Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Akademi Assassin


__ADS_3

Yah mereka bersumpah untuk setia padaku. Tapi...


Kenapa aku harus memulai semuanya tentang assassin dari akademi?!!!! Woi !!!! Bukankah akan lebih cepat kalau kalian segera melantikku menjadi Grand Master?! Yukki bilang kepadaku kalau memimpin bukan lah sekedar menggunakan kekuatan. Maka dari itu aku harus memulai dari awal tentang pelajaran dasar menjadi seorang pemimpin.


Jujur saja, sebenarnya itu ada di salah satu mapel yang ada di akademi di dunia asalku dan itu sangat mudah. Saking mudahnya seperti mengerjakan rangkaian puzzle. Tapi demi mencapai apa yang ingin kudapatkan maka aku menurut Yukki. Menjadi Grand Master adalah kedok agar bisa mengendalikan seluruh pasukan pembunuh senyap agar bisa mencari seluruh anggota Apocalypse.


Aku sebenarnya tidak memiliki minat untuk mendirikan kerajaan, menjajah atau bahkan menguasai dunia, tapi melihat situasi di dunia ini sedang mengincar para Apocalypse maka aku memanfaatkan kondisi dari seluruh dunia untuk menjadi kekuatanku agar bisa menemukan dan membunuh seluruh anggota Apocalypse. Dan ini salah satunya. Memulai dari awal di pulau Assassin. Aku harap keadaan di benua Utara baik-baik saja karena aku sepertinya tidak akan kembali dalam waktu cepat. Tapi sepertinya akan baik-baik saja karena Alice masih menjadi ratu dari ibukota kerajaan Dynasty Air. Yah bisa dibilang kalau aku bukanlah kaisar resmi dari Dynasty Air tapi Kaisar bayangan dari Alice.


Karena fisik dan wajahku sepantaran dengan anak umur 14-15 tahun maka oleh Yukki didaftarkan menjadi murid akademi assassin agar bisa menjadi pejuang assassin.


"Jadi kak, belajarlah yang rajin. Baru bisa menguasai seluruh kepulauan ini." Kata Yukki dengan tersenyum. Aku seperti anak kecil yang diantar oleh ibunya ke sekolah. Di hari pertamaku, aku sudah menjadi pusat perhatian dari seluruh murid akademi dan wali murid disana. Bagaimana tidak, seorang Grand Master datang ke akademi demi mengantar anak kecil ke akademi tersebut.


Pakaianku juga menggunakan seragam ala assassin. Mengenakan mantel abu-abu tanpa tudung dengan celana hitam dan memakai boot hitam. Tanpa senjata. Meskipun keadaan seperti ini aku malu setengah mati tapi karena skill pasif Undead-ku, aku menjadi mengacuhkannya.


"Aku bukan anak kecil, Yukki. Akan kutemui kau setelah jam pelajaran selesai, dah." Aku pun berbalik dan mengabaikan adik angkatku yang menjadi sok keibuan itu. Yah walaupun aku tahu kalau sekolah ini mewajibkan murid-muridnya untuk tinggal di asrama. Aku mendapat izin resmi agar bisa keluar-masuk gedung tanpa kendala. Walaupun aslinya tidak membutuhkannya.


Walaupun sudah masuk kedalam gedung akademi sorotan-sorotan mata masih mengarah kepadaku. Kemudian seorang wanita mendatangi dengan tersenyum. Nishimiya. Kami pun memutuskan pergi ke dalam ruangan pribadinya untuk membicarakan sesuatu.


"Aku tahu kalau Yukki memasukkanku kesini bukan karena alasan konyol. Jadi apa yang perlu kulakukan?" Kataku menutup pintu dan menguncinya. Secara diam-diam aku memanggil beberapa monster yang kubuat untuk tidak terlihat untuk mengawasi dan menjaga tempat ini.


Nishimiya pun mendorong satu map ke arahku melalui meja." Kurasa kita tidak perlu basa-basi. Sebagai sebuah ibukota Dynasty Angin tempat ini menjadi incaran beberapa mata-mata dari berbagai negara. Jadi dengan pinjaman kekuatan tuan Gen kami meminta tolong untuk membantu mencari dan membasmi para mata-mata ini." Aku pun membukanya. Kulihat beberapa. Seperti yang diharapkan dari server paling berbahaya di TSO, dari semua mata-mata yang ada di sini tidak ada yang kukenal. Aku hampir memiliki koneksi seluruh penjual informasi di TSO. Berarti tidak ada pemain tipe informan yang memiliki koneksi dengan Dynasty yang mereka tinggali.


"Dari mana mereka bisa masuk? Aku saja masih kesulitan mencari tempat ini." Tanyaku.

__ADS_1


"Sebagian para bangsawan menjual informasi keluar dengan harga yang sangat tinggi kepada kerajaan tetangga. Kami berhasil mengamankan beberapa bangsawan itu tapi para mata-mata ini jauh lebih licin dan berlendir dari yang kita kira." Jelas Nishimiya. Ada yang aneh, mana prestasi mereka yang bisa menyembunyikan kasus pembunuhan selama 10 tahun itu? Tidak mungkin mata-mata negara bisa lolos dari para assassin yang memiliki prestasi sehebat itu. Jika mata-mata negara lain itu sehebat itu tidak mungkin kalau pencapaian assassin bisa tertulis di dokumen negara di ibukota Blizzard.


