dengan sangat cepat berhasil melewati semua penjaga istana yang ada dengan menjadikan kepala dan pundak mereka sebagai baru lompatan. Mereka yang terlalu fokus kepada Hisao membuatku juga bisa melewati mereka. Tetapi salah satu penjaga prajurit berhasil meraih mantel putihku sehingga membuatku harus berhenti di tengah kerumunan para penjaga istana.
"Woi, Miyuki!" Teriak Hisao dengan khawatir.
"Sudah kubilang biar ku urus sisanya! Pergi!" Teriakku kembali kepada Hisao. Hisao pun segera memalingkan wajahnya dan berlari dengan sangat cepat menyusuri lorong hingga tidak bisa terlihat oleh mata. Syukurlah.
"Wanita itu yang membawa tunangan dari ratu kita! Kejar!" Seru salah satu penjaga yang mungkin adalah ketua keamanan disini karena pakaian dan zirahnya bermotif harimau sendiri.
"Oh tidak, kalian tidak akan bisa!" Ujarku menarik mantel ku sehingga membuat prajurit yang memegangi mantel ku terjungkal ke depan. Ku tendang wajahnya sehingga tubuhnya terpelanting sejauh 2 meter. Prajurit yang lain mulai menyerang ku. Salah satu dari mereka mencoba untuk menyulaku dengan cepat kutangkap gagang tombaknya untuk menahannya lalu menendang kepalanya hingga prajurit tersebut berputar dan terjatuh.
"Bukan seperti itu caranya memperlakukan seorang wanita." Ujarku atas tindakan prajurit tersebut.
Ku rebut tombaknya lalu kuputar tombaknya dan mengambil posisi kuda-kuda.
"Siapa selanjutnya?" Tantang ku.
Mereka mulai menyerang ku secara bersamaan. Kupastikan mereka agar tidak terbunuh jadi ku injak pangkal mata tombak itu menggunakan sepatu hak ku hingga patah sehingga bentuknya seperti toya.
Satu prajurit mencoba menyerang ku dari belakang. Ku sodok perutnya tanpa berbalik menggunakan tongkat ku. Kedua prajurit yang ada di depanku mulai maju dan menggunakan senjata mereka untuk menebasku dari 2 sisi kiri dan kananku. Mereka ternyata cukup kompak. Aku melompat dan bersalto setinggi 2 meter dan mendarat dengan posisi membelakangi kedua prajurit tersebut dan kujadikan dua bahu prajurit itu sebagai pijakan kakiku.
Lalu ku tendang wajah keduanya seperti orang melakukan split kaki. Aku pun mendarat dengan posisi kakiku yang melakukan split. 4 prajurit dari belakang dan depan mencoba menyerang ku dengan posisiku yang tidak mengenakkan ini. Mereka kemudian menebaskan tombak dan pedang mereka kepadaku. Aku kemudian melakukan breakdance sehingga pelindung baja di sepatuku berhasil menangkis seluruh senjata sehingga beberapa dari senjata mereka terlempar.
Ku lempar toya yang kupegang ke udara lalu menedangnya ke arah 2 prajurit di belakangmu sehingga mereka terkena toya tersebut dan terjatuh. Tapi kedua prajurit yang ada di depanku memiliki pegangan yang kuat kepada senjata mereka. Ku tarik pedang ku dari sarungnya. Dalam satu kali napas ku tebas senjata mereka sebanyak 3 kali sehingga senjata mereka hancur dan patah.
__ADS_1
Karena pertarungan kami terlalu berisik maka makin banyak penjaga yang datang. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menggunakan "itu". Lagipula waktuku sangat sedikit. Kusarungkan pedang ku kembali.
" Baiklah, waktu bermain sudah selesai anak-anak! Saatnya pertunjukan!"