
(Sudut pandang : Tatsumaki Miyuki)
Kami memutuskan untuk pergi ke persembunyian kami. Semenjak kerajaan Panthera belum ada sebenarnya kami sudah ada disini dan kamilah pendirinya. Kami yang mengajari cara mengelola batu Oorvloed, mendirikan sistem pemerintahan monarki konstitusional, Bahkan cara bercocok tanam. Kami bahkan sempat hampir ingin dijadikan sebagai objek sesembahan tetapi kami menolaknya.
Kami meminta kepada raja Panthera pertama untuk merahasiakan keberadaan kami dan menulis sejarah palsu dimana kami berdua tidak ada di sana. Oh iya kenapa kami bisa hidup selama itu? Kami sendiri juga tidak mengetahuinya.
Tapi kami punya 2 teori :
Karena aliran waktu di dunia parallel ini berbeda dari dunia kami berasal. Bisa jadi hukum relativitas waktunya memiliki cara kerja yang berbeda sehingga kami tidak termakan oleh waktu dan umur.
Karena aku memiliki semacam khodam berupa iblis Ifrit dan untuk Hisao karena efek dari penggantian organ tubuh yang dilakukan oleh ayah Gen. Sehingga itu juga mempengaruhi lambat lajunya usia dan kondisi tubuh kami.
Kami pun sampai di sebuah pohon raksasa yang memiliki akar-akar yang sangat besar tetapi berongga. Kami pun mendekatinya dan masuk ke dalam rongga-rongga akar tersebut. Hisao membantuku untuk turun karena aku cukup kesulitan untuk turun sambil membawa anak kami.
Yup, ini salah satu persembunyian kami di Panthera. Di dalamnya terdapat 2 matras yang terbuat dari anyaman akar dan daun, 1 lemari kecil yang terbuat dari kayu, dan satu tungku api untuk memasak. Kami meletakkan tungku masak berada di ruangan baru yang kami gali sehingga tidak mengakibatkan kebakaran. Tinggi langit-langit hanya sekitar 1,8 meter jadi kami harus berhati-hati terhadap kepala kami.
Aku pun melepas mantel ku dan membaringkan Gen di matras ku. Aku membelai rambutnya yang sudah panjang dan tidak dipotong selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Hisao memegangi dan mengusap tangan kiri Gen.
"Mungkin salah satu penyebab nya adalah ini" Aku mengangkat tangan kanan Gen yang terpotong sampai tepat beberapa senti dibawah sikunya.
"Pendarahan hebat. Itu mengakibatkan Syok Hipovolemik. jantungnya tidak dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh akibat kehilangan lebih dari 15% volume darah atau cairan." Ujarku memangku kepala Gen di atas pahaku.
"Panthera mungkin berhasil menghentikan pendarahan dan menyuplai darahnya sehingga membuatnya bisa bertahan tapi tidak dengan mentalnya. Gen pasti mengalami sesuatu yang lain sehingga memicu penurunan kesadarannya hingga tahap koma." Ujar Hisao mengawasi daerah luar melalui celah-celah akar.
"Bagaimana kalau kita menambal jiwanya. Siapa tahu itu berhasil?" Ujarku mencoba menyarankan. Hisao dengan cepat menatapku dengan tatapan seolah dia tidak ingin melakukannya.
"Kau tahu apa yang terjadi ketika kita mencoba menambal sesuatu yang bisa saja memicu vacuum decay dalam skala multiverse?" Tanya Hisao dengan suara curiga.
"Kau mengatakan hal seperti itu kepada anak kita?!" Sergahku karena merasa tidak terima. Tapi bertengkar bukanlah solusinya saat ini.
"Ini mungkin keinginan seorang ibu yang egois yang mempertaruhkan seluruh realita kepada satu anak. Tapi setidaknya kita mencobanya. Untuk apa kita mencarinya selama ribuan tahun terakhir ini?" Ucapku.
Hisao kemudian meraup wajahnya dan menghembuskan napas beratnya.
"Kau menangis aku tidak akan membantumu." Ujar Hisao dengan galak. Kuusap air mataku kemudian mengangguk.
"Siapa yang akan masuk untuk melihat jiwanya?" Tanyaku.
"Kita. Secara bersamaan." Jawab Hisao. Aku pun mengangguk. Ku bentuk lingkaran sihir berwarna merah darah dan bersinar yang melingkup kami menggunakan kekuatan Ifrit. Aku pun berpegangan tangan dengan Hisao. Kusentuh kepala Gen menggunakan tanganku yang satunya.
