
(Sudut Pandang : Naava)
Tepat beberapa centimeter dari batang leherku aku menangkap ujung tombak Chad menggunakan tangan kiriku. Benar-benar tindakan gegabah tapi bayarannya termasuk murah dibandingkan dengan nyawa. Darah dari telapak tangan kiriku keluar begitu deras seperti air mancur. Chad yang mengetahui serangan tusukannya dihentikan segera mendorong tombaknya untuk menusuk tenggorokanku.
Dengan reflek, aku bergeser sedikit ke kiri sehingga tombak yang seharusnya menancap di batang tenggorokanku tertancap di tanah. Aku dengan segera memukul ujung tombak Chad sehingga mata tombaknya terpisah dengan batangnya menggunakan tangan kiriku. Kutendang Chad untuk mendorongnya mundur menuju ke tengah arena. Sambil menahan rasa nyeri dan perih yang luar biasa sakit aku berusaha untuk berdiri dan segera menjauh dari tepi jurang.
"Hoo....akhirnya kau merusak kedua tombakku. Mari kita pakai cara lain, adu tonjok." Chad membuang batang tombaknya dan memasang posisi kuda-kuda.
"Oh, kedengarannya seperti permainan yang menyenangkan." Aku pun juga memasang posisi kuda-kuda dan berjalan mendekati Chad. Kami pun mulai adu tonjok. Tapi anehnya kami bertarung tidak seperti pejuang tapi lebih mirip seperti perkelahian antar saudara.
Karena kedua tanganku terluka parah aku hanya bisa menggunakan kedua kakiku sebagai senjata dan itu menjadi keunggulan Chad. Chad dari tadi mengincar lukaku untuk dia pukul dan hantam. Tapi aku dengan sempoyongan berhasil menghindarinya.
"Kenapa? Yang bisa kau lakukan hanya menghindar?" Ejek Chad. Dengan cepatnya, Chad berhasil meraih dan menarik lenganku. Chad dengan sekuat tenaga memukul bahu kananku. Darahku memancar begitu deras dan mulai membasahi pakaianku.
"Cih! Sakit tahu!!!!!" Dengan reflek aku menggunakan tungkakku untuk menginjak jari kaki Chad sekencang-kencangnya. Chad pun melompat-lompat kesakitan. Aku mendengar suara tulang patah ketika menginjak jari kaki Chad. Kuambil mengambil kesempatan itu dan menyerang Chad dengan menendangnya hingga terjungkal ke tanah. Tidak sampai di situ, kujatuhkan diriku ke atas tubuh Chad dan menggigit daun telinga bagian kanan milik Chad hingga lepas. Chad menjerit dan melolong kesakitan.
"Wanita berengsek! Menjauh dariku!" Chad mendorongku hingga aku tersungkur kembali ke dekat jurang. Chad mengusap daun telinga kanannya yang sudah rusak karena kugigit. Chad pun mengambil mata tombak yang kutendang tadi. Dia berencana menggorok leherku selagi tangannya masih utuh.
Aku pun membalik tubuhku ke posisi tengkurap. Aku melihat sesuatu didekat kepalaku. Chad mulai berjalan mendekatiku. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang mendekat.
"Aku akui usahamu dalam membunuhku di ritual ini benar-benar luar biasa. Tapi sayangnya kau harus berakhir disini. Tak akan kubiarkan kau mati cepat kupastikan kau mati dengan sangat menderita. Akan aku potong setiap kaki dan tanganmu satu per satu dan menggorok....!" Leher Chad tiba-tiba mengucurkan darah yang sangat deras. Kutebas leher Chad menggunakan mata tombak yang tertancap di tepi jurang tadi dan menebaskannya. Karena kedua tanganku sudah mengucurkan banyak darah maka aku menggunakan mulut dan dan gigiku untuk menarik dan menebaskan mata tombak tersebut.
"Be-be-breng-ss-sek!!!" Bahkan untuk mengucapkan satu kata "brengsek" Chad begitu kesulitan. Sepertinya aku melewatkan pita suaranya. Chad memegangi lehernya yang tertebas yang sepertinya cukup dalam.
__ADS_1
"Katakan selamat tinggal, Chad." Aku menjatuhkan mata tombak ysng kugigit. Kepalaku mulai pusing. Aku kehabisan waktu tapi sebelum kehilangan kesadaran dan terjatuh aku melihat Chad juga terjatuh ke dalam jurang. Kami jatuh secara bersamaan dan di saat itu aku memejamkan mataku yang berat.
...****************...
Aku pun membuka mataku perlahan-lahan. Seingatku aku berada di arena dan sekarang.... Aku berada di sebuah kamar. Kamar lamaku sebelum aku dibuang oleh Chad. Seketika aku tersentak dan bangun dari ranjangku. Di kamar ada 1 dayang yang ada dikamarku. Aku juga mulai merasakan nyeri dan perih di bahu kanan dan telapak tangan kiriku. Aku melihat bahu kananku yang terbalut perban dan tangan kiriku yang juga terbungkus perban putih.
