
Dengan terpancing ya mereka keluar maka otomatis mereka akan mengarah ke dermaga dan pelabuhan.
"Kakak tidak keberatan untuk duluan?" Kata Yukki mempersilahkan.
"Seorang kakak harus mengalah dengan adiknya. Apalagi kalau adiknya seorang wanita." timpalku. Yukki memberiku senyuman manis.
"Aku tidak heran kalau kakak disukai banyak wanita kalau kakak seperti ini." Kemudian Yukki membisik sesuatu ke telingaku.
"Seharusnya yang tua duluan." Katanya kemudian berlari. Dan kalian tidak akan menyangka, kalau adik kecilku bisa berlari secepat kilat. Setelah membisik, Yukki langsung berlari mengejar para mata-mata itu.
Aku sempat melihat tubuhnya terbungkus energi berwarna putih susu berupa tulisan kuno di sekitar tubuhnya sebelum dia berlari. Kekuatan yang menarik. Setidaknya dia lebih cepat dari Bad Hero. Aku pun juga mulai mengejarnya.
Jenghis, kita lakukan sesuai rencana. Gunakan pasukan-pasukanmu untuk membantu kami dalam mengejar mereka. Perintahku dari sambungan empati.
Baik, tuanku. Jawab Jenghis.
Aku mulai merasakan kehadiran roh-roh prajurit Mongolia disini. Sesuai rencana. Para mata-mata itu pun tergiring ke arah pantai yang cukup luas jika kami terpaksa menggunakan sedikit kekerasan jika mereka melawan. Di pintai juga tidak ada warga sipil sehingga tidak akan membahayakan keselamatan mereka. Jika pantai hancur pun tidak akan menghancurkan pemukiman karena jaraknya dengan pemukiman sekitar 3 km.
Riza, bagaimana dengan pengguna Shikigami yang kau kejar? Tanyaku melalui sambungan empati.
Dia cukup gesit tapi dia terpancing mengarah pantai. Jawab Riza. Setidaknya itu jawaban positif.
Kami pun sudah sampai pantai. Sesuai dengan rencana, kami mengepung 2 mata-mata itu di pantai menggunakan pasukan Mongol milik Jenghis. Tapi yang janggal adalah mereka menggunakan mantel dan tudung hitam. Mungkin sudah sewajarnya jika mereka ketakutan jika diposisi seperti ini tapi mereka tetap tenang. Aku bisa memprediksi sepertinya 2 orang ini bukan orang-orang sembarangan.
"Jika kalian tidak ingin disakiti maka serahkan diri kalian secara damai." Yukki memberi peringatan. Mereka tidak merespon sedikitpun.
__ADS_1
Tidak ada Guntur, tidak ada hujan. Pasukan yang mengepung mereka tiba-tiba mati terpotong-potong dan termutilasi. Pasir pantai yang awalnya bersih putih menjadi pasir berwarna merah akibat bercak darah yang menggenang.
"Apa yang barusan terjadi?!" Jenghis begitu terkejut melihat apa yang dia lihat. Pasukan miliknya disingkirkan dengan begitu mudahnya.
"Membosankan. Aku tidak menyangka kalau bawahan baru dari Valon the Dragnel begitu lemah dan lembek seperti ini." Salah satu dari mereka membuka dan membuang jubahnya. Aku begitu terkejut melihat siapa dibalik mantel hitam itu.
"Regila." Sapaku. Yup, calon mayat selanjutnya. Regila. Seorang peracik Spell dan Potion di Apocalypse. Levelnya menyentuh angka seratus. Di dunia nyata dia adalah pembunuh bayaran wanita dari Rusia yang terkenal dengan aksi pembunuhannya menggunakan makanan dan racun. Di Apocalypse, dia adalah pemain yang menyongsong keuangan kami dengan racikan Spell dan Potion yang dia buat untuk dijual dan untuk keperluan guild. Dia bukan pemain yang langsung terjun ke medan perang secara langsung. Dia lebih memilih untuk diam dimarkas untuk meracik potion dan Spell yang memang sudah jadi hobinya.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu keluar dari guild. Tapi penghianat harus dimusnahkan." Regila membalas sapaan ku tadi.
"Siapa yang berhak menentukan itu?" Timpalku.
"Apa gunanya memberitahumu. Kau juga akan segera mati disini." Balas seseorang yang masih menggunakan tudung. Dia akhirnya juga melepas mantel hitamnya.
"Smith, kau juga?" Tanyaku.
Regila adalah pemain dengan ras penyihir maka dari itu wujudnya berbentuk manusia. Dengan rambut cokelat tua dan mata berwarna hijau, topi ala penyihir berwarna hitam, pakaian yang cukup seksi ala abad pertengahan dengan warna putih dan ungu tua, mengenakan sarung tangan hitam dan sepatu berhak tinggi berwarna hitam. Regila juga membawa buku Spellnya, bernama Comet. Isinya bisa menampung Spell tingkat 7 sebanyak 50 Spell maksimal. Sedangkan total penyimpanan jumlah Spellnya adalah 200 Spell. Kalau dari segi penampilan, Regila seperti wanita yang baru berusia kepala 2.
