Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Tantangan Dari Olympus : Amukan Dewa Penguasa Lautan (Bagian III)


__ADS_3

Portal raksasa yang dimana di dalamnya terdapat semacam mata tombak berwarna emas yang sangat terang dan berkilau.


"Berarti skill dan magic skill dari slave dan Shadow army ku tidak ikut disegel di quest ini. Kesalahan besar." Ku ayunkan tanganku ke bawah untuk memberikan isyarat kepada mata tombak itu.


Mata tombak itu meluncur dengan sangat cepat dikuti dengan lesatan rantai yang mengikat mata tombak itu. Yup, yang kupanggil adalah rantai surgawi milik Enkidu. Tusukan itu mengenai dan melubangi dada tengah Cetus. Darah mulai mengalir deras dari sela-sela luka di dada Cetus.


"Benar-benar luar biasa." Ucap Ibu Miyuki dengan kagum.


"Aku belum selesai." Ku hentakkan kaki kananku ke tanah. Muncul Screw You dan juga dari laut muncul Obsidian Gydra.


"Serang secara bersamaan." Perintahku. Secara bersamaan Screw You memberikan serangan tebasan terbaiknya yaitu Fallen Heaven bersamaan dengan Obsidian Gydra yang menyemburkan di setiap kepalanya konsentrasi energi manna yang sangat dahsyat dari belakang Cetus.


Cetus pun terbelah dan meledak menjadi potongan berkeping-keping.


Ledakan dari Fallen Heaven dan semburan energi manna milik Screw You dan Obsidian Gydra meninggalkan kawah seluas 700 meter dengan kedalaman 70 meter.


"Yup, kurasa ini cukup." Kataku dengan enteng.


"Cukup, katamu? Bukankah itu lebih ke berlebihan?" Tanya Ibu Miyuki dengan nada menyindir. Tiba-tiba aku ingat hal yang penting.


"OH IYA!!!!!" Seruku. Ibu Hisao bahkan sampai melompat ke arah Ibu Miyuki dan menggendongnya.


"KALAU MAYATNYA TIDAK BERSISA MAKA AKU TIDAK BISA MENAMBAHKANNYA KE KOLEKSI SHADOW ARMY-KU!!!!" Teriakku dengan menyesal.

__ADS_1


"Itu yang kau keluhkan?!!" Bentak Ibu Hisao dan Ibu Miyuki diantara kedua telingaku. Tiba-tiba terdengar suara auman monster dari arah laut. Kami bertiga pun segera menoleh ke arah laut.


Monster Cetus pun terbentuk kembali dan kali ini Cetus membawa senjata berupa trisula raksasa. Bentuknya juga jauh lebih mengerikan dan lebih sangar dari sebelumnya.


"Astaga." Kata Ibu Hisao dengan pelan. Cetus dengan galak mengaum tepat di depan wajah kami bertiga. Kami bertiga sampai terpental dan menabrak dinding tebing. Cetus menghunus kan trisulanya ke arah kami. Ku lempar pisau kujang ku ke sisi kiri tebing dan menteleport kami bertiga sehingga kami bisa menghindari hunusan trisula dari Cetus.


"Dia ini abadi ya? Curang!" Ibu Hisao mencoba protes.


"Bukan itu yang harusnya Ibu katakan!" Ku lempar pisau ku ke depan mulut Cetus dan berteleport ke sana. Cetus dengan peka menyemburkan air laut bertekanan tinggi tepat ketika aku berteleport di depan mulutnya. Tapi aku bisa menghalaunya dengan kemampuan pengendalian air milik Mookbang dan mengembalikan semburan air itu kembali ke dalam mulut Cetus.


Separuh kepala Cetus terbelah akibat semburan nya sendiri. Tapi dengan cepat kepalanya beregenerasi dan mencoba mencoba menembak ku dengan semburan air lagi. Ku lempar pisau kujang ku ke langit dan berteleport ke udara.


Kupanggil 2 Shadow Army-ku. Exile dan Serena selagi aku masih di udara. Serena menembakkan panah dari gabungan 5 elemen dan Exile menembakkan konsentrasi manna yang dia kumpulkan di tengah silangan senjata yang dia silangkan kemudian menembakkannya ke arah Cetus. Serangan kombo itu menghancurkan separuh tubuh Cetus tapi lagi-lagi Cetus beregenerasi.


