
(Sudut pandang : Tatsumaki Gen.)
Kami pun masuk ke lubang dimensi itu dan tiba-tiba kami terteleport di udara. Kedua ibuku sibuk berteriak sedangkan aku malah menengok ke belakangku yang dimana sekitar 5 km dari jarak kami terdapat gunung sangat besar dan tinggi. Apakah itu gunung Olympus? Aku pun melihat ke arah ibuku yang mencoba memanggilku tetapi suara mereka kalah dengan suara udara yang bergesekan sehingga membuat suara mereka tidak terdengar.
Aku pun melihat ke atas karena kami jatuh dengan posisi kepala mengarah ke bawah. Aku melihat ada pulau kecil yang bisa kami jadikan untuk tempat mendarat. Aku pun berpikir untuk menggunakan item itu karena sudah lama aku tidak menggunakannya. Tapi apakah itu tidak terkena pinalty dari event tantangan dari Olympus ini? Coba saja lah.
Kubuka console-ku lalu memilih item dari inventory-ku. Aku pun menggambil item tersebut dan melemparkannya ke arah pulau kecil tersebut. item itu pun menancap di salah satu bebatuan di pulau itu. Aku dengan cepat mengaktifkan fungsi item itu kemudian dengan secepat kilat aku berteleport di tempat item itu.
Kedua ibuku masih berada diatas langit. Dengan sigap ku lempar item itu lagi ke arah mereka. Pertama aku menyelamatkan ibu Miyuki lalu men-teleportkannya ke pulau. Aku melempar item itu lagi ke ibu Hisao sehingga aku bisa berteleport kepadanya lalu melemparkan kembali item itu ke pulau sehingga kami bisa mendarat dengan aman.
Teleport dengan menggunakan item meninggalkan efek distorsi percikan api dan bara-bara api di pakaian. Yah bagaimana lagi, fungsi dari item ini mirip seperti Black Hole dan ketika diaktifkan efeknya seperti Fungsi worm hole (lubang cacing) yang terdapat di lubang hitam berfungsi seperti lipatan kertas tersebut dan menjadikan jarak yang jauh menjadi lebih dekat. Seperti black hole dan lubang cacing dalam teori fisika. Dengan kecepatan membengkokkan ruang dan waktu seperti itu pasti akan menciptakan percikan walaupun kecil sehingga cukup wajar meninggalkan efek percikan api dan bara api.
"Kalian baik-baik saja?" Tanyaku.
"Setelah napasku teratur. Ya kami baik-baik saja. Cuma sedikit mual." Ujar Hisao yang bersandar di salah satu bebatuan.
"Maaf jika aku harus menggunakan ini." Ujarku.
"Rasa mual seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan harga nyawa kami. Kau menyelamatkan kami." Miyuki memujiku tapi seketika dia muntah di balik bebatuan. Astaga...se dahsyat itu kah efek dari berteleportasi dengan menggunakan konsep hukum fisika?! Ya sudah lah...
Setelah mereka mengatasi mual dan napas mereka, kedua ibuku segera duduk di atas pasir pantai. Aku menjelaskan alasan dibalik kami bisa diseret ke alam para dewa-dewi Yunani kuno ini. Dan mereka tidak menyangkalnya. Seolah itu sesuatu yang wajar walaupun bagiku tidak. Kenapa selalu saja ada makhluk mitologi yang mencari gara-gara denganku?! Kemudian semuanya terjawab ketika ibuku menjelaskan alasannya.
__ADS_1
"Alasannya cukup mudah nak. Semuanya ada pada Kenji. Alasan Kenji menikahi kami itulah yang menjadi kunci balas dendamnya kepada para Dewa bahkan kepada para primordial, nak. Dia menggabungkan 5 DNA wanita yang berasal dari berbagai macam latar dan kekuatan untuk membuatmu. Sehingga kau bisa dijadikan sebagai wadah dari lumpur hitam itu. Karena tidak ada jaminan jika anak dari wadah sebelumnya bisa menampung lumpur itu. Dia berharap dengan dirimu lahir kau bisa membalaskan dendamnya. Mungkin karena itu juga para makhluk mitologi banyak yang tertarik untuk mengundangmu sebagai tamu." Jelas Miyuki. Jadi itu alasannya. Tapi entah kenapa aku tidak merasa marah sedikit pun.
Wajah kedua ibuku sempat cemas karena melihatku diam.
"Kau marah, Gen?" Tanya ibu Hisao yang tampak khawatir akan kondisi ku saat ini.
"Tidak. Lagipula ayahku sudah mati. Cukup buruk jika aku marah kepadanya padahal dia adalah alasan kenapa aku bisa ada...... Jadi itu alasan aku bisa ada....menjadi alat balas dendam hasil ego orangtuaku sendiri......." Ujarku dengan tersenyum.
"Lagipula wasiat dan warisan orang tua....harus dituntaskan, bukan?" Kedua ibuku melihatku dengan sangat mengerikan seolah wajahku adalah mimik horror yang sangat menakutkan.
"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Akhirnya hidupku yang datar dan kosong bisa memiliki arti. Sekarang aku mengerti. Jadi karena itu aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan itu di kehidupan ini. Karena tidak ada alasannya. Sekarang aku memilikinya!!!!!" manna gelapku meledak secara drastis bahkan sampai membentuk pilar yang menembus langit.
"Jika memang alasanku ada untuk mereset ulang tatanan banyak alam semesta maka seluruh tatanan alam semesta ini harus hancur. Termasuk dengan para sutradara yang ada di dalamnya." Gumamku. Aura kegelapanku pun surut. Dengan cepat aku melompat ke arah kedua ibuku untuk memeluk mereka.
