
Obsidian Gydra menyerang Drago yang masih mengamuk seperti monster gila. "Jangan terlalu kasar padanya. Dia orang yang penting bagiku." Perintahku kepada Obsidian Gydra.
"Saya sebisa mungkin melakukan yang terbaik." Kata Obsidian Gydra menahan rahang Drago yang mencoba menggigitnya. Obsidian Gydra kemudian menggunakan kepala-kepala Hydra-nya untuk mendorong Drago mundur. Drago semakin menjadi-jadi dan mencoba mendorong Obsidian Gydra tapi dia tidak cukup kuat.
Melihat ada peluang untuk menyerang, Gydra memukul rahang Drago dengan sangat kencang hingga membuatnya terjatuh. Drago yang masih belum juga sadar makin mengamuk. Drago menyemburkan napas esnya kesegala arah. Ketika mulutnya terarah ke pemukiman Riza menyabet kepalanya dengan ekor naganya sehingga semburan es itu mengenai dataran tinggi terdekat dan membuatnya menjadi gunung Everest.
Lagi-lagi Drago berlari dan mengincar pemukiman lagi. Sekeras apapun kami menghalaunya, Drago tetap saja bangkit dan mengamuk. Apa yang sebenarnya yang menariknya ke arah pemukiman??
Gydra, tahan dia selama 2 menit. Kataku melalui sambungan empati.
Tanpa meragukanku sedikitpun, Obsidian Gydra langsung mendorong Drago menjauh dari pemukiman tepat ketika aku dan Naava keluar dari kristal pelindung di keningnya.
Aku langsung mengambil posisi menggendong Naava untuk persiapan mendarat dari ketinggian sekitar 200 meter.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Naava penasaran dengan sedikit heran.
"Ada sesuatu yang membuatku gemas." Jawabku singkat. Aku segera berlari menuju akademi. Aku kemudian berlari menuju ruangan dimana aku, Naava, dan Nishimiya hampir tertembak oleh Killhunger.
Aku pun menurunkan Naava dan mencari sesuatu di daerah sekitar tembakan itu. Aku sudah curiga dari awal kalau tembakan itu memang sengaja ditembakkan ke arah tembok. Aku pun mengambil sesuatu di dalam lubang bekas tembakan itu.
Sebuah peluru dengan aroma unik yang hanya bisa di cium oleh Kaiju.
"Ini yang memicunya agar tetap fokus ke daerah kota dan pemukiman." Kataku.
__ADS_1
"Apapun itu yang jelas itu bukan peluru biasa." Tanggap Naava.
"Pelurunya dibuat dengan racikan potion para pengguna Shikigami." Jelasku.
"Shikigami?" Naava sepertinya tidak paham apa yang kumaksud.
"Para magic caster pengguna roh utusan yang biasanya berupa monster. Biasanya mereka mempererat roh utusan mereka dengan bau unik seperti ini. Itu juga berlaku bagi Kaiju." Jelasku.
"Aku akan menjadi umpan dengan membawa peluru ini menjauh dari pemukiman. Jika tidak, kerusakan dari pemukiman akan mengeluarkan biaya yang sangat besar." Kataku keluar dari gedung.
"Itu bunuh diri!" Kata Naava menahan tanganku yang sedang menggenggam peluru.
"Biarkan pasukan roh milikku saja yang melakukannya. Kau tidak perlu sejauh itu. Kau ingin ambisimu dalam menaklukan kepulauan ini hanya sampai sini?!" Kata Naava memperingatkanku. Dia bahkan mengkhawatirkan orang sepertiku, gadis ini jelas sedang mabuk cinta kepadaku.
Diam-diam aku memerintahkan Jenghis membawa Naava. Dengan cepat menggunakan wujud roh, Jenghis menarik Naava untuk menjauh dariku. Aku pun segera berlari ketika tangan kami terlepas. Dari belakang aku mendengar jeritan Naava memanggilku. Tapi ini bukan saatnya untuk drama seperti itu.
Aku pun berhenti berlari ketika aku sudah berada di hutan. Dengan cepat Drago menyadari posisiku dan mulai menghiraukan Gydra. Aku langsung berlari dengan cepat melintasi pohon-pohon.
Setelah merasa cukup jauh aku pun menghentikan lariku. Diluar dugaan. Drago segera menyambarku menggunakan kaki depannya sehingga membuatku terlempar ke udara lepas. Drago pun membuka lebar-lebar mulutnya dan mencoba memasukkanku ke dalam mulutnya. Tapi dengan secepat kilat, Riza menangkapku dan membawaku pergi.
