
Ternyata melawan dewa yang menjadi personifikasi dari matahari sangatlah sulit. Mungkin karena karakter mereka dari mitologi mereka. Berbeda dengan Poseidon yang sangat pemarah dan mudah disulut, Helios jauh lebih tenang dan sangatlah berhati-hati serta irit bicara.
Aku mencoba menusukkan tombak ku dari dekat ke arah kepala Helios tapi dengan mudah Helios menghindarinya. Setidaknya dengan begini Helios tidak akan bisa menggunakan cambuknya. Tapi tiba-tiba tubuhku tertabrak puing-puing bangunan berupa potongan tiang marmer yang melayang ke arahku sehingga membuatku terpelanting menjauh dan menabrak 3 tiang hingga hancur.
Apa tadi barusan?! Aku bahkan tidak menyadarinya. Melihat kuda-kuda posisi terakhir Helios aku pun mengerti. Ternyata Helios menggunakan panjang cambuknya untuk mengikat puing-puing bangunan lalu menariknya dan melemparkannya ke arahku selagi aku fokus menyerangnya.
"Kau tidak bisa melihat itu kan?" Tanya Helios dengan sombong.
Ku lemparkan tombak ku ke arah Helios sehingga aku bisa menyerangnya dari jarak dekat. Tapi Helios yang sepertinya sudah tahu cara kerja item-item "Nusantara Arsenal " dengan sigap menepis tombak ku sehingga menancap di langit-langit hall istana. Aku juga tidak akan menyerah.
Aku berteleport ke arah tempat tombak ku menancap dan berpijakan di atasnya lalu ku lemparkan pedang Mandau ku ke arah Helios lagi. Tapi lagi-lagi senjata yang ku lemparkan ditepis dengan mudah oleh Helios sehingga pedang Mandau terpental ke arah lantai. Aku berteleport lagi ke arah pedang Mandau-ku menancap dan melemparkan tombak Papua ku lagi ke arah Helios tapi lagi-lagi Helios menepisnya lagi menggunakan cambuknya sehingga membuat tombak ku terpental jauh.
Aku pun berteleport ke arah tombak Papua ku dan dari situlah Helios mengambil kesempatan dengan mengikatkan cambuknya ke tubuhku. Belum sempat aku bertindak, Helios sudah menarikku dan membantingkan tubuhku ke arah reruntuhan dan puing-puing istana berkali-kali.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa mengalahkanku?" Tanya Helios. Helios kemudian membakar cambuknya menggunakan kekuatannya sebagai personifikasi matahari yang identik dengan api.Tubuhku yang terikat oleh cambuk Helios merasakan panas yang luar biasa.
"Bagiku kau tidak lebih dari anak nakal yang terlahir dari 2 entitas laknat. Poseidon hanya tidak beruntung saja ketika melawanmu. Tapi aku bukanlah Poseidon." Helios menaikkan suhunya hingga apinya berubah warna menjadi lebih terang.
HP-ku dengan cepat turun seperti terjun bebas. Meskipun tubuhku ini adalah Undead Dragon Lord, Undead mana pun tetap terkena pinalty berupa rentannya tubuh Undead terhadap serangan berupa api dan elemen cahaya. Mungkin itu salah satu faktor kenapa aku terasa sangat lemah di depan Helios.
"Dia benar, kau tahu?" Kata seseorang yang berjalan mendekati kami. Mereka adalah Apollo, Artemis, dan Selene. Masing-masing dari mereka menggendong Ibu Miyuki, Ibu Hisao, dan Shasa. Mereka dikalahkan dalam duel 1 lawan 1.
__ADS_1
"Gen... " Kata Ibu Miyuki dengan lirih. Bahkan ketika pingsan pun dia masih mengkhawatirkanku.
"Tenang mereka masih hidup. Untuk saat ini." Satu suara lagi datang dengan kecepatan tinggi dan bersandar di bahu Apollo. Aku bisa tahu siapa dia dari ciri khas yang ada di outfitnya. Memakai helm sparta dengan hiasan sayap di sisi kiri dan kanan helm, berambut putih, memakai sepatu gladiator romawi bersayap berwarna emas. Memakai pelindung di kedua tangannya berupa gelang emas, di salah satu bahunya yaitu bahu kirinya memakai pelindung bahu, dan memakai rok gladiator yunani berwarna cokelat. Di tangannya menggenggam tongkat Caduceus.
