
Setelah para pengganggu pergi sudah waktunya untuk puncak acara dari pernikahan. Selain mendengarkan omong kosong dari Killhunger yang mencoba untuk bergabung denganku aku memperhatikan tarian yang di lakukan oleh para penari wanita sewaan. Mereka begitu lihai dalam menari dan setiap gerakan yang mereka lakukan seolah mengandung nilai seni. Gerakan mereka juga bagus. Tak lama kemudian aku melihat Naava kembali duduk di sampingku.
"Apakah pakaian pengantinmu membuatmu kesulitan untuk bergerak?" Tanyaku memastikan. Naava kemudian menoleh ke arah wajahku dengan wajah penasaran.
"Eh, sebenarnya tidak. Kecuali karena selendang sutra ini yang membuatku sulit.... " Sebelum Naava menyelesaikan perkataannya aku dengan segera menarik tangannya untuk berdiri.
"Hei!" Keluh Naava.
"Kau bisa berdansa kan?" Tanyaku memastikan lagi. Naava kemudian melirik ku dengan ekspresi heran.
"Ini pernikahan kita kan? Apakah ada hal tabu yang harus kita hindari sebagai sepasang pengantin?" Tanyaku lagi tanpa menunggu jawaban Naava dari pertanyaanku sebelumnya.
"Eh.... tidak ada." Jawabnya dengan matanya yang waspada melihat ke sekeliling kami dengan khawatir.
"Jangan-jangan...!" Dengan panik yang membuat wajah Naava makin terlihat menggemaskan dan imut mengetahui maksud dari pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya.
Aku pun memberikan lirikan yang menggoda dibarengi dengan menaikkan salah satu alisku sebagai kodenya. Seketika wajahnya menjadi malu dan memerah semerah mercon.
"Kau bahkan lebih berani ketika kita berduaan saja di ranjang kemarin. Mana nyalimu sekarang?" Aku mencoba menggodanya dengan sedikit provokasi.
"Ah, berisik. Kondisinya berbeda tahu." Kata Naava dengan nada pelan.
"Kau sama saja dengan Yuna yang sulit...! Waaaaggh!" Dengan cepat Naava menarik ku turun dari panggung. Naava kemudian membuat posisi menari dari gaya awal tarian adat Panthera. Karena aku juga sudah hafal dari hasil pengamatan ku tadi dengan segera aku bisa menyesuaikan diri.
"Ho-ho, ada apa dengan atmosfer mu ini? Kau merasa tidak suka jika kubandingkan dirimu dengan Yuna?" Tanyaku sambil mengikuti gerakan tarian dari Naava. Kami membuat pose dimana aku berdiri dengan kemiringan 45 derajat dan yang membuatku bisa melakukan posisi seperti itu adalah karena Naava yang menahanku dengan memegangi telapak tanganku.
"Itulah sifat wanita Gen." Naava menarik ku sehingga dada kami saling bersentuhan. kami kemudian melakukan salto depan dengan posisi tangan kami masih berpegangan. Kemudian kami melakukan gerakan saling membelakangi. Tangan dan siku kami saling terikat.
"Kau boleh menganggapku payah dalam beberapa hal." Lanjut Naava. Naava kemudian bermanuver sehingga kembali menghadap ku. Kami kemudian melakukan gerakan berputar secara perlahan. wajah kami juga saling berdekatan.
"Tapi jika dalam hal bersaing maka aku tidak akan kalah dengan para wanita lain yang menjadi milikmu."
"Wah-wah.... itu menggemaskan." Ujarku. Aku kemudian mengangkat Naava dan memutar-mutar tubuhnya seperti pemain balet profesional. Aku kemudian memberdirikannya Naava tepat di depanku.
"Gerakan bagus." Ujar Naava. Gerakan tarian kami berlanjut. Naava kemudian menundukkan ku dan melompati punggungku dengan posisi kayang yang sangat indah. Naava kemudian bermanuver menghindari gerakan kakiku yang menyapu searah jarum jam. Naava kemudian menghindarinya dengan melompati ku lagi.
"Tidak buruk." pujiku. kutangkap pergelangan tangan Naava lalu ku tarik Naava sehingga Naava berposisi 45 derajat dan membelakangiku begitu juga sebaliknya dengan posisi tangan kami masih berpegangan. Kami kemudian saling menarik sehingga kami berdiri tegak. Kusandungkan Naava sehingga berposisi dimana kedua tanganku menahan beban tubuhnya. Seketika seluruh peserta pesta bersorak karena tarian kami.
Wajah kami juga berkeringat. Benar-benar tarian yang luar biasa.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Tatsumaki Gen." Dengan tanpa malu Naava mencium bibirku dengan lembut.
