
(Sudut pandang : Naava)
Seketika aku memasang kuda-kuda bertarung melihat 2 wanita yang berada di balkon.
"Aku bahkan tidak mengenal kalian. Siapa kalian?" Tanyaku dengan penuh curiga.
"Apakah ayahmu tidak memberitahumu? Tentang kami?" Tanya wanita yang duduk diatas pembatas balkon. Aku mengerutkan alisku menandakan tidak mengerti apa yang kedua wanita itu maksud.
"Tidak. Apakah kau selingkuhannya?" Seketika kedua wanita itu tertawa. Cukup lama untuk menunggu mereka berhenti tertawa.
"Ya ampun, anak dari Afar benar-benar tahu caranya bercanda. Sayangnya ayahmu bukan seleraku. Lagipula kami mempunyai laki-laki yang kami cintai sendiri." Kata wanita yang bersandar di pembatas balkon.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanyaku. Aku masih memasang kuda-kuda. Si wanita yang bersandar di pembatas balkon melemparkan segulung kertas kekuningan kepadaku. Aku pun menangkapnya.
"Apa ini?" Tanyaku masih dengan perasaan curiga.
"Kenapa kau tidak membacanya?" Pinta si wanita yang bersandar di balkon. Aku pun membuka gulungan itu perlahan-lahan. Aku sempat curiga kalau gulungan ini adalah rune peledak tapi ternyata juga tidak meledak juga. Isi dari gulungan ini adalah sebuah perjanjian. Aku sangat yakin kalau ini benar-benar tulisan ayahku. Ketika membaca bait terakhir aku begitu tersentak dan terkejut.
"Ayah sialan!!!! Setelah kau mati kau menjual jiwa ragaku kepada dua wanita ini!!!!!!" Aku berteriak sekuat tenaga. Aku bersyukur tidak ada penjaga penginapan yang menyadarinya.
"Woi! Bagaimana bisa ada kesepakatan ini bisa terjadi?!! Aku bahkan belum sempat berkata setuju tentang hal ini!" Sergahku.
__ADS_1
"Ayahmu sempat bertemu kami berdua ketika dia belum menikah tepatnya saat masih menjadi pangeran. Ketika kalah dalam Veg ritueel dalam memperebutkan tahta, ayahmu sekarat dan diasingkan oleh sang pemenang. Dia mendapat banyak luka berat. Kebetulan kami bertemu di dekat gubuk dimana dia diasingkan. Dia memohon kepada kami untuk menyelamatkannya sebagai gantinya jika dia sudah meninggal dan memiliki seorang anak maka dia akan memberikannya kepada kami sebagai bayarannya. Sehingga tertulislah perjanjian itu. Karena itu ayahmu bisa mendapatkan tahta dan wanitavalias ibumu." Jelas dari wanita yang duduk di pembatas balkon. Setelah mendengar ceritanya aku menjadi jengkel dengan almarhum ayahku. Kenapa dia tidak menceritkanku tentang ini?!
Tapi aku berusaha untuk mengesampingkan hal itu.
"Ayahku memiliki 2 anak. Kenapa kau memilihku?" Tanyaku.
"Kakakmu orang yang membosankan. Terlalu terobsesi dengan tahta dan kekayaan dan dia juga seorang laki-laki murahan. Jika dibandingkan dengan dirimu yang memiliki pengalaman di dunia luar jelas kami lebih memilihmu untuk kami ambil."
"Siapa nama kalian?" Tanyaku sekali lagi.
"Oh iya aku hampir lupa. Namaku Hisao dan dia adalah saudariku Miyuki." Hisao memiliki rambut biru gelap dengan dikucir menyamping kepundak, mengenakan jaket putih dengan motif garis biru, dan yang membuatku heran Hisao hanya menutupi kakinya menggunakan semacam stoking hitam tanpa jari sehingga seluruh jari kakinya terlihat, umurnya sekitar 28 tahunan. Sedangkan Miyuki berambut hitam panjang dengan mata hitam dan memiliki beberapa corak di bawah matanya sehingga menambah kecantikannya, pakaian milik Miyuki jauh lebih tertutup karena menggunakan mantel putih dengan renda berwarna emas. Miyuki juga membawa sebuah pedang yang bentuknya mirip dengan pedang-pedang yang ada di kepulauan assassin. Miyuki terlihat seumuran dengan Hisao.
"Dan dengan memilikiku apa yang akan kalian lakukan kepada kerajaan Panthera ini? Kalian ingin menjadikanku boneka dalam memerintah Panthera ketika aku memenangkan Veg ritueel? " Tanyaku.
"Dan bagaimana aku bisa membantu kalian? Aku bahkan bukan tipe pelacak." Kataku.
