
"Gerakan bagus." Kata Killhunger dengan menahan rasa sakit. Ternyata teori kalau tubuh kami para pemain juga ikut dipindah kemari benar.
"Armormu sangat resistant terhadap serangan fisik, maka dari itu...." Kutusukkan pedangku hingga menembus ke dadanya. Killhunger langsung melolong sangat keras seperti anjing hutan yang marah.
Kuhilangkan efek racun pada pedangku. Setidaknya ini membuatnya tersiksa, HP-NYA tidak menurun tapi dia bisa merasakan dari damage tusukan pedangku.
"Kau memang yang terburuk, Valon. Jadi itu cuma pengalihan?" Katanya dengan nada orang yang menahan rasa sakit.
"Karena kau sedang berhadapan denganku, akan jadi kesalahan fatal kalau kau tidak fokus kepadaku ketika duel. Maka dari itu aku memanfaatkannya. Kubuat kau tidak fokus selama beberapa detik kemudian memukulmu dengan cukup keras dan ini hasilnya." Kuikat Killhunger dengan 10 rantai surgawi yang terhubung langsung ke portal.
"Setelah itu apa yang ingin kau lakukan? Membunuhku?" Tanyanya.
Aku kemudian menoleh ke arah Naava yang sedang berjalan kemari mendekatiku. Dari wajah Naava sepertinya dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
"Oh, untuk selanjutnya bukan bagianku. Tapi bagiannya. Hidupmu sekarang berada ditangan Naava." Kataku dengan santai. Aku sedikit menjauh memberi Naava ruang.
Akhirnya mata mereka bertemu. Di wajah Naava sudah mulai memperlihatkan mata kebencian terhadap Killhunger.
"Hidupmu bergantung pada jawabanmu. Apa alasannya kau untuk mengeluarkanku dari Kerajaan Panthera?" Tanya Naava mencoba untuk menahan diri.
Killhunger tidak langsung menjawab. Dia menatap Naava lamat-lamat seolah yang ada didepannya adalah seorang hakim.
"Kakakmu yang menginginkannya." Kata Killhunger. Seperti mendengar suara guntur di siang hari. Naava begitu terkejut mendengarnya sampai-sampai tanpa sadar dia melangkah mundur sekitar 2 langkah.
Melihat syok-nya Naava mengingatkanku ketika kejadian aku kehilangan dia. Untuk seorang laki-laki mungkin tidak terlalu berefek. Tapi berbeda untuk wanita.
Naava memegangi ulu hatinya dan mencoba mengatur napasnya. Keringat dinginnya begitu deras mengalir di pipinya. Setelah sedikit tenang Naava mencoba bertanya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kakakku menginginkan aku mati dan terusir dari negerinya sendiri?" tanya Naava.
"Tahta yang sebenarnya dia inginkan. Dengan menjauhkanmu dari negerimu, pesaingnya menjadi berkurang. Dan kau juga begitu ditakuti olehnya. Karena hanya kau satu-satunya di negerimu yang bisa menghentikan dan mengganggu rencananya." Jelas Killhunger.
"Apa maksudmu?" tanya Naava.
"Kau memiliki kekuatan berupa menghidupkan mayat menjadi tentara yang berpihak kepadamu. Itu alasannya. Kalau tidak, dia tidak perlu repot-repot untuk membayarku melakukan tugas ini." Jelasnya. Meskipun begitu aku tidak bisa langsung mempercayai perkataannya. Jika sampai terjadi kesalahpahaman maka akan mengakibatkan perang saudara di Kerajaan Panthera. Tapi aku tidak ingin melibatkan diriku terlalu jauh. Aku hanya mencoba membantu Naava sesuai kesepakatan kami.
"gee my die bewys as my broer 'n ooreenkoms met jou gemaak het." Tanya Naava dengan bahasa Afrika yang artinya "berikan buktinya jika kakakku membuat kesepakatan denganmu."
Alasan kenapa TSO disukai para pemainnya salah satunya karena ada sistem translating otomatis menyesuaikan negara asal pemainnya sehingga memudahkan kami para pemain dalam komunikasi. Tapi sepertinya tidak berlaku dengan para pribumi yang mengucapkannya. Sistem translating-nya sepertinya tidak dapat mendeteksi bahasa yang diucapkan oleh Naava. Walaupun aku tahu itu adalah bahasa Afrika yang berasal dari dunia nyata.
Killhunger kemudian menoleh ke arahku seperti tidak paham apa yang dikatakan Naava.
