Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Hunter vs Magic Caster (Bagian II)


__ADS_3

Sebagai tipe pemain dengan Job Class Magic Caster sudah sangat logis dan jelas mengambil keputusan untuk menghindari pertarungan seperti ini. Tapi aku sedang membawa satu nyawa lagi disini. Jelas aku juga harus melindunginya juga. Aku memutuskan untuk menggendong Naava untuk membawanya ke atas pohon untuk bersembunyi.


Aku pun memeriksa keberadaan Killhunger melalui map. Sudah jelas dia menyembunyikan hawa dan keberadaannya dari map. Tapi setidaknya dia tidak tahu dimana kami bersembunyi. Aku menonaktifkan zirah Obsidian Gydra agar hawa keberadaan kami berkurang.


"Setidaknya kita aman untuk sementara ini." Kataku memeriksa keadaan. Aku memeriksa Naava yang sepertinya sedang ketakutan. Kampret, padahal dia sempat membentakku tadi untuk berterima kasih.


"Woi mana semangat bertarungmu tadi?" Tanyaku bersandar di pohon. Naava memandangiku seolah aku ini adalah monster. Matanya memperlihatkan hawa ketakutan. Mulutnya bergetar dan hampir tidak bisa membalas perkataanku tadi.


"Ya, tentu saja aku ketakutan. Dia adalah pembunuh bayaran yang pernah kukatakan kepadamu. Dan aku diberi misi dari para dewan untuk menangkapnya." Suaranya melemah. Yah aku sudah menduganya.


"Aku tidak menyangka bakal secepat ini. Oh iya, jika kau ingin menangkapnya lalu kenapa kau malah yang ketakutan?" Tanyaku.


"Itu....-itu karena..." Naava kemudian memeluk dirinya sendiri.


"Yang diinginkan oleh pembunuh bayaran itu adalah aku." Kata Naava dengan suara bergetar. Ok, kali ini giliranku yang tidak bisa berkata-kata. Sepertinya nasib Naava sama seperti dengan Drago. Dikirim dan dibuang dengan alasan politik.


"Negaramu membuangmu sebagai kompensasi kedamaian. Karena itu kau berniat untuk menangkap pembunuh itu agar kau bisa pulang." Naava pun akhirnya menangis meskipun dia tahan.


"Karena aku terlahir dengan kekuatan spesial dan memiliki kulit yang sangat berbeda diantara bangsaku sendiri. Aku sering diasingkan dan diacuhkan oleh masyarakat dan bangsawan. Bahkan orang tuaku sendiri. Kakakku juga begitu membenciku dan sangat mengacuhkanku. Hari-hariku makin bertambah buruk ketika banyak kasus pembunuhan diantara bangsawan. Sudah banyak diantara mereka yang terbunuh. Dan di setiap pembunuhan si pembunuh memberi ancaman berupa barter. Dia akan berhenti membunuh jika aku diasingkan keluar kerajaan. Tanpa sidang dan mendengar pendapatku, para dewan membuangku begitu saja. Akhirnya aku belajar bagaimana bisa bertahan hidup selama beberapa tahun terakhir. Kemudian aku bertekad untuk menangkap pembunuh itu agar aku bisa pulang. Karena itu aku menjadi keras kepala, dingin, dan kasar."


Benar-benar cerita yang menyedihkan. Tapi setidaknya tidak lebih menyedihkan dari punyaku. Lengang cukup lama setelah Naava bercerita.

__ADS_1


"Jadi begitu. Kalau aku boleh bertanya, kekuatan spesial apa yang kau maksud?" Tanyaku penasaran. Tiba-tiba muncul satu prajurit roh berwarna emas di belakang Naava. Jadi ini yang dimaksud. Kemampuan ini juga tidak ada di TSO bahkan untuk sub job class : Necromancer yang biasa menggunakan zombie dan skeleton untuk menyerang musuh menggunakan dark magic skill.


"Aku bisa memanggil roh orang mati dan membuatnya menjadi sekutuku. Karena itu aku dijauhi. Aku sempat tidak sengaja membangkitkan beberapa roh dari kuburan prajurit di kerajaanku sehingga membuat teman-teman masa kecilku ketakutan. Ini salah satunya." Jelas Naava. Jika ini kemampuan spesial yang dibicarakan Naava, apa untungnya bagi Killhunger?


"Kemampuan Necromancer." Kataku memastikan. Walaupun di TSO, Necromancer adalah pengguna dark magic skill. Aku baru pertama kalinya Necromancer yang menggunakan Holy magic skill untuk membuat tentara bidak.


"Itu benar." Kata seseorang di seberang pohon.


Dan itu adalah Killhunger.