"Siap?" Tanyaku. Hisao sudah tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa menjawab dengan mengangguk. Kurapal mantra menggunakan bahasa Akkadia kemudian kami merasakan mual dan tubuh kami tersedot ke sebuah portal yang terbentuk di kepala Gen.
Sensasinya mengingatkanku ketika bagaimana kami bisa menyasar ke dunia parallel ini. Mual, pusing, perut terasa penuh, dan sangat sulit untuk bergerak seolah waktu membeku diantara kami. Sensasi yang memuakkan. Kami serasa jatuh ke dalam ngarai tak berdasar yang sangat gelap.
"Kelam banget jiwa anak ini." Ujarku.
__ADS_1
"Yah bagaimana tidak? pertama dia lahir membawa sumbu kiamat, kedua siapa ayahnya... " Aku hanya bisa tersenyum mendengar fakta yang dikemukakan oleh Hisao.
Tak lama kemudian aku melihat genangan lumpur hitam kemerahan yang menyala-nyala tepat di bawah kami. Kugunakan kekuatan apiku untuk memperhalus pendaratan kami sehingga tidak terjadi crash landing. Lautan Lumpur ini sangat luas bahkan seluas mata memandang. Tidak ada ujungnya.
Satu-satunya pencahayaan alami yang ada disini hanyalah berasal dari cahaya lumpur ini. Lumpur ini juga merendam kami hingga ke lutut kami.
"Ih!... " Ujar Hisao dengan jijik.
"Jadi ini isi dalam jiwa Gen. Kenji benar-benar menanamkan sesuatu yang sangat mengerikan kepada anak kita." Aku melihat ke arah langit yang sangat gelap gulita.
"Tak kusangka ada juga manusia yang berani kemari untuk melihat neraka." Ujar seseorang dengan suara yang menggema. Kami pun berposisi siap siaga untuk bertarung.
"Di belakang kalian." Ujar suara tersebut. Kami pun menoleh secara perlahan. Yang kulihat adalah sesosok pria berambut merah darah dengan potongan mohawk jagger, memiliki telinga runcing, menggunakan anting berwarna perak, wajahnya dipenuhi tato yang sama seperti Gen tapi postur wajahnya tidak seperti Gen, pupil matanya sangat indah berwarna merah, memakai pakaian yukata hitam yang sepertinya kekecilan untuk nya karena tangannya tidak muat di dalamnya sehingga tampak penuh, memakai haori berwarna biru tua, memakai Obi (sabuk yukata) berwarna abu-abu dengan motif bunga sakura, pria itu juga memakai syal putih yang sudah koyak dan kusam. Dan untuk alas kakinya adalah menggunakan tabi berwarna putih yang sudah terkenal bercak darah dan waraji. Pria itu duduk di sebuah kuil kecil. Aku heran darimana dia muncul padahal sebelumnya ketika kami datang pria dengan kuil ini tidak ada. Apakah muncul dari Lumpur ini?
Kami sangat waspada karena aura dari orang ini sangatlah kuat dan mengerikan.
"Hoo...seorang wanita wadah ifrit dan satu lagi seorang wanita pengguna organ dari bangsa Invest. Kombinasi yang unik sekaligus menarik. Tak kusangka anakku berinkarnasi dari rahim kalian berdua. Yah memang seharusnya begitu." Bahkan untuk pertama kali melihat Pria itu langsung tahu.
"Informasimu lengkap sekali ya. Apakah kau melihat dari bocah kami ini?" Tanya Hisao.
"Lumpur hitam ini merekam semuanya sehingga aku bisa menonton nya. Lihatlah." Tiba-tiba lumpur dibawah kami beriak dan memunculkan kejadian-kejadian sebelum kami berpindah ke dunia parallel ini. Aku sempat mengira kalau itu ilusi tapi setelah melihat kejadiannya sangat sama dengan yang kualami aku menjadi percaya.
"Kau juga sepertinya juga sangat paham cara kerja tempat ini. Aku punya 2 pertanyaan. Siapa kau? dan dimana anak kami?" Tanyaku masih dengan waspada.
Pria itu pun berdiri. Haori-nya terlepas dari pundaknya, Yukata-nya juga terbuka. Alasan kenapa yukata-nya tampak kekecilan bukan karena tubuhnya tapi karena jumlah tangan yang tersembunyi di balik yukata-nya yaitu 4 lengan. Tubuhnya dipenuhi luka-luka bekas peperangan dan tato.
"Seorang berlengan 4....dengan mengenakan pakaian Jepang. Kau jangan-jangan.... " Ucapku dengan terbata-bata.
"Ryomen Sukuna...." Lanjut ku.
__ADS_1
(karikatur asli Ryomen Sukuna.)