
Jadi Envy, Regila, dan Smith hanya mengulur waktu agar aku tetap di kepulauan Assassin. Begitu juga dengan Killhunger. Sementara mereka mengulur waktu, Ibukota Blizzard kutub Utara di gempur habis-habisan oleh para anggota Apocalypse. Tapi kenapa Kraven dan Yuna?
Jika mereka mau menjadikan mereka sandera, maka Kraven seharusnya membawa Alice juga. Tapi apa motif sebenarnya Kraven berkhianat? Dan Kenapa Envy begitu keras kepala dan selalu menggangguku? Kali ini dia benar-benar cari mati denganku.
"Gen?" Panggil Naava yang membuatku melepas lamunanku yang sepertinya cukup panjang. Aku pun menatap Naava lamat-lamat.
Ikaris, apakah kau bisa membebaskan Alice dari Barrier itu? Tanyaku melalui sambungan empati.
Barrier ini cukup sulit untuk dihancurkan. Karena saya belum terbiasa mendapat kekuatan dari master, sepertinya aku belum bisa menghancurkannya. Jawab Ikaris.
Begitu ya. Kalau begitu kembalilah ke kepulauan. Antar Naava ke Panthera. Aku tidak bisa melibatkannya lebih dari ini. Perintahku kepada Ikaris.
Dimengerti.
"Naava, sepertinya sudah waktunya kau kuberikan ini." Aku memberikan kotak besi berwarna kuning kehitaman dengan jeruji bergambar lingkaran sihir di setiap sisinya. Penjara Ranah empat sudut. Magic Item yang bisa mengurung segala bentuk dan segala level monster dan juga effect magic. Aku menciptakannya menggunakan Cheat Item : Big Bang dan Cheat Item : New Testament.
"Apa ini?" Tanyanya kebingungan.
"Bawa ini ke kerajaan Panthera. Dengan begini, kakakmu akan lengser dari tahta. Isi kotak ini adalah penjahat yang membuatmu berada di situasi sulit selama ini. Ikaris akan mengantarmu dengan aman." Jelasku. Tepat aku selesai bicara, Ikaris datang menggunakan teleport kilatnya.
"Tunggu? Apa yang sedang terjadi? Aku tidak mengerti?" Kebingungan Naava jelas tidak bisa kusalahkan. Ini sudah diluar perjanjian kami.
"Situasi berubah begitu cepat. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya. Dan aku tidak ingin melibatkanmu kedalamnya." Kataku membalikkan badanku.
"Kenapa kau selalu begini?! Selalu menanggung semuanya sendiri...." Kata Naava menarik lenganku.
__ADS_1
"Naava, terima kasih atas segalanya. Jika takdir mengizinkan kita untuk bertemu maka aku akan melamarmu saat itu juga. Aku janji. Ikaris bawa dia." Kataku.
Dengan cepat Ikaris memeluk Naava dari belakang kemudian berteleport ke Kerajaan Panthera. Sebelum sepenuhnya terteleport, Naava sempat menjerit dan memanggil namaku. Dan entah kenapa aku begitu senang mendengarnya. Ternyata orang sepertiku masih saja ada yang peduli kepadaku.
Tak akan kubiarkan ini terjadi. Aku segera berteleport ke check point yang sudah kutandai di map ibukota Blizzard menggunakan magic : teleport. Aku pun sampai. Tak kusangka kalau kehancurannya sampai separah ini. Istana yang kubangun dengan uang sungguhan sebesar 60 juta cash menjadi reruntuhan. Ditengah kepulan asap yang pekat aku melihat rune sebesar setengah istana. rune itu berbentuk kubah segi 4 berwarna ungu. Itu adalah Combine Skill yang sering kami pakai untuk melakukan PK di dungeon agar drop item tidak jatuh ke tangan party lain. Diperlukan sekitar 4 pemain berlevel minimal 90 untuk melakukannya.
Hampir mustahil menghancurkan kubah sebesar dan sekuat ini bahkan untuk ukuran pemain berlevel 100 sekalipun. Karena ini adalah Combine Skill maka mereka tidak perlu menggunakan MP untuk membuatnya. Sehingga percuma menunggu 4 pemain kehabisan MP mereka. Karena penghalang ini juga sudah berlevel 100, maka para pemain tidak perlu menjaga posisi mereka di 4 sudut berbeda untuk mengurung mereka.
"Ya ampun, lihat siapa yang datang." Kata seseorang dari arah kepulan asap. Seorang Kesatria mengenakan zirah berwarna putih mengkilat. Membawa perisai dengan motif kepala singa di tengahnya, dan pedang paladin di tangan kanannya. Armor itu bernama Great Protection. Armor yang hanya di dapat oleh pemain dengan kelas warrior yang menyelesaikan quest crusader (misi perang salib) Hingga selesai dan sendirian. Padahal ketika aku mencoba quest crusader aku selalu mati di chapter 5, yaitu pasca perang Hittin. Karena aku seorang magic caster maka aku bisa mengganti class-ku tanpa terkena pinalty.
