
(Sudut pandang : Yuna)
Ini berbeda dari saat aku bertarung dengan Wrath di Ibukota Blizzard. Tidaknya hanya serangannya saja yang fatal tapi kecepatan bergeraknya juga semakin gila. Tapi aku masih bisa mengimbanginya walaupun Wrath masih bisa memberiku beberapa luka lecet di pinggang dan lenganku.
Mungkin jika dari jauh pertarungan kami terlihat seperti kelap-kelipnya cahaya karena saking cepatnya kami. Bahkan kami hampir menyusuri seluruh medan pertempuran.
Kami pun meluncur lurus membelah area peperangan dengan kecepatan meluncur kami dan terkunci karena adu fisik. Benar-benar kuat. Kami pun saling terpental akibat besarnya ledakan energi manna yang kami benturkan.
"Kau benar-benar berbeda dari saat kita pertama kali bertemu. Tapi hasilnya akan tetap sama. Kau akan berada dibawah mencium tanah." Wrath mengeluarkan dan memusatkan energi manna miliknya ke tangan kanannya sehingga membentuk konsentrasi manna berbentuk seperti bayangan kepala harimau.
"Aku tidak akan mengulanginya!" Kuputar tombak ku sehingga mengakibatkan distorsi kecil di sekitarku. Ku pusatkan energi manna-ku pada ujung tombakku lalu kuhunuskan ke arah Wrath berbenturan dengan tangannya. Ledakan konsentrasi manna terjadi begitu dahsyat bahkan sampai membuat kawah berdiameter 30 meter. Aku juga sempat melihat beberapa pasukan Gog Magog dan pasukan Panthera yang terlempar karena ledakan itu.
Tapi tepat setelah cahaya ledakan itu meredup, Wrath memanfaatkan momen itu untuk mencengkram wajahku dan membenturkan kepalaku ke permukaan tanah dan menyeretku hingga beberapa meter.
Rambutku terasa dijambak sangat kuat karena Seretan tersebut. Sangat sulit melepaskan cengkramannya. Ku tendang Wrath di bagian kepalanya tapi itu juga tidak berhasil karena aku baru ingat kalau tubuhnya sudah dilapisi berlian. Tapi ada satu tempat yang tidak dilindungi oleh lapisan berlian. Ya, bagian bola matanya. Kugunakan gak sepatuku untuk mencolok nya. Darah pun berceceran dari mata kanan Wrath dengan sangat deras. Wrath baru melepaskan cengkramannya dari wajahku dan terjatuh sementara itu aku masih terseret beberapa meter.
Kami sama-sama berantakan. Wrath masih melolong dan berteriak karena kesakitan akibat aku membutakan salah satu matanya. Bahkan kepala bagian belakangku terasa botak karena seretan Wrath tadi. Wajahku juga terdapat beberapa luka sayatan kecil karena cengkraman Wrath.
"Kau baik-baik saja, Gadis kecil?" Kata seorang wanita yang ada di belakangku. Aku pun menoleh ke belakangku untuk memastikan siapa yang ada di belakangku. Ternyata Olivia yang sedang menusukkan tombaknya yang entah itu dia dapat darimana untuk melubangi dahi salah satu Gog Magog. Kuludahkan darah yang ada di mulutku dan mengusap sudut bibirku yang terdapat darah yang mengalir.
"Kau senggang sampai-sampai menanyaiku dengan pertanyaan sarkas itu? Jika begitu lebih baik buat dirimu berguna." Kataku dengan nada sarkastik.
"Berupa bantuan?" Tanya Olivia menendang kepala Gog Magog yang mencoba menyerangku dari sisi butaku.
"Peka juga kau." Olivia mengulurkan tangannya untuk membantu berdiri. Aku pun menerima uluran tangannya dan berdiri meskipun sedikit goyang.
__ADS_1
"Rambut belakangmu pitak tuh." Kata Olivia memberitahu informasi yang tidak penting bagiku.
"Berisik." balasku cepat-cepat. Aku pun pulih dengan sendirinya. Pakaian dewata ku pun ku perbaiki kembali menggunakan manna alam.
Kupanggil kembali tombak dan pedang ku yang kutinggal karena terseret oleh Wrath. Pedang dan tombakku kembali ke kedua tanganku.
"Aku sebenarnya sudah punya ide untuk menghabisinya. Tapi aku kekurangan orang. Kau tidak bisa menolaknya." Kataku menatap Olivia. Olivia yang menatapku balik tersenyum jahil.
"Persetan. Apa rencanamu? Kakak akan dengarkan." Ujar Olivia dengan nada gemulai yang masih sama seperti pertama kali kami bertemu dan itu membuatku sebal.
Aku membisikkan rencanaku ke telinga Olivia. Olivia tampak sangat antusias akan ideku.
"Dasar makhluk kelas rendah! Kau akan membayarnya!" Cerca Wrath mengucek matanya yang berlubang karena tendangan ku tadi. Tapi dengan sangat cepat matanya kembali seperti semula. Seperti yang diharapkan dari makhluk ciptaan dari Tuan Gen. Benar-benar kuat.
