Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Malam Pernikahan Naava


__ADS_3

Aku dan Naava berkeliling ke seluruh sudut dan tempat yang ada di dalam istana. Kami memasuki banyak ruangan seperti ruang sidang, taman, brankas penyimpanan harta milik Panthera, dan juga tempat penyimpanan beberapa benda-benda artefak, relik, dan juga prasasti yang dulu pernah mereka temukan di sini atau mungkin juga sengaja mereka simpan setelah benda-benda itu diciptakan.


Terkadang kami juga berpapasan dengan para dayang kemudian mereka berhenti sebentar dan memberi hormat kepada kami. Tanpa kusadari kami sudah sampai di bagian belakang istana. Jalan menuju malam pahlawan perang berada di belakang istana.


"Apa yang membawamu untuk pergi ke pemakaman?" Tanyaku penasaran menggandeng dan menarik tangan Naava sehingga bisa melewati beberapa bongkahan batu besar.


"Rasa berhutang nyawaku kepada seluruh prajurit yang gugur. Terutama yang memberikanku kesempatan kedua ketika aku diambang maut akibat terlempar dan menabrak drone hingga aku mengalami luka bakar dan kerusakan tulang rusuk." Jelas Naava.


"Owh, Lain kali buatlah jalan yang halus untuk ke pemakaman. Rasanya lebih ke melakukan pendakian gunung daripada mengingat kematian." Saranku. Naava hanya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Ini tindakan pencegahan agar semua orang tidak mudah berkabung kemari untuk meratapi kematian keluarga dan orang yang mereka cintai. Itu akan mengganggu kemajuan Panthera. Itu juga menimbulkan keributan. Karena itu kami membiarkannya." Jelas Naava.


"Perbaiki jalannya dan beri akses terbatas ke jalannya. Mudah bukan?" Kataku.


Jalan menuju ke pemakaman memang benar-benar sulit dan terjal layaknya mendaki gunung dan akar-akar pohon yang keluar dari tanah. Pohon-pohon disini juga sangat lebat dan sepertinya berusia puluhan tahun. Supaya lebih cepat, Ku gendong Naava lalu dengan cepat melompati batu-batu dan dahan-dahan pohon yang menghalangi sehingga kami sampai di pemakaman.


"Kita sampai. Turunkan aku." Pinta Naava menepuk pundakku dengan lembut mengisyaratkan untuk minta diturunkan.


Makam kerajaan Panthera berbentuk seperti kumpulan piramida bangsa Aztec dari dunia nyata. kami pun memasuki salah satu piramida nya yang dimana lorong nya sudah diterangi menggunakan obor-obor yang di susun menghiasi dinding lorong setiap 3 meter jaraknya.


Selama berjalan memasuki piramida, tanganku sesekali meraba dinding lorong dan melihat lukisan-lukisan kuno bersejarah di Panthera. Tak lama kemudian kami sampai di bagian aula tengah piramida tersebut. Di dalam aula tersusun patung-patung harimau raksasa. Dan di tengah-tengah aula tersusun peti-peti yang terbuat dari batu yang sepertinya dari batu Oorvloed. Beberapa peti memiliki patung di depan peti mereka. Mungkin itu adalah peti milik raja dan ratu terdahulu sebagai bentuk pengagungan mereka.


Aku pun berjalan menuju ke makam yang paling ujung untuk melihat bentuk dari pemimpin pertama mereka dan ternyata pemimpin pertama mereka adalah seorang wanita. Wanita ini menggunakan semacam zirah fullset dengan helm pelindung yang juga full face dengan motif harimau dan membawa sebuah palu perang dengan kepala martilnya adalah kepala harimau.


Aku pun membaca tulisan yang ada di peti untuk memastikan siapa yang terkubur di situ. Tapi tulisannya adalah aksara kuno Panthera sehingga aku tidak bisa membacanya. Aku berjalan mendekati ke tempat Naava berlutut. Tepatnya berlutut di maka pemimpin yang 1 generasi sebelum Naava. Dari pose yang dibuat oleh Naava sepertinya Naava sedang berdoa. Aku menunggunya sampai selesai.


Setelah Naava selesai.


"Ayahmu?" Tanyaku.


"Dan kakak laki-laki ku, yang tewas di Veg ritueel." jawabnya.


"Kau yang membunuhnya saat Veg Ritueel." Aku mencoba menebaknya.


"Iya. Dia brengsek, berbuat semena-mena, tapi karenanya aku bisa bertemu denganmu dari ultimatum untuk mengasingkan ku dalam memburu Killhunger. Karena itu aku masih mau mendatangi makamnya." Kata Naava mengusap bagian ujung peti batu kakaknya.


"Dan ini pasti milik ayahmu." Aku mencoba menebak lagi.

__ADS_1


"Iya." Balasnya.


"Apa yang kau bicarakan dengan ayahmu?" Tanyaku.


"Memberitahunya bahwa aku akhirnya mendapatkan kebahagiaan hidup berupa laki-laki yang sangat kucintai dan Panthera yang semakin aman jika ditangannya." Kata Naava menoleh ke arahku dengan senyuman lembut. Naava bangkit dari berlutut nya kemudian melanjutkan ke makam yang tidak terdapat patung di depan petinya.


"Dan makam siapa ini selanjutnya?" Tanyaku. Baru saja Naava membuka mulut tapi terdengar jawabannya dari lorong arah kami masuk.


"Milik Seka dan dia adalah murid kami dan guru dari Naava." Kata seorang wanita yang rambutnya dikucir. Yup dia adalah ibuku, Hisao.


kedua ibuku berjalan mendekati kami ke makam Seka.


