
(Sudut pandang : Yuna)
Aku tidak menyangka aku akan selengah itu. Akan jadi masalah jika bayi yang kukandung keguguran karena serangan fatal. Aku mulai membuka mataku perlahan-lahan. Aku baru ingat. Aku pingsan di tengah-tengah pertempuran ketika di Kerajaan Blizzard.
Aku mulai meraba permukaan tanah dengan cermat. Ini bukan salju ataupun es, ini bebatuan. Itu berarti aku berada diluar kutub utara. Berapa lama aku tak sadarkan diri saat aku dibawa kemari?
Mataku mencoba melirik ke sekitar untuk melihat sekitar. tepat didepanku sekitar 6 meter, Kraven berbicara dengan 3 orang yang ada di depannya. Kalau tidak salah mereka adalah makhluk ciptaan Tuan Gen. Tanpa sengaja aku menguping pembicaraan mereka.
"Kau yakin dengan cara ini beliau akan datang?" Tanya Envy dengan bersedekap dan tidak yakin.
"Tentu saja. Valon, begitu tergila-gila dengan wanita ini. Cepat atau lambat dia akan kemari." Dengan penuh percaya diri Kraven menjawabnya.
"Aku harap kau benar." Wrath melihat lingkungan sekitarnya seolah tidak percaya kalau dia akan berada tempat ini.
"Kita cukup jauh dari tempat kita berpesta tadi. Dan kau memilih reruntuhan kuil Izanami untuk bermain. Seleramu benar-benar aneh. Dengan keberadaan kita yang sejauh ini aku ragu dia akan datang dalam waktu dekat."
"Lalu bagaimana? Akan kau apakan wanita itu setelah membuat paduka Valon kemari? Aku memberi saran untuk membunuhnya." Kata Pride. Mendengar kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri karena ketakutan.
"Perannya disini hanyalah umpan. Tidak lebih dan tidak kurang." Kraven memasang wajah sombong ketika mengatakan itu. Pride dengan secepat kilat menarik pedangnya dan memotong bilah pedang milik Kraven.
"Jangan sombong kau bocah. Orang sepertimu bahkan tidak bisa berbuat apapun ketika pedangnya hancur. Kusarankan kau tidak gegabah." Pride menyarungkan pedangnya kembali. Tiba-tiba pipi Pride tergores. Kraven terkekeh setelah itu. Pride kemudian menggosok luka sayat tersebut dan dalam sekejam luka itu hilang.
"Jangan sombong juga kau, boneka. Bahkan kalian bertiga mengeroyokku aku masih bisa menang." Wrath yang dari tadi santai segera mengeraskan kedua tangannya menjadi sekeras berlian dan memasang posisi bertarung. Pride segera memanggil sekitar 5 pedang dari tanah. Hanya Envy yang masih tenang dan santai dalam menanggapi Kraven.
"Hentikan. Tidak ada gunanya kita membunuhnya." Envy menatap tajam Kraven seolah Kraven adalah penyakit.
"Aku tetap tidak mempercayaimu, Kraven. Apapun motifmu bekerja sama dengan kami maka cepat atau lambat motifmu itu akan terungkap." Envy kemudian berbalik berjalan menjauh dan menghilang bersama tiupan angin dan dedaunan yang berterbangan diikuti oleh Wrath dan Pride. Kraven kemudian menghela napas berat tepat setelah mereka pergi.
Kraven menoleh ke arahku. Dia tersenyum kepadaku.
Aku bahkan kebingungan harus menanggapi senyumannya itu dengan marah atau bingung.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini Kraven? Aku yakin kau tidak sebodoh itu mau menghianati ayahmu sendiri."
Kraven berjalan perlahan kearahku dan duduk di sampingku. Aku sempat waspada tapi tidak berlangsung lama. Kraven menggenggam tanganku erat-erat seperti seorang anak yang ketakutan dan meminta ibunya untuk menjaga rahasia kecilnya.
Kali ini 100% aku kebingungan.
"Aku melakukan ini............ demi kalian. Ibu ingat kalau aku pernah bilang kalau aku ini slave dari masa depan. Aku memenuhi panggilan perang mitologi ini atas dasar visi yang terjadi di masa depan." Kraven bahkan menyelesaikan kalimatnya dengan suara perau.
"Masa depan, katamu? Apa yang terjadi di masa depan?" Tanyaku kebingungan.
"Sudah cukup buruk dan mengganggu sejarah aku tiba kemari. Aku tidak bisa mengatakannya. Itu akan merubah sejarah dan masa lalu ini terlalu jauh." Kraven kemudian menundukkan wajahnya dan membenamkan wajah dan tubuhnya kepelukanku. Aku sempat terkejut melihat reaksinya.
"Akan kuberitahu rencana asliku hanya kepada ibu. Aku ingin ibu merahasiakannya, bahkan dari ayah sekalipun. Apakah Ibu janji?"
Melihat caranya membuat Envy, Wrath, dan Pride sampai seperti itu, kini dia tampak lebih lemah dihadapanku. Bagiku saat ini Kraven seperti anak kecil. Tidak ada kebohongan di wajah anak kecil.
"Baiklah, Kraven. Beritahu aku. Aku berjanji sampai waktunya tiba."
(Sudut pandang : Tatsumaki Gen)
"**C**atastrophe arrows!" Panah-panah milik Serena menghujani kami seperti hujan badai yang deras. Tidak hanya itu. Panahnya juga berubah menjadi seperti bintang jatuh. Melihat dari kilauannya Serena menggunakan elemen suci. Benar-benar merepotkan.