"Kau memiliki kemampuan memanggil prajurit roh dalam jumlah tertentu sesuai kapasitas manna-mu, dan jika kau menang melawan Chad kau bisa mengerahkan seluruh Sumber Daya Manusia dan potensi dari teknologi yang kalian miliki untuk mencari orang yang kami cari." Jawab Miyuki.
"Kau bisa saja menolak dan melawan kami. Tapi rune dari segel perjanjian itu akan membunuhmu dan mencabik-cabikmu hingga tidak tersisa." Padahal aku baru saja terbebas dari statusku sebagai pelarian kini aku harus berurusan dengan mereka karena masalah ayahku. Hidupku memang dipenuhi cobaan. Tapi kali ini lebih parah. Kematian instan.
"Baiklah kalau begitu. Siapa yang ingin kalian cari? Pejabat? Raja? atau bahkan buronan untuk dibunuh?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kami mencari anak kami." Kata mereka berbarengan.
Aku seketika seperti tertembak sniper tepat di dadaku tanpa peringatan.
"Baiklah Naava kami akan berterus terang kepadamu. Kami adalah Alter begitu juga anak kami. Tapi kami terpisah ketika melakukan perjalanan dimensi. Kami masih berharap bisa bertemu dengannya bahwa dia juga ada di dunia ini juga. Kami berharap dengan teknologi yang dimiliki Panthera bisa memberikan kami harapan agar kami bisa bertemu kembali dengan anak kami." Jelas Miyuki. Entah itu suatu kebohongan atau tidak tapi aku merasa begitu terkejut mendengar penjelasan Miyuki. Aku bahkan sampai kesulitan menelan ludahku sendiri. Miyuki seketika meneteskan air mata. Aku tahu air mata apa itu? Air mata rindu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Tunggu sebentar?! Alter?! Apa yang kalian bicarakan?" Aku sempat mengangkat suaraku.
"Alter adalah manusia yang terpilih untuk dipindah dari satu dunia ke dunia lain. Biasanya mereka di pindah karena berbagai alasan. Kami adalah salah satunya. Kami bukan berasal dari sini atau lebih tepatnya dari semesta ini." Jelas Hisao. Aku masih sulit untuk menerima perkataan dan penjelasan dari Hisao tapi aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan detailnya apalagi menanyakannya. Tapi Hisao bisa menebak apa yang ada dipikiranku.
"Kau pasti tahun dewa-dewi Olympus, Nordik, dan Shinto. Pahlawan-pahlawan besar seperti Perseus, Achilles, dan Arthuria Pendragon." Mendengar nama-nama tadi disebutkan membuatku semakin penasaran.
"Tentu saja. Mereka adalah roh legenda yang dipanggil untuk perang mitologi." Jawabku.
"Itu semua berasal dari dunia lain, Naava. Dunia dimana semua dunia berasal. Dunia Prime. Karena itu kalian hanya bisa memanggil wujud rohnya saja dalam perang mitologi. Dan mereka semua sudah mati. Mereka hanyalah roh." Seketika semuanya menjadi masuk akal. Itu kenapa alasan ketika Gata mati dia mengatakan "kehidupan keduaku".
Hisao kemudian memeluk Miyuki untuk menenangkannya. "Kami sudah mencarinya dan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi kami tidak menemukannya. Panthera satu-satunya harapan kami, Naava. Jika bukan karena perjanjian yang dibuat ayahmu kami akan bersujud dan membungkuk untuk memintamu dalam mencarinya." Kata Hisao. Aku semakin tidak enakan dengan mereka berdua. Jika aku diposisi mereka aku juga akan melakukan hal yang sama. Memohon dan membungkuk meminta bantuan. Aku pun menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Kulakukan beberapa kali hingga tenang.
"Baiklah, aku akan membantu kalian semaksimal mungkin. Tapi untuk saat ini kalian harus bersabar sedikit lagi. Jika aku berhasil memenangkan Veg ritueel melawan Chad aku akan membantu kalian." Aku berharap kata-kataku bisa memberi mereka sedikit harapan.
Tidak ada badai tidak ada guntur sebuah gemuruh dengan suara keras dan gempa bumi terjadi secara bersamaan. Dalam sekian detik tanah berguncang seperti ombak air laut. Aku, Hisao, dan Miyuki terjatuh ke lantai. Barang-barang di dalam penginapan menjadi berantakan dan tidak karuan. Hisao dan Miyuki segera melihat ke arah luar balkon dan mereka terpana melihat apa yang mereka lihat. Aku pun berjalan ke balkon dan melihat apa yang telah terjadi. Ternyata sesuatu yang diluar nalar dan akal sehat manusia.
__ADS_1
"Apa?!!! Bagaimana bisa?!!! Bukit setinggi sekitar 3500 meter bergeser hingga menabrak tabir....."
Sebuah Bukit raksasa yang seharusnya berjarak sekitar 2 km dari pelindung barrier kerajaan menjadi bergeser seperti kerikil dan menabrak barrier.