"Pantas saja kalian bisa kabur secepat itu dari istana ketika menculik Gen. Ternyata Seka yang memberitahu kalian rute pelariannya. Untuk bisa menyembuhkan Gen kenapa kalian sampai membuat kekacauan sepeti itu?" Dengus Naava.


"Kau belum menjelaskan alasannya, nak? Kepada calon istrimu ini?" Tanya Ibu Miyuki.


"Akan kuceritakan semuanya ketika rapat setelah pesta pernikahan kami. Aku ingin semua mendengarkan ceritaku dan rencanaku selanjutnya dalam perburuan ku yang selanjutnya ini."


Jawabku.


"Tidak, supaya tidak terjadi pengulangan yang membuang waktu dalam menjelaskannya. Itu saja alasannya." Jawabku yang kemudian disusul oleh tawa kecil dari kedua ibuku.


"Ya ampun nak. Ternyata kau lebih pandai melawak dibandingkan ayahmu. Syukurlah ada beberapa genetik yang diturunkan dari kami." Kata Ibu Hisao mengusap-usap rambutku.


"Padahal dari cerita Seka kau sangat membencinya." Kata Ibu Hisao kepada Naava.


"Itu karena nyawa yang ia berikan kepadaku sehingga aku masih bisa berdiri disini. Tidak lebih dan tidak kurang." Kata Naava dengan sedikit ketus.


"Baiklah, aku sudah puas untuk kencan berjalan ini. Bisakah kita kembali ke istana?" Ujarku memecah suasana.


...****************...


Malam pernikahan kami pun dimulai. Banyak orang-orang bersuka cita akan perayaan ini. Suara musik tradisional mereka juga sangat bagus, bahkan pihak kerajaan menjadi seluruh wilayah taman bagian depan istana dijadikan tempat kami untuk walimahan kami.


Naava dan aku di dandani dan berpakaian pengantin Panthera. Kami juga mendapatkan selamat dari banyak bangsawan Panthera.


Tiba-tiba dari balik kursi pernikahanku aku merasakan hawa kehadiran yang sangat kuat dan aku kenal hawa kehadiran ini.

__ADS_1


"Kill?" Aku mencoba memastikan.


"Ketahuan ya?" Ujarnya.


"Yup. ketahuan banget." Beruntung Naava sedang berbincang dengan beberapa kenalannya saat ini sehingga dia tidak tahu pembicaraan ku dengan Killhunger.


Kemudian disusul hawa membunuh satu lagi yang berada di belakang Killhunger. Aku kenal hawa ini.


"Cobalah untuk mengacaukan pernikahan ini dan ku gorok lehermu." Ancam Yuna.


"Kau pikir kau bisa melakukannya? Dan bukankah kekacauan di pernikahan ini juga terbesit dalam benakmu?" Killhunger menganggap remeh.


"Provokasimu lumayan. Kau mau aku mencobanya?" Tanya Yuna kembali. situasi mulai memanas. Ya ampun, ini hari pernikahanku dengan Naava lo..!


"Cukup, Yuna. Tidak apa-apa. Pergilah dan nikmati pesta ini. Akan ku tangani yang satu ini. Katakan kepada semua Slave-ku untuk membiarkan yang satu ini." Perintahku.


"Sesuai keinginanmu, Gen." Tepat setelah Yuna mengatakan kalimat tersebut, hawa keberadaan Yuna lenyap seketika.


"Para gadismu cukup lucu dan menantang juga ya. Boleh kuminta satu?" Tanya Killhunger dengan nada bercanda.


"Apa maumu Kill? Kudengar dari Alice dan Naava kau membantu Panthera dari perang minggu lalu. Apa untungnya bagimu?" Kataku mencoba memastikan.


"Karena alasan pribadi semata saja. Lagipula jika aku mengikutimu, aku bisa berpeluang mendapatkan lawan dan penghasilan yang stabil. Terutama posisimu saat ini sangat dicari dan diincar oleh seluruh pemain baik itu dari Guild-mu sendiri maupun dari pemain luar sehingga memudahkan ku untuk mendapat lawan-lawan yang sangat menghibur dan item-item langka dari mereka. Dengan berada di sisimu aku bisa bisa membalas grup idol buatanmu itu karena tidak membayar pekerjaan yang mereka berikan kepadaku. Bukankah membangun mitra denganku yang juga salah satu pemain profesional adalah langkah yang tepat bukan? Lagipula aku sudah cukup kapok karena apa yang telah kau lakukan padaku dalam 4 tahun ini." Oceh Killhunger dan itu membuatku terkekeh.


"Pada akhirnya kau lebih mementingkan keselamatan nyawamu." Sindirku.


"Uang dan kesenangan bisa dengan mudah dicari kembali. Tapi tidak dengan nyawa, Valon." Ujar Killhunger.


"Kau ingin ikut denganku supaya kalau kau mati bisa dibangkitkan menggunakan item cheat-ku kan?" Kataku dengan to the point.


"Wah, ketahuan lagi." Kata Killhunger tanpa merasa bersalah.


"Tergantung kinerjamu akan ku apakan mayatmu nanti jika kau mati nantinya. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu." Aku pun memberikan keputusan final ku.


"Berbeda dengan yang Alice katakan. Kau ternyata sangat sulit diajak negosiasi. Tapi tak apa. Lebih baik seperti daripada tidak sama sekali." Kehadiran Killhunger pun menghilang.


"Maka dari itu buktikan kalau kau memang layak untuk bisa kuanggap berguna." Gumamku setelah Killhunger pergi entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2