Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Pemburuan Pertama (Bagian IV)


__ADS_3

"Bagus Riza. Tikaman yang sempurna." Kataku dengan bangga. Tubuh Karna mulai memudar dan perlahan menjadi kilauan emas.


"Tunggu, kau curang! Bagaimana bisa!?" Naava meronta-ronta dan itu membuat lilitan rantai surgawi di tubuhnya bertambah kencang. Ada beberapa bagian tubuh Naava yang sampai lecet karena kencangnya lilitan rantai surgawi.


"Jadi begitu ya. Kau bahkan merencanakannya sampai sejauh itu." Kata Karna dengan nada yang ringkih.


"Sepertinya kau yang menang kali ini, Gathotkaca. Selamat atas kemenanganmu." Puji Karna melirik ke arah Gata yang sedang terkapar di atas pasir.


"Bukan aku yang memenangkan pertarungan ini. Tapi tuankulah yang memenangkannya. Woi Ousama-ku! Adakah yang ingin kau katakan?" Kata Gata menoleh ke arahku. Dilihat dari wajahnya, setidaknya ada sepercik rasa puas.


"Kau melakukannya dengan baik." Kataku singkat. Tapi Gata malah tersenyum.


"Padahal akulah yang egois karena memaksamu agar kau menyetujui pertarungan ini. Dasar.... Padahal akan lebih puas lagi kalau aku sendiri yang memenggal kepalamu, Karna." Gata kemudian melihat ke arah langit yang sangat cerah.


"Mau bagaimana lagi, kan.... Kita hanyalah seorang slave. Pelayan Ousama. Pada akhirnya kita hanyalah sebuah alat dan senjata yang di gunakan secara paksa oleh keinginan egois majikan kita masing-masing." Jelas Karna.


Karna kemudian melihat Ousama-nya yang sepertinya akan menangis. Karna kemudian tersenyum.


"Maaf, aku tidak bisa memenangkan pertarungan ini." Karna mencoba untuk meminta maaf kepada Naava.


"Tidak! Tidak! Kau sudah berusaha! Aku tahu itu! Jadi kumohon janganlah kau pergi, pahlawan dermawan! Jangan pergi!" Naava berteriak seperti orang gila saat itu. Tapi semua itu di balas dengan senyuman pasrah dari seorang pahlawan yang terlahir dari dewa matahari.


Riza langsung menarik tangannya dari tubuh Karna dengan sangat kasar.


"Kau ini kasar banget!" Protesku. Riza langsung memalingkan wajahnya dariku. Wah memang sebelas dua belas sama guru assassin tadi pagi. Nikah sama batu makam nanti....

__ADS_1


"Anak muda. Mungkin aku tidak berhak untuk meminta ini tapi bisakah kau berjanji untuk melindungi Ousama-ku sampai perang mitologi ini berakhir?" Tanyanya. Tubuhnya hampir semuanya lenyap dan menjadi transparan.


"Kau seharusnya tidak meminta dari pihak yang menang. Lagipula..." Kataku terpotong setelah mendengar satu kata dari Karna yang sangat tulus menurutku.


"Kumohon.... Ah tidak, maafkan kelancanganku. Kau benar, seharusnya aku tidak meminta hal yang mustahil." Katanya. Karna lenyap sepenuhnya menjadi kilauan emas yang bertebaran di udara.


"Aku tidak bisa berjanji. Tapi akan kuusahakan." gumamku.


"Pada akhirnya kau tidak bisa jujur dengan perasaanmu sendiri, Yo Ousama-ku. Tapi terima kasih atas segalanya. Aku puas sekarang." Tubuh Gata juga langsung menghilang menyusul Karna.


Aku pun langsung berpaling menghadap Naava dan melepaskan rantai surgawi yang melilitnya. Dengan secepat kilat, Naava menyerangku dengan pukulan mautnya. Dengan reflekku yang super cepat aku langsung menghindarinya. Tatapan Naava berubah menjadi mengerikan. Tapi masih kalah mengerikan dengan dia.


"Sampai segitunya kah kau ingin menang?..." Aura membunuh Naava sangat terasa sekarang. Sifat dan jumlah Manna miliknya berubah 180 derajat.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?!! Sampai kau sejauh itu?!!" Aku hanya diam. Melihat Naava meluapkan segala emosi, dendam, marah, dan kesalnya kepadaku. Memang harusnya seperti itu. Sebagai orang yang berperan jahat di dunia ini maka aku tidak segan memainkan peranku sesempurna mungkin.