"Kalau memang begitu Gen. Aku punya satu wasiat lagi untukmu. Jadilah dirimu sendiri juga. Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku memang tidak bisa memberimu masa kecil yang menyenangkan atau pun kasih sayang sebagai orang tuamu. Tapi jangan lupa, kalau kami juga menginginkanmu untuk bisa bahagia juga. Jadi kumohon, jangan lupakan kebahagiaanmu juga. Kau memang pantas mendapatkan apa yang sudah menjadi hakmu." Kata ibu Miyuki dengan wajah serius. Entah kenapa wajah seriusnya membuatku merasa ngeri. Apakah karena aku berasal darah dagingnya sehingga aku bisa merasakan ketakutan itu.
"Lakukan apapun yang harus kau lakukan dan yang kau inginkan." Ujar Ibu Hisao dengan tersenyum mengusap rambutku.
"Meskipun langit dan bumi bersekutu untuk menghalangimu. Tidak ada yang bisa menghentikanmu." Ucap Ibu Hisao dan Miyuki secara bersamaan. Aku dan kedua ibuku pun berpelukan kembali. Setelah seluruh Apocalypse ku lenyapkan banyak yang harus kulakukan. Sepertinya PR ku kali ini cukup banyak.
Aku kemudian merasakan aura dewata yang sangat kuat dari puncak Olympus. Bahkan aku bisa mendengar mereka. Dari bawah sini aku bahkan bisa melihat mereka. Mungkin karena efek mata Dharma ku.
__ADS_1
8 dewa Olympus berbaris di sebuah balkon istana yang sangat luas.
"Undangan kita telah di penuhi oleh sosok yang kita panggil. Bersiaplah saudara-saudariku, Anak-anak ku. Karena saat ini lah dimana kita membersihkan nama Olympus dari penista sebelumnya. Naik kan panji-panji Olympus, angkat senjata-senjata kalian, persiapkan diri kalian baik itu hati dan mental kalian. Untuk menghadapi sang OVERLORD." Ujar seorang wanita dari balkon istana tersebut.
Aku bisa melihat setiap dewa mulai terjun dari gunung Olympus. Apollo dan Artemis melompat menuju ke atas kereta perang mereka. Hades melompat dengan menunggangi Cerberus, anjing berkepala tiga. Hermes dengan sepatu sayapnya melompat dan berlari dengan pijakan yang kemiringannya 90 derajat ke bawah. Demeter membuat lintasan seluncur kebawah menggunakan akar-akar pohon untuk berseluncur turun. Athena berjalan mundur dan menjauhi balkon, sepertinya dia lebih memilih lewat tangga daripada harus melompat dari gunung Olympus dengan gaya yang nyentrik. Tersisa Poseidon dan satu wanita berambut pirang yang berada di atas balkon.
Poseidon pun mengangguk ke arah wanita berambut pirang itu lalu melompat langsung dengan menukik ke bawah. Dengan kecepatan tinggi, Poseidon pun menceburkan dirinya ke laut. bekas dia mencebur meninggalkan riak berupa tsunami.
"Tsunami?!! Dia berencana menenggelamkan kita sebelum perang?!" Dengan cepat ibu Miyuki mengetahui situasinya. Sangat sulit untuk pinalty berupa menyegel seluruh magic skill yang kupunya. Tapi Shadow army adalah skill bawaan, jadi aku bisa menggunakannya. Dan untuk lebih menghemat manna....
Aku menggunakan skill dari Fujin. Kugunakan barrier setengah lingkaran yang terbentuk dari udara dan angin yang putarannya ku per padat. Meskipun tidak seefektif Violet Barrier tapi setidaknya bisa masih bisa melindungi kami dari amukan ombak tsunami ini.
"Fujin." Aku memerintahkan Fujin untuk mengambil alih pengendalian barrier kepadanya. Aku pun menggunakan teleportasi melalui skill bawaan dari shadow army yaitu perjalanan bayangan. Kami pun tenggelam ke dalam bayangan lalu muncul kembali di tempat lain.
"Nah ini teleport yang enak." Ujar ibu Miyuki dengan senang. Aku men teleport kami ke kaki gunung Olympus.
Tiba-tiba muncul monster raksasa dari permukaan laut yang sangat besar. Monster itu mirip dengan tubuh naga Riza hanya saja lebih besar. Monster dengan bentuk humanoid naga laut berwarna hijau lumut dengan pinggang ke bawah berupa ekor ular yang bersirip. Dia atas monster itu terdapat Poseidon yang membawa trisulanya menungganginya. Poseidon berdiri bersedekap di atas kepalanya.
"Waktumu telah tiba, OVERLORD." Ujar Poseidon. Poseidon berpenampilan seperti pria paruh baya, berjenggot lebat abu-abu, memakai pakaian perang dengan motif karang dan kerang dan menggunakan pakaian terusan seperti perenang berwarna biru gelap, berambut panjang dan bergelombang, tubuhnya besar dan berotot. Di masing-masing kaki bawahnya terdapat semacam sirip dan tidak beralas kaki.
"Serius Poseidon?! Kau menggunakan Cetus untuk melawan ku?!! Bagaimana kalau kita satu lawan satu?" Aku mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Tidak ada yang adil dalam peperangan. Yang ada hanyalah Menang atau Kalah!! Epíthesi tou!" (Serang dia!) Monster Cetus pun menyemburkan air laut dengan kecepatan tinggi ke arah kami bertiga.