Apa yang kau pikirkan?! Menjadi cemilan kaiju?! Riza marah-marah melalui sambungan empati.
Mengetahui aku diselamatkan oleh Riza, Drago langsung melompat dan menangkap Riza yang masih terbang. Kaki depan Drago mencengkram tubuh Riza dan membuatnya kehilangan keseimbangan ketika terbang. Kedua monster itu pun jatuh ke tanah dengan sangat keras.
__ADS_1
Drago mencoba menangkapku lagi dengan kaki depannya. Drago menyisir tubuh Riza untuk menangkapku. Aku berusaha untuk menjauhkan Drago dari Riza dan mulai berlari kembali. Tapi aku kalah cepat dengan kaki depan Drago yang ternyata jaraknya memang sangat dekat denganku.
Aku pun tertangkap kembali. Kali ini Drago lebih berhati-hati. Dia mencoba memasukkanku ke dalam mulutnya dengan perlahan. Melihatku tertangkap, Riza melilitkan tubuhnya ke kaki depan Drago yang sedang mencoba memasukkanku ke dalam mulutnya.
Gerakannya sempat terhenti tapi tenaga Drago sepertinya lebih dari Riza. Meskipun pelan, Drago mencoba untuk memasukkanku. Tiba-tiba dari belakang Drago, Obsidian Gydra mencoba untuk menghentikannya dengan menggunakan 6 kepala Hydra-nya untuk menggigit dan melilit tubuh Drago.
2 monster ini mencoba menghentikan Drago untuk memasukkanku ke dalam mulutnya. Kali ini gerakan Drago benar-benar terhenti. Tiba-tiba Drago melepas cengkraman kaki depannya sehingga membuatku jatuh masuk ke dalam mulutnya. Akhirnya aku masuk ke dalam mulutnya. Sepertinya Riza yang melihatku masuk ke dalam mulut Drago langsung histeris.
Didalam mulut ternyata cukup bau. Aku tidak tahu apa saja yang dimakan oleh Drago akhir-akhir ini. Aku pun melempar peluru dengan aroma unik itu ke dalam saluran kerongkongannya yang mirip seperti lorong goa raksasa.
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan. Bukan teriakan monster tapi teriakan manusia. Suaranya menggema dari ujung saluran kerongkongan itu. Dari jenis teriakannya itu bukan teriakan kesakitan. Tapi kesedihan. Aku pun berjalan menyusuri kerongkongan Drago.
Mungkin dengan masuk ke dalam tubuhnya aku bisa mengembalikannya ke wujud manusianya. pijakanku makin lama makin menurun dan curam. Aku memutuskan untuk berselancar untuk mempersingkat waktu. Oh iya, jika kalian bertanya bagaimana rasanya di dalam tubuh Kaiju maka aku akan menjawabnya.
Bau, berlendir, dan menjijikkan. Hanya saja organ dalam Kaiju lebih ke berwarna hijau dan biru. Berbeda dengan manusia yang berwarna merah. Aku pun sampai di salah satu tempat organnya. Jika mengikuti anatomi pencernaan. Aku sepertinya sampai di bagian salah satu organ pengurai yaitu hati.
Jeritan itu pun makin jelas di sini. Aku pun mencoba mendekat dan menyentuhnya. tiba-tiba aku tersentak akibat serangan listrik dari hati itu.
"AKU TIDAK SALAH!!! KENAPA KALIAN BEGITU MEMBENCIKU?!!! APA YANG KUPERBUAT SEHINGGA KALIAN MENJAUHIKU??!!!!!" kali ini suara itu semakin kukenal. Itu suara Drago.
Tiba-tiba muncul monster-monster seukuran sapi. Wujud dan bentuk mereka mirip seperti reptil dinosaurus mutan. Jika didalam game mereka seperti sentinel pendamping Boss lantai dungeon.
"KENAPA?!!! AKU CUMA INGIN BERTEMAN DENGAN KALIAN!!!! KENAPA HANYA AKU?!!! KENAPA HANYA AKU YANG DIJAUHI???!!!!! AAAAAAAAAGGGHHHHHH!!!!" jerit Drago sekali lagi.
__ADS_1
"Baiklah Drago, kalau kau ingin curhat. maka sekarang saatnya. Karena aku ada disini untukmu." Kataku mengeluarkan 2 pedangku.