Aku dan Atalanta bersembunyi dibawah bangunan setengah hancur di sebelah kiri Serena. Jarak kami dengan Serena sekitar 18 meter tapi tampaknya Serena tidak mengetahui keberadaan kami.
"Dengan menggunakan jutaan panah seperti itu jelas dia tidak tahu dimana kita berada. Serangan dengan daya hancur yang luas juga bisa menjadi pertahanan yang bagus dalam keadaan seperti ini." Atalanta menganalisa keadaan kami saat ini dan mencoba memikirkan cara mengalahkan Serena.
Aku pun menjentikkan batu kecil dari jari jempolku ke arah Catastrophe arrows. Batu itu bahkan hancur tak tersisa.
"Cukup sulit untuk menerjangnya dari samping." Kataku.
"Jadi bagaimana?" Atalanta sepertinya sudah menyerah mencari ide. Aku pun mencoba pergi menjauh sampai radius 100 meter dan terbang mencari batas maksimal panah-panah tersebut. Aku melihat ada 1 portal ukuran sedang mengeluarkan ribuan panah tersebut. Tingginya dari permukaan tanah sekitar 50 meter. Menyerang dari atas pun juga percuma. Ikaris sudah cukup kerepotan melawan Mukbang tadi. Aku pun kembali turun ke tempat Atalanta.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Jarak tembaknya ada sekitar 50 meter di udara. Ada 1 portal yang menembakkan panah-panah ini."
"Skill ini juga aktif tanpa jeda. Karena Serena ber-ras roh maka dapat dengan mudah mendapatkan manna dari alam. Menunggunya kehabisan manna adalah tindakan sia-sia. Maka satu-satunya pilihan kita adalah untuk menyerangnya dari bawah." Kataku.
"Bagaimana caranya? Tuan ingin masuk ke dalam tanah kemudian menyerangnya dari bawah." Tanya Atalanta kebingungan. Sebenarnya aku ingin menyerangnya menggunakan Dominator Gydra tapi saat ini Gydra sedang tahap pemulihan dari pertarungan melawan Ikaris sebelumnya. Aku pun memikirkan cara lain.
"Atalanta, Ketika aku memberimu aba-aba kau harus berhasil menembakkan panahmu ke Serena. Jika memungkinkan, kenai titik vitalnya. Siap?" Tanpa menunggu Jawaban dari Atalanta, dengan cepat aku mengeluarkan magic Skill : Wall. tepatnya di bawah pijakan Serena. Tanah disekitar Serena terangkat dan menjulang dengan cepat. Karena guncangan tak terduga tersebut, Serena kehilangan konsentrasinya sehingga Catastrophe arrows miliknya berhenti.
Atalanta segera menembakkan panahnya ke arah Serena dengan sangat jitu. Tapi kejituan Atalanta hanya dapat mengenai bahu kanan saja. Serena pun tersentak dan melangkah mundur sehingga membuatnya jatuh dari ketinggian 30 meter.
"Cih, meleset! Tuan maaf aku tidak bisa...? Tuan?" Atalanta menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencariku tapi alu sudah tidak ada didekatnya. Aku sudah berlari mengejar Serena dan melompat ke arahnya.
"Kau ternyata di sana Kak Valon! Aku tahu kau tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membunuhku di udara!" Serena mengarahkan panahnya ke arahku. Dan anak panah yang dia pakai adalah anak panah elemen suci. Taruhan pun dimulai. Satu panah lagi mengenai bahu kiri Serena dan membuatnya meleset untuk menembakku dan hanya mengenai tanah. Kusabetkan pedangku ke leher Serena dan membuat pembuluh darah dan tenggorokan di lehernya terputus.
Darah keluar dengan deras seperti air yang bocor dari kran. Aku mendarat ke tanah dengan sempurna dan Serena terbanting ke tanah dengan sangat keras.
"Taruhanku yang menang." Kataku mengibaskan pedangku sehingga darah yang ada dipedangku terciprat ke tanah.
"Ya ampun, tak kusangka Ousama-ku senekat ini. Tuan bahkan lebih nekat daripada Nyonya Alice." Gerutu Atalanta berjalan mendekatiku.
"Jadi.......kau......memang....merencanakan itu.......dari awal." Suara Serena bahkan hampir tidak bisa di dengar.
"Sejak awal kau sudah checkmate. Antara kau kutebas atau tertembak oleh panah dari jarak jauh. Sebagimana aku harus mengorbankan salah satu bidak catur untuk menang." Serena malah meneteskan air mata dan sedikit terkekeh dengan suara yang serak.
"Bahkan sampai akhir pun aku tetap tidak bisa membencimu, kak Valon...." Serena batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas pembuluh darah, kerongkongan, dan tenggorokannya dengan jelas. Diselimuti oleh darah merah yang segar.
"Bolehkah aku meminta sesuatu.... untuk terakhir kalinya." Aku pun berjalan mendekati Serena dan berlutut disampingnya.
"Kau mengubah.......Bad Hero.....dan Jester menjadi.......Shadow kan? Jadikan juga aku sebagai Shadowmu juga.....kak Valon.......Agar bisa tetap didekatmu." Serena menyentuh pipiku kemudian mati. Matanya masih terbuka. Kututup kelopak matanya perlahan-lahan.
__ADS_1
"Tak perlu khawatir. Kalian akan kumanfaatkan dengam baik. Sebagai hamba yang setia." Di belakangku muncul 4 Shadow. Screw You, Exile, Mukbang, dan Serena. Mereka berlutut kepadaku memberi hormat. Dengan begini, 6 anggota Apocalypse dinyatakan tewas.