Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Perncanaan Invasi (Bagian II)


__ADS_3

Karena kami akan memmasuki wilayah Dynasty Angin dan berhadapan dengan pembunuh dalam senyap maka aku perlu melakukan tindakan pencegahan. Salah satunya adalah mengenakan Zirah Obsidian Gydra. Menggunakan 2 World Boss menjadi sebuah item adalah hal mustahil di system TSO tapi sangat memungkinkan di dunia ini. Kami pun melakukan persiapan. Zirah yang bisa aktif otomatis dan dilengkapi senjata dan pertahanan.


"Persiapan telah selesai tuanku." Jenghis Khan datang kepadaku untuk melapor. Aku menatap cakrawala saat itu. Kuambil tasku dan mulai berjalan meninggalkan gerbang.


"Akan anda apakan semua mayat-mayat ini?" Tanya Jenghis. Yah, aku menyuruhnya mengumpulkan mayat- mayat para petualang yang riwayatnya adalah petualang kelas adamantine alias paling tinggi dari semua pangkat dan juga beberapa lusin mayat prajurit yang telah mati. Beruntungnya, mereka tidak terlalu berbau busuk.


"Tentunya untuk persiapan. Siapa yang tahu kalau kita akan berperang melawan Dynasty Angin atau pun kepulauan Assassin. Menggunakan pasukan Shadow adalah salah satu pencegahan menambah kerugian dalam jumlah pasukan kita. " Jelasku.


"Tuan sungguh baik ya. Bahkan tidak ingin menggunakan pasukan yang masih hidup dan normal." Kata Jenghis tersenyum.


Aku tidak menanggapinya. Aku juga tidak bisa menangkalnya. Tapi untuk orang-orang yang telah mati pasti ada rasa sakit sendiri dipaksa untuk berperang dan merasakan rasa sakit yang sama lagi. Aku memang buruk.


"Tidak. Aku hanya ingin memenangkan taruhan ini. Itu saja." Kataku.


Petualang yang kuhidupkan sebagai Shadow Army ada sekitar 50. yang terdiri dari 20 Fighter, 10 Spellcaster, 5 Shooter, 10 Tanker , 5 Healer. Dan pasukan yang telah kuhidupkan kemabsli sebagai Shadow Army ada sekitar 300 orang yang terdiri dari 50 kavaleri, 100 infantri, 50 paladin, 50 spell Caster, 30 pemanah, dan 20 tipe assassin. Semuanya muat ke dalam bayanganku.


"Gen." Tiba-tiba Alice memanggil namaku.


Alice mendatangiku dengan wajah yang membuatku berpikir "waduh".


"Kuserahkan yang disini kepadamu. Aku tak akan lama." Kataku. Aku memegangi tangan Alice. Dengan cepat dia memelukku.


"Kau harus kembali. Dan disaat anak ini lahir, berikanlah dia nama. Kalau kau tidak selamat aku pasti akan membunuhmu." Kata Alice. Air matanya mulai menetes. Tunggu dulu, Buat apa dibunuh kalau sudah mati?


"Aku tidak bisa janji. Tapi aku akan mengusahakannya. Kuberikan kau ini." Jawabku. Itu satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan. Realistis dan penuh tanggung jawab.


"Apa ini?" Tanya Alice. Kampret! Yah jelas itu anting-anting merah berbentuk belah ketupat sama cincin! Pake nanya lagi....


"Di dunia nyata aku belum pernah membelikan mu cincin pertunangan. Meskipun sudah terlambat aku tetap ingin memberikannya. Bukan berarti aku memaafkanmu. Tapi ini sebuah tanda terima kasih karena telah mendampingi hidupku ini yang penuh dengan kejahatan." Kataku. Dan itu jujur.


"Jangan mengatakan kalimat seperti kalimat perpisahan. Dasar suami bodoh!" Kata Alice. Ok kali ini dia makin erat memelukku. Aku hampir tercekik.


"Jaga Yuna. Tolong." Kataku. Mungkin Dimata Alice wajahku pasti seperti anak kecil yang memohon.