Cetus dengan kesal menghunus kan trisulanya ke arahku. Aku tidak bisa menghindari nya karena aku masih berada di udara jadi aku terpaksa menahan tebasan itu dengan pisau yang kupegang. Hunusan itu membuatku terlempar dan terhempas tebing bagian atas dengan sangat keras. Jujur, apakah Cetus se-abadi itu di legenda mitologi Yunani?


"Kenapa kita harus melawan makhluk abadi dan se- menjengkelkan seperti dia sih?!" Keluh ibu Hisao sambil melompat-lompat menghindari tangan Cetus yang menyapu bibir tebing.


"Kurangi bicara, perbanyak aksi!" Balas ibu Miyuki.


Demi mengulur waktu aku menembakkan ribuan senjata dari ribuan portal yang kubuka dari Babylon Treasure. Cetus terhuyung-huyung menjauhi tebing untuk menjauh dari jangkauan tembakan. Ku lempar pisau ku kembali ke bibir tebing bagian bawah dan berteleport kembali ke dekat ibu Hisao dan ibu Miyuki.


Cetus berusaha mengayunkan trisula nya tapi terlalu jauh untuk menjangkau kami. Ternyata Cetus mengayunkan trisulanya untuk memerintahkan 2 tentakel bercapit yang terbentuk dari air laut dan batu-batu karang untuk menyerang kami.

__ADS_1


2 tentakel air itu dengan cepat menghunus ke arah kami. Kami bertiga pun melompat tepat sebelum 2 tentakel itu menghantam dan menghancurkan bibir tebing.


Kedua tentakel itu mengikuti arah lompatan kami. Kami tidak ada pilihan lain selain menyerang balik. Aku pun memanggil Jester dan dengan kecepatan yang sangat tinggi kami memotong-motong sekujur tentakel itu hingga tidak berbentuk. Ibu Miyuki menggunakan kekuatan apinya lalu melapiskan ke bilah pedangnya. Dengan sangat mudah tentakel itu hancur karena kalah beradu dengan ujung pedang milik ibu Miyuki.


Karena bibir tebing tadi hancur kami menjadi tidak memiliki tempat pijakan dan terjun bebas. Kupanggil Serena sehingga dia menggunakan panah berelemen buminya untuk menembak tebing terdekat sehingga dinding tebing itu menjulur dan memberikan kami pijakan baru.


"Angkat dia ke daratan!" Aku memerintahkan Obsidian Gydra untuk mengangkat tubuh Cetus keluar dari laut. ketika Gydra berhasil mengangkatnya ternyata tubuh dari Cetus lebih besar dari yang kukira. Bahkan panjangnya hampir 2 kali lipat dari Obsidian Gydra.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Ibu Hisao.


"Mengetes teori biologi jenjang pendidikan SD." Aku pun melempar pisau kujang ku ke arah Cetus yang sedang diangkat oleh Gydra. Aku perlu berteleport hingga beberapa kali karena saking tingginya Gydra mengangkat Cetus. Cetus juga tidak tinggal diam dan berusaha memberontak.


"Semoga teori ku benar." Aku memohon. Aku menoleh ke bawah dan melihat seluruh tubuh Cetus sudah terangkat.


"Tahan dia, Gydra!!" Seruku. Aku pun menarik gagang pedang dari portal Babylon Treasure.


"Saksikanlah bintang-bintang baru saja tercipta! ENUMA ELISH!!!!" Kutebaskan pedang Enuma Elish ke arah Cetus. Energi maha dahsyat keluar dari pedang itu hingga seluruh langit berubah warna menjadi jingga yang menyilaukan. Ledakan dahsyat pun tidak terhindarkan.


"Benar-benar kekuatan penghancur yang luar biasa." Kata ibu Miyuki yang menutupi matanya dari cahaya ledakan menggunakan tangannya.


Pisau ku pun menancap ke bibir tebing dan aku berteleport tepat di depan kedua ibuku.


"Teori ku berhasil. Aku berhasil memasukkan Cetus menjadi koleksi Shadow Army ku! Yay!" Entah kenapa ketika di depan ibuku aku bisa berkelakuan seperti anak kecil.

__ADS_1


Shadow Cetus pun muncul tepat di belakang kedua ibuku.


"Kenji, sepertinya anakmu berhasil memenuhi ekspetasimu." Kata ibu Hisao dengan menoleh ke arah Shadow Cetus.


__ADS_2