"Jangan menatapku seperti orang bodoh." Tukasku.
"berikan buktinya jika kakakku membuat kesepakatan denganmu. Itu yang dia katakan." Jawabku.
Killhunger kemudian menjatuhkan suatu material dari inventory-nya. Sebongkah batu artefak sebesar bantal. Tapi ketika aku mencoba menganalisa batu itu aku tidak menemukan data yang cocok dari semua material yang kumiliki. Batu berwarna hitam dengan corak ungu menyala di permukaannya. Naava yang melihatnya pun langsung paham.
"Kenapa kau malah mengaku? Kau bisa saja berbohong kepadaku dan tidak membocorkan identitas klein-mu. Kenapa kau malah membongkarnya?" Naava bertanya lagi, kali ini nadanya meninggi. Killhunger kemudian melihat ke arahku.
"Aku memang dibayar untuk mengasingkanmu bahkan sampai tingkatan membunuhmu. Tapi bayarannya tidak cukup besar untuk membuatku berurusan dengannya." Kata Killhunger.
Mendengar alasan itu, Naava kemudian menenangkan dirinya lagi.
"Gen, bisakah kau memenjarakannya untukku? Aku akan mengambilnya kembali ketika kau sudah mendapatkan kepulauan Assassin." Tunggu dulu! setahuku kesepakatannya tidak sampai situ.
__ADS_1
"Kau tidak harus membantuku sampai situ. Setahuku kita sepakat hanya sampai di bagian mengumpulkan mata-mata." Kataku mencoba menolaknyw dengan halus.
"Aku berhutang 1 nasib kerajaan kepadamu. Maka aku ingin menebusnya juga. Dan juga kehormatanku sebagai seorang putri Panthera juga sudah kau lindingi. Jadi..." Naava sedikit tersendat ketika ingin melanjutkan kata-katanya.
"Jadi....?" Tanyaku.
"Aku sebagai bayarannya. Maukah kau menjadi tunanganku?" Katanya dengan wajah merahnya. Oh tidak. Ini diluar perkiraanku. Jika aku menolaknya maka masalahnya menjadi masalah antar negara bahkan sampai ke masalah antar Dynasty.
"Naava aku tidak tahu harus berkata apa?" Kataku sedikit gugup. Serius, aku benar-benar mati kutu saat ini.
Diluar perkiraanku lagi Naava menciumku didepan pembunuh terbaik di TSO. bibirnya sangat lembut dan sangat nyaman. Kami berciuman cukup lama. kemudian Naava melepaskannya.
"Ini bukti perasaanku kepadamu Gen. Aku mencintaimu. Aku tidak peduli kalau kau sudah punya tunangan atau wanita yang kausukai. Selama kau memilikiku aku sudah bahagia." Mendengarnya aku semakin mati kutu. Mata Naava bergetar menunggu jawabanku.
"Baiklah. aku mau." Tiba-tiba Killhunger bersiul. Sebelum dia mulai mengacau aku langsung memindahkannya ke ditetapkan dimensi milikku.
Tiba-tiba aku mendapat sambungan empati dari Riza. Aku sudah tidak kuat lagi! Tuan, cepatlah kemari!" Erang Riza yang sepertinya sedang menahan Drago yang sedang mengamuk. Mendengar itu, aku langsung memakai Armor Obsidian Gydra. Kukeluarkan wujud Obsidian Gydra saat itu juga. Aku dan Naava barada di dalam keningnya yang diselimuti oleh kristal.
"Baiklah, ronde dua." Obsidian Gydra langsung berlari dengan sangat kencang dan memukul Kaiju Drago dengan sangat telak. Drago terguling menabrak beberapa gunung dan menghancurkannya.
Riza yang dari tadi melilitnya langsung melepaskan lilitannya.
Kenapa sangat lama?! tanya Riza melalui telepati dengan sangat ketus.
Banyak hal yang terjadi. Bagaimana situasinya? tanyaku mencoba menghindari topik.
Kaiju ini semakin menggila seperti anjing gila. Kami sudah menjauhkannya dari pemukiman warga sejauh mungkin tapi dia tetap saja berjalan ke arah pemukiman warga. Jelas Riza.
__ADS_1
Sebagai Kaiju master, Drago jelas mengalami hidupnya yang sering dikucilkan dan diacuhkan oleh banyak orang. Dia lebih sering disebut monster. Maka satu-satunya cara membuatnya menjadi tenang adalah berbagi penderitaan.