Sekarang aku baru ingat. Aku pingsan ketika ditengah-tengah pertarungan. Salah satu dayang yang masih muda yang juga adalah temanku yang menyadari diriku yang sudah bangun segera menghampiri ranjangku.
"Tuan putri? Syukurlah anda sudah bangun. Sudah sehari semalam anda tidak sadarkan diri." kata dayang muda tersebut. Namanya adalah Mahari. Ayahnya adalah salah satu prajurit Panthera dan ibunya juga seorang dayang sepertinya. Jadi tidak mengherankan kalau dia juga menjadi dayang di istana.
"Selama itu aku tidak sadarkan diri?! Ya ampun..." Kataku memegangi kepalaku.
"Anda hampir kehilangan 1/5 dari total darah anda. Jadi sangat wajar anda merasakan pusing dan lemas. Itu termasuk bayaran yang anda tebus untuk membuat kakak anda kalah dari Veg ritueel." Kata Mahari.
"Raja Chad terjatuh ke dalam ngarai. presentase beliau bisa selamat adalah 0%." Ternyata benar dugaanku. Aku tidak menduga dan menyangka kalau aku yang akan membunuhnya.
"Jadi begitu. Dengan begini aku menjadi seorang Ratu Panthera." Kataku.
"Mengenai upacara pemberian mahkota akan dilakukan ketika anda sembuh." Mahari menyentuh tanganku dengan lembut.
"Tangan anda sekarang menjadi kasar ya. Pasti cukup berat berada di dunia luar." Kata Mahari. Aku terkekeh mendengarnya.
"Ya, sangat. Tapi Mahari, dari 2 tahun aku berada di dunia luar aku berhasil menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin tidak akan datang 2 kali." Kataku.
__ADS_1
"Pembunuh bayaran yang anda bawa kemari saat pertama kali datang kemari?" Tanya Mahari. Aku ingin menjitaknya karena dia tidak peka sama sekali tapi melihat wajahnya yang mengekspresikan bahwa dia benar-benar tidak tahu maka aku mengurungkan niatku.
"Eh iya itu juga. Tapi ada satu lagi. Yaitu..." Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Mahari dengan tepat melengkapinya.
"Cinta pandangan pertama anda?" Tebak Mahari dengan ekspresi terkejut.
"Iya, bisa dibilang begitu." Jawabku.
"Saya tidak menyangka anda akan menemukannya di luar. Itu kabar bagus. Usia anda juga sudah cukup dewasa untuk menikah. Dengan begini calon penerus kerajaan Panthera akan lahir. Dan aku akan menjadi orang yang menggendong anak anda. Aaaaah! benar-benar luar biasa!" Mendengar perkataan Mahari membuat wajahku memerah dan malu setengah mati.
"Itu kejauhan!!!!! Apa yang kau pikirkan?!!" Kataku menjitak jidat Mahari. Mahari tertawa karena berhasil membuatku terlihat bodoh. Aku dan Mahari adalah sahabat sejak kami masih kecil. Jadi meskipun dia adalah seorang Dayang tapi ketika hanya kami berdua kami seperti saudari yang saling berbagi cerita. Kami pun bercanda dan saling bertukar cerita selama 2 tahun kami berpisah. Waktu menunjukkan sudah larut malam. Mahari pun segera pamit dan keluar dari kamarku.
Aku pun menggunakan kain bermotif untuk menutupi tubuh ku yang dibalut perban dan membuatnya seperti gaun kemudian keluar ke arah balkon dan menikmati malam yang indah. Bintang-bintang begitu cantik malam ini. Bulan juga sedang di fase purnamanya menambah keindahan langit Panthera. Di bawahnya aku melihat kota kerajaan Panthera yang sangat indah. Yang masih berkelap-kelip. Tapi tiba-tiba angin berhembus kencang menerpaku. Aku merasakan kehadiran seseorang. Tidak 3 orang. Aku segera berbalik kenggenggam karambit dan melihat ke dalam kamarku.
"Siapa disana?!" Bentakku. Tiba-tiba lampu kamar hidup secara tiba-tiba. Aku melihat Miyuki yang menggendong anak laki-laki seusiaku dan Hisao ysng berada disampingnya.
"Tenang, ini kami." Aku pun perlahan menurunkan karambitku. Aku menghembuskan napas berat.
"Bisakah kalian mengetuk pintu dengan sopan? Siapa juga anak yang kalian bawa itu?" Keluhku.
"Kami menemukannya di dekat Kuil Izanami. Dia sekarang dalam keadaan koma tapi masih hidup. Tangan kanannya terpotong. Kami membawanya kemari agar dia mendapatkan pengobatan." Miyuki menidurkannya di ranjangku. Seketika air mataku menetes deras melihat wajah anak iti. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin! Aku berlari menghampiri anak itu dan memeluknya erat-erat.
"Kau kenal dia?" Tanya Hisao penasaran dan heran melihatku.
__ADS_1
"Dia.......dia tunanganku." Jawabku lemas.