Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Pemburuan Terakhir (Bagian 1)


__ADS_3

Serangan Kaiju pun berhenti malam itu. Tidak ada kerusakan di pemukiman, tapi...


Kerusakan dihutan sangatlah besar. Jika aku tidak segera mengatasinya maka bencana seperti banjir dan tanah longsor akan sangat mudah terjadi dan menambah kerusakan.


"Berapa pengeluarannya untuk memperbaikinya?" Tanya Naava kepadaku dengan nada seperti orang polos. Aku cuma mengangkat tanganku menunjukkan jumlah biayanya dengan jariku yang menunjukkan angka empat.


"Empat juta coin saja? " Dengan mudahnya Naava bilang seperti. kupukul meja makan kami dengan sangat keras, kuangkat kepalaku yang dari tadi kusandarkan di meja.


" "saja" katamu? Kau pikir itu jumlah yang sedikit?!!" Kataku meninggikan suara. Yukki mencoba menenangkanku dengan memegangi salah satu tanganku. Naava masih saja bersikap santai.


"Sudahlah kak. Lagipula itu sudah jadi tugasku untuk mengatur tentang penghijauan itu jadi tenanglah." Kata Yukki mencoba menenangkanku.


Meskipun masih belum reda aku pun duduk kembali. Aku cukup beruntung memiliki uang unlimited karena menggunakan Item Cheat : Big bang untuk meregenerasi cash-ku. Tapi tentu saja tidak untuk hal seperti ini di setiap harinya.


"Ya, karena di kerajaan Panthera untuk upacara pernikahan saja perlu setidaknya 20 juta coin untuk mengadakan pernikahan bangsawan. " Kata Naava dengan santainya. Kali ini tidak hanya aku, Yukki yang dari tadi diam juga ikut angkat suara.


"Gila!!! Itu Pernikahan atau renovasi istana??!!!!!" Teriak kami bersamaan. Ternyata kami masih bisa kompak sebagai kakak-adik.


"Kan kubilang untuk pernikahan kerajaan. Tentu saja untuk rakyat biasa hanya sekitar 400-500 coin saja. Bisakah kalian tenang? Kita sedang ditempat umum. Ini cukup memalukan." Kata Naava yang akhirnya giliran kesal. Semua pengunjung direstoran itu melihat kami seolah aku adalah murid pembuat onar ketika dikantin pada saat jam istirahat.


"Baiklah. Kita kembali ke topik utama kita. berarti tersisa 3 mata-mata negara lagi di kepulauan ini. Apakah kalian ada petunjuk?" Tanya Yukki melipat tangannya di meja.


"Oh iya membicarakan tentang mata-mata...." Kata Naava menatapku penasaran. Aku tahu maksudnya. Dia penasaran apa yang terjadi dengan Drago.


"Dia hanya dicurigai sebagai mata-mata, dia bukan mata-mata sungguhan. Dia hanya suaka politik." Jelasku.


"Lalu?" Tanya Naava masih penasaran.


...*******...


Kejadian mundur sekitar seminggu yang lalu. Di pagi dimana Drago menjadi normal. Agar tim pelacak tidak menemukan kami dilokasi Kaiju, maka kami pindah ke dalam hutan dekat pantai.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanyaku.


Drago hanya menatap matahari yang baru saja terbit. Wajah menunjukan tekad dan rasa tabahnya. Dia menatapku kembali.


"Aku akan kembali, ke negeri Kutub Selatan." Katanya dengan yakin. Aku sempat berpikiran kalau dia akan membocorkan keberadaan kepulauan ini tapi aku mengurungkan pikiran itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan bilang apapun. Aku akan bilang kepada mereka kalau aku terdampar di pulau tak berpenghuni." Katanya.


"Apakah aku bisa mempercayaimu?" Kataku kurang yakin. Bukannya marah, Drago malah tersenyum.


"Kau pikir mereka akan percaya tentang keberhasilanku menemukan tempat ini? Tapi tak apa. Aku hanya perlu memulainya dari awal." Kata Drago.


"Bisakah kau mengubah warna rambutku, kawan?" Katanya yang membuatku semakin tidak tahu cara berpikirnya. Aku memberinya potion pengubah warna yang biasa dipakai pemain untuk mengganti warna item-item mereka.


Drago memilih warna pirang pucat. Dia juga memintaku untuk memotong rambutnya. Kubuat rambutnya menjadi lebih pendek dan lebih rapi. Aku juga memberinya pakaian baru.


"Aku akan mencobanya Gen." Katanya.


"Lakukan sesukamu, selama itu membuatmu bahagia." Kataku.