"Hermes." Aku mencoba menebak. Hermes memberikan senyum cengir yang bagiku sangat tidak enak dilihat.
"Aku kira kau bakal seukuran ayahmu ternyata jauh lebih kecil dari yang kukira." Kata Hermes mengelus rambut Shasa yang pingsan di gendongan Apollo.
"Aku tidak tahu dendam apa yang kalian simpan terhadapku atau kepada ayahku dan aku juga tidak peduli. Tapi mereka tidak ada hubungannya. Urusan kalian hanya denganku. Mereka hanya kebetulan ikut ketika kalian mencoba menarikku menggunakan portal."
Aku mencoba menegosiasikan keadaan secara baik-baik.
"Tapi setidaknya kau lebih sopan, untuk ukuran anak dari si pembawa kiamat itu. Tapi kami yang memegang kendali di sini. Kami memiliki sandera dari pihakmu. Kau yang harus dengarkan negosiasi dari kami." Kata Hermes. Masuk akal.
Tapi dengan cepat Hermes menghentikannya.
"Ibuku, ratu kalian ingin dia mendapatkan hukuman yang lebih dari sekedar kematian. Kita bisa serahkan kepada ahlinya. Lagipula, selevel ayahnya saja tidak bisa keluar dari sana. Jadi serahkan kepadaku." Kata Hermes. Entah kenapa aku begitu membenci karakter seperti Hermes ini. Dia seolah memegang kendali situasi padahal di sendiri yang paling lemah diantara mereka semua di sini.
"Untuk rekan-rekan OVERLORD?" tanya Selene.
"Kita bisa gunakan mereka sebagai jaminan dan perisai daging. Atau mainan... " Mendengar kata mainan dari mulut Hermes. Aku begitu sangat marah sampai-sampai tanah pijak aku hancur karena tekanan gravitasi yang sangat tinggi hingga membentuk sebuah kawah berdiameter 4 meter. Seketika Para dewa di sekitarmu menjadi waspada.
__ADS_1
Helios juga memperkencang lilitan cambuknya di tubuhku.
"Bahkan kalian semua ketakutan di hadapan satu manusia yang hanya menggertak saja. Aku yakin kalian para dewa di Olympus memiliki standarisasi yang rendah dalam kualifikasi." HP-ku sudah mencapai merah.
Helios kemudian membuat seluruh tubuhnya bercahaya dengan sangat terang hingga membutakan mataku. Dan tiba-tiba wajahku dicengkram oleh salah satu dari mereka dan didorong keluar hall istana dengan ketinggian yang tidak main-main.
Ternyata yang mendorong ku adalah Hermes. Hermes masih mencengkram wajahku dan membawaku dengan berlari menuruni curamnya gunung Olympus.
"Thanatos! Kiriman paket!" Hermes dengan berseru melemparku ke sebuah portal yang membawaku ke sebuah tempat yang gelap.
"Paket diterima!" Ujar seseorang yang tiba-tiba meraih kerah pakaianku dari belakang dan melemparkannya ke dasar. Aku pun terjatuh menghantam sebuah kapal kayu yang besar.
Aku melihat ke sekitarku. Gelap, mengerikan, terdengar suara jeritan dari ribuan suara yang tak terhitung. Bahkan ketika aku melihat ke sungainya. Sungainya sangat hitam mengkilap sampai aku bisa bercermin dari pantulan sungai itu.
"Halo, jiwa orang yang sesat." Ujar seseorang dari belakangku.
Seorang pria besar dengan topi lebar hitam, mengenakan mantel hitam dan compang-camping, kedua tangannya berupa tangan tengkorak. Wajahnya tertutup kerah mantel dan juga topi lebarnya sehingga yang bisa kulihat darinya adalah warna matanya yang ungu menyala. Tangan kanannya membawa dayung kayu berwarna hitam yang sepertinya warna sayangnya diakibatkan dari bekas dayungannya di lautan hitam ini.
"Punya koin perak? Jika tidak aku tidak bisa membawamu kemana pun." Tanya orang tersebut.
"Tentu." Ku lemparkan koin itu dari portal Babylon Treasure.
__ADS_1
"Selamat datang OVERLORD di dunia bawah alias Underworld. Namaku Charon. Saya akan mengantar anda dengan pelayaran khusus langsung ke Tartarus." Ujar Charon.