Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Pemburuan Pertama (Berhasil)


__ADS_3

" 5 tebasan lebar secepat kilat dalam satu kali napas. Dasar monster....." Kata Naava lirih. 5 tebasan horizontal menghiasi dadanya. Darahnya menyiprat kemana-mana. Naava langsung berlutut di belakangku dengan keadaan sekarat.


"Bukankah ini sudah cukup? Jika kau lebih pintar maka kau tidak akan terlihat menyedihkan seperti ini." Kataku menyarungkan kembali pedangku. Riza kemudian mendekati Naava yang masih berlutut dan tak bisa bergerak karena lukanya yang kubuat cukup dalam dalam.


"Tuanku sebenarnya tidak menyuruhku untuk membunuh Karna. Tapi aku melakukannya karena aku sendiri yang menginginkannya." Seketika mendengar hal itu wajah Naava langsung tegang. Naava mencoba melihatku meskipun lehernya cukup kaku untuk menoleh ke arahku.


"Kalau begitu, kenapa...." Tanya Naava dengan suara menahan sakit.


"Kau bilang jika slave milikmu dikalahkan oleh slave milik tuanku maka kau akan membantu beliau, dan jika slave milikmu yang menang maka tuanku berjanji tidak akan mengganggumu di misimu sendiri."


"Tuanku sebenarnya tidak melanggar kesepakatan itu." Lanjut Riza.


"Jadi..... Kau ingin bilang kalau kau yang akan bertanggung jawab atas semua ini....." Tanya Naava.


"Tidak, tidak mungkin aku menundukkan kepalaku untuk meminta penangguhan darimu. Dan apa kau pikir tuanku hanya memiliki satu slave?" Seketika wajah Naava yang tadi tegang menjadi terkejut. Dia hampir tidak bisa mengatakan apapun.


"Jadi....jadi kau adalah slave-nya? " Tanya Naava mencoba untuk memastikan meskipun dia sudah tahu pasti faktanya.


"Kau bilang adalah slave milik tuanku dan kau tidak membatasi jumlah slave-nya, Sedangkan tuanku memiliki banyak Slave dan aku salah satunya. Jadi kematian Karna tetap menjadi kematian terhormat karena terbunuh oleh slave milik tuanku sesuai dengan kesepakatan kalian." Setelah mendengar penjelasan Riza, Naava langsung termenung. Dia tidak bisa berkata-kata karena memang itu faktanya.

__ADS_1


Aku melemparkan potion healing ke tubuh Naava. Seluruh tubuhnya tersiram potion dan langsung berpendar dengan warna hijau dan semua lukanya menjadi sembuh. Naava kemudian melihatku dengan perasaan bersalah. Tapi sebelum dia mengatakan sesuatu aku segera membuka portal untuk kembali.


"Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan maka katakan di persidangan." Aku pun melangkah keluar dari dimensi buatanku. Meskipun Naava tampak enggan, tapi Naava akhirnya mengikutiku dari belakangku disertai oleh Riza yang menggunakan wujud rohnya.


Kami pun muncul di ruang sidang dimana aku disidang pertama kali oleh adikku sendiri. Setelah aku menghubungi Yukki dan yang lain mereka segera datang ke gedung persidangan. Sidang pun dimulai.


Sepanjang sidang, Naava berkata jujur. Tidak ada yang dia tutupi. Sidang berlangsung lebih cepat dari yang kuduga. Ternyata Naava adalah seorang putri di salah satu kerajaan di Dynasty tanah yaitu kerajaan Panthera yang mendapat misi untuk memburu pembunuh bayaran yang menyebabkan banyak masalah di kerajaannya. Setelah mendapat izin dari pusat ibukota Dynasty Tanah untuk memburunya, mereka langsung melacak si pembunuh bayaran tersebut dan berakhir di kepulauan assassin.


Para dewan termasuk tetua dan Grand Master itu sendiri menimbang-nimbang hukuman apa yang pantas untuk Naava. Cukup berat dan sulit untuk memberi sanksi terhadap putri yang berkuasa di Dynasty lain seperti ini. Jika hukumannya tidak tepat maka akan memicu perang antar Dynasty.


Akhirnya mereka memilihku sebagai pihak ketiga dalam sidang ini yang akan menentukan hukuman apa yang cocok untuk Naava. Alasannya cukup mudah, karena aku yang berhasil menangkapnya. Sebenarnya aku keberatan tapi karena di persidangan tidak ada jalur hubungan darah atau kekerabatan maka aku terpaksa untuk menyetujuinya. Persidangan pun di tutup.


