Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Panthera vs Apocalypse (Bagian V)


__ADS_3

(Sudut Pandang : Naava)


Mungkin Riza dan Yuna bisa menganggapku bodoh alih-alih tidak waras. Pemikiran mereka tentang itu tidak salah. Jika di logika ini termasuk misi bunuh diri. Menantang Dynasty Kegelapan atau Apocalypse untuk berduel satu lawan satu.


Dengan cepat Yuna menarik bahuku hingga posisi menjadi menghadap Yuna. "Kau ini bodoh atau nekat?!Atau bisa jadi keduanya. Apa yang kau pikirkan?!" Sergah Yuna dengan kesal.


"Bukan berarti aku berkorban untuk kalian. Tapi ini kewajibanku sebagai ratu Panthera dalam melindungi rakyatku. Korban jiwa harus minimalisir sedikit mungkin." Kataku. Yuna hanya bisa menatapku dengan wajah sebalnya. Jujur saja wajahnya lebih ke menjengkelkan alih-alih membuatku terintimidasi.


Wanita yang menggunakan topi lebar yang berada di luar barrier tertawa lepas. Membuat kami bertiga langsung menatap ke arahnya dengan heran.


"Meminimalisir korban sesedikit mungkin...... Lawakanmu benar-benar jelek sekali, Ratu Panthera." Kata wanita bertopi lebar itu.


"Di dalam peperangan pasti akan selalu ada korban. Itu kenyataan dan faktanya. Pemikiranmu masih terlalu naif sebagai seorang pemimpin. Justru karena itu para pejuangmu ada di medan perang. Mereka mencari kematian mulia di medan perang." Kata Alice menyela.


"Persetan dengan kemuliaan! Aku akan melakukan apapun demi melindungi rakyatku tanpa memandang bulu. Kalau kau masih menyangkal.... bagaimana kalau kau terima veg ritueel yang kuajukan tadi?" Sergahku.


"Kenapa kau tidak terima saja usulan gadis ini, Alice? Ini juga bisa sebagai hiburan. Aku juga suka improvisasi darinya." Kata wanita bertopi lebar itu.


"Atau kalian cukup pengecut untuk melakukan duel denganku?" Aku mencoba untuk memancing kemarahan mereka. Tapi si wanita bertopi lebar itu malah tertawa keras seolah provokasi ku adalah semacam guyonan.


"Gadis kecil, aku suka dari caramu menantang kami. Dan entah kenapa aku juga mulai menyukaimu. Bagaimana Alice?" Kata wanita bertopi lebar itu sambil menahan tawanya. Alice kemudian menghembuskan napas beratnya.


"Aku merasa cukup bodoh karena merasa terusik dari provokasi kalian. Aku terima tantangan itu. Tapi aku ingin mengganti syaratnya jika aku berhasil mengeluarkan rohmu dari jasadmu maka Panthera harus berperang melawan kami meskipun tanpa dirimu." Kata Alice.


"Baiklah kalau begitu." Kataku. Yuna hanya bisa tepuk jidat. Ikaris hanya diam dari tadi.


"Sudah diputuskan ya. Magic Skill : Creation Maker." Kata wanita bertopi lebar sambil merapal mantra. Dari belakang kami muncul sebuah arena kecil dengan diameter 7x7 meter.


"Kalian bisa bertarung disitu. Kita gunakan kandang kalian." Kata wanita bertopi lebar.


"Kalian yakin? Kami jadi lebih diuntungkan disini jika kami berbuat kecurangan." Tanya Naava. Wanita bertopi lebar itu hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Kami sudah cukup memberi kalian kemudahan. Bisakah kau tidak mencurigai kami?" Kata Alice. Aku pun menekan sesuatu di gelangku sehingga barrier terbuka membentuk celah kecil setidaknya bisa membuat teman golem mereka juga bisa masuk.


"Aku akan memberitahu kondisi yang ada di sini ke pasukanmu. Semoga beruntung, Naava." Kata Ikaris.


"Oh, Terima kasih." Kataku dengan mengapresiasi Ikaris. Aku menoleh ke arah Yuna.


"Aku akan disini menemanimu sampai kau mati di duel ini. Tidak enak melihatmu sengsara sendirian." Kata Yuna dengan bersedekap.


"Jahat banget. Tapi Terima kasih. Baru pertama kalinya rasanya memiliki saudari selain Neema yang bisa memberiku semangat seperti itu." Kataku berbalik berjalan menuju Arena.


"Kau yang berlebihan." Yuna juga ikut berbalik dan mengekoriku. Pihak musuh juga berjalan mengekoriku menuju arena.


...****************...


(Sudut pandang : Alice)


Regila tiba-tiba berbisik kepadaku dengan nada menggoda.