"Lalu kenapa? Inilah perang. Inilah nasib orang yang kalah. Inilah hasilnya. Tidak ada namanya baik dan jahat di dalam perang. Yang ada hanyalah saling membenci dan mengutuk satu sama lain." Balasku.


"Kubunuh kau....Kupastikan kau akan kubunuh!!!" Naava langsung meluncur ke arahku dan mengerahkan tinju ke arah kepalaku. Tapi dia tidak mengenainya. Violet Barrier langsung melindungiku. Kupikir dia akan mengubah pola serangannya tapi ternyata tidak. Naava malah lanjut memukuli Barrier-ku secara brutal dan bertubi-tubi. Meskipun tidak ada damage, lingkungan disekitar kami hancur dan berantakan.


Aku langsung melebarkan Barrier-ku dengan cepat. Naava langsung terpental akibat peluasan tersebut. Naava kemudian mengganti pakaiannya. Pakaiannya seperti agen wanita di dunia asalku. Jaket hitam dengan motif garis putih dan lengan tiga perempat, memakai rok pendek dan stoking hitam, memakai boot di kakinya dan memakai sarung tangan hitam di tangannya.


"Hoo kau nampak lebih imut dari dirimu yang mengenakan seragam akademi." Kataku dengan niat memujinya.


"Berisik!!! Lebih baik kau diam dan mati, biadab!!!!" Naava mengambil posisi kuda-kuda seorang pengguna Wing Chun. Ini tidak bagus. Naava kemudian menarik napas dalam-dalam dan......

__ADS_1


Sebuah ledakan tepat 5 centi di belakangku. Jika diukur, daya ledakannya 2 kali lipat dari RPG atau Bazooka. Dan kalian tahu penyebabnya... Hempasan tinju Naava lah penyebabnya. Benar-benar dahsyat.


"Wah, lumayan!" kataku memujinya lagi. Tunggu! Kenapa aku sangat senang?!


Naava menyerangku lagi dengan tinjuan supernya. Aku pun berlari menyusuri bukit dan memutari lembah-lembah kecil-kecilan dari gurun pasir ini.


"Jangan cuma menghindar! Lawan aku kalau kau bisa!" Kata Naava mulai mengejarku. Kecepatannya bahkan melebihi Mori ketika dia menggunakan tato Cheetah-nya. Perlahan dia pun menyusulku dan mulai menyerangku dengan tinju supernya. Tangannya sudah berpendar berwarna emas.


"Kali pasti kena!" Naava akhirnya melepaskan serangannya. Ledakan besar pun terjadi. Tapi bukan di tempat kami. tapi di 10 meter depan kami.


"Itu tidak mungkin meleset!" Naava bahkan terheran. Kesempatanku terbuka. Kutarik pedangku dan menyabet leher Naava. Tapi Naava berhasil menahannya.


"Tidak mungkin! Kau memotong gelombang kejutku?!!" Naava akhirnya bisa menebaknya. Ya, ketika dia hampir menonjokku dari belakang, aku langsung mengeluarkan 2 cakarku untuk memotong gelombang kejut dari Naava dalam waktu kurang lebih 0,45 detik.


"Jika aku tidak berhasil tepat waktu maka aku akan terkena." Jelasku.


Kami pun saling serang. Naava dengan 2 kepalan tinju Wing Chun-nya, dan aku dengan pedang Herakles-ku. Kami pun akhirnya saling terkunci.


"Seorang Monk rasa Fighter dengan kapasitas Manna seperti slave. Kau begitu menarik,Nav." Kataku. Sangat sayang kalau dia tidak menjadi milikku.


"Berhenti memujiku tukang jagal! Kau akan membayar apa yang telah kau lakukan pada Karna!" Cecarnya. Baru pertama kali ini semenjak aku di pindahkan ke dunia ini ada yang mengatakan hal itu kepadaku secara langsung. Sekalipun itu Alice sekalipun.


"Baiklah kalau begitu. Kali ini akan jujur dan adil. Kalau kau melewatkan kepalaku maka kau wajib membantuku seperti kesepakatan awal, bagaimana?" Tanyaku kepada Naava.


"Dan jika aku berhasil, maka semua slave-mu akan jadi milikku." Lanjutnya.

__ADS_1


Kami pun saling terpental. Kami langsung mengambil posisi untuk menerjang. Di saat tetesan keringat Naava turun ke pasir itu menjadi sinyalnya. Dan.....


"...... Tidak mungkin...."


__ADS_2