...****************...
Hari pun berganti. Pagi hari pun tiba. Sudah sekitar 6 jam yang lalu semenjak pesta pernikahan kami berakhir. Saat ini aku sedang berjalan menuju ke ruang rapat untuk melakukan perencanaan besar-besaran. Aku berjalan bersama kedua ibuku yang berjalan di depanku sehingga tidak berkesan kurang ajar.
Aku pun sampai di depan pintu dengan daun pintu ganda berwarna emas. Ku tarik kedua daun pintunya sehingga terbuka cukup lebar untuk diriku seorang. Di dalam sudah ada Alice, Yuna, Yuki dan Naava. Di belakang Naava terdapat Killhunger dan Neema. Di belakang Alice aku bisa merasakan aura dari 2 slave-ku, Hideyoshi, dan Atalanta. Di belakang Yuna hanya ada Riza, Abimanyu, Enkidu, Shizuka, Shizuku, dan Nishimiya.
Aku kemudian menoleh ke arah Killhunger dengan wajah lesu.
"Siapa yang mengundangmu kemari?" Tanyaku dengan nada penuh sindiran.
"Oh tentu karena istrimu ini, nak." jawab Killhunger menyentuh-nyentuh kursi Naava. Kuputar bola mataku sehingga terlihat tidak peduli dan segera duduk ke kursi kosong yang disusun melingkar dengan meja bundar sebagai penghubungnya.
"Alasan aku mengumpulkan kalian kemari adalah..... " Kataku sambil memperhatikan wajah-wajah mereka. Mereka tampak antusias. Bahkan wajah Yuna yang ku tebak bakal lesu di pertemuan ini malah terlihat serius dan berusaha sebaik mungkin untuk menyimak.
"Berbagi informasi dan rencana." Seketika semua orang yang ada di dekat meja memasang wajah yang sangat mengintimidasi dan sangat ingin mengintrogasi.
"Tentu saja aku tidak lupa untuk menceritakan apa yang terjadi kepadaku selama 4 tahun ini. Tapi untuk yang pertama..." Kataku untuk mengimbuhi.
"Kill, berapa yang kau inginkan supaya kau bisa berguna dan tidak menusukku dari belakang?" Tanyaku. Killhunger kemudian menunjukkan nominalnya melalui jarinya. Hanya jari tengah dan jari telunjuk yang terangkat di salah satu tangannya.
"Perbulannya." Sergahnya cepat-cepat.
"Itu perampokan. Apa yang ingin kau lakukan dengan uang sebanyak itu sementara dunia hampir mengalami namanya Armageddon yang tidak terjadwal dan perang Dunia berskala besar?!" Kataku dengan nada mengeluh.
"Sebagai jaminan jika kau meninggalkanku dan membuangku di belakang." Jawab Killhunger dengan santai yang membuatku meraup wajahku.
"Astaga..... Kau jadikan bualan mu itu sebagai bahan negosiasi? Baiklah, tuan profesional. Tunjukan kebolehan mu disaat giliranmu tiba." Kataku.
"Kalau begitu sepakat." sahut Killhunger. Aku hanya bisa melambaikan tanganku untuk segera mengganti topik. Para gadis kemudian membagikan informasi apa saja yang mereka punya selama aku koma. Ini sama seperti melakukan barter informasi.
Baik itu tentang kerajaan-kerajaan dan Dynasty yang membentuk Aliansi dengan tujuan untuk memerangi Dynasty kegelapan yaitu nama yang diberikan oleh para pribumi yang ternyata adalah Apocalypse. Maupun tentang intel-intel yang direkrut dari panti asuhan Olivia yang sudah dilatih oleh Hassan bin Sabbah menjadi assassin dan mata-mata di hampir seluruh daerah ada. Yuki juga bilang dulunya Dynasty Angin juga bagian dari Aliansi tapi mereka keluar sehingga kami memiliki informasi penting baik itu tentang tempat-tempat yang strategis mereka miliki, Jenis-jenis senjata apa saja yang mereka miliki, dan informasi lainnya. Dengan begini aku bisa merealisasikan rencanaku dengan matang.
"Berapa assassin yang kau punya? Apakah ada yang beroperasi di ibukota Dynasty Tanah?" Tanyaku kepada Alice.
"Untuk pangkalan di sana baru-baru ini aku mendapatkannya. Dari jalur perdagangan. Aku membagi ide-ide tentang dunia kita kepada 7 wanita assassin terbaik yang akhirnya bisa memasuki Chángchéng dengan mudah melalui produk yang mereka jual di sana sehingga kita memiliki akses informasi dari sana." Jelas Alice.