"Yah aku tidak terlalu mempedulikannya. Selama kesepakatan kita kau tepati." Jawabku singkat. Regila kemudian tersenyum kepadaku. Senyum ala Envy.


"Bagus, selama kita sepakat." Katanya kemudian menarik diri.


...****************...


(Sudut pandang : Naava)


"Apa peraturan yang biasa kalian taati di veg ritueel?" Tanya Alice.


"Tidak perlu. Cukup keluarkan saja apa yang kau punya. Kurasa itu lebih mudah daripada harus bernegosiasi, bukan?" Jawabku. Aku memasuki arena terlebih dahulu.


"Kuberi kau satu kesempatan lagi. Menyerahlah." Kata Alice. Tapi aku malah mengaktifkan zirah otomatis buatan Neema. Seluruh zirah menutupi seluruh tubuhku dengan sempurna. Ku pasang kuda-kuda untuk bertarung.

__ADS_1


"Kau pikir berapa banyak nyawa melayang untuk memperebutkan kekuasaan?" Tanya Alice yang mengikutiku memasuki arena. kami berjalan saling memutari Arena.


"Cukup...... satu!" Jawabku. Topengku terpasang sempurna.


Di Seluruh tubuh Alice muncul semacam garis-garis emas yang menyusun pakaian tempur Alice yang berwarna cokelat krim tua dengan selendang dan balutan berwarna hijau daun. Di bagian dadanya terukir gambar kepala singa jantan yang galak, di bagian pelindung tulang keringnya dan punggung lengan bawahnya terdapat motif-motif dan tulisan kuno.


Kutekan tombol yang ada di masing-masing pangkal telunjuk ku. Munculah sepasang gauntlet berupa 2 tameng dengan motif cakar harimau di setiap tanganku.


Sedangkan Alice mengeluarkan pedang 2 bilah yang berbentuk seperti busur panah dari portal emas yang ada di dekat tangan kanannya. Dia memutar-mutarnya seolah dia memang sudah terbiasa memakai senjata itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami pun saling terjang. Aku berencana untuk menjatuhkan senjatanya terlebih dahulu. Tapi sepertinya tidak akan mudah. Lawanku adalah istri pertama Gen. Yang jelas kemampuannya sudah diakui olehnya. Wanita ini sangat kuat.


Sudah ku tebas dia menggunakan kekuatan penuh ku tapi baik pedang maupun tangannya sama-sama kokoh. Tapi aku berhasil membuatnya menjaga jarak. Alice terpental beberapa meter karena tebasan cakar ku. Penampung energi manna ku yang disebabkan dari gerakan kinetik sudah hampir penuh. Neema bilang bisa digunakan sebagai penguat atau menambah manna.


Ku fokuskan energi manna yang sudah penuh ke kedua lenganku. Kugunakan juga sedikit energi manna tersebut ke kedua kakiku untuk melompat ke arah Alice. Ledakan energi meledak di kedua kakiku ketika aku melompat. Dengan sangat cepat diatas 4 meter di udara aku menukik dan mengarahkan kedua cakar ku ke arah Alice.


"Dengan ini....BERAKHIR SUDAH!!!!" Teriakku. Alice bahkan tidak sempat menghindarinya Ledakan di arena tak terelakkan terjadi begitu dahsyat.


Kepulan asap mengepul begitu tebal. Meskipun pandanganku kabur karena asap tapi sepertinya aku berhasil menyerangnya. Tapi ada yang aneh....


"Tidak ada darah sedikitpun?" gumamku tanpa sadar.


"Tentu saja, Itu karena tidak sedikitpun kau bisa menyentuhku." Kata Alice dengan sangat tajam. Dengan cepat, Alice menendang ku mundur. Aku bahkan tidak menyangka kalau tendangan dari Alice sekuat ini.


"Ya ampun, hanya dengan cakar kucing seperti itu kau seharusnya tidak usah banyak tingkah. Aku jadi terpaksa mengeluarkan ini." Aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Alasan kenapa seranganku tidak dapat memberinya luka sedikitpun adalah dia melindungi dirinya menggunakan tangan kirinya yang menggenggam Sebuah gauntlet kepala singa berwarna emas.


"Nemean Cesti, ya?" Kataku mencoba menebak.


"Hebat juga kau bisa menebaknya. Ya itu memang benar. Salah satu harta yang sangat kusuka. Pusaka dari singa yang tidak bisa mati dan yang dibunuh oleh pahlawan Herakles, pahlawan Yunani yang memiliki darah dari Dewa Zeus." Jawab Alice.


Sepertinya pertandingan ini..... tidak akan mudah.

__ADS_1


__ADS_2