"Kemampuannya sebagai manusia bahkan untuk kalangan pribumi sangatlah abnormal. Dia bahkan lebih mirip pemain..., tidak, malah mirip Slave." Jelas Killhunger. Naava langsung memeluk salah satu lenganku. Entah itu reflek atau reaksi dari rasa takutnya.


"Lalu apa? kau ingin memperalatnya?" Tanyaku sedikit mengintimidasi. Aku membuka sekitar 2 portal Treasure Of Babylon untuk berjaga-jaga.


"Kil, apa untungnya kau membuat kekacauan disini? Kau bahkan membocorkan informasi keberadaan kepulauan ini, Memicu monster kaiju di sini, bahkan hampir melakukan pembunuhan terhadap salah satu tetua 5 klan besar. Kalau aku melihat dari segi manapun, itu tidak ada untungnya bagimu. Apa sebenarnya tujuanmu." Aku ingin tahu apa tujuan sebenarnya dari semua kekacauan ini. Dan kuncinya ada di Killhunger. Meskipun dia tidak memiliki motif yang jelas atas dasar apa dia melakukan semua ini.


Setelah mendengar pertanyaanku bukannya menjawabnya, Killhunger malah tertawa lepas dengan sangat keras. Sampai-sampai semua burung terbang menjauh ketakutan dari pohon-pohon hutan.


"Ternyata setelah melarikan diri dari Apocalypse kau menjadi bertambah bodoh. Baiklah akan kuberitahu. Jawabannya adalah semuanya ada padamu, Valon. Itu jawabannya." Jawab Killhunger. Lagi-lagi jawaban samar-samar. Aku cukup muak mendengarnya.


"Karena itu aku akan mengakhirinya. Oh iya aku hampir lupa. Kepalamu sangatlah mahal tuan putri. Akan sangat disayangkan kalau aku melewatkannya." Sniper Killhunger terarah kepada kami berdua. Naava semakin ketakutan. Aku dapat merasakan detak jantungnya karena dadanya menempel terlalu erat ke lenganku. Apa yang dia maksud "ada padaku"?!

__ADS_1


Aku langsung menggendong Naava dan melompat ke satu pohon ke pohon yang lain untuk menghindari tembakan mematikan dari Killhunger. Melawan senjata anti-magic sangatlah menjengkelkan sekaligus merepotkan.


Kami pun bersembunyi lagi. Kami bersembunyi di dalam semak yang lebat.


"Bersembunyi lagi? Sejak kapan kau menjadi sepengecut ini Valon?!!" Ejek Killhunger yang sedang berteriak ke segala arah.


"Naava? Naava?! Naava! Kau mendengarku? Dengar, ini kesempatan kita. Selagi dia tidak mengetahui lokasi kita bersembunyi." Kataku mencoba meyakinkan Naava.


"Aku tidak bisa... Aku terlalu takut untuk bergerak sendiri. Dia memiliki hawa membunuh yang sangat besar yang ia tujukan kepadaku. Aku serasa ingin mati ketika merasakannya." Kata Naava dengan pelan sambil meneteskan air mata.


"Ini bukan waktunya air mata. Mudah saja tugasmu cuma satu. Dengarkan aku." Aku pun memberitahu semua rencanaku agar Killhunger tidak akan sempat memakai peluru menyebalkan itu.


"Keluar kau Valon! Jika kau seperti ini maka akan aku ambil gelar best player darimu." Ancam Killhunger.


"Ambil saja kalau bisa." Kataku dari belakangnya. Karena terkejut, Killhunger langsung menembakkan snipernya kebelakangnya. Tapi dia tidak menemukanku di sana.


"Kau bahkan tidak bisa menembak pemain sedekat itu." Ejekku. Killhunger langsung mengganti magazine-nya untuk mengisi ulang pelurunya. Dari balik pepohonan keluar sekitar 3 pasukan roh yang dengan cepat melesat untuk menyerang Killhunger.


"Jadi ini rencanamu. Terlalu mudah!" Bentak Killhunger. Dia langsung menembak ketiga roh tersebut dengan mudah tanpa kendala sedikitpun. Ketiga prajurit itu langsung berubah menjadi kilauan emas seperti Slave yang menghilang.


"Ya, "terlalu mudah ya?" Mengantuk?" Ejekku menikam Killhunger dari belakang menggunakan pedang racun yang menembus zirah Armored Reog.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?..." Kata Killhunger menopeh ke arahku.


"Mungkin Armored Reog sangat resistant terhadap serangan fisik dan magic skill. Tapi tidak resistant terhadap racun. Serangan fisikku juga berlevel 100. Kau tidak mungkin bisa menyerap serangan dengan level sebesar itu." Kataku menarik pedangku dari tubuh Killhunger.


__ADS_2