__ADS_1


"Baik. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Jawabnya.


Kami pun keluar dari gerbang. Riza dan Jenghis memakai wujud rohnya. Akan berbahaya jika membawa Slave dalam keadaan nyata. Perang Mitologi tidak pandang bulu memilih Ousama agar panggung peperangan menjadi meriah.


Baru 3 km menjauh dari gerbang aku sudah dikepung oleh 12 pemain. Mereka sepertinya PK (Player Kill). Sudah wajar jika di server ini banyak orang berbahaya. Tapi aku herannya kenapa baru sekarang? Seingatku ketika bermain TSO, daerah ini tak pernah ada PK. Jangankan PK bahkan 1 pemain pun tidak ada. Mereka terlalu takut untuk terkena death pinalty untuk melawan 2 World Boss yang menjaga wilayah laut. Atau mungkin karena World Boss sekarang sudah tidak ada lagi para pemain mendapat peluang mengeksplor tempat ini? Meskipun bersalju, tempat ini dipenuhi item-item langka dan SDA yang melimpah. Karena itu aku memberikan wilayah ini kepada Alice.


"Wah buruan kita kali ini hanya satu." Kata salah pemain yang ada di belakangku. Dari penampilannya sepertinya dia berasal dari Server FPS (First Person Shooter ). Levelnya sekitar 56.


"Jangan lengah. Siapa yang tahu kalau dia ternyata pemain berlevel tinggi." Kata temannya yang memiliki ras Dwarf. Levelnya sekitar 48.


Apakah saya perlu yang menanganinya? Tanya Jenghis Khan. Sepertinya dia sudah tidak tahan dengan keadaan yang memaksanya untuk berperang.


Lakukan sesukamu. Jawabku.


Jenghis pun menampakkan wujudnya. Wajahnya sudah haus akan perang. Para pemain yang mengepung kami terkejut dan kaget. "Bukan berarti menambah satu wanita kau bisa menang!" Kata pemain yang menaiki serigala yang besarnya sebesar sapi. pemain tersebut mulai menyerang menggunakan serigalanya. Dengan mudah Jenghis menahan serigala itu dengan tangan kirinya.


"Mustahil! Serigala itu berlevel 66! Di tahan hanya menggunakan 1 tangan..." Kata salah satu pemain.


Jenghis langsung melempar serigala tersebut hingga terpental sejauh 5 meter. Si pemain FPS langsung mengarahkan senapan M4A1 kearah Jenghis dan menembaknya. Jenghis dengan mudahnya menangkis peluru-peluru itu dengan mudah.


Pemain dengan Dwarf mencoba membalas dendam tapi usahanya sia-sia. Sebelum si Dwarf memukul Jenghis dengan palu besarnya, Jenghis memotong Kedua pergelangan tangan si Dwarf. "Tidaaaaaakkk!!! Tanganku!" Jerit si pemain Dwarf. Jenghis mengambil palu milik si Dwarf dan memukulkannya kepada Dwarf itu hingga mati. Bahkan tepat di kepalanya.


"Dia bahkan tidak ragu dalam membunuh....." Kata Salah satu pemain yang ternyata adalah Spell Caster.


"Kau seorang penyihir ya? Kalau kau ingin merapal katalis aku akan menunggu." Kata Jenghis. Wajahnya yang awalnya cantik menawan menjadi cantik kejam. Untuk spell Caster atau magic Caster yang berlevel di bawah 95 masih harus merapal bait-bait katalis nya.


"Fi-Fi-Fireball!!" Si Pemain Spellcaster melemparkan bola api seukuran bola basket ke arah Jenghis. Ledakan terjadi. Membuat salju-salju berserakan dan mengenai wajahku.


"Apakah berhasil?" Kata si pemain Spellcaster.


"Tentu saja tidak. Terima kasih sudah mencoba." Kata Jenghis yang sudah ada di belakangnya. Jenghis menusuknya hingga tembus ke ulu hatinya. Jelas itu sangat telak.


"Selanjutnya siapa?" Tanya Jenghis mengibaskan tangannya yang berlumuran darah.