"Mudah saja, Olivia. Lakukan bagianmu." Kataku menjaringkan jariku kedua tanganku dan membentuk semacam pose.
Olivia menyerang Wrath dengan serangan hunusan tombaknya. Aku menyarankannya untuk mengincar mata Wrath karena hanya bola matanya saja yang tidak terlindungi oleh lapisan berlian.
"Trik yang sama tidak akan mempan lagi kepadaku!" Dengan sangat efisien, Wrath menangkap tombak Olivia dan memotong pangkal mata tombaknya dan melemparnya ke udara. Dengan gerakan yang sangat lihai Wrath menendang Olivia hingga terhempas di dekatku. Mata tombak yang terlempar di udara pun ditangkap oleh Wrath dan melemparkannya ke arah Olivia. Tepat mengenai telapak tangannya dan tembus menancap ke tanah.
"Kenapa? Katanya punya rencana? Kuakui kalian memang cermat mengetahui kelemahanku. Tapi kalian tidak punya cukup kekuatan untuk merealisasikannya." Kata Wrath berjalan mendekati kami berdua.
"Sudah kubilang ini tidak berhasil. Teorimu saja yang terdengar manis ditelinga." Keluh Olivia mencoba mencabut mata tombak yang menembus telapak tangannya.
"Magic Skill : Hell flame." setelah Olivia merapalnya. Tubuh Wrath terbakar dengan api hitam tapi itu tidak memberikannya kerusakan sedikitpun. Wrath pun tertawa begitu keras.
__ADS_1
"Serius?! efeknya tidak mungkin sekecil itu!" Kataku mencoba mengejek Olivia.
"manna ku habis, jenius!" Cecar Olivia.
"Menjijikkan sekali melihat makhluk kelas rendah seperti kalian berputus asa. Sudah saatnya untuk mengakhirinya." Kata Wrath. Mantap dia di dalam jangkauanku.
"Kokina Tochi!" Semuanya menjadi gelap. Gelap gulita. Yang terlihat hanya aku dan Wrath saja. Dalam sekejap mata, ruang hampa gelap tersebut berubah. Air mulai naik hingga membasahi lutut kami yang juga membawa ribuan keping kelopak bunga Sakura, tanah pijakanku mulai membentuk sebuah gundukan sehingga membuatku terangkat dari air yang membasahi kakiku. Tanah gundukan tersebut membentuk ukiran sendiri dan membentuk sebuah kuil berukuran 3 x 4 meter yang menaungiku. Tetesan air turun dan mengeluarkan riak di permukaan air, mengeluarkan bunyi sebuah lonceng kecil yang berdenting.
"Apa-apaan ini?!" Wrath cukup panik karena tiba-tiba tempat pertempuran kami berubah.
"Kau bersamaku di kegelapan malam yang abadi. Dimana hanya menemukan keindahan bintang-bintang dan bulan purnama tiada henti. Aku akan menemanimu sebagai pelindung dan janji. Malam bulan Purnama abadi." Tepat setelah aku merapalnya, obor- obor di sekitar kuil menjadi hidup dengan api biru yang sangat terang. Dalam sekejap mata juga, bulan purnama muncul dengan cahayanya yang terang.
"Yah, senang melihat makhluk yang menghina makhluk kelas rendah seperti kami terjebak dengan strategi konyol seperti ini." Kataku dengan nada mengejek Wrath.
"Sialan...!" Cerca Wrath.
"Mari kita lihat apakah lapisan berlianmu itu bisa bertahan dari ini!" Ledakan api biru terang tepat dibawah Wrath meledak dengan dahsyat. Membakar Wrath dengan sangat dahsyat. Kali ini aku tidak akan menahan diri.
Wrath berteriak kesakitan. Saking dahsyatnya membuat Wrath tidak bisa bergerak sedikitpun.
"BRENGSEK!!!!!!!! INI TIDAK MUNGKIN!!!!! TIDAK MUNGKIN AKU DIKALAHKAN OLEH MAKHLUK KELAS RENDAH SEPERTI DEMI-SLAVE DAN SEORANG GADIS MANUSIA!!!!!!! INI TIDAK MUNGKIN TERJADI!!!!!!! " Itu teriakan terakhir sebelum aku akhirnya mematikan api biru yang membakarnya. Tepat setelah api nya meredup, Tubuh Wrath menjadi semerah api dan mulai mencair hingga tidak berbentuk seperti Berlian mentah.
Kami pun kembali ke tempat semula.
"Sepertinya berhasil ya." Kata Olivia yang sudah bisa berdiri kembali meskipun hanya bisa bertarung dengan satu tangan saja dan memegangi magic item : Scroll Phone nya.
__ADS_1
"Yah begitu lah. Tetap fokus dan jangan senang dulu. Peperangan masih berlangsung." Kataku. Baru selesai aku berbicara ketika aku menoleh ke arah Olivia sudah tertusuk banyak sekali tombak dari segala arah oleh pasukan Gog Magog yang membuatku sangat syok.