
(Sudut pandang : Tatsumaki Gen)
Envy yang sepertinya sudah sangat kangen dan rindu kepadaku mencoba memberiku salam dan pelukan. Dengan cara terjun bebas dari atas tembok Zulkarnaen dan menukik ke arahku dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku seolah melihat meteor ukuran mini mencoba menghantamku.
Ledakan sangat dahsyat terjadi mengakibatkan pihak istri-istriku terhempas mundur begitu juga dengan para Gog Magog. Mereka semua seperti gerombolan semut yang ditiup angin. Kepulan Debu pengepul membentuk awan jamur yang sangat besar.
"Tak akan kubiarkan kau bertindak lebih jauh lagi." Kata Athena yang ternyata sudah ada di depanku untuk melindungiku dari serangan menukik Envy tadi menggunakan pedangnya. Aku baru sadar kalau wujud yang dia pakai sekarang adalah wujud fisik milik Regila.
"Coba saja!" Tantang Envy dengan menyerang Athena dengan pola serangan Bicycle Kick dengan daya MP yang sangat besar. Tapi Athena bisa menahannya tanpa kendala. Serangan Bicycle Kick Envy membuat permukaan tanah hancur seperti kaca pecah dan itu diperparah dengan retakan yang semakin melebar.
Melihat ada celah dari serangan brutal Envy, Athena dengan kebijaksanaannya dalam seni berperang menangkap salah satu kaki Envy dan memutar-mutar tubuh Envy seperti karung beras dan membanting nya menjauh. Jarak pandangan kami sangatlah buruk jika kepulan asap ini dibiarkan.
"Athena." Aku memberi Athena isyarat.
"Baik tuanku." Dengan sekali kibasan pedangnya, Seluruh area sekitar yang tertutup kepulan asap menjadi bersih kembali.
"Bahkan setelah terluka melawan Kraven anda masih saja sekuat itu... Benar-benar diluar nalar." Kata Envy yang sepertinya mencoba memujiku.
"Kuanggap itu sebagai pujian untukku." Jawabku.
Melihat situasi dimana aku datang secara tiba-tiba membuat Envy sedikit panik. Karena tidak hanya segi jumlah, tapi dari segi kekuatan perang pihak Panthera sekarang jauh di atas mereka sekarang berkat Shadow army milikku. Kondisi seperti ini sangat cocok untuk berteater dan untuk manggung. Tanpa kusadari senyumku melebar dengan sendirinya.
"Mana rasa percaya dirimu tadi? Kau bahkan tampak sangat santai menghadapi Panthera tadinya." Kataku mencoba menyulut Envy. Setiap makhluk hidup akan sangat kebingungan ketika mereka merasakan ancaman dan rasa takut yang sangat tinggi. Mari kita manfaatkan insting bawaan itu menjadi sebuah pertunjukan.
"Tentu saja, kedatangan Paduka bergabung dengan Panthera sudah membuat perbedaan alur peperangan ini." Kata Envy. Perkataan itu membuatku terkekeh.
__ADS_1
"Bergabung? Dengan Panthera? Kau pikir kedatanganku kemari adalah untuk itu? Aku hanya pihak ketiga disini. Bahkan hubunganku dengan Panthera tidak lebih dari sekedar pernikahan politik dan itu pun belum terjadi." Jelasku. Aku yakin beberapa wajah dari pihak Panthera terkejut mendengar perkataanku ini. Salah satunya adalah Yuna yang mungkin sedang di bungkam oleh Alice sekarang ini sebelum dia mencoba untuk memprotes perkataanku tadi.
"Lalu untuk apa paduka kemari?" Tanya Envy.
"Alasan pribadi yang jelas. Alasanku kemari adalah karena kesalahanmu mencoba mengusikku. Kau mencoba menyentuh dan mengusik wanita-wanita yang sangat berharga bagiku 4 tahun lalu, membuat beberapa Slave-ku membelot, dan membuat beberapa bawahanku mati sia-sia. Maka dari itu aku akan membunuhmu dan satu-satunya penyesalan atas niatku itu adalah hanya bisa melakukannya sekali. Aku tidak ingin membuang MP-ku untuk anjing yang tidak patuh sepertimu." Kataku dengan tenang tapi penuh dengan penekanan dan intimidasi. Aura kegelapan ku bahkan sederas hujan badai.
Aku bisa melihat kedua kaki Envy yang bergetar setelah mendengar perkataanku tadi. Wajahnya pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin yang mengalir deras di wajahnya seperti mayat yang mengingat kembali cara bagaimana dia mati. Tapi juga aku bisa melihat sedikit kemarahan dari wajah Envy. Mungkin karena aku meremehkannya.
Aku pun menoleh ke arah Alice dan Yuna. Aku sangat lega dan bersyukur mereka baik-baik saja. Terlambat sedikit saja bisa bisa membuat mereka terbunuh.