Semua peserta sidang meninggalkan ruangan kecuali aku, Naava, dan Yukki. "Mulai sekarang dia adalah milik kakak, meskipun kakak adalah seorang kaisar sama sepertiku tolong jangan ambil tindakan gegabah dalam memberikan hukuman. Atau bahkan tindakan yang menyimpang." Kau pikir aku sempat memikirkan itu?!!


"Terima kasih." Ucapku karena mau menerima permintaan egoisku. Sebelum sidang dimulai aku memang berencana untuk memanfaatkan kondisi Naava. Sehingga membuat skenario dimana hukuman untuk Naava menjadi hakku sekarang.


"Sama-sama." Kata Yukki dengan tersenyum.


Yukki pun meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan kami berdua di ruangan. Lengang cukup lama setelah Yukki keluar.

__ADS_1


"Jadi apa yang ingin kau lakukan kepadaku?" Tanya Naava akhirnya. Meskipun itu tetap membuatku bungkam. Yah bagaimana tidak! Jika ini kasus wilayahku maka aku tidak akan segan menghukumnya. Tapi sayangnya aku berada di kukuasan orang lain yang memiliki wewenang sendiri. Aku hanya bisa menghela napas dengan perlahan.


"Aku akan menghukummu ketika waktunya sudah tiba. Untuk saat ini bantu aku untuk mencari para mata-mata yang masih berkeliaran di kepulauan ini." Jawabku langsung. Lengang lagi untuk waktu yang cukup lama.


"Bagaimana bisa?" Tanya Naava yang masih terdiam.


"Apanya?" Tanyaku bingung sendiri.


"Di dalam perang mitologi seharusnya orang yang terpilih menjadi Ousama tidak bisa berkontrak lebih dari 1 slave. Tapi kenapa kau bisa memiliki banyak Slave?" Tanyanya penasaran.


"Itu karena beliau adalah seorang OVERLORD. Makhluk agung terkuat yang menjadi musuh dari semua pihak baik itu pihak para dewa maupun pihak iblis sekalipun. Karena itu tuan kami tidak terikat oleh peraturan perang mitologi." Kata Jenghis menampakkan diri dari wujud rohnya. Mendengar penjelasan Jenghis, Naava langsung ambruk karena mengetahui fakta kalau aku ini adalah sosok yang lebih mengerikan dari raja iblis.


"Bukankah itu hanya sekedar legenda?" Naava masih tidak percaya dari perkataan Jenghis. Maka aku tidak ada pilihan lain selain menunjukkan bukti lain yang lebih kuat. Kubuka pakaianku atasku dan aku memperlihatkan apa yang ada di punggungku.


Semenjak melihatnya Naava langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Legenda selalu berasal dari sesuatu yang nyata." Kata Riza yang memegangi pakaianku. Tato dari kontrak para slave-ku terukir jelas di punggungku. Bulan sabit menandakan segel kontrak milik Yuna, rantai-rantai dengan ujung tombak menandakan segel kontrak milik Enkidu, kepala singa adalah segel kontrak milik Alice yang merupakan Demi-Slave dari roh raja Gilgamesh, tato pedang merupakan segel kontrak milik Abimanyu, tato monyet marah dengan armor adalah segel kontrak milik Hideyoshi, Dan yang terakhir adalah lambang Yin dan Yang yang mungkin adalah milik Kraven. sampai sekarang aku tidak tahu roh legenda apa Kraven ini.


"Dengan begini kita mengetahui rahasia masing-masing." Kataku mulai memakai pakaianku lagi. Naava masih mencoba menenangkan diri dari fakta kalau aku ini seorang OVERLORD. Tidak apa, aku memberinya waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk selanjutnya?" Tanya Naava setelah mulai tenang.


"Untuk saat ini kita harus kembali ke akademi dan menunggu berita terbaru dari pasukan senyap yang kukirim. Masih ada sekitar 4 orang lagi yang merepotkan sepertimu yang mencoba untuk mengacaukan tempat ini. Dan sepertinya. Pembunuh bayaran yang kau incar saat ini juga ada kaitannya dengan bocornya informasi tentang Kepulauan Assassin." Jelasku.


__ADS_2