Drago kemudian berlari menuju ke laut dan berubah menjadi Kaiju dan berenang pergi. Entah itu ke Kutub Selatan atau tempat lain. Selama dia tidak menganggap dirinya monster lagi maka itu sudah cukup. Aku juga tidak ada hak untuk menentukan jalan hidupnya.


...*******...


"Jadi kau membiarkannya pergi?" Tanya Naava.


"Aku tidak ada alasan untuk menahan atau bahkan membunuhnya. Tidak ada untungnya bagiku. Sekalipun aku mengubahnya menjadi Shadow Army dengan skill." Jelasku.


"Kita fokuskan didaerah pantai. Mengetahui kalau Naava dan Drago dikalahkan oleh aku, fakta tentang pembunuhan dan pembangkitan para tetua sudah cukup membuat mereka untuk bergerak." Kataku.


"Mereka pasti akan bersusah payah untuk kembali dan melaporkan segala informasi yang mereka dapat." Timpal Yukki.


"Satu-satunya akses untuk keluar dari kepulauan ini adalah menggunakan perahu, kapal, atau menggunakan makhluk summon atau Shikigami dengan kemampuan terbang untuk pergi." Naava mencoba menganalisa.


"Tenang saja mereka tidak akan pergi kemanapun." Kataku.


Setelah kejadian Kaiju itu aku segera memberi tahu Riza dan Jenghis untuk mengawasi daerah pantai, pelabuhan dan bagian udara di dekat dataran tinggi. Tapi mereka belum bergerak sama sekali. Sebenarnya cukup mudah untuk memancing mereka jika sudah disaat seperti ini.


"Kakak ada ide?" Tanya Yukki penasaran.


"Tentu." Kataku dengan yakin.


...*******...

__ADS_1


Keesokan harinya kami malah membuat kegaduhan di istana.


"Hoo jadi kau menentangku? Kau sudah mulai berani sekarang. Tahtamu milikku sekarang." Kataku dengan sombong.


"Kakak sekarang mulai tidak tahu diri ya. Apakah kita perlu saling membuktikan?" Tanya Yukki.


"Jika itu yang kau inginkan." Jawabku.


Yah, kalian tahu apa yang terjadi setelah itu. Ruang tahta hancur seperti tempat bekas tawuran anak SMA. Tapi dari sini aku juga bisa tau skill apa saja yang digunakan Yukki.


Kami beradu pedang. Entah alasan apa pak tua itu mengangkat Yukki sebagai putrinya, tapi dia lumayan hebat. Yukki bahkan memiliki kecepatan yang sama denganku.


Timing yang kami gunakan selalu sama." Lumayan juga untuk adik kurang ajar sepertimu." Kataku dengan tersenyum. Jujur saja, aku sangat terhibur dengan skenario ini.


(Kemarin)


"*Kita buat ke gaduhan di istana. Dengan itu, mereka akan berpikir kalau kita sedang bertengkar sehingga memungkinkan mereka untuk kabur dari kepulauan ini." Jelasku.


"Tunggu?! Apa ?! Kau yakin? Bukankah pihak mata-mata justru akan curiga jika membuat ke gaduhan secara tiba-tiba?" Naava tampak tak yakin.


"Untuk itu aku sudah mempersiapkan skenario-nya." Jawabku*.


...*******...


Dengan skenario "perebutan tahta" justru akan lebih masuk akal. Para tikus-tikus got itu memiliki mata dan telinga yang tajam jika masalah kejadian atau insiden. Maka kita manfaatkan kelebihan mereka untuk melawan mereka.


1.........2........Dua dari mereka sudah pergi. Bagus mereka terkena umpan. Orang ketiga ada diatas atap sedang memanggil beast summon atau Shikigami untuk kabur.


Riza, Jenghis, mereka datang. 1 mencoba untuk kabur dari udara dan 2 orang melalui daratan. kataku melalui sambungan empati.


Apakah kami boleh membunuhnya, tuanku? Tanya Jenghis dengan polos. Membiarkan mata-mata hidup hanya akan menambah penyakit bagi negara atau kerajaan.


Lakukan sesuka kalian. jawabku melalui sambungan empati. Aku dan Yukki terpental akibat serangan kami sendiri.


"Sepertinya berhasil." Kataku menyarungkan pedangku kembali.


"Kuharap begitu. Ruangan ini sudah dikorbankan untuk memancing tiga tikus got keluar." Keluh Yukki menyarungkan pedangnya.

__ADS_1


"Kau tampak tidak puas." Aku mencoba untuk membaca ekspresi adik angkatku.


"Sedikit. Tapi jika mereka tertangkap seharusnya itu sudah lebih dari cukup." Kata Yukki tersenyum lega.


__ADS_2