"Selesaikan apa yang sudah kalian mulai." Kataku kepada mereka. Alice dan Yuna segera mengangguk dan segera berlari menuju ke tembok Zulkarnaen. Tapi Envy menghalangi mereka menggunakan magic skill : Wall Of Hell Flame, Magic skill yang membuat penggunanya untuk membuat tembok atau benteng yang terbuat dari api hitam setinggi 5 meter. Biasanya magic skill ini digunakan untuk mengulur waktu untuk kabur dari kejaran PK (Player Killer). tembok itu menghalangi Yuna dan Alice menuju ke tembok.
"Ifrit." Ucap ibu Miyuki yang berada di sampingku. Dengan ajaib tembok api hitam itu pun padam dan menghilang. Wadah Ifrit benar-benar ahlinya mengurusi masalah api.
"Lindungi mereka." perintahku kepada semua Shadow army-ku. Dengan begini mereka akan aman.
Envy mencoba kabur dariku tapi dengan cepat tubuhnya terikat oleh rantai surgawi.
"Takkan kubiarkan." Kata Enkidu yang terbang mendekatiku.
"Cukup lama juga." Kata Enki menyindir kedatangan heroik ku tadi.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bagian ini adalah milikku, kalian adalah tokoh utama Panthera sekarang. Beritahu yang masih selamat untuk membantu mereka berdua untuk menghancurkan tembok Zulkarnaen." Perintahku kepada Enkidu.
"Baik." Enkidu pun dengan cepat melesat pergi. Tapi rantai surgawi masih mengikat tubuh Envy.
__ADS_1
Ketika Kakakku Doya mencoba maju untuk menghabisi Envy. Terasa hawa yang sangat mengerikan. Hawa yang membuatku bernostalgia ketika terjebak di alam bawah sadarku sendiri selama 4 tahun ini. Dalam sekejap, Envy sudah hilang dari hadapanku.
"Doya mundur!" Kataku memperingati. Dengan cepat, Doya melompat mundur ke sampingku.
Siapa yang bisa lepas dari rantai surgawi, coba?! Dilihat dari Envy bereaksi ketika rantai itu mengikatnya sepertinya mustahil untuk bisa lepas dengan sendirinya. Siapa yang bisa melepaskannya?
"Saling membelakangi!" Seru Ibu Miyuki. Dengan cepat kami saling membelakangi. Kanan, kiri, atas, bawah, depan. Dari arah mana kau akan menyerang?
"Kau yakin tidak ingin menoleh ke belakang?" Kata seseorang dari belakang kami. Bagaimana bisa dia berada di belakang kami?!! Dengan reflek kami pun berpencar dan menjaga jarak.
Sosok pria berambut panjang berantakan seperti bulu landak berwarna putih dengan topeng serigala hitam dengan motif merah darah, memakai jubah hitam dengan lengan 3/4 yang memperlihatkan kedua tangannya yang diperban menggunakan kain putih sehingga hanya jari-jarinya saja yang terlihat, di setiap jarinya menumbuhkan cakar yang tajam, menggunakan pengencang pinggang berwarna abu-abu dan membawa semacam tongkat di kedua pinggangnya, bahkan tidak hanya tangan yang ia perban tetapi juga kedua kakinya, dan mengenakan sepasang sendal kayu anyaman. Tangan kanannya membopong Envy yang tidak sadarkan diri.
"Tenang saja. Aku kemari bukan untuk menyelamatkan wanita ini ataupun untuk bertarung melawan kalian. Aku hanya ingin memberi salam dan sedikit mengobrol." Kata pria itu. Ibu Miyuki dan Hisao segera merapat ke arahku untuk melindungiku.
Sepertinya pria ini berkata jujur. Aku bisa merasakan dari logat bicaranya. Aku pun menyentuh pundak ibu-ibuku untuk mundur.
"Lalu kenapa kau melepaskannya dari rantai surgawi?" Tanyaku. Terdapat jeda ketika pria bertopeng itu menjawab pertanyaanku.
"Alasan pribadi, itu saja. Untuk peperangan ini kami akan mengalah dan memberikan kemenangan ini kepada kalian. Kami akan mundur." Kata pria itu berjalan meninggalkan kami.
"Sebenarnya aku ingin berbicara secara pribadi denganmu, OVERLORD. Hanya saja di sini suasananya sangat tegang. Bukan tempat yang cocok untuk berbicara. Jika takdir mempertemukan kita kembali maka aku harap kita bisa berbicara secara personal." Pria bertopeng itu pun menghilang dibalik pepohonan hutan sambil membopong Envy bersamanya.
"Haruskah kita mengejarnya?" Tanya Ibu Hisao.
"Kurasa tidak. Dia benar. Kita lebih baik mengambil kemenangan ini untuk saat ini. Aku tidak mau melibatkan pihak Panthera ke dalam perangku lebih jauh daripada ini." Kataku.
__ADS_1