(Ilustrasi : Regila/The killer pharmacist)
Smith. Ahli tempa dan Tanker di Guild Apocalypse. Avatar akunnya berbentuk seperti monster dengan tinggi sekitar 2 setengah meter. mengambil ras Golem tanah dengan taring bawah yang keluar dari mulutnya. Senjatanya adalah kapak, palu, pedang, dan knuckle. Memakai baju zirah dengan motif modern berwarna hitam yang levelnya adalah seratus. Level Smith sendiri adalah 100. Sama seperti Regila, dia juga jarang turun langsung ke medan perang. Dia lebih suka menjaga markas Guild dan membuat senjata-senjata berlevel tinggi daripada harus menggunakan tempaannya untuk membunuh pemain.
"Kenapa? Sudah bosan memegang palu untuk membuat senjata?" Tanyaku dengan mengejek.
__ADS_1
Dengan cepat, Smith melemparkan palu raksasanya ke arahku. Dengan cepat Jenghis dan Yukki berlari ke depanku dan menebas palu lemparan dari Smith. Smith menarik palunya menggunakan rantai yang dia pasang di ujung gagang palunya.
Regila yang ada disamping Smith merapal Spell untuk Smith. Boost Agility, Resistant Of Wound, Resistant Of Magic. Smith tanpa ampun menerjang kami tapi Jenghis dan Yukki tidak gentar sedikitpun. Smith mencoba menebas Yukki dan Jenghis dengan kapak dan pedangnya dengan tebasan searah jarum jam. Jenghis yang memiliki fisik seorang Slave memilih untuk menahan serangan Smith dengan pedangnya. Dan itu berhasil.
Mencoba mengambil kesempatan, Yukki dengan cepat mengincar kedua kaki Smith dan menyabetnya dengan pedang. Karena Regila sudah membuat Smith kebal akan serangan fisik maka serangan tadi tidak membekas sedikitpun. Kutembakan sekitar 3 pedang menggunakan Treasure Of Babylon ke arah Regila. Tapi yang kulawan saat ini adalah Guild terkuat. Dengan mudah Regila menepis semua pedang yang kutembak ke arahnya.
Regila melakukan pembalasan. Dia merapal Spell tombak asam ke arahku. Aku dengan segera menyiapkan violet Barrier untuk menahan serangan tersebut. Tapi Dengan cepat, Naava menepis tombak asam itu dengan pukulannya. Tangannya kini dilapisi energi roh.
"Itu tadi berbahaya, Naava." Aku mencoba memperingatinya kalau yang aku lawan ini bukanlah sembarang orang.
"Kau sempat-sempatnya mengkhawatirkan orang lain." Timpal Riza.
Regila segera merapal Spell lagi untuk menyerang. Kali ini rapalannya berupa serangan bola petir ungu sebanyak 3 buah di atas kami. Spell tingkat 5, Bolt Breaker. Perlu menghabiskan setengah MP bar untuk mengeluarkan 1 Bolt Breaker. Kutebas 2 bola petir hingga hancur dan meledak. Sedangkan 1 bola lagi ditendang oleh Naava seperti pemain bola yang menendang bola ketika liga.
Alu sempat berpikir. Tidak seperti Jester dan Bad Hero yang memang suka berbuat seenaknya sendiri sehingga mereka sering diluar Guild sehingga wajar sering melakukan pemberontakan dan menyerang anggota guild yang lain. Regila dan Smith bukan tipe pemain yang melakukan penyerangan seperti ini. Pasti ada sesuatu sehingga mereka sampai datang jauh-jauh kemari hanya untuk cari mati denganku.
"Apa tujuanmu kemari Regila?" Tanyaku.
Tiba-tiba diantara aku dengan Regila jatuh sesuatu dengan keras. Asap pun menghilang. Aku kaget kalau Riza bisa dibuat babak belur seperti ini. Naava segera membantu Riza yang terkapar diatas pasir.
"Mereka mencoba mengantarku, Tuanku." Kata seseorang yang sedang berada diatasku dan menaiki burung hantu raksasa.
Orang itu pun turun dan mendarat tepat di samping Regila.
"Aku bisa mengatasinya sendiri." Kata Regila ketus.
__ADS_1
"Tidak kau tidak akan bisa. Kau yang notabe-nya yang hanya seorang Alter tidak akan bisa mengalahkan seorang OVERLORD sepertinya." Kata orang itu membuka tudungnya.
Aku sangat terkejut siapa yang ada dibalik tudung itu.