"Kalian tidak perlu membuat keributan seperti ini jika ingin bertamu." Kataku.
"Justru bukannya disitu bagian menyenangkannya, Valon?" Katanya. Dari cara menyebut namaku sangat menjengkelkan.
"Penghianat Guild harus musnah dan hancur. Tak peduli dengan cara apapun itu. Bukankah itu peraturan yang dulu kita buat bersama." Kata dari pemain dengan ras Golem slime. Tubuhnya di bentuk di dalam armor khusus yang mirip dengan pakaian seperti peselam.
"Mukbang." Sapaku.
"Kau melupakan aku, kak Valon?" Kata suara wanita yang berada di samping kiriku. Wanita berambut putih dengan kucir ponitail. Bermata emas. Mengenakan pakaian militer. Dia menodongkan panahnya ke arahku. Busur X. Busur dengan Buff semua elemen di dalamnya. Wanita ini dulunya adalah pemain noob yang tak sengaja kutemukan ketika dia hampir di PK oleh teman party-nya sendiri. Dari senjata senjata jelas dia seorang Marksman.
Ras yang dia pakai adalah Spirit (roh). Kemampuan menembaknya setara dangan Killhunger.
"Serena. Jadi ini bayaranku setelah kuselamatkan dari party brengsekmu itu?" Kataku.
"Itu ya itu. Ini ya ini kak. Aku juga masih sakit hati lo ketika kakak menolak ajakan kencanku dengan alasan sudah menikah dengan si ****** Alice." Jelasnya.
__ADS_1
"Dengan kau terpancing kemari maka hanya ada kematian untukmu, pak ketua guild. Atau aku perlu menyebutmu mantan ketua guild." Kata seseorang dari belakangku. Sekarang pas 4 orang. Pemain dengan ras iblis. Berkepala kambing putih, dengan tanduk melengkung. Di mulutnya ditutup semacam penutup moncong yang sering dipasangkan kepada mulut anjing. Memakai zirah hitam dengan corak kuning emas, bertangan 4. 2 tangan membawa 1 kapak yang memiliki bilah berbentuk lambang omega, dan 2 tangan masing-masing membawa katana dan knuckle raksasa.
"Exile. Baru pertama kalinya aku melihatmu menggunakan semua equipment-mu. Aku harap kau tidak cukup kaku setelah sekian lama. Seperti ketika terakhir kali kita melakukan Raid di Gate Of Shadow." Kataku.
"Hhaha... Itu cukup mengenang. Jika situasi saat ini berbeda. Aku sudah pasti mengajakmu untuk PVP sekarang." Katanya.
Kepulan asap pun menghilang sepenuhnya. Alice menyadari keberadaanku diluar rune combine skill milik mereka berempat.
"Gen!" Bentak Alice. Aku tahu dia khawatir kepadaku.
"Sebagai seorang support dalam party, bukankah ini tidak menguntungkan bagimu?" Kata Screw you dengan nada meremehkanku. Jujur saja, menghadapi 4 pemain berlevel 100 benar-benar bukan gayaku. Semua prajuritku shadow-ku sedang kukirim mencari Envy, Regila, dan Smith. Maka satu-satunya yang bisa kulakukan untuk menangani situasi seperti ini adalah....
Tiba-tiba petir menyambar di belakangku.
"Saya sudah mengantarnya, master." Kata sosok wanita di belakangku. Iya, itu Ikaris.
"Siapa yang berani membuat tuan kami terpojok?!" Tiba-tiba tanah yang kami pijak hancur dan pecah. Seseorang melancarkan serangan menggunakan hentakan ke tanah.
Tiba-tiba ratusan panah menghujani mereka berempat. Serena segera menggunakan kemampuan memanahnya juga dengan menggunakan Busur X. Satu panah Serena dengan ganas membakar ratusan panah yang meluncur.
"Setahuku kita sudah mengurung semua tikus got kerajaan Blizzard Didalam rune..." Kata Serena penasaran.
"Berani-beraninya di memanggil kita tikus got. Sadarilah posisi kalian! Yang berhak memanggil kami dan menghina kami hanyalah Ousama kami sendiri." Kata seseorang yang akhirnya kelihatan batang hidungnya. 2 orang Slave, Toyotomi Hideyoshi dan prajurit pemburu Atalanta.
Dengan begini 4 vs 4. Bukan lagi PVP. Tapi pertarungan sampai mati.
__ADS_1