Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Datang Dengan Niat Perang


__ADS_3

Sementara itu di Ibukota Blizzard.


(4 tahun kemudian setelah melahirkan)


(Sudut pandang : Alice)


Ginga dan Charlotte tumbuh dengan cepat, bahkan sekarang sudah bisa membuka Babylon Treasure walaupun hanya beberapa portal saja. Sedangkan Charlotte belum bisa membuka satupun Babylon Treasure. Tapi Charlotte tidak iri dengan apa yang tidak dia miliki. Dia bukan tipe orang pencemburu.


Kami sedang main di taman istana. Dimana Yuna menyatakan cintanya kepada Valon. Charlotte melemparkan sebuah apel ke atas tapi dengan cepat Ginga melemparkan pisau dari portal Babylon Treasure miliknya sehingga membuat apel itu terbelah.


"Hei!" protes Charlotte. Charlotte memungut kedua potongan apel itu dan memakannya dengan wajah kecut.


"Ups, jangan marah Charlotte. Aku berusaha membantu. Itu terlalu besar untukmu." Kata Ginga dengan angkuh. Sifat angkuhnya sama dengan ayahnya.


Ginga kemudian menembakkan beberapa pisau ke pohon apel di dekatnya untuk dijadikan tangga. Dengan sangat lincah dan gesit, Ginga memanjat pohon apel tersebut dengan sangat mudah menggunakan pisau-pisau yang tertancap sebagai pijakan. Ketika berusaha untuk memetik salah satu apel sebuah pisau melesat mengenai tangkai apel tersebut sehingga apel tersebut jatuh. Pisau itu yang digunakan Ginga untuk memotong apel milik Charlotte. Charlotte-lah yang melemparkannya.


"Hei!" protes Ginga.


"Maaf kak. Itu terlalu besar untukmu." Apel itu jatuh di tangan Charlotte. Dan sifat pendendamnya juga mirip dengan ayahnya. Meskipun mereka tampak tidak akur mereka termasuk dekat dalam hal bersaudara dan saling menjaga satu sama lain. Melihat mereka bertingkah selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Ginga memiliki wajah sama sepertiku dengan mata merah dan rambut emas dengan gaya rambut berdiri.


Sedangkan Charlotte memiliki wajah yang sama seperti Valon, berambut emas pucat atau bisa disebut krem dengan warna mata ungu. Aku pun melihat indikator waktu di status. Sudah waktunya Ikaris dan Olivia kembali. Tidak hanya itu, dibelakang mereka terdapat sekitar 5-6 wanita dengan pakaian hitam dengan pola garis berwarna putih. Desain pakaian mereka seperti assassin dengan campuran pakaian orang-orang timur tengah. Mereka adalah anak-anak panti asuhan yang Olivia rawat. Melalui kesepakatan dan perjanjian yang ada, sebagai ganti kerusakan kerajaan Olivia dan anak-anak panti akan mengabdi kepada Valon. Karena kekurangan pasukan, aku memerintahkan para slave Valon untuk melatih mereka.


"Apakah kalian sudah menemukan lokasi Valon?" Tanyaku.


"Kami sudah mencarinya hingga ke perbatasan Dynasty api dan Bumi. Hasilnya nihil. Kami tidak menemukan apapun." Jelas Ikaris.


"Aneh. Jika Valon mati para slave seharusnya sudah menghilang karena tidak ada suplai manna. Tapi kita juga tidak bisa melacaknya melalui aliran manna miliknya." Datang satu lagi wanita assassin yang menghadapku.

__ADS_1


"Tuan putri. Saya memberi kabar baik sekaligus kabar buruk." Bagus sekali. Kabar buruk dan kabar baik datang secara bersamaan.


"Apa kabar buruknya?" Tanyaku.


"Kami menemukan genangan darah yang memiliki kandungan manna yang begitu besar dan juga ini." Tangan assassin itu menggenggam sepercak kain yang yang berlumuran darah. Aku memberikannya kepada Ikaris untuk ia periksa. Seketika Ikaris membelalak.


"Ini bau darah master." Katanya.


"Dan itu adalah kain yang digunakan oleh Kraven untuk mengikat kepalanya." Kataku ketus. Bagaimana bisa dia menghianati kami dan memihak kepada Envy?


"Dimana kau menemukannya?" Tanyaku.