"Apa saja informasi yang didapatkan dari Ibukota Chángchéng?" Tanyaku.
__ADS_1
"Para pemain TSO setelah terperangkap di dunia ini entah kenapa telah membuat mereka menjadi pengecut sehingga kebanyakan dari mereka bersembunyi diantara petualang dan masyarakat. Beruntungnya para guild-guild top tidak terkirim kemari karena sepertinya mereka tidak login semenjak kita para pemain mulai terjebak saat log in." Jelas Alice. Keberuntungan ada pada pihak kami.
"Bagus. Apakah di sana ada sekolah elite?" Tanyaku.
"Tentu. Untuk Dynasty terluas wilayahnya mereka jelas membutuhkan banyak SDM untuk dimanfaatkan. Ada sekolah elite di Chángchéng. Sekolah sihir terakreditasi. Lulusan sana akan mendapatkan jaminan berupa pekerjaan dengan pangkat yang tinggi. Kenapa?" Jelas Alice. Bagus.
"Lagi-lagi keberuntungan ada di pihak ku. Kita manfaatkan sekolah itu dalam rencanaku ini." Semua orang seketika menoleh ke arahku.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Yuna.
"Karena para Aliansi ini punya kemungkinan menghalangi perburuan Apocalypse tapi memiliki tujuan yang sama dengan kita. Kenapa kita tidak kuasai mereka melalui monopoli, negosiasi, dan siasat politik?" Ungkap ku.
"Tapi mereka cukup besar untuk ditelan bulat-bulat, Gen." Ujar ibu Hisao di belakangku.
"Begitu juga kita. Kunamai rencana ini sebagai rencana penjepit pinset. Kita buat kekacauan dan gangguan kepada para Aliansi di seluruh tempat mereka secara bersamaan. Dengan begitu mereka akan kesulitan kemana mereka harus melangkah karena kekacauan ada hampir di seluruh tempat. Kalian boleh pakai cara apapun supaya mereka tidak bisa saling peduli dan berkomunikasi." Jawabku.
"Apakah bisa seperti itu?" Tanya Naava.
"Bisa. Karena itu aku butuh bantuan kalian. Untuk kerajaan Elf kuserahkan kepada Yuki dan para tetua, Kerajaan Dwarf untuk Naava dan Panthera. Kerajaan Lizardman untuk Alice dan Dynasty Air Utara. sedangkan untuk Yuna kukirim ke Dynasty Api. Kudengar dari Yuki kalau di sana mereka menyembah Amaterasu. Lakukan sesuatu dengan itu. Untuk Dynasty tanah biar aku yang ke sana." Jelasku. Wajah mereka tampak cemas ketika melihatku. Aku tahu mereka tidak ingin hal yang sama terjadi seperti dulu.
"Aku tidak sendiri. Akan ku pinjam 7 anak itu sebagai pemeriah. Ikaris akan ikut denganku di misi ini. Lagipula rencana ini untuk 1 tahun ke depan. Untuk 1 tahun penuh ini aku akan melatih kalian semua sehingga level kalian bisa ada di standar pemain pro berlevel 100. Dan dalam selama 1 tahun itu aku juga akan mengatur Dynasty kita yang baru ini."
"Aku ingin tembok energi Panthera bisa sedikit di buka di bagian utara dan dipasang sepanjang perbatasan laut wilayah bagian selatan Dynasty Air Utara. Ini sebagai pemantik untuk menyulut para Aliansi dengan melihat Panthera yang menjadi Kerajaan yang berpihak kepadaku. Untuk tenaga kerja kalian bisa memakai seluruh Shadow army ku sehingga bisa menghemat pengeluaran dan waktu." Jelasku.
"Sesuai keinginanmu My Swaer." balas Neema.
"Di wilayah laut Selatan Dynasty air akan menjadi tanggung jawab dan dibawah perlindungan Poseidon alias Shasa Villa. Dan untuk Zeus dan Athena.... " Kutatap udara kosong yang aslinya disana ada keberadaan Doya.
"Berkeliling di sekitar wilayah yang ingin kita taklukan.Untuk mengantisipasi jika adanya perubahan." lanjut ku.
"Baiklah." jawab mereka berdua bersamaan.
"Ada yang ingin ditanyakan?" Tanyaku kepada mereka. Mereka pun saling bertukar pandang kemudian mereka menoleh ke arahku dengan tatapan datar.
"KEMANA SAJA KAU SELAMA 4 TAHUN INI?!!!" bentak mereka bersamaan.
"Ah benar, sesuai janjiku. Semua berawal dari notifikasi bertuliskan Challenge From Olympus (Tantangan dari Olympus).... "
Coming Soon untuk Season 3 dari Alternative/Overwatch.
__ADS_1