__ADS_1


"Bagaimana bisa pemain dengan Class : Monk membunuh Spellcaster dengan mudah?! Apakah dia menggunakan item cheat?!" Kata si penyihir support yang ternyata seorang wanita.


"Woi cepat lakukan sesuatu!!? Dasar Healer tidak berguna!!" Perintah Pemain yang ternyata seorang kesatria. Sepertinya Healer itu terpaksa ikut dengan mereka untuk mencegat kami. Aku tidak bisa mengalahkannya. Class : Healer selalu dimanfaatkan habis-habisan karena sedikitnya fitur-fitur untuk menyerang dan mereka begitu langka.


Salju tertutup dengan tumpukan mayat dan rembesan darah. 11 pemain terbunuh hanya dengan tangan kosong. Tersisa si Healer. Jenghis sudah mencekiknya hingga sekarat.


"Cukup, Jenghis." Perintahku. Jenghis pun menurunkannya. Kulempar tubuhnya dengan potion agar HP pulih.


"Jawab pertanyaanku. Apa yang kalian lakukan di tempat bersalju seperti ini? Dan bagaimana kalian tahu tentang tempat ini?" Ya. Yang tahu tempat bersalju disini hanyalah anggota Apocalypse. Jika mereka para pemain biasa sampai tahu pasti ada salah satu anggota yang memberitahu dan membocorkan informasi.


Kata si pemain Healer dia dipaksa mengikuti party mereka karena diancam akan dibunuh dan jika berhasil dia akan diberi upah yang setimpal. Katanya siapa yang bisa membunuh penguasa dataran es ini akan diberi item cheat dan bisa keluar dari game ini. Dan aku tahu dalang dari semua ini. Envy.


"Apakah yang memberi tahumu adalah seorang elf berambut pirang panjang?" Tanyaku.


"Bukan. Seorang pemain dengan pakaian militer berkulit hitam yang memberitahu kami. Tapi aku tidak mempercayainya. Sekalipun dia memiliki item cheat untuk pergi dari game TSO kenapa dia tidak menggunakannya jika bisa." Jawabnya. Mungkin Envy menggunakan wujud pemain yang ia bunuh sebelumnya. Dia benar, Item Cheat tetap memiliki batasan kemampuan.


"Jika aku melepaskanmu, apa yang akan kaulakukan?" Tanyaku.


"Aku sudah tidak bisa kembali. Party awalku yang menjualku kepada mereka karena takut dibunuh. Jika aku kembali hidup-hidup maka aku akan diincar lagi." Jawabnya sambil mengusap air matanya.


"Kuberi kau ini. Tapi sebagai gantinya kau harus bekerja sebagai tabib kerajaan. Tabib kerajaanku sudah sangat tua, kedua ratuku disana sedang mengandung. Bisakah kau menjaga mereka dan membantu mereka dalam persalinan?" Kataku. Aku memberinya sekantong diamond. totalnya sekitar 20 diamond


Wanita itu tidak hanya berterima kasih tapi juga membungkuk kepadaku. "Saya akan mengabdi kepada anda tuan, selamanya. Saya akan melakukan yang terbaik." Katanya karena saking bahagianya.


"Bawa ini kepada Ratu Alice. Dia akan paham maksudnya. Siapa namamu?"Aku memberinya sepucuk surat.


"Elizabeth." katanya. aku mengangguk lalu Kuteleport Healer tersebut ke kerajaan.


"Kau yakin? Aku tetap belum bisa mempercayainya." Riza menampakkan dirinya.


"Jika dia berniat berkhianat. Maka aku sendiri yang akan menghabisinya. Tanpa rasa sakit." Kataku.


"Anda sangat baik ternyata." Kata Jenghis.

__ADS_1


"Aku hanya tidak tega melihat orang yang senasib dengan diriku yang dulu." Jawabku.


"Oh iya. Hasil jarahan kali ini lumayan." Kubangkitkan ke 11 pemain yang tadi terbunuh menjadi Shadow Army.


__ADS_2