"Kuil Izanami. Kami cukup kesulitan, tersesat, dan keluar masuk berkali-kali selama 4 tahun disana sehingga memerlukan waktu yang begitu lama untuk menyelidikinya." Jelas si wanita assassin itu.


"Begitu ya. Ikaris, kau pernah bilang kalau Valon sempat memiliki hubungan dengan seorang Putri Panthera kan?" Tanyaku.


"Kalau begitu, persiapkan seluruh pasukan. Kita akan berperang melawan Negeri Netral Panthera. Kita jemput tuan kita." Ginga dan Charlotte pun berjalan mendekati kami. Para assassin segera memeluk Ginga dan Charlotte. Sepertinya mereka sudah tidak tahan. Aku juga tidak mempermasalahkannya. Karena mereka juga sering menjaga Charlotte dan Ginga selama aku mengurus Dynasty.


"YA AMPUN, IMUTNYA!!!! Anda merindukan saya, pangeran kecil?" Ginga bahkan sampai pucat karena terlalu kencang di peluk.


"Ki-ki-Kiiro!........Aku....bi...bisa....mati.....woi!!!!" Kata Ginga seperti orang kehabisan napas. Wajahnya bahkan sampai membiru.


"Kiiro di akan mati jika kau terus memeluknya seperti itu." Salah satu assassin mengingatkan. Kiiro adalah wanita berumur 16 tahun dengan rambut berwarna pirang panjang. dengan mata berwarna hitam. Ayah ibunya meninggal dalam perang. Kemampuan spesialnya adalah fisik dan kecepatannya yang luar biasa diluar nalar. Jika dinilai menggunakan level TSO, Kiiro berlevel 66.


"Ah maafkan aku, pangeran kecil." Kata Kiiro dengan menyesal.


"Apakah kalian akan pergi berperang?" tanya Ginga.

__ADS_1


"Kita belum tahu. Tapi kabar baiknya kami menemukan ayah kalian. Akhirnya kalian bisa bertemu dengannya." Jawabku.


"Ayah kami? Aku harap dia tidak membosankan." Aku terkekeh. Sifat bahkan seperti melihat Genta ketika di sekolah. Blak-blakan.


"Dark Order akan tetap disini untuk menjaga kedua anakku. Jika terjadi sesuatu kalian bisa menggunakan rune untuk kabur. Pastikan kalian tetap selamat. Aku ingin kalian tetap hidup sebagai hadiah untuk Valon, dimengerti?" Kataku. Semua Dark Order membungkuk menghormati.


"Dimengerti, tuan putri." Aku pun berlutut di depan Ginga dan Charlotte.


"Turuti apa kata kakak-kakak kalian ketika dalam bahaya. Ibu tidak akan kembali dalam waktu dekat. Pastikan kalian menjaga satu sama lain. Jangan nakal dan jadilah anak yang baik." Aku pun mengecup kening mereka berdua. Mereka berdua mengangguk menurut.


Memang berat meninggalkan kedua anakku disituasi seperti ini. Aku bahkan jadi bingung harus bahagia atau sedih. Tapi satu hal yang pasti, aku akan membawa pulang, Genta.


"Ikaris bersiaplah untuk terbang, para slave sekalian, kalian ditunggu dihalaman depan istana. Perintahkan seluruh pasukan untuk bersiap untuk berperang dan tunggu aba-abaku. Kita bawa tuan kita pulang."


...****************...


(Sementara itu, di negeri Panthera)


Sudut pandang : Naava.


Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Pasti para dayang yang akan membersihkan kamarku.


"Tuan putri, bolehkah kami masuk?" Tanya salah satu dayang. Sebenarnya aku enggan mengizinkan mereka tapi mereka kemari bukan karena mereka ingin tapi memang sudah jadi tugas dan kewajiban mereka. Aku mau tak mau bangkit dari tidurku dan membukakan pintu.


"Bagaimana keadaan tunangan anda, tuan putri? Apakah dia sudah membaik?" Tanya dayang yang paling tua. Sebenarnya selama 4 tahun dia tidak meresepon apapun. Ucapan, gerakan, apapun. Yang bisa dia lakukan hanyalah bangun membuka matanya, berkata "a", dan juga mengunyah makanan. Benar-benar hancur.


Kini rambutnya menghitam dan bertambah panjang seperti bulu landak, tangan kanannya hilang terpotong. Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk mengembalikannya kembali. Apa yang sebenarnya terjadi?!!! Apa yang sebenarnya terjadi padamu.....Gen.

__ADS_1


__ADS_2