"Hmm.... Sepertinya ini cukup sulit." Kataku.


Melihat standar para pribumi saja aku bisa tahu kalau kemampuan mereka tergolong rendah. Sedangkan setelah mengetes kemampuan para tetua seminggu yang lalu termasuk ke kategori pemain level 50-an. Sedangkan rata-rata pemain informan saja memiliki level sekitar 30-60 an di TSO, apalagi level mata-mata pribumi.


Pasti ada sesuatu yang membuat mereka bisa dengan mudah mengirimkan informasi itu keluar. "Bagaimana tuanku?" Tanya Nishimiya.


"Kasus ini biar aku saja yang melakukannya. Jika gerakan kita terlalu mencolok bukankah para mata-mata itu akan lebih waspada lagi? Kita harus memainkannya dengan lebih halus lagi. Dan menggunakan murid akademi bukan itu sempurna?" Jelasku. Nishimiya jelas sedang menimbang keputusanku. Tapi akhirnya dia menyetujuinya.


"Baiklah, saya akan melaporkan hal ini kepada Putri Yukki." Kata Nishimiya.


"Aku bahkan tidak menyangka kalau kau juga seorang kepala sekolah di akademi ini." Kataku mengambil sembarang topik.


"Jadi, begitu ya. Kalau begitu aku permisi dulu." Kataku meninggalkan ruangan.


"Tuan, pastikan anda untuk tidak telat masuk kelas." Kata Nishimiya melambaikan tangan. Itu yang ada di pikiranku. Tapi jam masuk sudah berlalu sekitar 15 menit yang lalu.


Riza dan Jenghis sudah menunggu di luar ruangan. "Bagaimana?" Tanya Riza tanpa menoleh. Kami pun mencari tempat yang sunyi untuk berbicara.


"Mereka menginginkanku untuk membersihkan sampah masyarakat." Kataku.


"Hmm...Seharusnya kita menjajah tempat ini dengan kekuatan penuh. Seperti yang anda lakukan ketika di benua Utara." Kata Jenghis sedikit kecewa. Tapi menurutku itu tidak sepenuhnya efektif. Alasannya aku menggunakan kekerasan ketika berhadapan dengan Alice adalah karena untuk meyakinkannya kalau aku adalah pemain yang dulunya bernama Valon The Dragnel. Dan aslinya Ibukota Blizzard adalah salah satu wilayahku. Jelas aku harus mengambilnya dengan paksa. Tapi di kasus kepulauan Assassin jelas berbeda.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan. Demi mendapatkan tangkapan yang besar kita diharuskan untuk bersabar ketika memancing. Tidak ada yang serba mutlak di dunia ini. Kita hanya perlu sabar saja." Jawabku. Tentu jika kita menjajah pasti akan mendapatkan pandangan buruk dari penduduknya.


"Kuharap kau benar." Timpal Riza.


"Jika tidak sesuai ekspetasiku, akan kuberitahu nanti. Aku harus masuk kelas sekarang." Kataku meninggalkan mereka berdua. Mereka pun langsung menghilang ke wujud roh mereka.


Aku pun masuk kelas dengan santainya. Tiba-tiba seorang guru menjewerku dan mempertanyakan alasan keterlambatan ku. Aku tidak bisa memberikan alasan pertemuanku dengan kepala sekolah karena itu akan membuat keadaan semakin runyam.


"Buang air." Jelas itu alasan yang masuk akal. Sang guru pun memukul meja dengan pedang yang masih tersarungi. Semua murid langsung terkejut. Termasuk aku.


"Lain kali, aku tidak ingin menerima alasan terlambat lagi darimu. Cepat duduk!" Kata sang guru. Jelas dia tipe killer. Semoga saja dia menikahi batu nisan.


Aku pun mulai mencari tempat duduk. Ada seorang murid perempuan yang menawariku untuk duduk disampingnya. Rambutnya cokelat, bermata emas, dan hanya mengucir rambutnya di bagian kiri saja, tapi dia sangat imut dan manis.


"Kau boleh duduk di sini." Katanya dengan senyuman yang jelas parah banget kalau aku orang biasa. Imut banget. Tapi berkat skill pasif Undead-ku, aku masih bisa tenang. Aku pun duduk di sampingnya.


Aku tahu gumaman mereka "cantik-cantik kok sama anjing..." Jelas banget mereka merasa iri.


Ditengah guru menjelaskan pelajaran, gadis itu menarik lengan baju dengan cubitan yang lembut. Aku pun menoleh ke arahnya. "Siapa namamu?" Tanyanya dengan sedikit berbisik.


"Tatsumaki Gen." Jawabku juga dengan berbisik. Ada jeda diantara pembicaraan kami. Sebaiknya aku menanyakan namanya juga. Sebagai seorang veteran atau alumni di jenjang pendidikan maka aku menanyakannya.


"Kau sendiri? Siapa namamu?" Tanyaku.

__ADS_1


"Oh namaku Naava. Salam kenal." Katanya.


__ADS_2